NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sinar matahari pagi Jakarta menembus celah gorden kamar utama dengan begitu berani, langsung mengenai kelopak mataku yang masih terpejam rapat. Aku menggeliat malas, merasakan kehangatan kasur sutra milik Arkan yang beneran sukses membuatku lupa daratan. Wangi sisa parfum kayu cendana milik si bos besar masih tertinggal samar di bantal, membuatku refleks menarik selimut hitamnya lebih tinggi sampai menutupi hidung.

"Bangun, Naura. Ini sudah pukul enam pagi. Kita tidak punya waktu untuk mengagumi keempukan kasur seharian."

Suara bariton yang dingin dan ketus itu seketika menghancurkan damba tidur nyenyakku. Aku membuka mata dengan terpaksa, mendapati Arkan sudah berdiri di samping tempat tidur. Pria itu beneran keterlaluan tampannya di pagi hari. Dia sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung sampai ke siku, menampilkan urat-urat tangan yang tegang sehabis berolahraga. Rambut hitamnya masih agak basah, menyebarkan aroma sampo *mint* yang segar ke seluruh penjuru kamar.

Aku duduk sambil mengucek mata, menguap lebar-lebar tanpa memedulikan estetika di depan calon CEO Mahardika Group ini. "Arkan, ini masih subuh untuk ukuran seorang manajer iklan. Jadwal rapat pleno dengan para komisaris kan baru mulai pukul sembilan nanti."

Arkan bersedekap di depan dada, menatap piyama katun anak ayamku dengan pandangan menilai. "Bagi seorang pemimpin, pukul enam pagi itu sudah siang. Dan sebagai catatan tambahan, suhu ubin di luar kamar mandi hari ini tidak se-adem daster batikmu kemarin. Jadi cepat mandi sebelum saya menyeretmu masuk ke bawah pancuran air."

Mendengar kata 'daster' dan sindiran terselubung soal ubin masjid semalam, mukaku langsung terasa panas lagi. Aku melempar bantal stroberiku tepat ke arah dadanya, yang dengan sangat mudah ditangkap oleh Arkan menggunakan satu tangan sambil menyunggingkan senyum miringnya yang menyebalkan.

"Sana keluar! Aku mau mandi!" seruku ketus, langsung melompat dari kasur dan berlari masuk ke kamar mandi sebelum dia kembali mengeluarkan kalimat-kalimat yang bikin jantungku copot.

Dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, aku bisa mendengar suara tawa kecil Arkan yang terdengar sangat renyah. Sialan, pria kaku itu sekarang makin pintar membuatku salah tingkah!

Tiga puluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit kepalaku. Begitu melangkah ke ruang tengah, indra penciumanku langsung dimanjakan oleh aroma makanan yang sangat gurih. Di atas meja bar marmer, sudah tersaji dua mangkok bubur ayam dengan suwiran daging yang melimpah, lengkap dengan sate usus dan cakwe garing di piring terpisah.

Arkan sedang duduk tenang di kursi bar sambil membaca berita bisnis di tablet genggamnya, dengan secangkir kopi hitam pekat yang mengepul di tangan kanan.

"Kamu memesan bubur ayam? Sejak kapan seorang konglomerat papan atas sarapan makanan pinggir jalan begini?" tanyaku heran sambil menarik kursi di sebelahnya.

Arkan menurunkan tabletnya, menatapku datar. "Hadi yang membelinya di depan kompleks apartemen. Kata Hadi, kamu sering mogok kerja kalau belum mendapat asupan karbohidrat dari tukang bubur itu. Saya tidak mau pelantikan saya hari ini kacau hanya karena calon istri saya pingsan kelaparan di depan para pemegang saham."

Aku mendengus pelan, tapi tidak bisa menahan senyum tipis di bibirku. Bilang saja perhatian dan sengaja menyuruh Hadi membeli makanan kesukaanku, pakai membawa-bawa alasan pelantikan segala. Dasar gengsi setinggi langit!

"Terima kasih, Pak Bos yang super perhatian," ujarku manis, sengaja melebih-lebihkan nada suaraku sebelum mulai menyendok bubur ayam ke dalam mulut.

"Makan yang banyak, Naura. Setelah ini, kamu harus memakai gaun formal yang dikirimkan oleh Ibu kemarin sore. Saya minta kamu tampil sempurna hari ini. Jangan mempermalukan saya di depan Dimas," kata Arkan tegas, tapi tangannya justru bergerak mengambil tusuk sate usus lalu menaruhnya di dalam mangkok buburku.

Perhatian terselubungnya ini beneran membuat bubur ayam biasa ini rasanya jadi manis seperti ditambah gula sekilo. Aku mengunyah makananku dengan gembira, sementara Arkan kembali fokus pada tabletnya, sesekali melirik ke arahku untuk memastikan aku menghabiskan seluruh sarapanku.

