NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku misterius

Berkat perawatan yang sangat telaten, sabar, dan penuh kasih sayang dari Brisa, kondisi tubuh Yuse perlahan namun pasti mulai membaik setiap harinya. Rasa nyeri tajam di bagian dadanya sudah jauh berkurang, meskipun untuk sekadar menggerakkan tubuh atau duduk tegak ia masih merasakan kesulitan yang luar biasa.

Di balik kesibukannya mengganti perban dan merawat luka-luka Yuse, sebenarnya hati Brisa dipenuhi rasa penasaran yang tak berkesudahan. Mengapa sekelompok orang yang sangat kuat sampai rela bertarung nyawa demi menyerang Cindy? Apakah murni karena dia seorang putri kerajaan yang kaya raya, atau ada alasan lain yang jauh lebih penting dan mendasar di balik semua itu?

Sambil menatap wajah Yuse yang sesekali meringis menahan sisa rasa sakit, Brisa sebenarnya sudah berkali-kali ingin bertanya. Tapi ia selalu ragu, merasa seolah pemuda ini sengaja menutup mulut dan menyembunyikan sesuatu yang besar. Namun, keheningan yang terus berlanjut di dalam kamar itu lama-kelamaan malah membuat Yuse sendiri merasa tidak nyaman karena terus-menerus diperhatikan.

“Ada apa sih, Brisa?” tanya Yuse akhirnya memecah keheningan. “Matamu nggak lepas dari aku dari tadi pagi. Sepertinya ada hal penting yang mau kau tanyakan padaku, kan?”

Brisa menghela napas panjang, lalu memberanikan diri membuka suara dengan nada pelan dan hati-hati.

“Yuse… sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi hari itu? Kenapa orang-orang itu sampai nekad menyerang Cindy Gulla? Apa mereka cuma mau merampok hartanya, atau ada hal lain yang jauh lebih berharga yang mereka cari?”

Yuse mencoba memperbaiki posisi duduknya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kasur agar lebih nyaman. Ia menatap lurus ke mata Brisa, dan dalam hatinya ia berpikir bahwa tidak ada lagi rahasia yang perlu disembunyikan dari gadis yang sudah ia percayai sepenuhnya ini.

“Orang-orang itu sama sekali bukan perampok atau bandit biasa, Brisa,” jawab Yuse dengan nada yang serius dan berat. “Mereka berasal dari sebuah perguruan silat jahat yang bernama Padepokan Lintis Bumi. Waktu di dalam kereta, Cindy sempat cerita kalau mereka sengaja menjegal dan mengejarnya cuma demi satu hal: mengambil buku tua yang sedang dia bawa itu.”

“Ada apa sebenarnya dengan buku itu sampai seberharga itu?” sambung Brisa makin penasaran, rasa ingin tahunya makin memuncak.

Yuse menatap ke arah jendela yang terbuka, seolah sedang menerawang jauh ke masa lalu belasan tahun yang silam.

“Aku sendiri sebenarnya nggak tahu seberapa hebat dan seberapa penting buku itu,” jawabnya jujur. “Aku nemu buku itu secara nggak sengaja di dalam sebuah gua tua pas aku lagi pergi bermeditasi sendirian belasan tahun yang lalu. Waktu aku buka dan coba baca isinya, aku sama sekali nggak suka. Isinya memang berisi ilmu kanuragan tingkat tinggi, tapi gaya dan cara bertarungnya sama sekali nggak cocok sama sifat dan jalan pikiranku. Jadi aku nggak pernah mau pelajari sedikit pun.”

“Terus kalau begitu, kenapa kau malah kasihkan buku seberharga itu ke Cindy?” cecar Brisa lagi makin penasaran.

“Waktu dia masih kecil, dia hampir diculik dan dibawa pergi sama orang jahat,” jelas Yuse panjang lebar. “Waktu itu aku cuma mikir kalau aku kasih buku itu ke dia, paling nggak dia bisa pelajari gerakan dasarnya aja buat jaga diri sendiri kalau ada bahaya datang. Aku sama sekali nggak tahu kalau buku tua yang aku anggap biasa aja itu ternyata sangat berharga dan dicari-cari sama semua orang sampai rela bunuh diri.”

Di tengah obrolan serius mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan dari balik pintu kayu kamar.

Tok… Tok… Tok…

Brisa segera bangkit berdiri dan membukakan pintu. Ternyata Cindy Gulla yang datang kembali. Tapi kali ini dia tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri seorang lelaki tua yang diperkirakan sudah berumur sekitar delapan puluh tahun. Meski tubuhnya sudah mulai bungkuk dan beruban, pria tua itu memancarkan aura wibawa yang sangat kuat dan menekan, sampai-sampai udara di sekitar ruangan itu terasa jadi lebih berat dan sulit untuk dihirup.

Tanpa basa-basi sedikit pun dan tanpa mau memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, pria tua itu langsung menyampaikan maksud kedatangannya: ia ingin menanyakan satu hal yang sangat penting langsung kepada Yuse. Mengerti akan situasi yang serius itu, Cindy dan Brisa sama-sama memilih untuk keluar dari kamar dan menunggu di luar supaya mereka bisa bicara dengan tenang. Meski di dalam hatinya Cindy rasanya berat sekali harus menjauh dari sisi Yuse, tapi dia tetap menurut.

“Siapa namamu, anak muda?” tanya pria tua itu dengan suara berat dan dalam yang penuh penekanan.

“Yuse Yattama,” jawab Yuse tegas dan tenang, berusaha menahan tekanan aura yang keluar dari tubuh orang tua itu.

“Nama yang bagus dan kuat,” puji pria tua itu dengan nada datar tanpa ekspresi. “Ada satu hal penting yang mau kutanyakan padamu.”

