NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Dosen
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Rosy_Lea

Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.

“Farin…”

Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.

Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.

Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.

Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.

Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gua Itu Nyata

“Ya Allah… Mbak!”

Dengan panik, ia segera berlari menghampiri Farin yang kini terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, napasnya tampak lemah.

“Pak Amir! Mas Bowo! Sini tolong! Cepat!” serunya lantang sambil melambaikan tangan ke arah dua petani yang sedang mencangkul tak jauh dari sawahnya.

Beberapa petani lainnya berdatangan, meninggalkan alat mereka, menghampiri dengan raut khawatir.

Pak Mulyono berjongkok, menepuk-nepuk pipi Rachel pelan. “Mbak, bangun, mbak… astaghfirullah.”

Pak Amir segera memeriksa denyut nadi Farin, sementara yang lain bersiap mencari kendaraan untuk membawanya ke tempat aman.

“Cepat, kita bawa dia ke balai desa dulu. Nggak bisa dibiarkan di sini.”

Dalam hitungan menit, para petani bersama Pak Mulyono bahu-membahu mengangkat Farin dengan hati-hati.

Kekhawatiran menyelimuti wajah mereka. Di antara desiran angin dan bisik dedaunan hutan, suasana menjadi sunyi dan berat, seolah alam pun ikut menyimpan rahasia besar yang masih belum terungkap.

Para petani dengan sigap membawa Farin ke sebuah gubuk sederhana di tepi sawah, tempat mereka biasa berteduh saat istirahat.

Gubuk itu beratap rumbia, berdinding bambu, dan hanya beralas tikar usang. Di sanalah mereka membaringkan Farin dengan hati-hati, sementara Pak Mulyono memegangi tangan gadis itu yang masih dingin.

Salah satu petani, Mas Bowo, mengambil tas Farin yang tergeletak dan menemukan ponsel di dalamnya. Setelah berusaha membuka layar yang terkunci, mereka akhirnya berhasil mengakses panggilan darurat dan menemukan kontak bertuliskan “Ibu”.

“Ini, Pak… ada nomornya. Kita coba hubungi, ya,” ucap Mas Bowo cepat.

Pak Mulyono mengangguk. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil. Suara sambungan terdengar, dan beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.

“Assalamu’alaikum… Ibu nya mbak Farin?” suara Pak Mulyono bergetar pelan tapi jelas.

“Wa’alaikumussalam… iya, saya ibunya Farin. Ini siapa ya, Pak?”

“Saya Mulyono, warga Karang Asih, Bu. mbak Farin… putri panjenengan, barusan pingsan di tepi sawah dekat hutan. Sekarang sudah kami baringkan di gubuk, tapi kondisinya lemah…”

Terdengar keheningan sejenak dari seberang. Lalu suara isak tertahan, “Ya Allah… Farin… anak saya… bagaimana keadaannya, Pak? Kami ke sana sekarang, mohon jaga dia…”

“Kami jaga, Bu… panjenengan tenang. Kami akan tunggu di balai desa, biar lebih mudah nanti bertemunya.”

Sambungan ditutup dengan berat. Sementara itu, Pak Mulyono duduk di sisi Farin, memandang wajah gadis itu dengan perasaan tak menentu. Di balik tubuh lemah itu, tersembunyi kisah panjang yang belum sempat terungkap.

Setelah sambungan telepon dari Pak Mulyono berakhir, Ibu Farin segera menghubungi adiknya yang di tinggal di penginapan oleh Farin.

Dengan suara panik tapi berusaha tenang, beliau berkata, “Angga, lagi dimana toh, lagi nggak sama Farin apa? tolong segera ke arah sawah dekat perbatasan hutan Karang Asih.

Farin ditemukan pingsan, sekarang dibawa ke gubuk petani, nanti kamu tanya warga di sana. Tadi saya dapat kabar dari Pak Mulyono. Ini penting, tolong secepatnya ya.”

“Ya Mbak, saya langsung berangkat sekarang juga. maaf ya Mbak, tadi saya di tinggal lho di penginapan sama Farin Mbak, saya malah bingung dari tadi nyariin, Farin di TLP ngga di angkat-angkat. Mohon doanya semoga Farin nggak kenapa-kenapa ya Mbak,” jawab Angga cepat, suaranya turut diliputi kekhawatiran.

"Iya iya, cepet jalan sana, anakku jangan sampai kenapa-kenapa ya"

"Iya Mbak, siap.. saya jalan dulu Mbak. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum salam.

Ya Allah gimana ini, bapak lagi ga ada di rumah lagi"

Tak sampai sepuluh menit kemudian, mobil Angga meluncur menembus jalan-jalan desa yang mulai lengang, menuju arah yang disebutkan.

Sementara itu di rumahnya, hati Ibu Halimah terus bergetar, dalam doanya ia terus menyebut nama putri tercinta, berharap segera bisa memeluk Farin dalam keadaan selamat.

