NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI PRIA YANG HILANG

BAB 6 — MENCARI PRIA YANG HILANG

Pagi itu, langit kota Jakarta terlihat mendung dan kelabu.

Awan tebal menggantung rendah, seakan ikut menekan dada dan pikiran Keisha yang sudah terasa begitu berat.

Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Matanya bengkak dan merah, wajahnya pucat pasi, dan kepalanya dipenuhi oleh ketakutan yang tak berujung.

Namun, di tengah kekacauan perasaan itu, satu keputusan bulat sudah ia ambil.

Sebelum ia memutuskan untuk pergi menjauh dari semua ini... ia harus mencoba sekali lagi. Mencari jejak Arsen.

Pria itu berhak tahu.

Berhak mengetahui bahwa ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh, yang tercipta dari satu malam yang mereka lewati bersama.

Walau nanti akhirnya Arsen memilih untuk pergi, walau pria itu tidak peduli, setidaknya bagi Keisha... ia sudah berusaha. Ia sudah melakukan kewajibannya untuk memberitahu.

 

Sore harinya, Keisha berdiri mematung di depan gedung klub malam tempat di mana segalanya bermula.

Di bawah sinar matahari sore, bangunan itu terlihat sangat berbeda dibandingkan saat ia datang malam itu.

Tidak ada lampu warna-warni yang berkedip-kedip.

Tidak ada dentuman musik bass yang menggetarkan dada.

Tidak ada hiruk-pikuk orang yang lalu lalang.

Yang terlihat hanyalah pintu besar yang masih tertutup rapat, dan beberapa staf yang sedang bersiap-siap membersihkan area sebelum tempat itu resmi buka menjelang malam.

Dengan tangan yang menggenggam tali tasnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, Keisha memberanikan diri melangkah mendekat.

Seorang petugas keamanan menatapnya dengan bingung.

“Maaf, Mbak. Maaf sekali, tempatnya belum buka. Nanti malam baru buka,” ucap pria itu sopan.

“Saya... saya cuma mau tanya sebentar saja. Tidak lama,” jawab Keisha pelan.

Petugas itu tampak ragu-ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala mengizinkan.

Keisha menelan ludah yang terasa begitu berat di tenggorokannya.

“Beberapa minggu yang lalu... saya pernah datang ke sini. Dan saya bertemu seseorang di sana.”

“Terus?”

“Namanya Arsen. Saya mau cari dia.”

Petugas keamanan itu mengernyitkan dahi, seakan berusaha mengingat. “Arsen siapa, Mbak? Nama belakangnya siapa?”

Keisha terdiam. Bibirnya terasa kering dan kaku.

“Saya... saya enggak tahu nama lengkapnya.”

Tatapan petugas itu berubah menjadi aneh dan heran. “Maaf, Mbak. Orang yang datang ke sini kan banyak banget. Nama doang kurang lah.”

“Tapi dia orangnya tinggi besar, pakai kemeja hitam terus, wajahnya tegas... dan staf di sini sepertinya semua kenal sama dia,” jelas Keisha berusaha menggambarkan sosok itu sebaik mungkin.

“Yang ganteng?” tiba-tiba suara lain menyela dari arah belakang meja bar.

Seorang bartender yang sedang sibuk menata botol-botol minuman tertawa kecil mendengar deskripsi Keisha.

Wajah Keisha langsung memanas, campur aduk antara malu dan harap.

“Mungkin... iya,” jawabnya terbata.

Bartender itu menyandar santai pada meja, menatap Keisha dengan tatapan menilai. “Banyak juga yang ganteng di sini, Mbak.”

Keisha menahan napas, menahan agar air matanya tidak jatuh di tempat itu. Rasa panik dan putus asa mulai menyelimutinya.

“Tolong... saya benar-benar perlu menemui dia sekarang. Ini sangat penting,” pintanya dengan suara bergetar.

Melihat wajah gadis itu yang benar-benar terlihat putus asa, bartender itu akhirnya menghela napas dan wajahnya berubah lebih serius.

“Kenapa emangnya? Ada urusan apa?”

