Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Hadiah dan Para Tetua
Keesokan harinya, pagi hari.
TOK TOK TOK.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kediaman.
Huang perlahan membuka matanya dari meditasi. Energi spiritual di sekitarnya masih berputar lembut sebelum akhirnya masuk seluruhnya ke dalam dantian. Dia menghembuskan napas panjang.
Kultivasinya kini terasa jauh lebih padat dibanding sebelumnya. Energi spiritual di tubuhnya bergerak lebih lancar melalui meridian. Huang bahkan merasa dirinya tidak terlalu jauh lagi dari Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung.
Tangannya yang kemarin berdarah kini sudah mengering. Luka-luka pecah di kulitnya mulai menutup perlahan, meskipun masih terasa nyeri saat digerakkan.
TOK TOK TOK.
Ketukan itu terdengar lagi.
Huang segera turun dari dipan kayu. Dia berjalan keluar dari kamar menuju ruang depan kediamannya. Setelah itu barulah dia mendekati pintu utama lalu membukanya perlahan.
Di luar, Lei Shan berdiri sambil menyilangkan tangan. "Hmm. Kau sudah bangun."
Huang segera menangkupkan kedua tangan.
"Salam, Tuan Lei."
Lei Shan langsung melemparkan beberapa benda ke arah Huang. Huang menangkap semuanya dengan cepat.
Yang pertama adalah token kayu hitam dengan ukiran awan di bagian tengah. Di bawah ukiran itu tertulis dua huruf kecil... Murid Luar.
Yang kedua adalah satu set pakaian abu-abu kebiruan milik murid luar Sekte Yunwu. Dan yang terakhir... sebuah cincin ruang.
Mata Huang sedikit membesar.
Lei Shan menyeringai kecil.
"Lihat isi di dalamnya."
Huang segera menyalurkan sedikit energi spiritual ke cincin ruang tersebut. Kesadarannya langsung masuk ke ruang kecil di dalam cincin.
Di sana terdapat seratus batu roh rendah tersusun rapi. Selain itu ada satu pedang perak sederhana dengan sarung hitam. Aura pedang itu tenang, tetapi jelas jauh lebih baik dibanding senjata biasa.
Lei Shan menggaruk dagunya. "Pedang itu senjata standar untuk kultivator Ranah Fondasi. Dan semua isi cincin itu hadiah dariku dan Luo Mei. Anggap saja ucapan terima kasih."
Huang benar-benar terdiam sesaat.
Seratus batu roh rendah. Ditambah pedang spiritual. Baginya itu jumlah yang sangat besar.
Sebelumnya Huang memiliki empat puluh batu roh rendah setelah menggunakan lima batu roh saat bermeditasi tadi malam. Sekarang setelah menerima tambahan seratus batu roh rendah, total miliknya menjadi seratus empat puluh batu roh rendah.
Huang langsung membungkukkan tubuh dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Tuan Lei. Terima kasih kepada Nona Luo juga."
Lei Shan terkekeh melihat ekspresi Huang.
"Sudahlah. Kau memang pantas mendapatkannya."
Setelah itu wajah Lei Shan menjadi sedikit serius. "Bersiaplah. Nanti datang ke aula utama murid luar. Beberapa tetua tertarik padamu. Mereka mungkin akan memilihmu menjadi murid pribadi."
Mata Huang langsung sedikit berbinar.
Murid pribadi tetua... Dia memang belum memahami sepenuhnya struktur sekte, tetapi dari ingatan yang diwariskan pria tua misterius itu, posisi itu jelas jauh lebih baik dibanding murid biasa.
Huang segera mengangguk. "Saya akan segera datang, Tuan."
Lei Shan melambaikan tangan malas lalu pergi meninggalkan kediaman.
Setelah pintu tertutup, Huang langsung masuk kembali ke dalam rumah. Dia menyimpan token murid luar, buntalan kain, ke dalam cincin ruang baru tersebut.
Setelah itu dia menuju ruang mandi kecil di belakang kediaman. Air dingin membasahi tubuhnya perlahan. Huang membersihkan darah kering di tangannya dengan hati-hati sambil memperhatikan luka-luka pecah di kulitnya. Meski hidupnya mulai berubah, tubuhnya masih mengingat kerasnya perjalanan selama ini.
Setelah selesai mandi, Huang mengenakan pakaian murid luar miliknya. Jubah abu-abu kebiruan itu terasa nyaman di tubuhnya. Di bagian dada terdapat lambang awan sederhana milik Sekte Yunwu.
Huang memandang dirinya beberapa saat.
Kalau ayah dan ibunya masih hidup... mungkin mereka akan tersenyum melihatnya sekarang.
Pikiran itu membuat dada Huang sedikit sesak. Namun dia segera menenangkan dirinya lalu keluar dari kediaman menuju aula utama murid luar.
Jalan-jalan di Sekte Yunwu mulai ramai oleh aktivitas murid. Beberapa membawa pedang, beberapa berlatih teknik tubuh di pelataran batu, dan beberapa lainnya duduk bermeditasi di bawah pohon tua.
Saat Huang berjalan melewati asrama pria, beberapa murid meliriknya dengan tatapan sinis.
"Itu bocah baru?"
"Katanya langsung jadi murid luar."
"Hmph. Pasti punya koneksi."
Huang mendengar semuanya. Namun dia tetap berjalan tenang tanpa membalas. Selama hidupnya, hinaan seperti itu sudah terlalu sering dia dengar. Tidak ada gunanya marah untuk hal kecil.
