NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:123.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

***

Mansion Hadiwinata yang biasanya berdiri dengan keangkuhan yang dingin, malam ini tampak lebih mencekam. Lampu-lampu kristal diredupkan, hanya menyisakan pendar temaram di sepanjang koridor menuju kamar utama. Di dalam kamar tersebut, aroma obat-obatan ringan bercampur dengan wangi aromaterapi melati yang sengaja dinyalakan untuk menenangkan saraf yang tegang.

Dokter pribadi keluarga baru saja keluar setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Raditya berdiri di samping ranjang dengan rahang yang masih mengeras, tangannya yang memar dan lecet belum ia bersihkan sepenuhnya. Fokusnya hanya satu wanita yang terbaring pucat di atas seprai sutra tersebut.

"Tuan, Nyonya Nadia hanya mengalami syok berat. Tidak ada benturan fisik yang membahayakan janin. Denyut jantung bayinya stabil, namun Nyonya membutuhkan istirahat total tanpa gangguan," lapor dokter tersebut dengan suara rendah sebelum pamit undur diri.

Raditya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kaku, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Nadia. Begitu dokter pergi, Raditya duduk di sisi ranjang. Ia meraih tangan Nadia, menggenggamnya begitu erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Nadia akan menghilang ke dalam kegelapan.

Malam semakin larut ketika Nadia tiba-tiba tersentak. Tubuhnya gemetar hebat di bawah selimut tebal. Keringat dingin membasahi keningnya. Di dalam tidurnya, ia kembali berada di gang sempit itu melihat pisau yang berkilat dan tangan-tangan kotor yang mencoba menyentuhnya.

"TIDAK! LEPASKAN! JANGAN SENTUH!"

Nadia terbangun dengan teriakan histeris. Matanya membelalak ketakutan, namun pandangannya masih kosong, terjebak dalam trauma.

"Nadia! Ini saya! Nadia, sadarlah!" Raditya segera menarik tubuh Nadia ke dalam dekapannya.

Nadia meronta sesaat, namun aroma maskulin yang familiar campuran kayu cendana dan sisa adrenalin mulai menembus rasa takutnya. Ia memeluk leher Raditya begitu kencang, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangannya yang mungil menyentuh kulit tangan Raditya yang kasar, merasakan luka memar di sana.

"Mas... mereka... mereka ada di mana-mana... hiks... tangannya... aku kotor, Mas... mereka menyentuh lenganku..." tangis Nadia pecah, bahunya terguncang hebat.

Raditya memejamkan mata, merasakan nyeri yang lebih hebat di dadanya daripada luka di tangannya. Amarah yang sempat mereda kini kembali menyulut api di dalam matanya.

"Sshhh... tidak ada siapa-siapa di sini, sayang. Saya sudah menghabisi mereka. Tidak akan ada lagi tangan kotor yang berani mendekatimu," bisik Raditya dengan suara berat yang bergetar.

Raditya melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Nadia dengan kedua tangannya. Ia menatap Nadia dengan tatapan yang begitu posesif, begitu dominan, namun penuh dengan rasa haus akan perlindungan.

"Katakan pada saya, Nadia. Di mana bajingan-bajingan itu menyentuhmu? Di mana mereka berani meletakkan tangan kotor mereka?" tanya Raditya, suaranya kini kembali dingin dan kaku, namun sarat akan obsesi.

"Akan saya hapus semua jejak mereka malam ini juga. Setiap inci kulitmu adalah milik saya. Tidak boleh ada tanda dari pria lain, bahkan meski itu hanya bayangan."

Raditya mulai bergerak. Dengan ketelatenan yang menakutkan, ia mulai menghapus jejak trauma itu dengan caranya sendiri. Ia mencium kening Nadia dengan lembut, lalu turun ke kelopak matanya yang masih basah oleh air mata.

"Di sini?" bisik Raditya sebelum mengecup pipi Nadia.

Ia kemudian beralih ke lengan Nadia, tempat di mana preman tadi sempat mencengkeramnya. Raditya memberikan ciuman yang dalam dan lama di sana, seolah-olah bibirnya adalah obat yang bisa menghapus noda najis dari ingatan Nadia.

"Setiap jengkal inci dari rambut sampai kakimu... saya akan menandainya kembali sebagai milik saya," gumam Raditya di depan bibir Nadia.

Nadia, yang tadinya didera ketakutan, mulai merasakan sensasi lain. Dominasi Raditya yang begitu kuat perlahan mengikis rasa takutnya, menggantikannya dengan gelombang gairah yang menuntut. Jiwa Aurelia-nya yang biasanya kuat kini menyerah sepenuhnya pada perlindungan sang suami yang berdarah dingin.

"Mas... ahhh..." Nadia mendesah pelan saat bibir Raditya menyentuh lehernya, memberikan tanda kepemilikan yang baru di sana. Rasa haru dan keinginan untuk merasa aman dalam dekapan Raditya membuatnya pasrah.

