Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tekanan Murid Luar
Huang segera menangkup kedua tangan.
"Saya permisi, Senior."
Setelah berkata demikian, ia berbalik hendak pergi. Namun dua rekan Lan Dong bergerak cepat seperti telah menunggu saat itu. Salah satu berdiri di sisi kiri jalan batu, sedangkan yang lain menutup sisi kanan, membuat Huang terhenti di tengah pelataran.
Huang menghela napas pelan.
Ia kemudian melangkah tenang, mencoba melewati keduanya tanpa mencari keributan. Namun begitu tubuhnya bergerak maju, salah satu murid luar itu kembali menggeser langkah dan menahan jalannya menggunakan bahu.
Beberapa murid yang berada di sekitar rumah makan mulai mendekat perlahan. Tatapan mereka dipenuhi rasa penasaran. Di Sekte Yunwu, pertengkaran kecil antar murid luar bukan sesuatu yang aneh. Terlebih lagi Huang adalah murid baru yang langsung diterima Tetua Mo. Banyak orang diam diam merasa iri.
Huang tetap menjaga wajahnya tenang. "Kalian ini sebenarnya kenapa? Aku tidak memiliki masalah dengan kalian. Kenapa menggangguku?"
Lan Dong mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepala perlahan.
Salah satu rekannya tertawa pendek. "Tidak memiliki masalah dengan kami? Tentu saja kurang tepat."
Rekan yang lain segera menimpali dengan senyum mengejek. "Karena kau memiliki masalah dengan seluruh murid luar."
Huang sedikit mengernyit. "Maksud kalian apa?"
Lan Dong melangkah maju perlahan. "Kau baru masuk sekte satu hari. Namun langsung diterima Tetua Mo sebagai murid pribadi. Apa kau pikir murid luar lain akan senang melihat itu?"
Beberapa murid di sekitar mulai berbisik pelan.
"Itu memang benar."
"Aku sudah tiga tahun di sini."
"Bahkan belum pernah berbicara langsung dengan tetua."
Tatapan yang awalnya hanya penasaran mulai berubah lebih rumit. Ada iri hati, ada ketidakpuasan, dan ada pula rasa benci samar.
Kultivasi memang dunia yang kejam. Ketika satu orang mendapatkan sesuatu lebih baik, maka orang lain akan merasa kehilangan bagian mereka sendiri.
Huang memahami sedikit hal itu dari ingatan dan pemahaman senior misterius dahulu. Namun menghadapi langsung suasana seperti ini tetap membuat dadanya terasa berat.
Ia menangkup kedua tangan sekali lagi. "Aku tidak pernah berniat merendahkan siapa pun. Aku hanya mengikuti keputusan para tetua."
Salah satu rekan Lan Dong mendengus kasar. "Ucapan bagus. Tapi wajahmu menyebalkan."
Beberapa murid tertawa kecil.
Huang tetap diam.
Lan Dong memperhatikan Huang beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Jika kau pintar, kau harus mengerti aturan tidak tertulis di tempat ini."
Huang mengangkat pandangan. "Mohon petunjuk Senior."
Lan Dong menyeringai tipis. "Murid baru harus tahu diri."
Setelah berkata demikian, tekanan energi spiritual Ranah Fana Tahap Akhir perlahan keluar dari tubuh Lan Dong. Tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk membuat beberapa murid di sekitar mundur sedikit.
Huang langsung memahami maksud lawannya.
Mereka ingin menekannya.
Jika Huang melawan, mereka punya alasan untuk menyerangnya bersama. Jika Huang takut, mereka akan terus menginjaknya setelah ini.
Huang diam beberapa napas lamanya sebelum akhirnya membuka mulut dengan tenang.
"Kalau begitu... apa yang Senior inginkan?"
Lan Dong tersenyum samar karena merasa pembicaraan mulai bergerak sesuai keinginannya.
"Mudah saja. Berikan sepuluh batu roh tingkat rendah sebagai salam hormat pada kami."
Murid di sekitar tidak terlalu terkejut mendengar itu. Perkara semacam ini sering terjadi pada murid baru. Hanya saja biasanya jumlahnya tidak sebanyak itu.
Huang terdiam sejenak.
Saat ini di dalam cincin ruang miliknya terdapat seratus tiga tiga batu roh tingkat rendah. Jumlah itu terlihat banyak bagi murid luar, tetapi Huang tahu dirinya membutuhkan batu roh untuk kultivasi. Terlebih lagi ia tidak memiliki keluarga, latar belakang, ataupun pendukung di sekte ini.
Ia harus menghemat setiap sumber daya.
Huang memandang Lan Dong dengan tenang. "Maaf Senior. Saya tidak bisa memberikannya."
Wajah Lan Dong langsung mendingin.
"Berani menolak?"
Huang mengangguk pelan. "Saya memang memiliki batu roh. Tetapi batu roh itu hadiah dari Senior Lei Shan dan Senior Luo Mei karena saya membantu mereka. Saya tidak bisa menghamburkannya begitu saja."
