Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.Aliansi Terselubung dan Jerat Pengawasan
**Akademi Shenglan, Kelas Prajurit Pemula**
"Hari ini adalah pertemuan pertama kita di bawah atap akademi. Para siswa sekalian, silakan pilih tempat duduk yang dirasa paling nyaman untuk kalian," Guru Shen Xiu membuka sesi kelas dengan suara yang tertata rapi, jemarinya yang lentik mengetuk pelan permukaan podium kayu.
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Xiao Xuan melangkah dengan santai tanpa beban psikologis, memilih sebuah bangku kayu di barisan tengah yang strategis. Baru setelah tubuh tegapnya mendarat sempurna, riuh rendah murid-langit lainnya mulai bergerak mencari posisi. Mereka semua telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pusaran aura ungu absolut mendominasi altar pengujian sejam lalu; tidak ada satu pun anak bangsawan, apalagi rakyat jelata, yang memiliki nyali untuk melangkahi otoritas tak kasatmata sang pemuda klan Xiao.
Detik berikutnya, sebuah konformasi posisi yang menarik terjadi secara organik.
Ye Ziyun dengan keanggunan yang tenang mengambil tempat tepat di sisi kiri Xiao Xuan. Di sebelah kanan, Shen Qingqiu menyusul dengan senyum tipis yang sarat akan aroma persaingan. Tidak ketinggalan, Xiao Ning'er memilih bangku kosong tepat di depan posisi Xiao Xuan, sementara Shen Yue mengamankan area pertahanan tepat di belakang punggungnya.
Pemandangan eksklusif ini seketika memicu gejolak rasa iri yang teramat pekat dari murid-murid pria di seluruh sudut kelas. Memiliki empat gadis tercantik dari klan-klan puncak yang mengelilingi posisinya laksana kelopak bunga pelindung... Xiao Xuan benar-benar berada di puncak rantai makanan sebagai pemenang kehidupan sejati. Namun, mereka hanya bisa menelan ludah dan menonton dengan tatapan merana dari kejauhan.
Di tengah keheningan tersebut, atmosfer di sekitar meja Xiao Xuan mendadak beralih menjadi sedikit aneh. Indra intuitif Ye Ziyun dan Shen Qingqiu mendeteksi sebuah sinyal bahaya; hampir seluruh siswi di dalam kelas—kecuali Xiao Ning'er yang masih menjaga jarak dengan kepala tertunduk—sedang menatap ke arah Xiao Xuan dengan binar mata yang lapar, layaknya sekumpulan pemburu berpengalaman yang tengah mengunci target buruan paling berharga.
Saat Xiao Xuan baru saja hendak mengangguk formal untuk menyapa Xiao Ning'er di depannya, sebuah cubitan kecil namun teramat tajam mendadak mendarat di lingkar pinggangnya.
"Ssshh..." Xiao Xuan menarik napas pendek, otot perutnya menegang sesaat. Sebagai seorang pria dewasa yang matang, dia hanya bisa menghela napas pasrah di dalam hati. *'Rupanya, tidak peduli seberapa anggun atau dinginnya seorang wanita di permukaan, gerakan mencubit pinggang ini selalu menjadi bakat warisan alami yang terkunci di dalam darah mereka tanpa perlu diajarkan.'*
"Kakak Xuan, apakah menurutmu adik Ning'er terlihat sangat memikat pagi ini?" Bisikan lembut namun sarat akan tekanan psikologis tingkat tinggi bergema hampir bersamaan di telinga kiri dan kanannya.
Ini adalah sebuah pertanyaan jebakan yang bisa mengancam reputasi ketenangannya. Xiao Xuan mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap dingin dan berwibawa, lalu melirik kedua gadis di sisinya dengan tatapan memperingatkan demi menjaga martabatnya sebagai pria yang memegang kendali penuh.
"Kalian berdua, berhentilah bertingkah kekanak-kanakan di dalam kelas, atau aku tidak akan segan untuk bersikap tegas pada kalian nanti," ucap Xiao Xuan rendah, nadanya tenang namun memiliki penekanan yang tak bisa diganggu gugat.
