Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Wulan juga terkejut.
'Bahkan kalau Kakak bersedia membantu, dia juga nggak bakal meminjamkan uang sebanyak ini. sebenarnya, dari mana Kira mendapatkan uang sebanyak ini?'
Budi menghitung koin itu berkali-kali hingga langit mulai gelap. Kira menggerakkan jarinya ke arah Budi sambil berkata,
"Keluarkan surat perjanjian dan surat taruhan nya!"
Budi masih tidak bersedia mengeluarkan nya.
“Koin perunggu ini sudah usang, nggak bisa di pakai lagi. Aku nggak mau terima. Kalau kamu mau bayar utang, pakai uang emas."
Uang emas tidak dimiliki orang biasa. Bahkan Budi sendiri juga tidak mempunyai sebatang uang emas. Kali ini, Kira pasti tidak bisa mengeluarkan nya.
Agus juga mengangguk.
Jangankan Kira, bahkan Agus yang merupakan orang terkaya di dusun juga tidak mempunyai uang emas.
Budi jelas-jelas sedang mempersulit Kira. Para warga dusun yang menyadari hal ini pun langsung marah. Kesabaran Doddy juga sudah habis.
“Hei! Dikasih uang perak, kamu bilang palsu. Dikasih koin perunggu, kamu bilang sudah usang. Sekarang, kamu malah minta uang emas? Aku mau tahu alasan apa lagi yang bakal kamu lontarkan! Kamu memang sengaja nggak mau kasih Kak Kira bayar utang lantaran mau monopoli properti nya, kan! Berani banget kamu menindas Kak Kira! Aku pasti akan menghajar mu! Dasar bajingan!"
'Hajar saja!' teriak para warga dusun dalam hati. Budi malah hanya menatap Doddy dengan sinis.
"Aku ini pejabat pemerintah yang terdaftar. Kalau kamu berani memukul ku, kamu bakal di hukum pemimpin kabupaten!"
“Nggak masalah, aku terima!"
Doddy langsung mengepalkan tangan nya dan hendak meninju Budi, tetapi Kira menahan nya. Para warga dusun pun melepaskan tongkat kayu yang mereka pegang.
Meskipun pejabat seperti Budi bukan termasuk pejabat tinggi, dia tetap merupakan orang dari pemerintah bagi rakyat jelata.
Di Kerajaan Nayara, rakyat jelata yang berani memukul orang pemerintah akan di hukum dengan berat. Setelah melihat semua orang terkejut, Budi pun berkata dengan sombong,
"Pemboros, matahari sudah mau terbenam. Kalau kamu nggak bisa serahkan uang emas padaku, itu artinya kamu sudah melanggar perjanjian!"
Agus menggeleng. Kira pasti sudah sangat kesulitan untuk mengumpulkan uang perak dan koin perunggu. Mana mungkin dia punya uang emas. Hari ini, Kira akan sepenuhnya bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi.
"Mau mempersulit ku dengan uang emas? Jangan mimpi!"
Kira pun melemparkan sesuatu ke lantai dengan santai. Saat melihat barang di atas lantai, para warga dusun dan Agus langsung membelalak!
"Aku memang mau mempersulit mu. Kalau kamu nggak bisa kasih aku uang emas, tanah dan rumahmu akan menjadi milik ku. Termasuk istri cantik mu itu!"
Salah seorang anak buah Budi berkata,
"Tu..Tuan, coba lihat itu!"
"Lihat apa? Kamu kira yang dia lempar itu benar-benar uang emas?" cibir Budi.
Dia melirik ke lantai, lalu langsung membelalak. Setelah membungkuk untuk melihat jelas, ekspresinya berubah menjadi sangat suram.
Cahaya matahari terbenam menyinari uang emas itu hingga terlihat sangat berkilau.
Budi memungut uang emas itu, lalu menggosoknya ke baju sebelum menggigitnya. Kemudian, ekspresinya pun bertambah muram.
"Dari mana kamu mendapatkan nya!"
Sebatang uang emas sudah bernilai 50 ribu rupiah. Ditambah dengan uang perak dan koin perunggu, totalnya sudah 130 ribu rupiah. Kenapa Kira bisa punya begitu banyak uang?
"Kamu nggak perlu tahu!" Kira langsung menjawab dengan ketus,
“Aku cuman mau tanya, itu emas apa bukan?"
Para warga dusun juga menatap Budi. Kira sudah memberikan semua yang Budi minta, mereka mau tahu bagaimana rentenir ini mau mencari alasan lagi.
"Emas ini agak keras, pasti sudah dicampur dengan perunggu. Aku cuman terima emas murni!"
Budi mengabaikan bekas gigitan nya di batang emas, lalu mencari alasan lain untuk menolak.
"Dicampur perunggu? Hei! Memangnya gigimu begitu kuat sampai bisa meninggalkan bekas gigitan di perunggu? Kenapa kamu begitu nggak tahu malu?"
Amarah semua warga dusun sudah terpancing. Danu dan Tony juga mengepalkan tangan mereka, Budi sudah keterlaluan.
"Dasar nggak manusiawi! Meski harus masuk penjara, aku juga harus menghajar mu!"
Amarah Doddy pun meledak. Dia hendak bertindak, tetapi malah dicegah Kira. Agus juga mengerutkan keningnya.
'Kali ini Budi memang sudah keterlaluan.'
Wulan juga kebingungan. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa.
"Budi, hari ini kamu memang sudah memutuskan untuk mempersulit ku, ya?"
