Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 1
****. HAPPY READING GUYS! ****
“Lima puluh ribu hari ini…”
Sophia menghitung lembar demi lembar uang di atas kasur kecilnya dengan mata berbinar. “Kalau setiap hari aku bisa menabung lima puluh ribu, berarti sebulan satu juta lima ratus. Ditambah gaji dua juta di buku rekening…”
Senyumnya melebar pelan.
“Tiga juta lima ratus.”
Ia segera memasukkan uang itu ke dalam celengan ayam berwarna putih yang catnya mulai pudar dimakan usia. Namun, bagi Sophia, benda itu jauh lebih berharga daripada perhiasan apa pun. Dengan hati-hati, ia memeluknya erat seolah sedang menggendong bayi kecil.
Sudah lima tahun celengan itu menemaninya hidup sendiri. Lima tahun bertahan tanpa orang tua. Tanpa saudara. Tanpa siapa pun yang bisa dipanggil pulang.
Dan selama lima tahun itu juga, Sophia belajar satu hal, tidak ada yang akan menyelamatkannya selain dirinya sendiri.
Ia berjalan mendekati dinding kamarnya yang dipenuhi tempelan gambar. Matanya berhenti pada satu foto rumah kecil di tepi pantai. Rumah kayu bercat putih dengan jendela lebar menghadap laut biru.
Sophia tersenyum lembut.
Ia membayangkan suara ombak yang tenang, angin asin yang membelai wajah, serta matahari senja yang jatuh perlahan di ufuk laut. Tempat sempurna untuk menghabiskan sisa hidup dengan damai.
Ujung jarinya mengusap gambar itu penuh haru.
“Dua puluh tahun lagi,” gumamnya pelan. “Aku pasti beli rumah ini.”
“Kau nggak takut tsunami?”
Suara berat tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"..."
Sophia memejam kesal sebelum menoleh.
Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi dengan kedua tangan menyilang di dada. Kaos hitam sederhana yang dipakainya tidak mampu menyembunyikan tubuh tegapnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampan dengan ekspresi menyebalkan seperti biasa.
Arkan.
Satu-satunya manusia yang selalu datang tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Kau pikir kalau tinggal di gunung aku aman dari gunung meletus?” balas Sophia ketus.
Arkan terkekeh pelan.
“Gunung ada status aktif dan tidak aktif. Kau bisa pilih yang aman.”
Sophia mengangkat alis.
“Lagipula kota tidak terlalu buruk buat masa tua.”
Sophia langsung menggeleng cepat.
“Aku mau hidup tenang. Bangun pagi dengar ombak, bukan suara klakson.”
“Kalau kau mati sendirian di rumah pantai itu, siapa yang tahu?” jawab Arkan santai. “Bisa-bisa jasadmu ditemukan seminggu kemudian.”
Sophia melotot.
“Mulutmu benar-benar nggak punya rem.”
“Makanya tinggal dekat aku saja.”
“Ogah.”
Arkan tertawa puas melihat wajah kesalnya.
Sophia akhirnya menyerah meladeni pria itu. Ia berjalan ke dapur kecil apartemennya sambil mengikat rambut.
“Duduk sana. Aku bikin sarapan.”
Mereka memang bukan keluarga. Bahkan awalnya hanya tetangga apartemen yang kebetulan sama-sama hidup sendiri. Namun entah sejak kapan, hubungan mereka berubah menjadi semacan, kebiasaan.
Arkan memberinya uang makan setiap minggu. Sophia memasakkan sarapan dan makan malam untuk mereka berdua.
Sederhana. Hemat. Dan tanpa sadar terasa seperti rumah.
Hari ini menu mereka perkedel kentang, telur dadar, dan nasi hangat.
Arkan menatap meja makan dengan wajah datar.
“Dagingnya mana?”
Sophia mendengus sambil menuang teh hangat.
“Harga daging mahal.”
