NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANDIWARA DI MEJA MAKAN.

Suasana ruang makan kediaman utama keluarga Akram pagi itu terasa hangat. Aroma nasi goreng mentega dan ayam bumbu meresap hingga ke sudut ruangan. Rizal, sang ayah, sudah duduk tenang sambil melipat koran paginya, sementara Kakek Akram sibuk mengaduk kopi hitam. Astuti, sang ibu, sedang menata piring-piring dibantu oleh dua orang pelayan.

Ardiah turun dengan langkah anggun. Namun, ia mendadak memperlambat jalannya saat melihat Haikal mengekor di belakangnya. Pria itu berjalan dengan gestur yang sangat aneh. Satu tangannya memegangi bokong kiri, sementara tubuhnya agak membungkuk seperti kakek-kakek yang encok.

"Aduh, pinggangku... bokongku rasanya mau lepas," keluh Haikal sengaja memperkeras suaranya begitu mendekati meja makan.

Astuti yang sedang meletakkan mangkuk buah langsung menoleh. Detik itu juga, ia teringat pesan panjang bernada ancaman dan permohonan dari anak bungsunya tadi malam. Senyum geli hampir terbit di bibir Astuti, namun sebagai ibu yang suportif, ia langsung memasang wajah panik dan memulai dramanya.

"Ya ampun, Ikal! Kamu kenapa? Kok jalan sambil pegang bokong begitu?" tanya Astuti dengan nada cemas yang dibuat-buat.

Haikal langsung memasang wajah memelas, melirik ibunya dengan kode mata yang sangat jelas. "Ini semua gara-gara sofa abu-abu di kamar Ikal, Mah. Sempit dan keras banget."

Rizal yang sejak tadi menyimak pembicaraan dari balik meja makan mengernyitkan dahi. Ia menurunkan korannya lalu menatap anak bungsu mereka dengan heran. "Memangnya kenapa dengan sofa di kamarmu? Rusak?"

"Ikal jatuh semalam dari sofa itu, Pah. Benar-benar terjungkal sampai kepala Ikal benjol," adu Haikal dengan nada manja, melirik Ardiah yang kini pura-pura sibuk menata sendok karena menahan malu.

Astuti menepuk pipinya sendiri, menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan. "Astaga, jatuh? Lagian kamu ngapain bisa jatuh, Kal?"

"Ya tidurlah, Pah, Mah. Masa main bola," jawab Haikal spontan sambil mendudukkan dirinya dengan sangat hati-hati di kursi sebelah Ardiah, seolah pantatnya benar-benar terluka parah.

Kakek Akram yang sejak tadi diam, mendadak meletakkan cangkir kopinya. Tatapan matanya yang tajam menelisik ke arah Haikal dan Ardiah secara bergantian. "Tidur? Kok tidurnya di sofa?"

Haikal mendadak membeku, menyadari arah pertanyaan kakeknya mulai berbahaya.

"Atau jangan-jangan... kalian berdua ini tidak tidur seranjang, ya?" tebak sang Kakek dengan dahi berkerut.

*Uhuk! Uhuk!*

Ardiah yang baru saja meneguk teh hangatnya seketika tersedak hebat. Wajahnya langsung memerah padam karena terkejut dengan tebakan sang Kakek yang seratus persen akurat.

Melihat hal itu, Haikal langsung bergerak cepat. Ia menyambar gelas air putih milik Ardiah dan menyodorkannya ke bibir istrinya. "Ayo minum dulu, Kak. Pelan-pelan."

Sambil Ardiah minum, tangan kekar Haikal dengan cekatan mengusap-usap punggung Ardiah dengan lembut. Gerakan refleks yang terlihat begitu perhatian itu membuat jantung Ardiah kembali berdegup tidak keruan.

Haikal kemudian menoleh ke arah sang Kakek dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. "Kakek, lihat nih. Ardiah jadi tersedak kan gara-gara mendengar pertanyaan Kakek yang aneh-aneh. Jangan digoda terus dong istriku, Kek."

Sebenarnya, dalam hati Haikal sedang bersorak kegirangan. Ia sengaja memprotes sang Kakek karena ingin melihat reaksi gugup Ardiah yang menurutnya sangat menggemaskan.

Kakek tidak menyerah begitu saja. Ia mengetuk meja dengan jarinya. "Kakek kan cuma bertanya. Kenapa kamu bisa tidur di sofa? Itu artinya kalian pisah ranjang, kan?"

