Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Surga Tropis dan Bahaya yang Mengintai
Setelah keindahan pagi itu berlalu, Davian memutuskan untuk membawa istrinya pergi jauh, menjauh dari kota, menjauh dari kenangan pahit, dan menjauh dari orang-orang yang telah menyakiti hati Grey. Dia ingin memberikan dunia pada wanita yang dicintainya itu, setidaknya untuk sementara waktu, sebelum dia kembali menumpahkan darah dan menghancurkan segalanya demi balas dendam. Pilihannya jatuh pada surga dunia yang paling indah: Maladewa.
Penerbangan pribadi Davian membawa mereka berdua menuju gugusan pulau-pulau kecil yang indah itu. Perjalanan yang nyaman dan mewah membuat Grey merasa seperti putri dongeng yang dibawa lari oleh rajanya. Saat mereka mendarat dan diantar dengan perahu cepat menuju vila pribadi yang berdiri megah di atas air jernih, mata Grey tak henti-hentinya memandang keindahan di sekelilingnya. Air laut yang berwarna biru gradasi, pasir putih yang halus seperti tepung, langit cerah tanpa awan, dan udara segar yang menenangkan… semuanya terasa begitu sempurna, begitu damai, dan begitu jauh dari kegelapan dunia Davian.
"Indah sekali, Davian… ini sungguhan?" tanya Grey dengan mata berbinar-binar, berjalan berpegangan tangan dengan suaminya di atas jembatan kayu yang mengarah ke vila mereka.
Davian tersenyum, menarik pinggang istrinya mendekat dan mencium pelipisnya. Matanya juga memandang sekeliling, namun di balik tatapan kagum itu, ada kewaspadaan tinggi yang tidak pernah hilang. Dia mengangguk pelan.
"Semuanya nyata, Sayang. Dan semua ini milikmu. Selama kita di sini, kau bebas melakukan apa saja, melihat apa saja, dan meminta apa saja. Aku membawa ke sini agar kau bahagia, agar kau lupa semua rasa sakit kemarin," jawab Davian lembut, namun tangannya sedikit lebih erat menggenggam tangan Grey. "Tapi ingat satu hal, Cintaku… di mana pun aku berada, bahaya selalu ada di belakangku. Di sini pun, meski terlihat damai dan jauh dari dunia, aku tidak bisa lengah. Dan kau… kau adalah hal paling berharga yang harus aku lindungi."
Grey mengangguk mengerti, dia bersandar ke lengan suaminya, tersenyum tenang. "Aku tahu. Selama kau ada di sampingku, aku tidak takut apa pun. Di mana pun bersamamu, itu adalah tempat teraman bagiku."
Malam-malam mereka di Maladewa berjalan lambat, indah, dan penuh kehangatan yang tak terhingga. Matahari terbenam yang memancarkan warna merah jingga ke seluruh permukaan laut menjadi saksi bisu cinta mereka. Di teras vila yang menghadap ke laut, di bawah langit bertabur bintang yang terlihat begitu dekat dan terang, mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk duduk berdua, berbicara, tertawa, atau hanya diam dalam keheningan yang nyaman.
Davian memanjakan Grey dengan segala cara. Dia menyuapi istrinya sendiri, dia memijat kaki dan tangannya, dia bernyanyi pelan di telinganya, dan dia memandang wanita itu seolah dia adalah satu-satunya cahaya yang ada di alam semesta. Malam-malam yang panjang itu menjadi momen di mana cinta mereka tumbuh semakin dalam, semakin kuat, dan semakin tak terpisahkan.
Dan saat malam semakin larut, saat suara deburan ombak menjadi irama yang menenangkan, saat udara malam yang hangat dan lembap masuk melewati jendela terbuka… penyatuan jiwa dan raga mereka terjadi kembali, berulang kali, dalam berbagai bentuk dan rasa. Kadang lembut dan penuh penghormatan, kadang panas dan penuh gairah, dan kadang penuh dominasi dan penyerahan diri.