Cahaya temaram dari lampu tidur di sudut kamar utama Mansion Hadiwinata menciptakan bayangan yang dramatis pada dinding, seolah mencerminkan pergulatan emosi yang sedang terjadi di atas ranjang king size itu. Raditya, dengan gerakan yang tenang namun mematikan, perlahan melepaskan satu per satu kancing piyamanya. Matanya yang hitam pekat menatap Nadia dengan intensitas yang sanggup meluluhkan tulang.

Ia kemudian beralih pada Nadia. Dengan tangan yang masih menyisakan memar bekas perkelahian tadi siang, ia membantu istrinya menanggalkan pakaian. Setiap gerakannya begitu hati-hati, seolah ia sedang membuka kado paling berharga sekaligus paling rapuh di dunia. Ketika kain sutra itu merosot jatuh, pemandangan perut buncit Nadia yang berisi buah hati mereka menyambut indra penglihatannya.

"Kamu adalah ratu saya, Nadia. Dan malam ini, saya akan mengingatkan tubuhmu siapa penguasa sebenarnya di sini," bisik Raditya, suaranya parau, berat oleh gairah dan sisa amarah yang belum tuntas.

Raditya memajukan tubuhnya, menindih Nadia dengan perlahan namun penuh dominasi. Ia ingin menghapus setiap memori tentang tangan-tangan kotor preman itu melalui setiap sentuhannya.

"Mas... ahhh... Radit..." rintih Nadia saat merasakan kulit panas suaminya bersentuhan dengan miliknya.

"Sebut nama saya, Nadia. Biarkan suara kamu menghapus suara bajingan-bajingan itu dari kepala saya," geram Raditya. Ia membenamkan wajahnya di leher Nadia, menghisap aromanya dengan rakus, meninggalkan tanda merah yang kontras di kulit putih istrinya. "Saya benci memikirkan mereka sempat melihatmu, apalagi menyentuhmu."

Raditya menyatukan tubuh mereka dengan satu hentakan yang dalam dan penuh kuasa. Penyatuan ini terasa sangat berbeda ini adalah ritual penyucian sekaligus klaim hak milik yang mutlak. Setiap gerakan Raditya terasa sangat dominan, namun di baliknya ada kehati-hatian yang luar biasa terhadap janin di rahim Nadia.

"Ahh! Mas... pelan... shhh..." Nadia memekik kecil, kepalanya mendongak ke belakang saat ia merasakan kepenuhan yang luar biasa.

Tangannya mencengkeram bahu kokoh Raditya, merasakan otot-otot punggung suaminya yang bergerak brutal di bawah telapak tangannya.

"Saya tidak bisa pelan, Nadia. Amarah ini... rasa takut kehilangan kamu ini... membuat saya ingin menyatukan kamu ke dalam jiwa saya," erang Raditya rendah. Ia bergerak dengan ritme yang lambat namun menghujam sangat dalam, seolah ingin memastikan bahwa benih dan kehadirannyalah yang akan terpatri selamanya di rahim dan ingatan Nadia.

"Nnghh... ahhh... Mas... m-masuk terlalu dalam... akhh..." desah Nadia, rintihan ketakutannya tadi siang kini telah sepenuhnya berubah menjadi desahan penuh pemujaan. Gairah Raditya yang mentah dan murni menular padanya, membuatnya pasrah pada kebringasan suaminya.

Raditya mengerang seperti singa yang terluka sekaligus puas. "Katakan... milik siapa tubuh ini, Nadia? Milik siapa?!"

"Milik Mas... akhh... milik Mas Radit... h-hanya Mas..." jawab Nadia tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca menatap wajah Raditya yang tampak seperti iblis yang haus akan cinta.

Di tengah kenikmatan yang membanjiri, Nadia sesekali meringis dan memegangi sisi perutnya. "Akhh... Mas... perutku... sedikit kram... shhh..."

Raditya seketika sedikit melambat, namun ia tidak melepaskan penyatuannya. Ia justru memajukan tubuhnya, memeluk Nadia lebih erat, menyangga berat tubuhnya agar tidak sepenuhnya menekan perut istrinya.

"Maafkan saya, sayang... maafkan saya. Tapi jangan minta saya berhenti. Saya harus menghapus jejak mereka dari kulitmu... dari ingatanmu..."

Raditya kembali bergerak, kali ini dengan erangan murka yang tertahan. Ia menciumi bahu, dada, hingga perut buncit Nadia dengan penuh posesif. "Setiap jengkal... setiap inci... adalah milik Raditya Hadiwinata. Kamu dengar itu?!"

"Ahhh... iya, Mas... ahhh... Radit... jangan lepaskan... jangan pernah lepaskan..." rintih Nadia, suaranya serak, tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang diberikan sang suami.

Raditya mempercepat ritmenya saat ia merasakan Nadia mulai gemetar dalam dekapannya. Erangan kenikmatan keluar dari mulutnya, terdengar sangat primitif dan penuh kuasa. Ia mencengkeram tangan Nadia, menguncinya di atas kepala, memaksa wanita itu untuk hanya menatap matanya saat puncak itu datang.