Ardiah yang sudah mulai tenang setelah minum, buru-buru memotong sebelum Haikal salah bicara. "Enggak kok, Kek. Kami tidur seranjang," jawab Ardiah dengan nada suara yang agak gugup dan senyum yang dipaksakan.

Kakek Akram mengangguk-angguk puas, lalu kembali menikmati sarapannya. "Bagus kalau begitu. Pengantin baru harus selalu menempel."

Setelah situasi kembali tenang, Haikal berdeham kecil. Ini adalah saatnya melancarkan serangan kedua sesuai rencana yang sudah ia susun dalam pesan teks semalam.

"Oh iya, Mah, Pah. Nanti setelah pulang kerja dari kantor, Ikal sama Ardiah mau langsung pindah dan pulang ke apartemennya Ikal, ya?" ujar Haikal memancing.

Mendengar kalimat itu, Astuti langsung menghentikan aktivitas makannya. Ia meletakkan garpu dengan dramatis, lalu memasang wajah paling sedih yang bisa ia tunjukkan.

"Apa? Pulang ke apartemen?" tanya Astuti dengan suara yang bergetar, menatap Haikal dengan pandangan kecewa. "Kamu tega sekali ya, Haikal. Mama ini baru satu hari menikmati suasana memiliki anak perempuan di rumah ini. Kamu sudah mau memisahkan kami berdua?"

Haikal memutar bola matanya, mencoba mengimbangi akting luar biasa ibunya. "Siapa yang mau memisahkan sih, Mah? Ikal kan cuma ingin kami belajar mandiri sebagai pasangan baru."

"Tidak! Pokoknya Mama tidak setuju!" bantah Astuti tegas. "Kalian berdua harus tetap tinggal di sini dulu untuk beberapa bulan ke depan. Sampai Mama puas merawat anak perempuan baru Mama ini."

Astuti kemudian menggeser kursinya, mendekat ke arah Ardiah. Ia meraih punggung tangan Ardiah, menggenggamnya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan yang tulus.

"Kamu setuju kan, Diah, untuk tinggal di sini dulu? Tolong mengerti perasaan Mama, ya sayang," mohon Astuti, menatap lekat-lekat netra mata menantunya. "Mama dari dulu ingin sekali punya anak perempuan, tapi yang lahir malah laki-laki semua dua-duanya. Makanya, begitu tahu Haikal mau menikah, Mama senang sekali. Mama tidak pernah menganggap kamu hanya seorang menantu, Diah. Kamu sudah seperti anak kandung Mama sendiri. Jadi, Mama mohon tinggal di sini dulu, ya?"

Mendengar rentetan kalimat tulus dari ibu mertuanya, pertahanan di dalam diri Ardiah seketika runtuh berantakan. Matanya mendadak terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Ingatannya berputar pada masa lalunya yang kelam bersama mantan ibu mertuanya terdahulu. Selama lima tahun pernikahan yang lalu, wanita itu selalu menjaga jarak, bersikap dingin, dan menganggap Ardiah sebagai menantu pembawa sial karena tidak bisa memberikan keturunan.

Namun di sini, di keluarga Akram, ia justru disambut dengan pelukan hangat dan kasih sayang yang begitu besar dari seorang ibu yang baru ia kenal. Rasa haru yang membuncah membuat Ardiah tidak tega untuk menolak.

"Baiklah, Mah. Diah akan ikuti keinginan Mama untuk tinggal di sini," jawab Ardiah dengan suara bergetar pasrah.

Astuti langsung tersenyum lebar dan menarik tubuh Ardiah ke dalam dekapan hangatnya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih karena sudah mau tinggal di sini bersama Mama."

Di sela-sela pelukan erat itu, Astuti menongolkan kepalanya sedikit lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Haikal yang duduk di belakang Ardiah. Haikal yang melihat kode kemenangan itu langsung menyeringai lebar dan memberikan acungan jempol tinggi-tinggi untuk ibunya. Strategi mereka berhasil total. Ini artinya, sofa di kamar akan segera disingkirkan, dan ia akan tetap tidur satu kamar dengan Ardiah.

Setelah ritual sarapan pagi yang penuh drama itu selesai, Haikal dan Ardiah berpamitan untuk berangkat menuju kantor. Kebetulan, mereka bekerja di bawah naungan perusahaan yang sama, di Artha Design, firma arsitektur dan desain interior terbesar di kota tersebut, di mana Haikal menjabat sebagai pimpinan tertinggi sekaligus pemiliknya.