Tragedi yang sesungguhnya baru dimulai saat aku berada di dalam kamar pakaian untuk bersiap-siap. Gaun yang dikirimkan oleh Ibuku ternyata adalah sebuah kebaya modern berpotongan pas badan berwarna merah marun, lengkap dengan kain songket span yang ditenun menggunakan benang emas. Gaun itu luar biasa cantik, tapi ada satu masalah besar yang membuatku ingin menangis di tempat.

Resleting panjang di bagian punggung gaun ini mendadak macet total tepat di tengah-tengah tulang belikatku.

"Aduh, kenapa harus macet sekarang sih?!" umpatku panik. Kedua tanganku berusaha menggapai ke belakang punggung dengan posisi meliuk-liuk seperti pemain sirkus, mencoba menarik kepala resleting besi itu ke atas, tapi benda itu tetap keras kepala tidak mau bergerak sedikit pun.

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku, merusak sedikit tatanan bedak dasar yang baru saja kupasang. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi. Kalau aku tidak segera menyelesaikan urusan baju ini, kami pasti akan terlambat.

Dengan sisa-sisa keberanian dan rasa urat malu yang sudah kukikis habis, aku membuka pintu kamar pakaian sedikit, lalu melongokkan kepalaku keluar menuju ruang tengah di mana Arkan sedang merapikan dasi sutra hitamnya di depan cermin besar.

"Arkan... Mas Arkan... bisa tolong ke sini sebentar tidak?" panggilku dengan suara yang sengaja dibuat selembut dan se-melas mungkin.

Arkan membalikkan badannya, menatapku dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. "Ada apa? Kamu melihat tikus di dalam sana?"

"Bukan tikus! Ini... aduh, tolong kemari saja dulu! Darurat!" seruku mendesak.

Pria itu mengembuskan napas pendek, lalu melangkah lebar mendekati kamar pakaian. Begitu dia masuk, aku langsung membalikkan badannya membelakangi dia, memperlihatkan bagian punggungku yang setengah terbuka karena gaun yang belum ditarik sempurna. Kulit punggungku yang putih langsung diterpa udara dingin AC kamar, membuatku refleks bergidik kecil.

Suasana kamar pakaian mendadak menjadi sangat sunyi. Aku tidak mendengar suara Arkan sama sekali selama beberapa detik. Rasa penasaran membuatku menolehkan kepala sedikit ke belakang.

Arkan berdiri mematung tepat di belakangku. Mata elangnya yang biasanya tajam berwibawa, kini menatap lurus ke arah punggungku yang terbuka dengan pandangan yang sangat dalam dan sarat akan intensitas yang tak terjelaskan. Jakun di lehernya bergerak naik turun dengan cepat, menandakan adanya gejolak batin yang mendadak menyerang pertahanan emosinya yang kokoh.

"Arkan? Kenapa malah melamun? Tolong tarik resletingnya ke atas, ini macet di tengah," ujarku gugup, mendadak merasa atmosfer di dalam ruangan kecil ini berubah menjadi sangat panas dan sesak.

Arkan berdeham pendek, mencoba mengusir kekakuan yang sempat mengunci tubuhnya. "Kamunya jangan banyak bergerak, Naura. Kain ini sangat tipis, kalau saya menariknya terlalu keras, gaun buatan perancang terkenal pilihan Ibu ini bisa robek."

Langkah kaki Arkan maju satu langkah, membuat tubuh tegapnya kini berdiri sangat rapat di belakangku. Aku bisa merasakan kehangatan yang menguar dari dadanya yang bidang menghantam punggungku yang polos. Tangan besarnya yang hangat perlahan menyentuh kulit punggungku, memegang pinggiran kain kebaya dengan sangat hati-hati.

Sentuhan jari-jarinya yang kasar namun lembut itu seketika mengirimkan getaran sengatan listrik yang aneh langsung menuju ke pusat jantungku. Debaran di dalam dadaku mendadak bertalu-talu dengan kecepatan yang tidak normal, jauh lebih kencang daripada saat aku dikejar tenggat waktu laporan kantor.

Arkan menundukkan kepalanya sedikit, membuat embusan napas hangatnya yang beraroma kopi pekat menerpa tengkuk leherku yang sensitif, membuat bulu kudukku meremang seketika karena menahan rasa baper yang luar biasa brutal.

"Napasmu terlalu memburu, Naura. Rileks sedikit, jangan menahan napas seperti itu atau badanmu akan semakin tegang dan resletingnya tidak akan bisa naik," bisik Arkan tepat di dekat telingaku. Suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan luar biasa seksi hingga membuat kedua lututku mendadak terasa lemas seperti jeli.