Farin akhirnya dibawa ke puskesmas oleh Angga, tubuhnya lemah saat dibaringkan di ranjang ruang perawatan.

Beberapa saat setelah tersadar, Farin tampak gelisah, keringat dingin membasahi pelipisnya, wajahnya pucat. Perawat yang memeriksa segera menyadari suhu tubuhnya melonjak tajam.

"Demam tinggi," ujar perawat itu cemas.

Farin hanya menggertakkan gigi pelan, matanya memejam kembali. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena demam… tapi karena luka rindu yang dia timbun terlalu dalam dan terlalu lama.

Farin kini terbaring lemah, wajahnya memerah, napasnya tak teratur. Di antara sadar dan tidak sadar, dia merasa seperti ditarik ke dalam kegelapan yang tak bernama. Suhu tubuhnya tinggi, namun dingin menusuk menyelimuti batinnya.

Dalam halusinasi demam itu, Farin merasa jiwanya melangkah menyusuri hutan gelap. Pepohonan menjulang seperti bayangan bisu, jalan setapak yang dia pijak terus berputar, membawanya kembali ke tempat yang sama.

Dia terus berjalan, berharap menemukan sesuatu... atau seseorang. Tapi tak ada. Hanya kabut pekat, gemerisik dedaunan, dan desir angin yang membawa namanya, samar... menggema… "Fariin..."

Dia memanggil... namun tak ada jawaban. Tujuannya kabur. Langkahnya berat. Tapi hatinya tak berhenti mencari. Sampai akhirnya dia tersungkur, di tengah hening hutan ilusi itu sendirian, lelah, dan patah.

Dalam pusaran keputusasaan dan tubuh yang diguncang demam, Farin tersungkur di tanah gelap yang membingungkan. Keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya terengah.

Tapi tiba-tiba… dari celah pepohonan pekat dalam alam bawah sadarnya, tampak seberkas cahaya remang-remang. Cahaya itu jatuh tepat di mulut sebuah gua.

Gua itu, tempat di mana dia dulu dirawat. Tempat segala luka perlahan dijahit oleh tangan yang tak pernah sempat dia kenal utuh.

Matanya membelalak. Hatinya bergetar. Seakan panggilan dari masa lalu itu menjadi kompas. Dengan tubuh gemetar dan kaki limbung, Farin segera berusaha bangkit.

Langkahnya tertatih, tapi semangatnya menggelegak. Ia berlari dengan sisa tenaga yang masih tersisa, menyibak ranting, menerobos gelap dan kabut.

Namun langkahnya terasa semakin berat. Kakinya seolah tertahan oleh sesuatu yang tak kasat mata seperti ada tangan-tangan asing yang menariknya ke belakang, menahannya dalam gelap yang dingin dan pekat.

Suara-suara aneh mulai menggema dari segala arah, bergulung seperti angin dalam lorong batu. Samar, tak jelas, tapi menusuk ke dalam dada. Kadang terdengar bisikan, kadang seperti jeritan yang ditelan hening.

Farin terus berusaha berlari, meski setiap langkah terasa seperti menyeret beban tak terlihat. Nafasnya kian pendek, dadanya sesak, dan peluh membanjiri wajahnya. Rasa lelah itu tak hanya menguras tenaga, tapi juga menggerogoti harapan yang mulai menipis.

Terdesak dalam gelap, ketika langkah mulai goyah dan harapan nyaris padam, terbesit dalam hati Farin satu nama "Allah".

Dengan sisa kekuatannya, bibirnya bergetar lirih, menyebut nama yang telah lama terpatri dalam jiwanya, "Ya Allah..."

Suara itu pelan, nyaris tak terdengar, tapi dari sanalah cahaya kecil mulai merambat dalam kegelapan. Seperti celah di balik awan pekat, kehangatan menyusup perlahan.

Tubuhnya masih lunglai, tapi ada kekuatan lain yang terbit dari dalam. Bukan dari otot atau tulang, melainkan dari keyakinan yang selama ini ia simpan dalam diam bahwa Allah tak pernah benar-benar jauh, bahkan di tengah hutan gelap sekalipun.

Setelah kata suci itu berhasil terucap “Allah…” seakan semesta mendengarnya. Pusaran aneh yang sedari tadi mengelilinginya perlahan lenyap, seperti kabut yang terangkat oleh cahaya pagi.

Suara-suara asing yang menggema tak jelas sirna, digantikan hening yang menenangkan.

Farin terdiam. Tubuhnya masih gemetar, tapi langkahnya terasa lebih ringan.

Dan di depan matanya, dalam kejelasan yang nyaris tak bisa dipercaya… pintu gua itu nyata berdiri, persis seperti yang dia ingat dalam bayangan.

Batu-batu besar yang menjorok, gulma laut yang menjalar di sela-sela tebing, dan udara asin yang terasa akrab. Semua tak berubah.

Matanya memanas. Apakah ini hanya mimpi dari jiwanya yang melayang? Ataukah benar ia telah menemukan jalan kembali?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!