"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Ambisi
Sebulan telah berlalu, Ashura sudah beradaptasi di akademi dengan baik, walaupun ada beberapa bangsawan yang menolak keberadaannya karena statusnya yang bukan penduduk Kerajaan Flameheart, namun Ashura selalu mendapatkan pembelaan dari Kaira.
Ashura sudah mengetahui alasan Kaira membawanya ke Kerajaan Flameheart, karena hutang budi Leon Leywin kepada Ibunya.
Di Akademi Sihir Flameheart, Ashura tidak memiliki teman yang banyak, tetapi akhir-akhir ini ia mulai berlatih bersama Ark dan Saga.
Bahkan siang ini setelah selesai melakukan kegiatan di akademi, Ashura berniat pergi ke tempat latihan bersama Ark dan Saga.
Mereka bertiga melewatii pasar Ibukota Flameheart yang cukup ramai, Ashura mengamati keramaian dan tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya sinis.
"Ashura, aku selalu mendengar omongan orang-orang jika dirimu bukan berasal dari Flameheart. Apa itu benar, Ashura?" ujar Ark kepada Ashura.
"Seperti katamu Ark, aku bukan berasal dari sini. Aku lahir di Xyrus. Tidak banyak hal yang ingin kuingat disana." Ashura memberitahu Ark.
Ark tidak bertanya lebih jauh, karena menyadari kehadiran mereka bertiga membuat orang-orang menjaga jarak.
Ashura melirik Ark yang terdiam dan ia menoleh ke arah Saga yang berjalan menunduk menyusuri pasar yang ramai.
"Aku akan membeli minuman, kalian berdua pergilah duluan, nanti aku akan menyusul," ujar Ark sambil berjalan menuju toko minuman.
Ada pemandangan aneh yang Ashura rasakan, tatapan yang sangat menusuk ini bukan hanya ditujukan kepadanya saja, melainkan kepada Saga juga. Ini adalah hal yang aneh baginya, karena Saga adalah anak yang lahir di Flameheart dan keturunan dari Raja Sihir Pertama Flameheart.
"Monster itu lewat," bisik seorang wanita, suaranya gemetar penuh kebencian.
"Apa yang dipikirkan Raja Sihir membiarkan anak itu menjadi penyihir!"
"Anak yang bersamanya juga orang asing. Anak itu berhasil masuk ke akademi, tetapi anakku gagal. Aku rasa ada yang salah dengan penguasa kerajaan ini."
Tatapan murka, penuh kebencian dan takut bukan hanya ditujukan kepada Ashura saja, namun Saga yang biasanya terlihat ceria menjadi murung dan tidak mengatakan sepatah katapun.
"Saga, apa kau baik-baik saja?" ujar Ashura yang khawatir.
Saga pun menoleh ke Ashura dan melepaskan senyum khasnya sebelum ia berteriak dengan keras.
"Dengarkan baik-baik, kalian semua! Aku akan membuat kalian mengakuiku dan menerima keberadaanku! Satu hal lagi yang harus kalian dengar! Aku akan menjadi penyihir terhebat yang pernah ada di Kerajaan Flameheart!" teriak Saga lantang, suaranya menggema dan membuat para penduduk lebih meremehkan dirinya.
"Enyah dari sini bocah!"
"Aku tidak akan mengakuimu menjadi penyihir!"
Para penduduk yang mendengar teriakkan Saga menjadi histeris, kemudian Saga berlari dan tertawa lepas meninggalkan riuh pasar yang ramai.
Ashura mengikuti Saga dan ada perasaan lega disana, ia merasakan jika bukan dirinya saja yang tidak mendapatkan tempat di tanah kelahirannya.
Sesampainya di tempat latihan, Saga menjelaskan kepada Ashura jika dirinya sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
"Jujur saja aku merasa marah dan membenci mereka semua, tetapi suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang menyelamatkanku," kata Saga bercerita jika dirinya bertemu seseorang yang mengubah pandangan hidupnya.
"Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, dia adalah wanita cantik dan membuatku jatuh cinta padanya." Saga tersenyum malu saat mengatakan itu.
Ashura tersedak mendengar pengakuan Saga.
"Wanita cantik? Kau masih bocah dan naksir pada wanita yang lebih tua. Sepertinya ada yang salah dengan otakmu itu," celetuk Ashura.
"Aku juga telah mengingat masa laluku kembali, aku rasa tidak ada alasanku untuk bertahan ditempat ini. Hanya saja Kaira tidak membiarkanku pergi," ucap Ashura mengingat perjanjiannya dengan Kaira Leywin.
"Kaira? Yang Mulia Kaira maksudmu ya? Kau harus memanggilnya dengan sebutan Tuan atau Yang Mulia-"
"Aku tidak peduli dengan itu, Saga! Jika aku dapat mengalahkannya maka aku bisa membuktikan jika diriku mampu membunuhnya!" Ashura terlihat menyimpan sesuatu dan membuat Saga menelan ludah karena ketakutan.
