Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Pergi Tanpa Arah dan Tumbuh Kebencian
Langkah Salwa terhuyung-huyung di tengah derasnya hujan malam itu. Gaun pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan kini sudah kotor, berlumpur, dan basah kuyup menempel di kulitnya, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Ia berjalan terus, tidak peduli ke mana kakinya membawanya. Yang ia tahu, ia harus menjauh dari rumah itu, menjauh dari orang-orang yang ia sebut keluarga namun justru menjadi musuh terbesarnya.
Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir di pipinya. Hati gadis itu terasa perih, sakit yang tak terlukiskan. Dua pukulan telak bertubi-tubi menghantamnya dalam satu malam: diceraikan secara kejam oleh suami yang baru diakadkan, lalu ditolak dan diusir oleh darah dagingnya sendiri.
Di dalam dadanya, rasa sakit perlahan berubah menjadi api yang mulai membara. Api kebencian.
"kalian... jahat... kejam..." gumamnya parau, suara tenggelam oleh gemuruh petir di langit. Pikirannya melayang pada sosok Yogie Pratama. Pria yang tampan, yang diharapkannya menjadi pelindung, ternyata adalah orang yang pertama kali menghancurkan hidupnya. Kata-kata kasar Yogie, tuduhan kotor yang meluncur dari mulutnya, cara ia melempar talak seolah melempar sampah—semua itu terputar berulang kali di kepala Salwa.
"Aku benci kamu, Yogie... Aku sangat membencimu..." teriaknya dalam hati, mengepal kedua tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. "Kamu mengambil segalanya dariku. Kamu meremukkan harga diriku, mempermalukanku di depan dunia, lalu membuangku begitu saja seolah aku tidak berharga. Apa dosaku padamu? Apa salahku sampai kamu tega melakukanku begini? Kamu bilang aku kotor, kamu bilang aku barang bekas... Baiklah, ingat saja, Yogie. Sakit yang kamu berikan ini, akan aku simpan baik-baik. Suatu hari nanti, jika Tuhan mengizinkan kita bertemu lagi, aku akan membalas semua rasa sakit ini berlipat ganda!"
Namun, kebencian itu tidak hanya tertuju pada Yogie. Bayangan wajah Ayah tirinya yang bengis, suara ibunya yang dingin, serta ejekan saudara-saudara tirinya juga berputar di kepalanya. Rasanya lebih sakit lagi. Orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, orang yang seharusnya membelanya dan mengusap air matanya, justru menjadi orang yang paling cepat menghakimi dan mengusirnya.
"Dan kalian..." Salwa menatap ke arah jalan yang menjauh dari rumahnya, matanya menajam penuh amarah. "Kalian yang melahirkanku, yang membesarkanku... tapi saat aku jatuh dan terluka, kalian malah menendangku agar jatuh lebih dalam lagi. Kalian malu punya anak sepertiku? Kalian menganggapku pembawa sial? Baiklah... mulai detik ini juga, Salwa Azzahra sudah mati bagi kalian. Aku tidak punya orang tua. Aku tidak punya keluarga. Kalian yang membuangku, jadi jangan pernah menyesal kalau suatu saat aku bangkit dan berdiri di atas kalian semua, sementara kalian hanya akan menjadi debu di bawah kakiku!"
Salwa terus berjalan berjam-jam, sampai kakinya lecet dan terasa berat sekali. Ia tidak peduli dingin, tidak peduli lapar, tidak peduli bahwa ia sendirian di jalanan yang gelap dan berbahaya. Perasaan dikhianati dan dibuang itu telah memadamkan rasa takutnya. Hanya ada satu hal yang kini mendorongnya untuk terus melangkah: tekad untuk bertahan hidup, dan janji dalam hatinya untuk membalas dendam.
Ia ingat betul ucapan ibunya "kau kan sudah janda, sudah bukan gadis lagi. Mana ada keluarga yang mau menerima..." Dan ucapan Yogie, "wanita penuh noda, barang bekas..."