Bukannya terintimidasi, Shen Qingqiu justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mengulas senyum nakal yang teramat provokatif. "Kakak Xuan, ketegasan seperti apa yang kau maksud? Aku justru sangat menantikannya. Bagaimana jika aku pergi ke paviliunmu nanti malam dan menyiapkan cambuk serta lilin spiritual? Kudengar dari beberapa catatan kuno, pria-pria dewasa dengan beban pikiran berat sangat menyukai metode relaksasi seperti itu~"
Tidak ingin kehilangan momentum, Ye Ziyun ikut menyela dari sisi kiri dengan wajah yang merona namun tatapan yang menolak kalah. "Kakak Xuan, jika kau memang menginginkan aku dan Kakak Qingqiu melayanimu bersama, katakan saja dengan jujur. Aku bisa meminta Kakek Ye Mo untuk mengirimkan beberapa peti tanaman obat penguat esensi spiritual ke kediamanmu; kau sama sekali tidak boleh memaksakan dirimu terlalu keras hingga kelelahan."
Mendengar rangkaian kalimat yang keluar dari bibir kedua gadis ini, kapasitas pemrosesan logika Xiao Xuan sempat mengalami kemacetan sesaat. Jika kalimat penuh godaan sensual itu keluar dari mulut rubah kecil seperti Shen Qingqiu, dia masih bisa memahaminya. Namun, bagaimana mungkin seorang Ye Ziyun yang di garis waktu aslinya terkenal sangat polos dan pemalu bisa melontarkan diksi seberani ini? *'Apakah ada yang salah dengan struktur kesadaran dunia ini pagi ini?'* Xiao Xuan membatin dengan kerutan tipis di keningnya. Pada akhirnya, demi menghentikan distorsi obrolan yang kian liar di tengah kelas, dia hanya memberikan isyarat tangan agar kedua gadis itu menahan diri.
Begitu bel tanda berakhirnya jam akademik bergema, seluruh murid mulai membubarkan diri. Shen Yue melangkah mendekati meja Xiao Xuan dengan langkah santai, senyum geli yang sarat akan kepuasan melihat sang Tuan Muda dikepung wanita tampak jelas di wajahnya.
"Tuan Muda, bagaimana rasanya berdiri di pusat badai? Apakah Anda membutuhkan bantuan dari adik kecilmu ini untuk mengurai benang kusut di sekitar Anda?" goda Shen Yue dengan nada bercanda.
"Enyahlah," jawab Xiao Xuan dengan wajah datar tanpa riak. Dia menggerakkan ujung kakinya, memberikan tendangan ringan namun bertenaga pada tulang kering Shen Yue, membuat pemuda klan Suci itu mengaduh pelan dan melangkah mundur dengan tawa kecil yang tertahan.
"Tunggu dulu," panggil Xiao Xuan tepat saat Shen Yue hendak berbalik menuju gerbang luar. Jemarinya yang ramping menyapu permukaan cincin spasial kunonya, mengeluarkan sebuah gulungan perkamen kulit domba yang memancarkan pendaran energi kuno yang pekat.
"Ini adalah *Seni Rahasia Canglang* tingkat Legenda. Bawa ini dan gunakan untuk memperkokoh fondasi lautan jiwamu dalam kultivasi tertutup. Sebagai gantinya, ada sebuah agenda taktis yang harus kau selesaikan untukku," instruksi Xiao Xuan, menyerahkan gulungan tersebut ke tangan Shen Yue.
Menerima manual pusaka tingkat Legenda secara cuma-cuma, mata Shen Yue seketika berbinar cerah. Dia menepuk dadanya dengan penuh semangat. "Tuan Muda, jangan cemas! Aku akan segera kembali ke kediaman utama Keluarga Suci malam ini, mengikat gadis kecil Qingqiu itu dengan tali spiritual, dan mengantarkannya langsung ke atas tempat tidur Anda tanpa kurang satu apa pun!"
*Plak!*
Sebuah sentilan jari yang akurat dan cukup keras dari Xiao Xuan mendarat tepat di tengah dahi Shen Yue, meninggalkan bekas kemerahan seketika.