Setelah berjalan cukup jauh, Huang melihat Luo Mei berjalan mendekat dari arah lain. Wanita itu masih mengenakan jubah putih kebiruan yang sama seperti sebelumnya. Wajahnya tetap dingin, tetapi kali ini tidak terlalu jauh.
Huang segera menangkupkan tangan.
"Salam, Nona Luo."
Luo Mei menggeleng pelan. "Di sekte, panggil aku Kakak Senior."
Huang segera memperbaiki. "Baik, Kakak Senior Luo."
Luo Mei mengangguk tipis. Kemudian dia mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna hijau muda. "Untuk tanganmu. Pil pemulihan luka ringan."
Huang menerimanya dengan hati-hati.
"Terima kasih, Kakak Senior."
Tanpa ragu dia langsung menelan pil itu. Begitu pil masuk ke tubuhnya, rasa hangat langsung menyebar ke luka-luka di tangannya. Rasa nyeri perlahan memudar.
Luo Mei kemudian mulai berjalan. "Aku datang sekalian menunjukkan jalan."
Huang segera mengikuti di sampingnya.
Selama perjalanan, Luo Mei mulai menjelaskan banyak hal tentang Sekte Yunwu.
"Itu Aula Kontribusi."
"Itu Paviliun Teknik."
"Itu tempat murid luar menerima tugas sekte."
Huang mendengarkan semuanya dengan serius.
"Pemimpin Sekte Yunwu bernama Yun Guicheng," ujar Luo Mei. "Sedangkan yang memimpin wilayah murid luar adalah Tetua Wushuang. Dia membantu banyak urusan Pemimpin Sekte."
Huang mengangguk pelan sambil menyimpan semua informasi itu di kepalanya.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di depan aula utama murid luar. Bangunan itu sangat besar. Pilar-pilar batu hitam berdiri tinggi menopang atap luas dengan ukiran awan dan naga. Aura spiritual di sekitar aula terasa berat.
Luo Mei berhenti di depan pintu.
"Masuklah."
Huang menarik napas pelan lalu berjalan masuk.
Begitu memasuki aula, belasan tatapan langsung tertuju padanya. Beberapa tetua duduk di kursi kayu besar di kanan kiri aula. Aura mereka jauh lebih berat dibanding Lei Shan maupun Luo Mei. Di kursi paling depan duduk seorang pria tua berjubah hitam putih. Tatapannya tenang namun tajam.
Itu Tetua Wushuang.
Setelah jarak sudah dekat, Huang segera menangkupkan kedua tangan lalu membungkuk hormat.
"Murid Huang memberi salam kepada para Tetua."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Semua mata sedang menyelidikinya. Tatapan mereka menyapu tubuh Huang seperti mencoba melihat hingga ke dalam tulang dan meridiannya. Namun bukan tatapan penuh permusuhan. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai barang mentah.
Tetua berjubah merah tiba-tiba berbicara.
"Kau benar-benar berasal dari desa kecil?"
"Ya, Tetua."
"Kau belajar berkultivasi dari siapa?"
Huang terdiam sesaat. Dia tentu tidak bisa menceritakan semuanya tentang pria tua misterius di dasar kolam.
"Saya mendapatkan sedikit pemahaman secara kebetulan."
Beberapa tetua langsung saling pandang. Jawaban itu jelas menyembunyikan sesuatu. Namun dunia kultivasi memang penuh rahasia. Tidak ada yang terlalu memaksa.
Tetua lain bertanya lagi. "Kau tidak takut saat membantu Lei Shan dan Luo Mei?"
Huang menjawab jujur. "Saya takut. Namun kalau mereka mati, saya juga mungkin tidak akan hidup lama."
Jawaban itu membuat beberapa tetua tertawa kecil.
"Anak ini cukup terus terang."
Tetua Wushuang yang sejak tadi diam akhirnya membuka mulut.
"Kau sekarang berada di Ranah Fana Tahap Akhir. Fondasimu cukup kokoh. Namun bakatmu tidak terlalu menonjol."
Kalimat itu membuat aula sedikit sunyi.
Huang sendiri tidak terkejut. Dia tahu dirinya bukan jenius luar biasa.
Tetua berjubah biru langsung menggeleng.
"Sayang sekali. Keberaniannya bagus, tetapi bakatnya biasa."
Beberapa tetua mulai kehilangan minat.
Namun tepat saat itu, suara langkah goyah terdengar dari luar aula. Seorang pria tua berjubah kusut masuk sambil membawa kendi arak besar di tangannya. Rambutnya acak-acakan. Bau arak menyebar ke seluruh aula.
Para tetua langsung mengernyit.
"Lagi-lagi tetua gila ini..." gumam seseorang.
Pria tua itu duduk sembarangan di kursi kosong sambil menatap Huang setengah mabuk.
"Hm? Bocah ini yang menyelamatkan murid Fondasi?"
Lei Shan yang berdiri di samping aula mengangguk.
"Benar, Tetua Mo."
Tetua Mo langsung tertawa keras.
"Hahaha! Menarik!"
Dia menunjuk Huang dengan jari gemetar.
"Aku mau bocah ini."
Beberapa tetua langsung menghela napas panjang.
"Tetua Mo, kau bahkan sudah puluhan tahun tidak melatih murid."
"Jangan main-main."
Tetua Mo mendengus sambil meneguk araknya.
"Diam kalian."
Tatapannya kembali ke Huang. "Sudah lama aku tidak menemukan orang menarik. Aku ingin menurunkan teknik pedangku sebelum mati."
Seluruh aula langsung sunyi beberapa saat.