Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Deg, Kalimat itu menghantam Kanisha begitu keras sampai wanita itu hampir kehilangan keseimbangan. Napasnya tercekat, dadanya terasa sakit sedangkan Arven terus melanjutkan semua kemarahannya tanpa ampun.
“Kalau bukan karena kamu…” Tatapannya berubah dingin. “Aku bisa hidup sama orang yang benar-benar aku cintai dari awal.”
Kanisha langsung menoleh perlahan ke arah Selena. Wanita itu terlihat gugup namun tatapan Selena justru membuat hati Kanisha terasa semakin hancur karena sekarang semuanya terlihat jelas. Selama ini Arven memang mencintai Selena, bukan dirinya. Dan dirinya hanya penghalang. Hanya perempuan yang dipilih karena transaksi keluarga. Air mata Kanisha terus jatuh tanpa henti.
“Aku benci hidup kayak gini,” lanjut Arven dengan suara berat penuh amarah. “Aku benci harus pura-pura jadi suami yang baik buat kamu.”
Kanisha tertawa kecil, tawanya yang terdengar hancur.
“Suami yang baik?” ulang Kanisha lirih sambil menangis. “Mas bahkan nggak pernah jadi suami yang baik buat aku.”
Rahang Arven langsung mengeras namun Kanisha melanjutkan dengan suara yang semakin hancur,
“Aku selalu nungguin mas pulang kerja,” Tangisnya semakin pecah. “Aku selalu berusaha jadi istri yang cukup layak buat mas,” Dadanya naik turun tidak beraturan. “Tapi ternyata dari awal aku cuma perempuan yang mas benci,”
Dan saat itulah Arven akhirnya mengatakan kalimat yang benar-benar menghancurkan sisa hati Kanisha malam itu.
“Dan aku senang melihat kamu hancur sekarang.” Deg, Kanisha langsung membeku. Tatapannya kosong sedangkan Arven menatapnya lurus-lurus dengan mata penuh emosi. “Karena akhirnya aku berhasil menghancurkan penghalang terbesar dalam hidup aku.”
Kalimat itu terasa seperti pisau terakhir yang menusuk tepat ke jantung Kanisha. Wanita itu langsung terdiam. Tubuhnya gemetar hebat. Air matanya terus jatuh tanpa suara. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kanisha benar-benar merasa dirinya tidak berharga sama sekali.
Kanisha benar-benar tidak bergerak. Tubuhnya masih berdiri di tempat yang sama, namun rasanya jiwanya sudah hancur berkeping-keping malam itu. Air mata terus jatuh tanpa suara membasahi pipinya. Tangannya gemetar pelan sementara tatapannya kosong menatap lantai kamar Naira. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus merasakan apalagi sekarang.
Marah? Sakit? Hancur?
Semua bercampur jadi satu sampai membuat dadanya terasa sesak luar biasa. Sementara di depannya, Arven berdiri dengan wajah dingin dan rahang yang masih mengeras. Pria itu terlihat lelah, emosional, tapi anehnya tetap tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah setelah menghancurkan hidup Kanisha dengan tangannya sendiri. Suasana kamar terasa sunyi, hanya suara tangisan kecil Naira yang sesekali terdengar di sela isaknya.
Selena masih memeluk gadis kecil itu erat sambil berusaha menenangkannya. Namun Naira terus menangis karena takut.
“Mama…”
Panggilan itu membuat bahu Kanisha bergetar kecil namun wanita itu tidak menoleh. Ia tidak sanggup. Karena setiap kali mendengar suara kecil itu sekarang, hatinya terasa seperti disayat berkali-kali. Naira bukan anaknya. Anak itu adalah bukti perselingkuhan suaminya sendiri dan kenyataan itu terlalu kejam untuk diterima dalam satu malam. Arven akhirnya menghembuskan napas kasar sebelum kembali membuka suara.
“Semua yang selama ini aku pendam…” suaranya terdengar berat. “Sekarang udah aku katakan semuanya ke kamu.” Kanisha perlahan mengangkat wajahnya, tatapannya kosong. “Aku capek hidup dalam hubungan penuh kepura-puraan ini. Aku nggak mau melanjutkan hubungan ini lagi.”
