NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Masa lalu dan Senjata Terlarang

Setelah jatuhnya Dion di ruang rapat pleno, atmosfer di dalam kantor pusat Alfarezel Group terasa berbeda. Kemenangan Devan memang mutlak, namun keheningan yang menyelimuti lantai direksi justru terasa lebih mencekam daripada kebisingan pertengkaran. Semua orang tahu bahwa Karina Alfarezel tidak akan tinggal diam setelah putranya dipermalukan dan diusir dari jajaran dewan direksi. Bagi Karina, Alfarezel bukan sekadar perusahaan, melainkan takhta yang harus dikuasai dengan cara apa pun.

Anya menyadari hal ini. Selama dua hari pasca-rapat, ia merasakan tatapan-tatapan aneh dari staf lain. Meski tidak ada lagi yang berani menyebarkan video fitnah, bisik-bisik di pantry dan lorong kantor tidak bisa dihindari.

Anya bukan sekadar asisten lagi; ia adalah pusat badai.

Di ruangannya yang kini terasa lebih lapang karena privasi yang diperketat, Anya duduk di depan tumpukan dokumen. Ia mencoba fokus, namun pikirannya melayang pada peringatan Devan.

Mereka akan menyerang lebih keras.

Tepat pukul dua siang, pintu ruangan Devan terbuka. Pria itu masuk dengan langkah tergesa, diikuti oleh Randi yang membawa tumpukan dokumen hukum. Devan tampak lelah; lingkaran hitam tipis di bawah matanya menunjukkan bahwa ia belum tidur sejak insiden video itu.

"Anya," panggil Devan tanpa basa-basi, suaranya berat dan mendesak. "Tolong ambilkan data laporan keuangan dari Divisi Proyek Khusus untuk tahun 2022. Aku butuh sinkronisasi data dengan catatan pengeluaran operasional minggu ini."

Anya segera bangkit, namun Devan menghentikannya dengan satu tatapan tajam. "Tunggu. Sebelum itu, pastikan pintu ruangan ini terkunci. Ada hal yang perlu kita bicarakan yang tidak boleh didengar oleh siapa pun, termasuk staf sekuriti kita sendiri."

Anya menurut, mengunci pintu kayu jati itu hingga terdengar bunyi klik yang final.

Ia kembali ke meja, di mana Devan sudah membentangkan sebuah berkas yang tampak sangat tua dan menguning di bagian tepinya.

"Apa ini?" tanya Anya.

"Ini adalah senjata Karina," jawab Devan, suaranya hampir menyerupai desisan. "Tadi pagi, seseorang mengirimkan ini ke meja Kakek secara anonim. Isinya adalah catatan medis dan laporan kepolisian dari sepuluh tahun lalu, tepat saat keluargamu mengalami kebangkrutan hebat."

Jantung Anya seolah berhenti berdetak. Seluruh dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Ia ingat tahun itu tahun di mana ayahnya difitnah melakukan penggelapan dana oleh rekan bisnisnya sendiri, tahun di mana rumah mereka disita, dan tahun di mana kesehatan ibunya hancur total karena stres yang tak tertahankan.

"Bagaimana mereka bisa mendapatkan ini?" suara Anya bergetar hebat.

"Karina menyuap seseorang di kepolisian dan rumah sakit lama kotamu," jawab Devan, kini ia berdiri di samping Anya, menatap dokumen tersebut dengan kemarahan yang tertahan. "Catatan ini mencoba membangun narasi bahwa ayahmu sebenarnya bersalah dan melarikan diri, dan bahwa kebangkrutan keluargamu adalah hasil dari tindakan kriminal, bukan penipuan rekan bisnisnya."

Anya merosot ke kursi. Dunianya yang baru saja ia bangun kembali setelah sekian lama, kini terancam hancur oleh kebohongan masa lalu yang diputarbalikkan. "Mereka ingin membuktikan bahwa aku tidak layak berada di sini, bahwa aku membawa 'virus' ke keluarga Alfarezel."

Devan berjongkok di depan Anya, memegang kedua tangan wanita itu yang sedingin es.

"Dengar, Anya. Aku tidak peduli dengan apa yang tertulis di kertas ini. Aku sudah menugaskan detektif swasta untuk mencari bukti otentik yang membuktikan bahwa ayahmu tidak bersalah. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Karina akan mengumumkan ini di depan media minggu depan, saat perayaan ulang tahun Alfarezel Group yang ke-50."

Anya menatap Devan dengan tatapan putus asa. "Jadi ini rencana akhirnya? Menghancurkanku di depan publik supaya aku tidak punya pilihan selain meninggalkanmu?"

Devan berdiri, memandang ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari lantai atas. "Itu rencananya. Tapi dia lupa satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak pernah membiarkan musuhku memilih medan perang."

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas hamparan kaca tajam. Karina, dengan kelicikan yang luar biasa, mulai menyebarkan rumor-rumor tipis di kalangan sosialita dan pers bahwa "asisten CEO" memiliki latar belakang keluarga yang "bermasalah". Ia bermain sangat rapi tidak langsung menuduh, melainkan menaburkan keraguan agar orang lain yang menyimpulkannya sendiri.