“Alasan.”
Sophia pura-pura tidak mendengar. Padahal sebenarnya uang belanja dari Arkan selalu ia sisihkan sedikit untuk tabungan masa depan. Tidak banyak. Hanya sepuluh ribu setiap kali memasak. Lagipula dia tidak mengambil untung banyak, kenapa dia perhitungan sekali! Ia terlalu miskin untuk hidup boros.
Setelah sarapan selesai, Arkan membantu membawa piring ke wastafel. Wajahnya tampak lebih murung dari biasanya.
Sophia yang sedang mencuci piring melirik sekilas.
“Ada masalah?”
Arkan bersandar di meja dapur sambil menghela napas panjang.
“Bosku sedang stres.”
“Kenapa?”
“Umurnya tiga puluh lima. Keluarganya terus mendesak dia buat bawa pacar.”
Sophia tertawa kecil.
“Ya suruh menikah.”
“Dia nggak mau.”
“Kenapa?” Sophia menyipit jahil. “Dia suka kamu?”
Arkan langsung bergidik ngeri.
“Tolong. Aku masih normal.”
Sophia tertawa puas melihat ekspresinya.
Namun sesaat kemudian ia kembali berpikir serius.
“Biasanya orang kayak gitu terlalu sibuk kerja,” katanya sambil mengeringkan tangan. “Mana sempat pacaran.”
Arkan mengangguk pelan. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu.
Sophia tiba-tiba teringat sebuah novel romansa yang pernah ia baca. Dengan semangat, ia mengambil buku dari rak kecil dekat televisi lalu menyerahkannya pada Arkan.
Pria itu menerimanya dengan wajah bingung.
“Aku tidak tertarik.”
“Dengar dulu.” Sophia duduk di depannya. “Di novel ini, tokoh cowoknya juga dipaksa menikah sama keluarganya.”
“Lalu?”
“Dia bikin hubungan palsu.”
Arkan mengernyit.
“Pernikahan palsu?”
Sophia mengangguk antusias.
“Nah! Jadi keluarganya berhenti menekan dia.”
Arkan tersenyum tipis, tapi senyumnya terlihat aneh. Seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya lebih dalam. “Bosku bukan tipe orang yang berpikir sempit sepertimu.”
"Kau ... " Bagaimana mungkin ide brilian ini disebut berpikir sempit. Sophia jelas tidak terima. "Ini ide yang mahal tahu!"
“Dan kalaupun berhasil…” Arkan menatapnya lama. “Itu tetap merepotkan.”
Sophia mengangkat bahu santai.
“Lalu kenapa kau ikut stres?”
Arkan menghela napas frustrasi.
“Kalau bosku nggak menikah, aku juga nggak bisa menikah.”
Sophia langsung menoleh cepat.
“Astaga… jadi kalian memang ada hubungan?”
“BUKAN BEGITU!”
Sophia menutup mulut menahan tawa.
Wajah Arkan sudah merah karena kesal.
“Aku harus terus standby buat dia,” gerutunya. “Mana sempat cari pasangan?”
“Oh…” Sophia mengangguk panjang sambil tetap menahan senyum jahil. “Kupikir kalian saling mencintai.”
Arkan mengambil tas kerjanya dengan wajah sebal.
“Kau benar-benar menyebalkan.”
“Terima kasih.”
Pria itu mendecih sebelum berjalan keluar apartemen.
BRAK.
Pintu tertutup cukup keras.
Sophia mendengus kecil sambil melipat tangan.
“Galak sekali.”
Namun belum sempat ia kembali mencuci piring, suara ketukan terdengar dari pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
Sophia mengernyit.
“Cepat sekali balik lagi?” gumamnya heran.
Ia berjalan menuju pintu sambil terus mengomel pelan. “Kalau cuma mau marah lagi, lebih baik pulang sana…”
Namun saat pintu terbuka ....
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah (^^)