"Kamu... dan anak ini... adalah nyawa saya," bisik Raditya di depan bibir Nadia, napasnya memburu panas. "Siapa pun yang mencoba merusaknya, mereka tidak akan hanya mati... mereka akan memohon untuk tidak pernah dilahirkan!"

"AKHH! MAS RADITT!" Nadia memekik, tubuhnya melengkung saat gelombang pelepasan menghantamnya. Ia memegang erat bahu suaminya, mencari pegangan di tengah badai gairah yang meluluhlantakkan pertahanannya.

Raditya menyusul dengan erangan panjang yang mengguncang dadanya. Ia menumpahkan segalanya ke dalam diri Nadia, memberikan segalanya sebagai janji bahwa ia adalah perisai paling mematikan bagi keluarganya. Ia membenamkan wajahnya di leher Nadia, menghirup aroma keringat dan cinta yang kini telah menggantikan aroma ketakutan tadi siang.

Setelah badai itu mereda, Raditya tetap tidak beranjak. Ia membiarkan tubuhnya tetap menyatu dengan Nadia, seolah tidak mau memberikan celah sedikit pun bagi dunia luar untuk masuk. Ia mengusap keringat di dahi Nadia dengan sangat lembut, kontras dengan kebringasannya beberapa saat lalu.

"Mas... kaki aku lemas..." gumam Nadia lirih, suaranya nyaris hilang. Ia menyandarkan kepalanya di dada Raditya, merasakan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang.

Raditya mengecup puncak kepala Nadia. "Tidurlah. Saya tidak akan pergi ke mana-mana. Saya akan menjaga kalian di sini."

Nadia memejamkan mata, tangannya masih setia mengelus perut buncitnya dan sesekali menyentuh luka di tangan Raditya. "Mas juga harus tidur... tangan Mas luka..."

"Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding air matamu, Nadia," jawab Raditya kaku, namun lengannya mendekap Nadia lebih erat di bawah selimut sutra.

Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, sang Naga telah menandai kembali wilayahnya. Jejak-jejak ketakutan di gang sempit itu kini telah luntur, dibasuh oleh gairah dan proteksi absolut dari seorang pria yang siap menjadi monster demi melindungi malaikatnya.

Nadia tersenyum, hatinya merasa hangat dan sepenuhnya aman. Meskipun ia tahu suaminya adalah pria yang berbahaya dan berdarah dingin bagi dunia luar, bagi dirinya, Raditya adalah satu-satunya rumah tempat ia bisa pulang.

Sementara itu, di sebuah tempat tersembunyi, Aldi sedang melaksanakan perintah Raditya dengan tanpa ampun terhadap para preman yang tertangkap. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan melihat matahari terbit, sesuai dengan perintah sang Naga.

Raditya memeluk Nadia lebih erat, memejamkan mata dalam kedamaian yang semu, tahu bahwa besok ia harus kembali menjadi monster demi melindungi malaikat dalam pelukannya.

****

Bersambung

1
Amiera Syaqilla
hello author🙂💕
Heresnanaa_: hai kaka😚
happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Osie
nah ibu baru sosok tangguh..keren nadia kalu boleh buat nadia jago bela diri juga thor..makin seruuu
partini
Nadia Badas
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Pdhl suaminya lg anteng aja,atw mgkin nahan diri krna tkut trjdi ssuatu sm baby.....laahhh.....kucing nkalnya mlah sngja bkin sng singa bngun....
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
/CoolGuy/ Aurelia dengan beraninya
Noey Aprilia
Meleleh hti neng bangggg.....
mskpn kaku ky papan,tp trnyta d blakang rmntis bgt....bnr2 udh kna virus bucin akut....
Helen@Ellen@Len'z: sy mau juga 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nasri
lanjuutt🙏💪💪
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
Nasri
lanjut thorr penasaran nih
paijo londo
waaahhh radit benar2 plek keteplek jatuh bangun sama si bar2 ibu hamil🤣🤣🤣🤣yg lain kyaknya di mata Radit ngontrak dibulan pokoknya jauuuuhhh banget y dit
Noey Aprilia
Pdhl d luaran sna,dngin ky kulkas 6 pntu....bgtu dkt pwangnya,mesyummmm.......🤭🤭🤭
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
partini
OMG nad baby udah mau otw masih aja santuyy
Kalief Handaru
,ayo nadia-aka Aurel balas Radit biar g bisa jalan🤣🤣
Kalief Handaru
duuhhhh cucu menteri tuh🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Mski ksel,tp ttp syangy sm bayi gde....😁😁😁....
baby udh ga sbr ktmu ortu badas y....
sbr y....
Heresnanaa_: namanya jika Dady Radit kak🫣🤫
total 1 replies
Kalief Handaru
waah Radit kamu bakalan punya penyakit baru ... mumet plus darah tinggi kena mental ma istrimu yg baru tuh...raganya maksudnya 🤣🤣🤣
Kalief Handaru
aduh thor kok lucu y 👍👍mampir thor
Heresnanaa_: Hai Kaka, happy reading yaa🫶😚
total 1 replies
Ai Umana sari
seru cerita nya
Ai Umana sari
satuju, Rapat suami idaman😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!