NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang teratur namun penuh ketegangan. Kirana kini tidak lagi hanya menjadi tamu atau teman sekolah—dia diterima sebagai bagian dari lingkaran dalam. Setiap pagi, dia dan Sari pergi ke sekolah bersama; setiap sore, mereka kembali ke Menara Wijaya, dan di sana, perlahan namun pasti, Sari mulai memperkenalkan dia pada seluk-beluk kekuasaan yang selama ini tersembunyi dari pandangan orang luar.

Awalnya, hal-hal yang diperlihatkan masih terlihat sah secara hukum: laporan keuangan perusahaan, perjanjian kerjasama dengan pengusaha lain, pertemuan dengan pejabat daerah untuk membahas pembangunan umum. Tapi seiring berjalannya waktu, lapisan luar itu mulai terkelupas.

Suatu sore, di ruang kerja pribadi Sari yang luas dan tertutup rapat, keduanya duduk di meja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen. Sari tidak lagi menyembunyikan apa pun—setidaknya begitulah yang terlihat.

"Ini adalah inti dari semuanya," kata Sari sambil menunjuk pada deretan nomor rekening dan nama perusahaan yang terdaftar di pulau terluar, di tempat yang hukumnya longgar dan sulit dilacak. "Uang yang didapat dari bisnis yang terlihat sah dialihkan ke sini, lalu digunakan untuk hal-hal yang tidak bisa dilakukan secara terbuka: membayar perlindungan, membeli kesetiaan, menutup mulut orang yang berisik, atau membantu mereka yang membutuhkan pertolongan tapi tidak bisa meminta secara resmi."

Kirana membaca dokumen itu dengan hati-hati, matanya menangkap setiap detail. Di satu sisi, dia melihat transaksi yang jelas ilegal—pembayaran dalam jumlah besar tanpa keterangan yang jelas, perusahaan yang tidak memiliki alamat nyata. Tapi di sisi lain, dia juga melihat catatan bantuan untuk rumah sakit, beasiswa untuk anak-anak kurang mampu, dan dukungan untuk petani yang mengalami gagal panen—hal-hal yang tidak pernah tercatat di laporan pemerintah.

"Jadi, kamu menggunakan uang kotor untuk hal yang baik?" tanya Kirana dengan nada ragu.

Sari tersenyum tipis, tidak terlihat tersinggung. "Uang tidak punya warna, Kirana. Yang membuatnya baik atau buruk adalah bagaimana ia digunakan. Pemerintah punya anggaran besar, tapi seringkali uang itu hilang entah ke mana, atau disalurkan hanya untuk menguntungkan kelompok tertentu. Di sini, aku tahu persis ke mana uang itu pergi. Aku tahu siapa yang dibantu, dan aku tahu siapa yang harus bertanggung jawab."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut:

"Kamu mungkin berpikir ini hanya pembenaran. Dan mungkin benar. Tapi cobalah lihat dari sudut pandang lain. Kalau aku tidak melakukan ini, siapa yang akan melakukannya? Orang yang berkuasa tapi tidak peduli? Atau orang yang lebih kejam dan serakah yang hanya memikirkan dirinya sendiri?"

Sebelum Kirana bisa menjawab, pintu ruangan terbuka perlahan. Riko Surya masuk, wajahnya serius, memegang sebuah amplop tua yang terlihat sudah lama disimpan.

"Nona," katanya pelan, "sesuatu yang kamu minta sudah ditemukan. Arsip lama dari tahun-tahun awal."

Sari mengangguk, mengambil amplop itu dan meletakkannya di atas meja. Tatapannya berubah—menjadi lebih dalam, lebih gelap, seolah membuka luka yang sudah lama ditutup.

"Kirana," katanya, matanya tidak beralih dari amplop itu, "kamu sudah bertanya tentang ayahku, tentang mengapa semuanya menjadi seperti ini. Kamu berhak tahu, sebagai mitra. Tidak ada lagi rahasia antara kita."