Di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh Roni, asisten pribadi sekaligus sopir Haikal, suasana mendadak sunyi. Haikal melirik Ardiah yang sejak tadi menatap keluar jendela.

"Kak Diah," panggil Haikal memecah keheningan. "Terima kasih, ya."

Ardiah menoleh, sedikit bingung. "Untuk apa?"

"Untuk yang tadi di meja makan. Terima kasih karena sudah mau memenuhi keinginan Mamaku yang ingin merasakan punya anak perempuan," ucap Haikal dengan nada tulus, tanpa ada nada bercanda seperti biasanya.

Ardiah tersenyum tipis, tatapannya melembut. "Justru seharusnya aku yang berterima kasih pada Mamamu, Haikal. Aku bisa merasakan kembali kehangatan seorang ibu di rumah itu. Sejak aku duduk di bangku SMP, ibuku sudah meninggal dan aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang seperti itu."

Mendengar pengakuan jujur itu, ada sebersit rasa iba sekaligus kagum di hati Haikal. Pria itu menahan diri untuk tidak langsung menggenggam tangan Ardiah demi menjaga kenyamanan sang istri.

Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Beberapa menit kemudian, sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang megah dan tulisan besar Artha Design mulai terlihat di ujung jalan. Kompleks kantor itu sangat luas, dengan ratusan karyawan yang mulai berlalu-lalang di area depan.

Seketika, raut wajah Ardiah berubah panik. Ia langsung menepuk pundak Roni yang sedang menyetir. "Roni, stop! Berhenti di depan ruko kosong itu saja."

Roni terkejut dan melirik Haikal dari kaca spion tengah. Haikal langsung mengernyitkan dahinya tidak setuju. "Lho, kenapa berhenti di sini, Kak? Kantor kita kan masih sekitar dua ratus meter lagi di depan. Cuaca mulai panas, nanti kamu pegal kalau berjalan kaki dari sini."

"Haikal, ingat perjanjian kontrak pra-nikah kita," bisik Ardiah dengan nada penuh penekanan agar tidak terdengar jelas oleh Roni. "Di kantor, tidak boleh ada satu pun karyawan yang tahu tentang hubungan pernikahan kita. Kalau kita turun dari mobil yang sama di depan lobi, besok pagi satu kantor akan langsung heboh!"

Haikal menghela napas panjang, merasa kesal dengan pembatasan yang dibuat istrinya sendiri. Namun, ia juga tidak bisa membantah perjanjian yang sudah disepakatinya.

Haikal kemudian memberikan isyarat mata yang samar kepada Roni melalui spion. Roni yang sudah sangat paham dengan tabiat bosnya langsung berdeham. "Maaf, Nyonya... Di depan ruko itu ada rambu dilarang berhenti. Nanti kita bisa ditilang polisi. Kita maju sedikit lagi ya, di dekat halte depan kantor."

Ardiah akhirnya pasrah. "Ya sudah, di depan halte saja."

Mobil akhirnya berhenti tepat di dekat halte yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari lobi utama. Sebelum membuka pintu mobil, Ardiah menoleh ke arah Roni dengan tatapan memperingatkan. "Roni, ingat ya. Begitu sampai di dalam area kantor, jangan pernah sekali-kali memanggilku dengan sebutan Nyonya. Mengerti?"

"Siap dimengerti, Mbak Diah," jawab Roni sambil menahan senyum lucunya.

Ardiah mengangguk puas, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan turun. Ia setengah berlari dengan langkah-langkah kecil menuju lobi utama Artha Design, membaur di antara kerumunan karyawan lain agar tidak memancing kecurigaan.

Haikal yang masih duduk di dalam mobil memperhatikan punggung Ardiah yang perlahan menjauh dari pandangannya. Sebuah senyuman penuh kepuasan kembali terukir di wajah tampannya.

"Dia pikir dia bisa terus lari dariku," gumam Haikal pelan dengan nada penuh tekad.

"Mau langsung ke basement, Pak?" tanya Roni membuyarkan lamunan bosnya.

"Iya, Ron. Jalankan mobilnya," perintah Haikal. Sambil bersandar di kursi belakang, otaknya sudah mulai berputar cepat, menyusun berbagai strategi dan rencana baru untuk membuat sang istri pelan-pelan bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya selama mereka berada di kantor nanti.

1
Pujiastuti
semangat Haikal semoga kamu bisa meluluhkan hati Ardiah dan kalian cepat bersama lagi
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!