Di atas kasur besar yang menghadap langsung ke laut, Davian dan Grey saling menjelajahi satu sama lain, menanamkan rasa cinta di setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap bisikan. Davian selalu memastikan bahwa Grey merasa dicintai sepenuhnya, merasa dimiliki sepenuhnya, dan merasa aman sepenuhnya. Dia menciumi setiap inci tubuh istrinya seolah itu adalah tanah suci, dia memeluknya seerat mungkin seolah ingin menyatukan tulang dan daging mereka.
"Kau adalah hidupku, Grey… satu-satunya alasanku bernapas," bisik Davian di tengah malam yang sunyi, wajahnya menempel di dada istrinya, mendengarkan detak jantung yang menjadi sumber kekuatannya. "Tanpamu, aku hanyalah monster yang berkeliaran di kegelapan. Kau yang menerangiku. Kau yang membuatku menjadi manusia."
Grey mengusap rambut suaminya dengan lembut, mencium keningnya berkali-kali. "Dan kau adalah pelindungku, Davian. Kau yang menyelamatkanku dari kesepian, kau yang menyelamatkanku dari kejahatan dunia. Aku mencintaimu, lebih dari apa pun."
Namun, di balik keindahan surga tropis itu, di balik senyum bahagia mereka, di balik pelukan hangat dan ciuman penuh cinta… bahaya itu memang nyata, persis seperti yang dikatakan Davian.
Malam ketiga mereka di sana, langit malam sedikit mendung, angin bertiup lebih kencang membawa aroma laut yang kuat. Davian yang biasanya tidur dengan tenang saat memeluk Grey, malam itu tiba-tiba terbangun sepenuhnya dengan mata terbuka lebar, naluri tajamnya sebagai pemimpin mafia yang bertahun-tahun hidup di ujung tanduk tiba-tiba berteriak keras di dalam kepalanya.
Dia merasakan sesuatu yang salah. Sesuatu yang asing. Sesuatu yang berbahaya.
Tanpa membangunkan Grey yang masih tertidur lelap dan damai dalam pelukannya, Davian perlahan melepaskan pelukannya, bangkit berdiri dengan gerakan senyap bagai bayangan. Dia mengambil jubahnya dan memakaikannya sekilas, lalu berjalan perlahan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke laut. Matanya yang tajam meneliti kegelapan di luar sana, menyisir setiap bayangan di atas permukaan air yang beriak keras diterpa angin.
Di kejauhan, samar-samar, dia melihat kilatan cahaya kecil yang berkedip, lalu hilang. Dan telinganya yang tajam menangkap suara mesin yang sangat pelan, suara perahu yang berusaha disembunyikan agar tidak terdengar.
Darah Davian langsung mendidih, namun bukan karena takut, melainkan karena kewaspadaan yang memuncak dan kemarahan dingin yang mulai menjalar. Bahaya itu datang. Bahaya itu selalu ada, mengikuti jejak ke mana pun dia pergi, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. Musuh-musuhnya, atau mungkin orang yang dikirim oleh mereka yang ingin membalas dendam padanya, atau bahkan orang yang mengira dia sedang lengah… mereka berani datang ke sini. Dan yang paling membuat Davian ingin membunuh saat itu juga: mereka datang saat wanitanya ada di sisinya, saat wanitanya sedang tidur damai, saat wanitanya sedang bahagia.
Davian meraba pinggangnya, merasakan gagang senjata yang selalu dia bawa ke mana saja, bahkan saat tidur sekalipun. Dia berbalik perlahan menatap kembali ke arah kasur. Grey masih tidur dengan damai, wajahnya bersinar cantik dalam tidurnya, sama sekali tidak tahu bahwa kematian sedang berenang mendekat ke arah mereka.
Langkah kaki pelan terdengar dari luar pintu depan vila. Bukan langkah kaki para pengawal pribadinya yang dia tugaskan mengelilingi pulau itu. Langkah kaki ini lebih berat, lebih cepat, dan berisi niat jahat.
Davian bergerak kembali ke sisi tempat tidur, berlutut di samping wajah istrinya, lalu mengguncang bahu gadis itu pelan namun tegas.
"Grey… bangun. Sekarang," bisiknya dengan suara rendah namun penuh tekanan, matanya tetap terpaku pada pintu tertutup itu.