Kira menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan nya terlihat sangat tajam dan mengerikan.
"Benar!" Budi tersenyum sinis sambil berkata,
“Asalkan aku nggak setuju, kamu nggak bakal bisa bayar utang. Kalau kamu nggak terima, kita boleh pergi ke pengadilan daerah. Tapi hari ini kita sudah nggak bisa pergi ke sana. Besok, kamu sudah jadi budak ku. Kamu punya hak apa lagi untuk menuntut ku?"
Kira mengerutkan keningnya,
"Jadi, kamu mau bertindak seenaknya?"
Budi berkata dengan mendominasi,
“Benar! Memangnya kamu bisa apa? Aku punya anak buah dan kedudukan, sedangkan kamu cuman pemboros yang... Ah!"
"Nggak mau selesaikan baik-baik? Oke!"
Kira sudah tidak bisa menahan tindakan Budi yang keterlaluan. Dia pun langsung meninju wajah Budi.
"Ah!"
Budi terpental ke lantai, sudut bibirnya juga berdarah. Dia merasa takut, tetapi juga marah,
"Ka... kamu berani memukul ku?"
Sebagai kepala desa, bahkan pemimpin dusun juga harus bersikap hormat terhadapnya. Para warga desa juga langsung ketakutan saat melihatnya. Jadi, belum ada yang pernah memukulnya. Apalagi, Budi juga datang bersama empat anak buahnya, Ini juga merupakan alasan kenapa dia berani bersikap seenaknya.
Bagaimanapun juga, Budi memiliki banyak anak buah dan juga mengerti jelas tentang sistem pengadilan daerah.
Para warga dusun juga tercengang. Tidak ada yang menyangka Kira berani memukul Budi. Agus langsung bersyukur karena dia tidak lanjut membela Budi setelah Kira kembali.
"Memangnya kamu pikir kamu itu hebat? Kamu cuman seorang pejabat kecil yang nggak ada apa-apanya! Tapi, kamu malah berani menindas warga desa?"
"Warga desa memang nggak berani memukulmu, tapi aku berani! Kalau kamu punya nyali, silakan tuntut aku ke pengadilan daerah! Aku mau tahu pihak pengadilan lebih percaya sama kamu atau aku yang merupakan seorang pelajar! Aku nggak percaya kamu bisa memenangkan hati pemimpin kabupaten!"
Kira langsung memaki dan menendang Budi yang tersungkur di lantai. Dia benar-benar tidak menyangka pejabat kecil di era ini begitu arogan dan seenaknya.
Berhubung pemilik tubuh sebelumnya sangat boros dan berkarakter buruk, Budi mengira tidak akan ada yang membantunya. Jadi, Budi pun ingin mencelakai nya.
Sayangnya, Budi sudah salah. Kira sudah melewati dimensi dan datang ke tempat ini. Dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas lagi.
"Ah! Beraninya kamu memukul ku! Kamu memang sudah bosan hidup! Cepat hajar dia!" teriak Budi.
Keempat anak buah Budi hendak menyerang Kira, tetapi Doddy langsung menjatuhkan mereka sendirian.
"Dia berlatih bela diri!" Budi langsung ketakutan.
Selama ini, Budi berani bersikap begitu arogan karena mempunyai status sebagai kepala desa dan mempunyai anak buah yang banyak.
Sekarang, Doddy malah bisa dengan mudahnya mengalahkan keempat anak buahnya yang jago berkelahi.
Sementara, Kira juga tidak takut pada statusnya sebagai kepala desa. Gawat! Kira terus menendangnya tanpa ampun.
"Ah."
Seluruh badan Budi terasa sakit. Dia meringkuk sambil menutup kepalanya dan memohon,
“Pak Agus, apa kamu bakal biarkan aku dipukuli begitu saja? Tunggu saja waktu musim panen nanti!"
Setelah memikirkan hal penting itu, Agus buru-buru menasehati Kira,
"Kira, ayo kita bicara baik-baik. Jangan..."
"Diam! Kenapa tadi kamu nggak nasihati dia untuk bicara baik-baik sama aku!"
Kira bahkan tidak menoleh dan lanjut menendang Budi.
Agus pun terdiam. Dia hanya bisa menatap Wulan, lalu berkata,
"Bujuk lah suami mu. Kalau orangnya mati, masalahnya bisa jadi besar."
Wulan hanya cemberut tanpa berkata apa-apa. Dia membatin,
'Suamiku nggak bodoh. Dia nggak bakal bunuh si Tua Bangka itu.'
Dari tadi, Wulan sudah memperhatikan Kira. Selain tinju pertama yang dilayangkan ke wajah Budi, Kira hanya menendang kaki, pantat, punggung, dan tempat-tempat tidak berbahaya lainnya. Jadi, Budi tidak akan mati.
Melihat Wulan yang tetap diam, Agus menatap ke arah Danu, Doddy, dan Tony. Namun, mereka juga tidak memedulikan Agus. Agus memandang para warga dusun lagi. Para warga dusun malah terlihat bersemangat dan ingin ikut menendang Budi.
Para warga desa selalu di tindas oleh Budi, dari pemerasan pajak panen dan pajak-pajak lainnya hingga kerja rodi serta kontribusi lain nya. Jadi, mereka memang sudah dendam kesumat pada Budi. Hanya saja, mereka tidak berani melalukan apa-apa.
"Bag...bug...bag...bug..."
Setelah menendangnya sampai capek, Kira pun mencari tongkat kayu dan lanjut memukul Budi.