Kata-kata itu menjadi semangat baginya. Benar, batinnya. Mereka memandang rendah aku. Mereka menginjak-injak harga diriku karena mereka pikir aku tidak akan bisa apa-apa, aku akan hancur dan mati di jalanan. Tapi aku akan buktikan mereka salah. Aku akan bangkit. Aku akan menjadi seseorang yang hebat, yang dihormati, yang tidak bisa dipandang rendah oleh siapa pun. Dan saat itu tiba, aku akan kembali ke sini. Aku akan membuat Yogie menyesal telah menceraikanku. Aku akan membuat keluargaku menyesal telah membuangku seperti sampah.
Malam semakin larut, hujan mulai reda menyisakan gerimis halus dan udara yang sangat dingin. Salwa akhirnya berhenti di sebuah halte bus tua yang sudah rusak di pinggir jalan raya yang sepi. Ia duduk di bangku kayu yang sudah lapuk itu, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan dan kesunyian. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mencari. Ia benar-benar sendirian di dunia ini.
Namun, di balik wajah yang pucat dan tubuh yang lemah itu, matanya kini berubah. Mata yang tadi penuh ketakutan dan kepolosan, kini memancarkan kilatan dingin, keras, dan penuh kebencian. Kepolosan Salwa telah mati malam itu, digantikan oleh jiwa yang terluka, marah, dan berjanji untuk tidak lagi percaya pada siapa pun terutama pada laki-laki dan keluarga.
"Aku akan hidup..." bisiknya dengan suara bergetar namun tegas. "Aku akan hidup, dan aku akan membuat kalian semua menyesal pernah ada dalam hidupku."
" aku berjanji , aku akan membuat kalian mengemis di kaki ku . Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan bahagia !" ucap Salwa dengan mata yang penuh kebencian yang mulai tumbuh .
Di kejauhan, terdengar suara kendaraan mendekat, namun Salwa tidak beranjak. Ia sudah tidak lagi menjadi gadis lemah yang bisa diinjak-injak sembarangan. Di malam yang kelam dan penuh luka itu, lahirlah Salwa yang baru seorang wanita yang membawa api dendam di dadanya, berjalan tanpa arah namun dengan tujuan masa depan yang sudah tertanam kuat di benaknya: membalas sakit hati.
Sementara itu, di rumah mewah keluarga Pratama, Yogie masih berdiri di balkon, basah terkena sisa hujan. Ia melihat ke arah jalan kosong di kejauhan, hatinya perih bukan main. Ia tahu ia telah menanam benih kebencian yang sangat besar di hati gadis yang dicintainya itu. Ia tahu Salwa kini membencinya lebih dari apa pun.
Namun, Yogie hanya bisa menelan pahit itu sendiri. Ia tahu, jika Salwa membencinya, jika Salwa marah dan ingin membalas dendam, setidaknya itu akan membuat gadis itu punya alasan untuk tetap hidup dan berjuang. Dan itu jauh lebih baik daripada Salwa harus kehilangan nyawanya karena rencana jahat orang-orang yang mengincarnya.
"Maafkan aku, Salwa," bisik Yogie pelan, air matanya luruh kembali. "Biarlah aku menjadi orang paling jahat di matamu. Biarlah kau membenciku. Asalkan kau selamat... asalkan kau hidup dan bisa bangkit... aku rela menanggung semua kebencianmu itu selamanya."
Namun, di jalanan yang jauh dari sana, Salwa tidak pernah tahu perasaan itu. Yang ia tahu hanyalah rasa sakit, rasa malu, dan api dendam yang semakin berkobar besar, siap membakar apa saja yang menghalangi jalannya menuju pembalasan.
Namun , tiba - tiba ada seorang yang turun dari mobil mewah . Dan mendekati kearah Salwa berdiri .
bersambung ,,,