NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekecewaan kanaya

Melihat Kanaya yang ambruk tak berdaya, kepanikan di kepala Arman mendadak beralih menjadi ketakutan yang egois. Alih-alih langsung membopong Kanaya keluar untuk mencari pertolongan medis, Arman justru berbalik dengan cepat. Ia menutup kembali pintu kos itu hingga rapat dan menguncinya dari dalam.

​Bagi Arman, membawa Kanaya ke rumah sakit atau puskesmas dalam kondisi pendarahan seperti ini adalah sebuah bunuh diri sosial. Dokter pasti akan bertanya, warga kos akan curiga, dan semua orang—termasuk ayahnya—akan segera mengetahui aib yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

​Setelah memastikan pintu terkunci, Arman berbalik dan berlutut di hadapan Kanaya yang terbaring lemah di lantai. Air mata Arman tumpah, namun kali ini bercampur dengan rasa bersalah yang amat dalam. Ia meraih tangan Kanaya yang sedingin es, mendekapnya ke pipinya sendiri sambil terisak.

​"Nay... maafin aku, Nay. Maaf..." bisik Arman dengan suara bergetar frustrasi. "Aku mohon kamu bertahan. Kita nggak bisa ke puskesmas sekarang, Nay. Kalau kita keluar, semua orang bakal tahu... Papa bakal tahu..."

​Bagi Arman, saat ini tidak ada pilihan lain selain menyembunyikan Kanaya di dalam kamar ini, menunggu hingga kondisi fisik perempuan itu pulih dengan sendirinya—sebuah keputusan fatal yang ia ambil demi lagi-lagi menyelamatkan mukanya sendiri.

​Kanaya yang setengah sadar hanya bisa mendengar bisikan itu dengan rasa jengah dan kecewa yang kian membeku di dalam dadanya. Di ambang rasa sakitnya, ia menyadari bahwa laki-laki di hadapannya ini benar-benar telah membiarkannya bertaruh nyawa demi sebuah nama baik.

Mendengar untaian kata yang keluar dari mulut Arman, sesuatu di dalam diri Kanaya mendadak mati. Rasa sakit luar biasa yang tadi melilit perutnya seolah menguap, tergantikan oleh rasa kebas yang teramat dingin. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi histeria. Rasa cintanya pada Arman telah hancur sepenuhnya, berubah menjadi kepasrahan yang teramat jengah.

​Kanaya tidak sudi lagi memohon. Ia bahkan tidak sudi menyentuh uluran tangan Arman yang gemetar.

​Dengan tatapan mata yang kosong menatap langit-langit kamar, Kanaya membiarkan tubuhnya tetap terbaring di atas lantai porselen yang dingin. Baginya, lantai yang dingin itu jauh lebih jujur ketimbang pelukan Arman yang penuh kepura-puraan.

​"Bersihkan," bisik Kanaya datar, suaranya begitu pelan namun terdengar seperti perintah mati di telinga Arman. "Bersihkan sisa darah di kamar mandi. Semuanya."

​Setelah mengucapkan itu, Kanaya memejamkan matanya. Ia memilih memunggungi Arman, meringkuk di atas lantai dingin, mencoba mematikan seluruh indranya dari keberadaan laki-laki itu.

​Arman terpaku. Dinginnya sikap Kanaya justru terasa lebih menyiksa ketimbang makian. Dengan rasa bersalah yang menggunung dan ketakutan yang masih mencengkeram dadanya, Arman bangkit berdiri. Laki-laki yang biasanya bersih dan selalu dilayani di rumah megahnya itu kini melangkah gontai menuju kamar mandi.

​Di dalam ruangan sempit yang basah itu, Arman berlutut. Ia mengambil kain pel dan ember, lalu mulai menggosok noda merah pekat yang bergelinang di lantai. Air matanya menetes, bercampur dengan air bilasan darah dagingnya sendiri yang kini mengalir larut ke dalam lubang pembuangan.

​Setiap usapan kain yang ia lakukan adalah bukti nyata dari kepengecutannya. Arman melakukannya tanpa suara, membersihkan jejak-jejak dosa dan tragedi sore itu, sementara di luar kamar mandi, Kanaya tetap bergeming dalam kepasrahan yang membeku.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!