Dia membuka amplop itu, mengeluarkan foto-foto lama, surat-surat, dan laporan polisi yang sudah usang. Dia menyebarkannya di atas meja.

"Ini ayahku, Arya Pratama, saat dia masih muda," tunjuk Sari pada sebuah foto yang menunjukkan seorang pria tampan dengan tatapan tegas dan penuh semangat. "Dulu, dia adalah polisi yang jujur, yang percaya sepenuhnya pada hukum dan keadilan. Dia dikirim untuk menyelidiki bisnis kakekku yang saat itu baru mulai berkembang."

Sari mengambil sebuah surat, suaranya menjadi lebih rendah dan dingin:

"Awalnya, dia berusaha menjatuhkan kakekku. Dia mengumpulkan bukti, dia berusaha memprosesnya. Tapi dia tidak tahu bahwa jaringan kakekku sudah menjalar jauh—bahkan sampai ke atasan ayahku sendiri. Dia ditawari uang, ditawari jabatan tinggi. Saat dia menolak, mereka mengancam akan membunuh ibuku, yang saat itu sudah mengandung aku."

Dia berhenti, menelan ludah, lalu melanjutkan:

"Ayahku punya pilihan yang sama persis seperti yang kamu hadapi minggu lalu. Melawan, dengan risiko kehilangan orang yang dicintai, atau menyerah dan bekerja sama untuk melindungi mereka. Dia memilih menyerah. Tapi dia tidak hanya menyerah—dia dipaksa menjadi bagian dari sistem. Dia dipaksa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya sendiri. Dan perlahan-lahan, semangatnya mati. Dia menjadi orang yang kamu lihat sekarang: cangkang kosong yang hidup dalam ketakutan dan penyesalan."

Sari menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan, kesedihan, dan kepahitan yang mendalam.

"Itu sebabnya aku tidak percaya pada keadilan yang ditulis di atas kertas. Itu sebabnya aku tidak mau menjadi lemah seperti ayahku. Dia berpikir dengan menyerah, dia bisa melindungi keluarganya. Tapi lihat hasilnya: dia menjadi budak, ibuku hidup dalam ketakutan, dan aku tumbuh melihat bahwa orang yang berpegang teguh pada kebenaran justru yang paling menderita."

Kirana memandang foto-foto dan dokumen itu, hatinya terasa berat. Cerita itu bukan sekadar pembenaran—ada kebenaran yang pahit di dalamnya. Dia bisa merasakan rasa sakit yang dialami Sari sejak kecil, melihat bagaimana keyakinan orang tuanya hancur di hadapannya.

"Tapi apakah menjadi seperti ini adalah satu-satunya jalan?" tanya Kirana pelan. "Apakah tidak ada cara lain untuk mengubah hal-hal ini tanpa harus menjadi sama buruknya dengan mereka?"

Sari menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang hampir terlihat sedih.

"Aku juga dulu berpikir seperti itu. Saat aku masih kecil, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membalaskan penderitaan ayahku, bahwa aku akan mengubah semuanya. Tapi seiring waktu, aku menyadari satu hal: untuk mengubah sistem yang sudah rusak total, kamu tidak bisa berdiri di luar dan berteriak. Kamu harus masuk ke dalamnya. Kamu harus memegang kendali. Dan untuk memegang kendali, kamu harus memahami bagaimana cara kerjanya, bahkan jika itu berarti melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai."

Dia berdiri dan berjalan mendekati jendela besar, menatap pemandangan kota yang mulai diterangi lampu-lampu malam.

"Kamu lihat kota ini? Sebelum kakekku datang, ini adalah tempat yang kacau. Perampokan terjadi setiap hari, orang-orang miskin diinjak-injak, tidak ada yang aman. Kakekku datang, dia mengatur semuanya—dengan cara yang keras, memang. Tapi setidaknya sekarang ada aturan. Setidaknya orang tahu apa yang diharapkan. Aku tidak mengatakan ini sempurna. Tapi ini lebih baik daripada kekacauan total."