Pertanyaan itu membuat Keisha terdiam. Ia tak mungkin menjawab bahwa dirinya sedang mengandung anak orang itu di depan umum seperti ini.

Melihat kebisuannya, bartender itu menggeleng pelan.

“Maaf ya, Mbak. Kami enggak bisa dan enggak berani kasih data pribadi tamu. Itu rahasia.”

“Tapi... kamu kenal dia kan?” tanya Keisha cepat, menyelipkan secercah harapan.

Bartender itu diam beberapa detik, seakan sedang berpikir panjang.

“Kalau yang kamu maksud orang yang sama dengan yang aku pikirkan... dia itu tipe orang yang enggak pernah ninggalin jejak,” jawabnya akhirnya pelan.

Hati Keisha serasa dicengkeram kuat dan jatuh ke dasar perut.

“Maksudnya?”

“Dia datang kalau dia mau. Kadang sebulan sekali muncul, kadang bisa berbulan-bulan enggak kelihatan batang hidungnya. Misterius banget orangnya.”

“Terus... nomor teleponnya ada yang tahu?”

Bartender itu langsung menggeleng cepat.

“Enggak ada yang berani kasih sembarangan, Mbak. Bahaya.”

“Alamat rumah atau kantornya?”

Gelengan lagi.

“Kalau soal pekerjaan...” Bartender itu tersenyum tipis namun ada nada serius di sana. “Kalau saya berani kasih tahu, besok saya bisa kehilangan kerja saya. Bahkan lebih parah dari itu.”

Tubuh Keisha seketika lemas tak berdaya.

Jadi benar...

Arsen itu benar-benar seperti bayangan.

Datang sebentar, memberikan kesan mendalam, lalu menghilang tanpa meninggalkan apa pun.

 

Keluar dari area klub, Keisha berjalan tanpa arah menyusuri trotoar.

Gerimis halus mulai turun membasahi bumi.

Ia tidak membuka payungnya. Biarkan saja air hujan membasahi tubuh dan wajahnya.

Dengan begitu, air mata yang jatuh membasahi pipinya tidak akan terlihat. Bercampur menjadi satu dengan rintik air di wajahnya.

Betapa bodohnya dirinya.

Ia bahkan tidak memiliki satu pun data nyata tentang pria itu selain sebuah nama. Hanya satu kata: Arsen.

Mungkin memang dari awal pria itu sengaja menjaga jarak, sengaja menutup dirinya dari semua orang.

Mungkin malam itu baginya hanyalah sekadar hiburan singkat, pelampiasan hasrat sesaat, lalu selesai begitu saja.

Tapi bagi Keisha...

Satu malam itu mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya.

 

Tiba-tiba ponsel di dalam tasnya bergetar keras. Nama Rina terpampang jelas di layar.

Kali ini Keisha mengangkatnya.

“SHA!! KAMU DI MANA?! SUARAMU KOK ANEH GITU?!” teriak Rina panik dari seberang sana.

Keisha berusaha menahan isak tangisnya, tapi gagal. Suaranya pecah.

Mendengar sahabatnya menangis, Rina langsung panik setengah mati.

“ASTAGA! KAMU NANGIS YA?! KIRIM LOKASI SEKARANG! AKU KE SANA SEKARANG JUGA!”

 

Tidak sampai satu jam kemudian, mereka kini duduk berhadapan di sebuah sudut kafe kecil yang tenang.

Rina menatap benda kecil berisi hasil tes yang dibungkus tisu di atas meja dengan mata terbelalak sempurna.

“Ya Tuhan... Sha... ini beneran?” tanyanya tak percaya, suaranya bergetar.

Keisha hanya bisa mengangguk pelan, air matanya kembali menetes tak terbendung.

“Aku enggak tahu harus gimana lagi, Rin. Aku bingung, aku takut...”

Rina yang biasanya heboh dan ceria, mendadak terdiam dan menjadi sangat serius. Ia langsung menggenggam tangan sahabatnya itu erat-erat, memberikan kekuatan.

“Kamu enggak sendirian, Sha. Dengerin aku... kamu enggak sendirian ngadepin ini semua.”