Anya harus menghadapinya dengan kepala tegak. Setiap kali ia berjalan di koridor, setiap tatapan yang ia terima terasa seperti hakim yang siap menghujat. Namun, Devan selalu ada di sisinya. Bukan hanya sebagai bos, bukan hanya sebagai mitra kontrak, tetapi sebagai pelindung yang tak kenal ampun.

Pada satu malam, ketika hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang luar biasa, Anya sedang berada di ruang arsip untuk mencari data tambahan yang diminta Devan. Ia sendirian. Lorong lantai itu sepi, hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip.

Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar mendekat.

Tak... tak... tak...

Anya mendongak dari rak arsip.

Karina Alfarezel berdiri di sana dengan setelan jas Chanel merah menyala yang tampak seperti darah di bawah cahaya redup. Senyumnya tidak sampai ke mata. itu adalah senyum seorang predator yang sedang memojokkan mangsanya ke sudut jurang.

"Anya," suara Karina dingin dan menusuk. "Kau tahu, aku selalu mengagumi orang yang gigih. Tapi kegigihanmu ini sungguh menyedihkan."

Anya berdiri, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Apa yang Anda inginkan, Tante Karina?"

Karina berjalan mendekat, menyentuh rak arsip dengan jari-jarinya yang mengenakan cincin berlian besar.

"Aku ingin kau pergi. Sebelum minggu depan. Sebelum namamu, reputasimu, dan sisa martabat yang kau miliki dihancurkan hingga tak bersisa. Devan tidak akan bisa menyelamatkanmu kali ini. Dia punya kewajiban terhadap perusahaan, dan jika aku membuktikan bahwa keluargamu memiliki sejarah kriminal, komisaris akan memaksanya untuk memecatmu, bahkan mungkin membatalkan pernikahan ini."

"Anda takut," Anya membalas, suaranya kini lebih stabil. "Anda takut jika saya tetap di sini, rahasia-rahasia lain yang lebih besar akan terbongkar. Anda takut jika saya bisa membuktikan bahwa ayah saya tidak bersalah, maka semua kebohongan yang Anda bangun selama ini akan runtuh."

Mata Karina menyipit.

Ia mendekat, membisikkan sesuatu di dekat telinga Anya. "Kau pikir kau bisa melawan seorang Alfarezel dengan 'kejujuran'? Kejujuran adalah mata uang yang tidak laku di dunia ini, manis. Besok pagi, aku akan merilis pernyataan bahwa aku memiliki bukti otentik tentang kejahatan ayahmu. Jika kau masih punya sedikit saja kasih sayang pada ibumu yang sedang sakit, kau akan pergi hari ini juga."

Karina berbalik dan melenggang pergi, meninggalkan Anya dalam kesendirian yang menyesakkan. Namun, tepat saat Karina hilang di balik tikungan, Anya merasa tangan seseorang menyentuh bahunya.

Itu Devan. Ia telah berdiri di sana sejak tadi, mendengar semuanya. Matanya menatap ke arah tempat Karina menghilang dengan kilatan amarah yang lebih murni dari apa pun yang pernah dilihat Anya.

"Dia baru saja melakukan kesalahan fatal," bisik Devan.

"Kesalahan apa?"

"Dia pikir aku tidak tahu di mana dia menyembunyikan bukti palsu itu," Devan menarik napas panjang, lalu menarik Anya ke dalam dekapannya.

Itu bukan pelukan romantis yang dangkal; itu adalah pelukan yang menyatakan kepemilikan dan perlindungan mutlak. "Anya, besok kita akan melakukan serangan balik. Aku sudah mendapatkan data yang sebenarnya dari arsip lama kepolisian yang belum dijangkau oleh tangan kotornya."

"Apa itu berarti kita aman?"

"Tidak," jawab Devan jujur. "Tapi kita akan menang."

Di dalam dekapan Devan, Anya merasa bahwa meski seluruh dunia mungkin berbalik melawannya, pria ini adalah satu-satunya benteng yang tak akan pernah runtuh. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di pesta ulang tahun minggu depan, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak lagi takut pada bayang-bayang masa lalunya.

Di balik pintu ruangan yang tertutup, di tempat yang tidak diketahui siapa pun, Devan telah menyiapkan langkah terakhir. Ia tahu bahwa Karina adalah lawan yang sangat berbahaya, tapi ia juga tahu bahwa Karina memiliki satu kelemahan besar: kesombongan.

Devan akan menggunakan kesombongan itu untuk menghancurkannya. Minggu depan, di perayaan ulang tahun ke-50 Alfarezel Group, sejarah keluarga akan ditulis ulang bukan oleh Karina, melainkan oleh kebenaran yang selama ini terkubur.

Anya menyandarkan kepalanya di bahu Devan, membiarkan aroma parfum pria itu menenangkan gejolak di hatinya. Mereka memiliki waktu lima hari untuk bersiap. Lima hari untuk mengumpulkan sisa-sisa bukti yang diperlukan untuk menelanjangi kejahatan Karina di hadapan publik.

Ini adalah babak baru yang akan menentukan segalanya. Jika mereka gagal, mereka akan kehilangan segalanya. Tapi jika mereka berhasil, Alfarezel Group akan menjadi milik mereka sepenuhnya, dan tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!