"Tuan Muda... jangan katakan bahwa misi yang Anda maksud bukan urusan ranjang ini?" ringis Shen Yue sembari mengusap dahinya dengan ekspresi canggung.
"Singkirkan seluruh isi pikiran konyolmu itu," Xiao Xuan melipat kedua tangannya di balik punggung, tatapan matanya berubah menjadi sedingin es, memancarkan aura pembunuh yang pekat dalam senyap. "Kerahkan beberapa barisan prajurit maut terbaik dari divisi bayangan klanmu. Kunci dan awasi setiap jengkal pergerakan seorang murid bernama Nie Li. Laporkan setiap aktivitas, dengan siapa dia berinteraksi, hingga teknik apa yang dia latih setiap harinya secara berkala. Ingat, lakukan ini dengan kerahasiaan absolut. Jika sampai keberadaan para prajurit maut itu terendus oleh target... mereka tahu apa yang harus dilakukan pada leher mereka sendiri."
Xiao Xuan membuat gestur menggorok leher yang dingin dengan ibu jarinya.
Melihat peralihan aura Xiao Xuan yang begitu intimidatif dan dewasa, keseriusan Shen Yue bangkit sepenuhnya. "Bawahan mengerti, Tuan Muda. Urusan ini akan diatur dengan tingkat keamanan tertinggi." Setelah membungkuk hormat, siluet Shen Yue segera melesat pergi menghilang di balik koridor batu.
**Kamar Tidur Utama Ye Ziyun, Kediaman Penguasa Kota**
Aroma lilin aromaterapi lavender menguar lembut di dalam kamar yang luas dan mewah tersebut. Ye Ziyun duduk di tepi ranjang sutranya, menatap lurus ke arah Shen Qingqiu yang tengah bersandar pada pilar ranjang dengan jubah yang sedikit longgar.
"Kakak Qingqiu, bagaimana analisis pribadimu setelah melihat situasi di kelas tadi pagi? Kau pasti tidak ingin melihat tontonan murahan di mana puluhan siswi jelata itu mencoba merayap mendekati Kakak Xuan setiap harinya, bukan? Atau... kau lebih rela melihat Kakak Xuan jatuh ke pelukan wanita asing lain dari luar klan besar?" tanya Ye Ziyun, nadanya tidak lagi menyiratkan kepolosan, melainkan ketegasan seorang putri penguasa yang tahu cara mengamankan aset berharganya.
Shen Qingqiu mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Kau tidak perlu memprovokasiku lebih jauh, Ziyun. Aku menerima tawaranmu. Mari kita bentuk aliansi taktis sementara untuk menyaring dan menyingkirkan setiap gangguan wanita di sekitar Kakak Xuan terlebih dahulu. Kita harus mengunci otoritas penuh agar tidak ada satu pun serangga luar yang bisa mendahului langkah kita. Mengenai bagaimana pembagian hasil akhir di antara kita berdua... kita akan bersaing secara sehat menggunakan kapasitas personal masing-masing setelahnya. Bagaimana?"
"Kesepakatan yang adil, aku tidak memiliki keberatan," Ye Ziyun mengulurkan tangan kanannya, yang langsung disambut oleh jabat tangan erat dari Shen Qingqiu. "Selanjutnya, mengenai pasokan barang-barang unik dan informasi harian untuk menaklukkan benteng pertahanan psikologis Kakak Xuan, aku akan mengandalkan jaringan logistik klanmu, Qingqiu."
"Serahkan saja urusan kecil itu padaku," sahut Shen Qingqiu dengan senyum kemenangan yang tertata rapi.
Di bawah remang cahaya malam Kota Glory, kedua gadis paling berpengaruh di generasi muda itu telah resmi mengikat janji aliansi demi pemenuhan kepentingan bersama mereka. Sementara itu, di paviliun pribadinya, Xiao Xuan yang tengah mengasah energi lautan jiwa ungunya sama sekali tidak menyadari bahwa jaring-jaring konspirasi asmara yang ditenun oleh dua gadis ini kelak akan membawa dinamika tak terduga dalam hari-hari tenangnya di akademi.