Sari berbalik dan menatap Kirana langsung.

"Itulah sebabnya aku menginginkanmu di sini. Kamu masih punya prinsip. Kamu masih percaya pada kebaikan. Mungkin dengan cara berpikirmu yang berbeda, kita bisa menemukan jalan yang lebih baik. Kita bisa mempertahankan ketertiban, tapi mengurangi kekejaman. Kita bisa melindungi orang yang lemah tanpa harus menghancurkan mereka yang berbuat salah."

Di saat yang sama, di dalam hati Kirana, perasaan yang membingungkan mulai tumbuh. Di satu sisi, dia tahu bahwa banyak hal yang dilakukan Sari adalah salah menurut hukum dan moral yang diajarkan padanya. Dia tahu bahwa ada korban yang menderita, bahwa ada orang yang kehilangan kebebasannya atau bahkan nyawanya.

Tapi di sisi lain, dia mulai melihat sisi yang tidak terlihat dari luar. Dia melihat bahwa Sari tidak sepenuhnya menjadi monster yang kejam tanpa alasan. Dia melihat bahwa ada logika yang terdistorsi namun masuk akal menurut pengalaman hidupnya. Dan yang paling membingungkan—dia mulai merasakan tarikan yang aneh: rasa hormat terhadap kecerdasan dan keberanian Sari, rasa kasihan pada masa lalunya yang pahit, dan bahkan rasa ingin tahu yang semakin besar untuk memahami cara berpikir gadis ini.

Di luar kesadaran Kirana, Sari juga mengamati reaksinya dengan cermat. Dia melihat keraguan, dia melihat pertentangan batin, dan dia tahu bahwa benih pemahaman mulai tumbuh. Tapi dia juga tahu—sesuatu yang tidak diketahui Kirana—bahwa ada rahasia lain yang lebih besar, yang belum dia ungkapkan: tentang kematian mendadak ayahnya yang sebenarnya bukan hanya karena tekanan mental, dan tentang sosok di balik layar yang jauh lebih berbahaya daripada Andri Andalan.

 

Malam itu, di kamar tidur Kirana.

Kirana duduk di tepi tempat tidur, memegang alat komunikasi daruratnya. Dia sudah menerima pesan dari Komisar David Kusuma: Lanjutkan. Dapatkan kepercayaan sepenuhnya. Cari bukti yang bisa menjerat mereka semua, termasuk orang-orang di posisi tinggi.

Tapi saat dia hendak membalas, jari-jarinya berhenti di atas tombol. Dia memikirkan apa yang baru saja dia dengar dan lihat. Dia memikirkan orang-orang di lembah yang merasa aman, dia memikirkan bantuan yang diberikan kepada mereka yang tidak berdaya, dia memikirkan penderitaan yang dialami keluarga Sari bertahun-tahun yang lalu.

Apakah aku melakukan hal yang benar? pikirnya. Apakah menjatuhkan mereka akan membuat segalanya menjadi lebih baik? Atau hanya akan menggantikan satu penguasa dengan penguasa lain yang mungkin lebih buruk?

Di saat yang sama, di lantai atas, Sari juga terjaga. Dia berdiri di depan jendela, memegang sebuah kalung tua—kalung yang pernah dimiliki ibunya. Dia tahu bahwa Kirana masih menyembunyikan tujuannya yang sebenarnya. Dia tahu bahwa gadis itu bekerja untuk David Kusuma.

Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak merasa terganggu atau marah. Sebaliknya, dia merasa sesuatu yang lain—sesuatu yang hampir terasa seperti harapan.

Biarkan dia berpikir apa yang dia inginkan, batin Sari. Biarkan dia melihat semuanya. Biarkan dia membuat keputusannya sendiri. Pada akhirnya, dia akan menyadari bahwa tidak ada jalan yang benar-benar sempurna. Dan dia harus memilih: berdiri di sisiku, atau menghadapi dunia yang jauh lebih kejam daripada yang dia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!