Kalimat itu terdengar dingin seolah lima tahun pernikahan mereka memang tidak pernah berarti apa-apa bagi Arven. Arven memalingkan wajahnya sebentar sebelum kembali berkata dingin,
“Aku udah terlalu lama bertahan dan sudah saatnya aku mengakhiri ini semuanya.”
Kalimat itu kembali menusuk Kanisha tanpa ampun. Pria itu lalu kembali berkata dengan nada datar,
“Setelah ini pergilah dari kediaman Mahendra. Aku tidak mau lagi melihatmu tinggal disini.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan lain bagi Kanisha sampai membuatnya kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks memegang sisi lemari agar tidak jatuh sedangkan Arven terus melanjutkan perkataannya dengan suara dingin,
“Aku akan urus semuanya secepat mungkin.”
Kanisha menatap pria itu tanpa berkedip. Matanya memerah penuh luka dan saat Arven kembali bicara, dunia Kanisha benar-benar runtuh sepenuhnya.
“Kanisha Rayya Shanika, dengan ini aku melayangkan talak tiga padamu.”
Deg, ruangan langsung terasa sunyi. Kanisha membeku bahkan air matanya seperti berhenti untuk sesaat. Ia hanya menatap Arven tanpa suara dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Selena pun terlihat menahan napas. Sedangkan Arven tetap berdiri tegak tanpa menarik kembali ucapannya sedikit pun.
“Aku talak kamu.”
Suaranya terdengar tegas, dingin dan menusuk. Untuk pertama kalinya Kanisha benar-benar merasa dirinya sudah kehilangan segalanya malam itu. Suaminya, Keluarganya, Harga dirinya, Bahkan rumah yang selama ini ia anggap tempatnya pulang. Tangannya mulai gemetar semakin hebat, dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas. Air matanya terus jatuh tanpa henti namun anehnya Kanisha tidak lagi berteriak ataupun marah karena rasa sakitnya sudah terlalu besar sampai membuat dirinya mati rasa.
Perlahan, Wanita itu menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan seolah akhirnya menerima semuanya.
“Baik…” Suaranya sangat pelan dan rapuh. “Aku pergi.”
Rahang Arven tampak menegang sedikit setelah mendengar jawaban Kanisha yang terlalu tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan histeris, tidak ada permohonan padanya untuk membatalkan perceraian, dan entah kenapa, hal itu justru membuat suasana terasa lebih menyesakkan.
Kanisha perlahan melangkah mundur, kakinya terasa lemas, tubuhnya bahkan nyaris roboh beberapa kali namun wanita itu tetap memaksa dirinya berjalan. Ia tidak mengambil koper, tidak mengambil tas ataupun mengambil apa pun karena pikirannya sudah terlalu kosong untuk memikirkan semua itu.
Yang ia tahu sekarang hanya satu, Ia harus pergi. Kalau tidak, ia mungkin benar-benar akan mati di tempat ini malam ini.
Langkahnya terasa gontai sementara tatapannya lurus ke depan tanpa fokus seolah jiwanya tertinggal di kamar itu.
“Mama…”
Suara kecil penuh tangis itu kembali terdengar dan kali ini langkah Kanisha sempat terhenti. Tubuhnya bergetar kecil, Namun ia tidak berani menoleh karena ia tahu, kalau ia menoleh sekarang, ia tidak akan sanggup pergi.
“Nggak… mama jangan pergi…”
Tangisan Naira langsung pecah semakin keras. Gadis kecil itu mulai meronta dalam pelukan Selena.
“Naira mau mama!”
Selena langsung panik.
“Naira sayang tenang dulu ya nak…”
“Nggak mauuu!!”
Tangisan anak kecil itu menggema memenuhi kamar dan membuat hati Kanisha langsung terasa dihancurkan berkali-kali.
“MAMAAA!!”
Kanisha langsung menutup mulutnya sendiri sementara tangisnya nyaris pecah. Ya Tuhan, Kenapa harus sesakit ini?
“Naira mau ikut mama!!”
Gadis kecil itu terus memberontak sambil menangis histeris. Tangannya terulur ke arah Kanisha.
“Mama jangan tinggalin Naira…”
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️