Grey terbangun dengan kaget, matanya masih berair dan bingung. "Davian? Ada apa? Kenapa gelap sekali…"
"Diam, Sayang. Dengarkan aku baik-baik. Bahaya datang. Ada orang jahat di sini," ucap Davian singkat dan jelas, langsung membuat mata Grey terbuka lebar dan rasa kantuknya hilang seketika. "Di belakang kepala tempat tidur ini ada pintu rahasia yang menuju ke jalan bawah air. Di sana ada perahu kecil yang sudah disiapkan. Kau harus pergi ke sana sekarang, ikuti rambu yang ada, dan tunggu aku di titik pertemuan. Ada anak buahku yang sudah menunggu di sana."
Grey langsung duduk, jantungnya berpacu kencang karena ketakutan, bukan untuk dirinya, tapi untuk suaminya. Dia menangkap lengan Davian dengan tangan gemetar. "Tidak! Aku tidak mau pergi tanpa kau! Aku ikut denganmu! Kita pergi bersama!"
Davian menatap istrinya dengan tatapan tajam namun penuh kasih sayang, dia menangkup kedua pipi itu dan mencium bibirnya dalam-dalam, seolah itu mungkin ciuman terakhirnya.
"Kau harus pergi, Grey. Aku harus tetap di sini untuk menahan mereka. Jika kita pergi bersama, mereka akan mengejar. Tapi jika kau aman, aku bisa bertarung dengan bebas. Aku berjanji, aku akan segera menyusulmu. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa membunuhku, ingat? Aku adalah milikmu, dan aku tidak akan mati sebelum mencintaimu sampai tua."
Suara pecahan kaca yang keras terdengar dari lantai bawah, diikuti dengan suara langkah kaki yang semakin banyak dan semakin mendekat ke tangga. Waktu habis.
"PERGI SEKARANG! ITU PERINTAHKU!" bisik Davian tegas, lalu dia mendorong tubuh Grey menuju pintu rahasia itu, membukanya dengan cepat. Matanya menatap istrinya untuk terakhir kalinya sebelum dia berbalik menghadap pintu kamar yang kini mulai didobrak dari luar. "Aku mencintaimu, Grey. Selamanya."
Grey terpaksa masuk ke lorong gelap itu dengan air mata yang mulai mengalir, memandang punggung suaminya yang tegap dan berani itu. Pintu rahasia tertutup rapat dan tersembunyi kembali tepat saat pintu kamar utama itu runtuh terbuka, dan puluhan pria bertopeng dengan senjata di tangan menyerbu masuk, menodai keindahan kamar tidur mereka yang penuh cinta itu dengan niat jahat dan darah yang siap tumpah.
Di dalam kegelapan lorong itu, Grey mendengar suara teriakan, suara benturan, dan suara tembakan yang memekakkan telinga bergema dari atas. Dia menutup mulutnya kuat-kuat agar tidak bersuara, menangis dalam diam, berdoa sekuat tenaga agar suaminya selamat. Dia sadar, meski di surga dunia sekalipun, menjadi istri seorang mafia berarti hidup dengan pisau di leher setiap saat. Bahaya selalu ada, mengintai di setiap sudut, di setiap bayangan, bahkan di momen kebahagiaan mereka sekalipun.
Dan di atas sana, di tengah kamar yang kini berubah menjadi medan pertempuran, Davian Argantha berdiri di tengah hujan peluru dan tusukan senjata, matanya menyala merah penuh amarah dan kekejaman. Dia bergerak cepat, mematikan satu per satu musuhnya dengan keahlian mematikan yang dia miliki, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: membunuh mereka semua secepat mungkin, agar dia bisa kembali pada istrinya, kembali ke pelukan cintanya, dan menghancurkan siapa pun yang berani mengganggu kebahagiaan mereka.
Surga tropis itu kini berubah menjadi neraka bagi para penyerang. Mereka tidak tahu, bahwa mereka baru saja membangunkan seekor naga yang sedang tidur, dan naga itu jauh lebih mengerikan daripada yang bisa mereka bayangkan.
(Lanjut ke Bab 13)