Mendengar nama Lei Shan dan Luo Mei, beberapa murid di sekitar saling berpandangan.
Kedua murid dalam itu cukup terkenal di Sekte Yunwu. Tidak banyak murid luar berani menyinggung mereka secara langsung.
Namun Lan Dong justru tertawa dingin.
"Dan menurutmu aku takut pada mereka?"
Salah satu rekannya segera menambahkan, "Lagipula yang memperhatikanmu bukan cuma mereka."
Tatapan ketiganya berubah aneh.
Huang langsung memahami maksud tersembunyi itu.
Dhu Yan.
Nama itu seperti bayangan dingin yang mulai muncul di belakangnya sejak kemarin.
Huang perlahan menggenggam tangannya di balik lengan baju. Ia sadar dirinya masih terlalu lemah. Melawan mereka sekarang bukan pilihan bijak.
Namun tepat ketika suasana mulai menegang, sebuah suara malas tiba tiba terdengar dari kejauhan.
"Kalian murid luar tidak ada kerjaan lain selain menggertak bocah baru?"
Semua orang menoleh.
Tetua Mo berjalan mendekat sambil membawa kendi arak di tangannya. Rambutnya berantakan, pakaiannya kusut, bahkan langkahnya tampak sedikit oleng seperti orang mabuk berat.
Akan tetapi begitu para murid melihatnya, wajah mereka langsung berubah.
Lan Dong buru buru menangkup kedua tangan. "Salam hormat Tetua Mo."
Murid lain ikut memberi hormat dengan cepat.
Tetua Mo mendengus pelan. "Sekelompok ayam lemah berani menekan muridku. Sekte Yunwu benar benar semakin membusuk."
Tak ada yang berani membalas.
Bahkan Lan Dong menundukkan kepala lebih dalam.
Tetua Mo memang dikenal aneh dan kasar. Namun kekuatannya sangat tinggi. Tidak ada murid luar yang berani mencari masalah dengannya.
Tetua Mo kemudian melirik Huang. "Kenapa diam saja?"
Huang menjawab jujur. "Murid tidak ingin membuat masalah."
Tetua Mo tertawa serak. "Masalah akan tetap datang walau kau diam seperti batu kuburan."
Setelah berkata demikian, Tetua Mo tiba tiba mengangkat kendi araknya lalu melemparkannya.
Buk!
Kendi itu menghantam kepala salah satu rekan Lan Dong hingga pria itu terjatuh sambil memegangi dahinya yang berdarah.
Semua murid langsung membeku.
Tetua Mo mendecakkan lidah. "Wajahmu paling menyebalkan."
Pria yang terkena lemparan tidak berani marah sedikit pun. Ia segera bangkit sambil menunduk ketakutan.
Lan Dong menggertakkan giginya pelan, tetapi tetap menjaga hormat. "Tetua Mo... kami hanya bercanda dengan murid baru."
Tetua Mo menatapnya dingin. "Kalau begitu aku juga sedang bercanda."
Tidak ada yang berani menjawab lagi.
Beberapa saat kemudian Tetua Mo melambaikan tangan malas. "Pergi. Sebelum suasana hatiku semakin buruk."
Lan Dong akhirnya menangkup kedua tangan lalu mundur bersama dua rekannya. Sebelum pergi, ia sempat menatap Huang dengan sorot dingin penuh kebencian.
Tatapan itu membuat beberapa murid lain diam diam mengerti bahwa masalah ini belum selesai.
Setelah mereka pergi, Tetua Mo meneguk arak panjang lalu berjalan melewati Huang.
"Ayo."
Huang segera mengikuti dari belakang.
Keduanya berjalan menyusuri jalan batu sekte. Sepanjang perjalanan, banyak murid menundukkan kepala hormat pada Tetua Mo. Namun lelaki tua itu bahkan tidak melirik mereka.
Beberapa saat kemudian Tetua Mo tiba tiba berbicara.
"Takut?"
Huang menjawab jujur. "Sedikit."
Tetua Mo tertawa kecil. "Bagus. Orang yang tidak tahu takut biasanya mati lebih cepat."
Huang diam mendengarkan.
Tetua Mo melanjutkan sambil menatap jalan di depan. "Lan Dong hanyalah serigala kecil. Yang benar benar berbahaya adalah orang di belakangnya."
Huang perlahan mengangkat pandangan. "Dhu Yan?"
Tetua Mo mendengus. "Kau tidak bodoh."
Mereka terus berjalan hingga tiba di kediaman sunyi milik Tetua Mo. Tempat itu tampak lebih seperti reruntuhan tua dibanding kediaman seorang tetua sekte.
Tetua Mo duduk di atas batu besar sambil meminum arak.
"Luka dan tekanan seperti tadi akan sering kau alami nanti."
Tatapannya perlahan berubah suram.
"Dunia kultivasi bukan tempat untuk orang baik hati."
Huang berdiri diam sambil mendengarkan.
Tetua Mo memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Kalau kau ingin hidup lebih lama... maka cepatlah menjadi kuat."
Huang menangkup kedua tangan perlahan.
"Murid mengerti, Guru."