"Kau ingin membunuh Yang Mulia Kaira? Apa kau serius? Justru otakmu yang tidak beres!"
Ekspresi Ashura pun berubah karena melihat Saga ketakutan.
"Tidak, Kaira bukanlah orang yang menjadi tujuanku, melainkan mereka!" Ashura mengingat wajah orang-orang yang telah membunuh Kakak kandungnya dan Asuna Kai.
"Sepertinya kalian membicarakan hal yang serius."
Ashura dan Saga tidak menyadari Ark yang berada dibelakang mereka dan membawa minuman.
"Aku juga memiliki tujuan karena bertahan hidup sampai sekarang ini! Kau sama sepertiku Ashura! Aku juga hidup hanya untuk membalaskan kematian keluarga dan saudaraku yang dibantai penyihir kejam yang semua orang kenal sebagai Seven Deadly Sins!"
Ark menatap Ashura beberapa detik, sebelum mengalihkan pandangannya ke langit diatas sana.
"Lupakan pembicaraan ini, kita bertiga akan bertarung secara bergantian. Aku akan membalas kekalahanku kemarin, Ashura!"
"Tunggu, Ark! Aku yang menjadi lawanmu! Aku masih tidak terima dengan hasil kemarin!" Saga menyela saat Ark dan Ashura berdiri saling berhadapan.
"Aku juga kalah darimu, Saga. Setelah ini aku akan melawanmu," ucap Ashura kepada Saga.
"Itu tidak dihitung, kau tidak serius melawanku seperti di akademi!"
Saga mendengus kesal saat Ashura dan Ark memulai pertarungan mereka. Mereka bertiga mengasah kemampuan mereka demi menjadi lebih kuat dan melindungi momen yang berharga ini.
Hubungan mereka bertiga terjalin dengan sendirinya, karena mereka memahami bagaimana rasanya kesepian tidak memiliki sebuah keluarga sehingga akhirnya tanpa sadar mereka bertiga berteman.
Ashura yang merupakan keturunan Kaisar Xyrus dan memiliki darah Trost termasuk sebagai keturunan Asura terakhir, Ark yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian Seven Deadly Sins pada Klan Vengeance dan Saga yang memiliki roh api Salamander tersegel dalam tubuhnya dan bermimpi menjadi Raja Sihir Flameheart.
Mereka bertiga mencoba berkembang bersama. Ketiganya memiliki ambisi masing-masing. Berbeda dengan Ashura dan Ark yang memiliki dendam, justru Saga memiliki mimpi dan cita-cita yang mulia.
Tidak ada yang menyadari jika angin yang cukup kencang di sore itu, merupakan tanda dari awal hilangnya kedamaian yang mereka bertiga rasakan.
Demi dipilih menjadi peserta akademi yang mengikuti ujian penyihir, Ashura melatih kemampuannya bersama Ark dan Saga.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Ashura melihat Vipera yang berdiri di depan rumah dan menunggunya.
"Selamat malam, Kakek Vipera." Ashura menyapa.
"Bagaimana dengan latihanmu, Ashura?" Vipera bertanya.
Ashura menjelaskan jika dirinya takut menggunakan sihir es miliknya, karena mengingat kekuatannya yang lepas kendali saat emosinya tidak stabil.
"Ikuti aku, Ashura. Aku akan melatihmu," ajak Vipera dan membuat Ashura mengikutinya.
"Mungkin kau sudah mendengarnya tentang ujian penyihir muda. Kemungkinan tahun depan Kerajaan Flameheart akan menjadi tuan rumahnya." Vipera memberitahu Ashura karena berharap besar padanya, "Tunjukkan pada bangsawan bodoh itu jika dirimu pantas berada di Flameheart."
"Aku tidak tertarik dengan itu, Kakek Vipera! Secepatnya aku ingin mengalahkan Kaira dan pergi dari sini!" ujar Ashura kepada Vipera.
"Apa kau akan meninggalkan Flameheart dan teman-temanmu disini?" Vipera menatap Ashura cukup dalam.
Tidak pernah terpikirkan dalam benak Ashura jika kata-katanya ini akan melukai Ark dan Saga, mengingat mereka bertiga telah menjadi teman dan tumbuh bersama di Flameheart.
"Mereka adalah satu-satunya temanku disini. Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tetapi Seven Deadly Sins dan orang itu sangatlah berbahaya..."
Vipera pun tersenyum karena melihat Ashura lebih memiliki emosi daripada yang ia bayangkan.
"Jadilah kuat, Ashura dan lindungi teman-temanmu!"
Malam itu Ashura mendapatkan pelajaran langsung dari Vipera di tempat persembunyiannya di Noctis.