"I-iya... ini aku sudah mencoba rileks tahu," jawabku terbata-bata dengan muka yang sudah dipastikan berwarna merah padam mengalahkan warna kebaya merah marun yang kupakai ini.

Tangan Arkan dengan sangat telaten mulai memperbaiki posisi jalur resleting yang sempat tersangkut serat kain. Gerakannya sangat pelan, seolah-olah dia sedang menyentuh barang berharga yang paling rapuh di dunia. Setelah perjuangan menegangkan selama dua menit yang rasanya seperti dua abad bagiku, bunyi *sreeet* pelan terdengar, menandakan resleting besi itu akhirnya berhasil ditarik sempurna sampai ke batas kerah leher belakangku.

Namun, setelah tugasnya selesai, Arkan tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Kedua tangannya justru berpindah memegang kedua pundakku dengan remasan yang lembut, memutar tubuhku secara perlahan agar kami kini berdiri saling berhadapan.

Mata elangnya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip. Kebaya modern ini beneran melekat sempurna di tubuhku, menonjolkan lekuk pinggangku dengan anggun, sangat kontras dengan penampilan piyama anak ayamku beberapa menit yang lalu.

Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh daguku dengan ibu jarinya, mengangkat wajahku agar mataku menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang dipenuhi oleh binar kekaguman yang sangat nyata dan mendalam.

"Hari ini... kamu benar-benar sangat cantik, Naura Mahardika," bisik Arkan tulus, senyum tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya yang tegas. "Saya rasa, keputusan saya untuk menjadikanmu istri saya adalah keputusan bisnis terbaik sekaligus keputusan pribadi paling membahagiakan yang pernah saya ambil dalam hidup saya."

Dihantam pujian maut se-ekstrem itu di pagi hari beneran membuat seluruh fungsi otakku mogok beroperasi. Aku hanya bisa melongo menatap wajah tampannya, terpaku dalam pesona ketulusan sang bos besar yang kini sudah resmi berubah menjadi pria paling aneh yang pernah kukenal.

*Ting-tong!*

Suara bel apartemen yang berbunyi nyaring dari arah lobi depan seketika menghancurkan seluruh sihir romantis di antara kami berdua. Aku langsung melangkah mundur satu langkah dengan canggung, membetulkan letak sanggul modern rambutku yang sebenarnya sudah rapi.

"I-itu pasti Hadi! Ayo buruan keluar!" ujarku salah tingkah, langsung berjalan cepat meninggalkan Arkan yang masih berdiri di dalam kamar pakaian sambil terkekeh rendah melihat kepanikanku.

Begitu pintu depan dibuka, wajah Hadi muncul dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Di tangannya, sudah tergenggam satu koper kulit berisi seluruh berkas penting untuk rapat pleno pagi ini. Namun, begitu melihat penampilanku yang sudah berubah anggun mengenakan kebaya merah marun, Hadi langsung melongo dengan mata bulat sempurna di balik kacamatanya.

"Ya ampun... Ibu Naura... Anda beneran luar biasa anggun hari ini! Saya sampai pangling, hampir mengira Anda adalah model papan atas dari Paris!" puji Hadi dengan ekspresi kagum yang sangat polos.

Sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih, sesosok tubuh tinggi besar sudah berdiri tegap di sampingku, merangkul pinggangku dengan cemburu yang sangat kentara. Aura dingin sang bos besar langsung keluar lagi menembus udara ruangan.

"Jangan menatap calon istri saya terlalu lama, Hadi, atau bonus tahunanmu untuk liburan akhir tahun besok pagi akan saya potong menjadi nol persen," ancam Arkan dengan suara baritonnya yang datar namun mematikan.

Hadi langsung tersentak kaget, buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lantai koridor dengan wajah pucat melas. "M-maaf, Pak Arkan! Saya bersumpah saya cuma kagum secara profesional! Tolong jangan potong bonus saya, Pak!"

Aku hanya bisa tertawa geli melihat interaksi kocak di antara bos posesif dan asisten pribadinya yang malang ini. Aku menepuk pelan dada bidang Arkan yang terbungkus jas hitam formalnya. "Sudah ah, Arkan, jangan menakut-nakuti Hadi terus. Ayo kita berangkat sekarang. Pak Dimas pasti sudah menunggu kita dengan wajah kecutnya di ruang rapat kantor pusat."

Arkan menatapku, lalu senyum miring pemenangnya kembali menghiasi wajah tampannya. Dia menggandeng tanganku dengan jemari yang saling mengunci erat, menuntun langkah kakiku berjalan menuju lift pribadi apartemen.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!