Belum sempat orang tua itu menyelesaikan kalimatnya, Yuse langsung memotongnya dengan cepat dan tepat sasaran.

“Kalau kau mau bertanya soal isi buku itu, aku sama sekali nggak tahu apa-apa,” ujar Yuse langsung.

Alis putih orang tua itu sedikit terangkat ke atas karena terkejut.

“Begitu rupanya… Kalau begitu, dari mana tepatnya kau bisa mendapatkan buku sekuno dan seistimewa itu?”

“Aku menemukannya di dalam sebuah gua di dekat tebing terjal yang letaknya di ujung paling barat wilayah Kerajaan Palipurna, tidak jauh dari tempat aku dulu belajar,” jawab Yuse jujur tanpa menyembunyikan apa pun. “Kenapa kau menanyakan semua ini padaku?”

Orang tua itu mengelus-elus janggut putih panjangnya perlahan.

“Buku itu sudah hilang dan tak berbekas selama ratusan tahun lamanya. Tidak ada satu pun pendekar hebat atau jawara dunia yang bisa menemukannya. Konon cuma orang-orang yang ditakdirkan dan terpilih sajalah yang bisa melihat keberadaannya. Melihat pemuda seberbakat dan seambisius dirimu, nggak heran kalau buku itu akhirnya menampakkan dirinya padamu.”

Yuse yang tidak suka berbelit-belit atau membuang waktu langsung bicara dengan tegas.

“Kita langsung ke intinya saja ya. Sebenarnya apa tujuan utamamu datang ke sini? Apa kau mau mengambil buku itu kembali buat dirimu sendiri? Kalau iya, maaf tapi buku itu sekarang bukan milikku lagi. Kalau kau mau memintanya, minta saja sama muridmu yang ada di luar sana.”

Orang tua itu malah menggeleng kepalanya pelan dengan tenang.

“Bukan. Lagipula aku sudah terlalu tua dan tenagaku sudah habis, nggak sanggup lagi buat pelajari ilmu baru yang seberat itu. Aku cuma mau kasih tahu satu hal penting padamu: buku yang kau temukan itu namanya Janma Manunggal, dan saat ini hampir seluruh sekte aliran hitam di seluruh penjuru negeri sedang bergerak dan memburunya mati-matian.”

Mendengar nama itu, seketika minat dan perhatian Yuse makin tertarik.

“Lalu apa bahayanya kalau buku Janma Manunggal itu sampai jatuh ke tangan orang yang salah?”

“Tidak ada satu pun orang yang tahu pasti seberapa dahsyat kehancuran yang bakal terjadi kalau ilmu di dalamnya disalahgunakan untuk hal jahat,” jawab sang orang tua misterius itu, mengakhiri seluruh penjelasannya.

Yuse mengangguk pelan tanda paham dan mengerti betapa beratnya bahaya yang sekarang menimpa mereka.

“Baiklah, kalau begitu aku sudah paham semuanya. Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”

Orang tua itu langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari kamar. Di koridor luar ia berpapasan dengan Cindy yang sedang menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran. Cindy menatap gurunya dengan tatapan memelas dan penuh harap.

“Guru… aku masih mau tetap tinggal di sini nemani Yuse. Boleh kan aku nggak ikut pulang sekarang?”

Sang guru sama sekali tidak melarang keinginan murid kesayangannya itu. Ia cuma menepuk pundak Cindy pelan sekali sambil berpesan dengan lembut.

“Boleh. Terserah kamu saja. Tapi ingat, jaga dirimu baik-baik di sini.”

Selesai mengucapkan itu, tubuh pria tua itu perlahan menjauh dan tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan mata seolah ditelan angin, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Cindy langsung melesat masuk kembali ke dalam kamar, lalu duduk di kursi kecil tepat di samping kasur tempat Yuse berbaring. Sambil terus menanyakan perkembangan keadaan tubuh Yuse, matanya sama sekali nggak mau lepas dari wajah pemuda yang selama ini ia kagumi dan cintai diam-diam. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, terus menatap sambil senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang jelas.

Merasakan tatapan yang terus-menerus dan bikin salah tingkah itu, wajah Yuse jadi memerah dan sedikit tersipu malu.

“Kenapa kau terus-terusan menatapku seperti itu, Cindy? Ada yang aneh di wajahku?” tanyanya akhirnya memecah keheningan.

“Ah nggak apa-apa kok!” jawab Cindy cepat sambil memalingkan wajahnya yang sudah merah padam, terlalu malu untuk mengakui kalau dia cuma senang banget bisa lihat wajah Yuse dari dekat.

Untuk mengalihkan rasa canggung yang makin tebal di udara, Yuse kembali bertanya hal lain.

“Pria tua tadi… dia beneran gurumu yang paling kau percayai?”

Cindy langsung mengangguk antusias, matanya bersinar terang penuh rasa hormat dan kagum.

“Iya banget! Beliau bernama Mpu Sandry. Ayahku sendiri yang memilih dan mengundang beliau secara khusus buat mendidik sekaligus melindungiku selama aku belajar di perguruan Arpati. Kata Ayah, selama aku masih ada di bawah bimbingan dan perlindungan Mpu Sandry, nyawaku bakal selalu aman dan nggak bakal ada bahaya apa pun yang bisa mendekat.”

Setelah ketegangan dan rasa canggung itu mencair perlahan, mereka berdua menghabiskan sisa malam itu dengan mengobrol hangat tentang banyak hal, dari masa lalu, impian, sampai hal-hal sepele yang bikin tertawa. Sampai akhirnya rasa lelah dan kantuk makin berat menyerang, membuat Yuse perlahan terlelap dan tidur pulas, sementara Cindy tetap diam duduk di sampingnya, menatap wajah tidur pemuda itu dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan perlindungan.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!