Ucapan sederhana itu bagaikan obat yang menenangkan, membuat tangis Keisha pecah semakin keras.

“Aku tadi cari dia, Rin. Aku ke klub itu lagi. Tapi aku enggak bisa nemuin dia. Aku bahkan enggak tahu namanya siapa lengkapnya,” rintih Keisha.

Rina mengusap punggung sahabatnya itu perlahan, mencoba menenangkan.

“Kalau dia emang mau ditemukan, dia pasti udah kasih jalan buat kamu hubungi dia. Kalau dia hilang gini aja... berarti emang bukan orang yang bisa diandalkan.”

“Tapi ini anaknya juga, Rin...” Keisha menunduk memegang perutnya. “Anak itu juga punya hak tahu siapa ayahnya.”

“Iya aku tahu. Tapi sekarang yang paling penting dan paling utama itu kamu dan kesehatan kamu dulu. Anak kamu juga butuh mamanya yang kuat,” tegas Rina.

Keisha diam, menatap gelas kopi di hadapannya yang sudah dingin.

“Aku takut, Rin. Aku takut Papa sama Mama tahu. Aku takut lihat mata mereka kecewa.”

“Kalau kamu tetap di sini... lama-lama mereka juga pasti tahu kok, Sha. Perut kamu bakal membesar,” ucap Rina pelan, mengatakan kenyataan yang paling menakutkan.

Kalimat itu tepat menusuk jantung Keisha.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap sahabatnya dengan tatapan yang sudah bulat.

“Aku kepikiran buat pergi, Rin.”

“Pergi ke mana?”

“Ke Kanada. Ke rumah Bibi Rina. Kakak dari Mama yang tinggal di sana kan?”

Rina terdiam kaget, menatap wajah Keisha lekat-lekat.

“Kamu serius?”

“Aku enggak punya pilihan lain lagi,” jawab Keisha lirih.

Rina menatap sahabatnya itu lama, mencerna setiap kata. Akhirnya ia menghela napas dan menganggukkan kepala dengan mantap.

“Oke. Kalau itu keputusan kamu... aku bantu. Aku bakal bantuin kamu semuanya.”

Keisha menatapnya tak percaya. “Beneran?”

“Iya bodoh! Kamu kan sahabat aku satu-satunya. Masa aku biarin kamu susah sendirian?”

Air mata Keisha jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata ketakutan. Melainkan air mata haru dan rasa lega karena masih ada seseorang yang mau berdiri di sisinya.

 

Malam harinya, Keisha duduk sendirian di dalam kamarnya yang gelap.

Di tangannya tergenggam secarik kertas kecil berisi nomor telepon internasional yang diberikan ibunya bertahun-tahun lalu.

Ia sudah menelepon nomor itu sore tadi.

Dan apa yang dikatakan Bibi Rina di seberang sana masih terngiang jelas di telinganya, membuat dadanya terasa sesak namun juga terasa sangat lega.

“Datanglah kalau kamu butuh tempat pulang, Sayang. Di sini rumahmu juga.”

Keisha menoleh, menatap koper besar yang masih kosong terbuka di sudut kamar.

Keputusan itu kini terasa begitu nyata dan pasti.

Jika ia pergi...

Ia harus meninggalkan Ayah dan Ibu yang sangat ia sayangi.

Meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan sejak kecil.

Meninggalkan masa muda dan masa depannya yang baru saja mulai.

Dan juga... meninggalkan pria bernama Arsen selamanya. Tanpa pernah tahu apakah pria itu sebenarnya akan peduli atau tidak.

Tangan Keisha turun, perlahan memegang perutnya yang masih rata itu.

“Mama sudah coba mencarinya, Nak...” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Tapi dia memang tak bisa ditemukan. Kita berdua memang harus jalan sendiri ya.”

Malam itu, di tengah tangis yang ditahan agar tak terdengar, Keisha mulai melipat pakaiannya satu per satu dan memasukkannya ke dalam koper.

Mengemas kenangan, mengemas luka, dan bersiap untuk memulai cerita yang sama sekali baru di tempat yang jauh.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!