Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 5
****** Happy Reading guys! ******
“Apa Tuan punya rencana lain? Sepertinya Arkan kesulitan membujuk Tuan Arthur. Mereka tetap ingin menjadikan perjodohan sebagai syarat kerja sama.”
Damian tetap fokus membaca dokumen di tangannya seolah tak mendengar ucapan asistennya.
Ruangan kerja itu luas dan dingin, dipenuhi aroma samar kopi hitam dan tembakau. Cahaya matahari sore menembus jendela kaca tinggi di belakang meja kerjanya, memantulkan kilau mahal di lantai marmer putih.
Sebelum Arkan datang, Damian sudah memiliki Jack--asisten lamanya yang mengurus hampir semua urusan penting perusahaan. Sedangkan Arkan lebih sering menemaninya menghadiri acara dan menangani relasi bisnis.
Damian menutup map itu pelan, lalu melemparkannya ke tumpukan berkas lain.
Kerja sama dengan Tuan Arthur kini menggantung tanpa kepastian hanya karena ia memilih kabur dari rencana perjodohan konyol itu.
Namun ia sama sekali tidak peduli.
Ia tidak mungkin menjilat lelaki tua itu hanya demi memulai bisnis.
Ia punya otak.
Dan Damian lebih memilih percaya pada kemampuannya sendiri daripada tunduk pada siapa pun.
“Di mana dia sekarang?” tanyanya akhirnya.
“Masih menghadiri beberapa pertemuan, Tuan. Dia juga mewakili Anda di acara malam ini.”
Damian hanya mengangguk tipis.
Jack tampak ragu sebelum kembali bicara.
“Anda terlalu banyak memberi kepercayaan pada Arkan. Dia masih baru. Bagaimana kalau suatu saat dia berkhianat?”
Sudut bibir Damian terangkat samar. Ia menyalakan rokok, lalu menyandarkan tubuhnya malas di kursi.
Asap tipis mengepul memenuhi ruangan.
“Memangnya kenapa kalau dia berkhianat?” tanyanya tenang.
Jack terdiam.
“Hanya semut kecil,” lanjut Damian sambil mengembuskan asap rokoknya perlahan. “Tidak akan berpengaruh apa pun.”
“Tapi semut tetap bisa menggigit, Tuan.”
Damian terkekeh rendah.
Ia bangkit dari duduknya, lalu berhenti tepat di samping Jack.
“Gigitan kecil tidak perlu diobati.”
Jack langsung diam.
Tak ada yang berani membantah Damian saat lelaki itu sudah bicara seperti itu.
Sebelum Damian keluar ruangan, Jack kembali membuka suara.
“Sore nanti ada acara keluarga. Tuan Liam meminta Anda hadir.”
“Aku ada urusan lain.”
“Tuan Liam sudah tahu urusan Anda diambil alih oleh Arkan, Tuan.”
Langkah Damian berhenti.
Jack menelan ludah sebelum melanjutkan, “Tuan Liam bilang, kalau Anda tetap tidak hadir, beliau tidak akan menyetujui Anda sebagai penerus perusahaan.”
Damian tersenyum sinis.
“Aku tidak butuh persetujuannya. Perusahaan itu memang milikku.”
Ia kembali melangkah.
Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, Jack berkata pelan, “Nyonya juga akan hadir malam ini.”
Untuk pertama kalinya ekspresi Damian berubah tipis.
Beberapa detik kemudian ia berkata tanpa menoleh, “Bawa gadis itu.”
****
Hari libur adalah surga bagi Sophia.
Ia meringkuk nyaman di atas kasur sambil memeluk guling, sama sekali tidak berniat bangun. Tidak perlu memasak, tidak perlu mendengar omelan pelanggan, dan tidak perlu berdebat dengan siapa pun.
Kalau bisa, Sophia ingin hidup seperti ini selamanya.
Bahkan kalau perlu, ia rela menghabiskan seluruh tabungan Ayamnya demi bermalas-malasan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu terdengar samar.
Sophia mengernyit malas.
Ia tidak memesan makanan. Tidak punya keluarga yang akan datang berkunjung. Dan Arkan juga sudah mengabari kalau dirinya baru pulang beberapa hari lagi.
Pasti salah apartemen.
Sophia menarik selimut lebih tinggi dan kembali memejamkan mata.
Namun sesaat kemudian—
Seseorang membekap mulutnya.
Mata Sophia langsung membelalak panik. Aroma asing menusuk hidungnya. Tubuhnya meronta beberapa detik sebelum pandangannya menggelap total.
“Bagaimana kalian bisa membawanya keluar?”
“Dibius.”
“Bukankah pintunya pakai kartu akses?”
“Tentu saja. Kami ahli membobol rumah orang.”
Suara samar itu terdengar jauh di telinga Sophia.
Kepalanya terasa berat.
Ia mengerjap pelan sambil meraba-raba permukaan lembut di bawah tubuhnya. Kasur empuk. Aroma ruangan yang tenang dan mahal. Selimut hangat.
Sampai kesadarannya terkumpul sepenuhnya.
Ini bukan kamarnya.
Sophia langsung bangkit duduk.
Empat wanita berpakaian pelayan berdiri di dekat ranjang, sementara seorang pria bersetelan formal memperhatikannya dengan tenang.
Sophia buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Siapa kalian?!”
Ia menoleh ke sekeliling dengan napas memburu.
Ruangan itu terlalu besar untuk disebut kamar biasa. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal menggantung indah di tengah ruangan. Tirai abu-abu gelap menjuntai panjang menyentuh lantai marmer mengilap. Bahkan aroma ruangan itu terasa mahal.
Seorang pelayan maju selangkah.
“Saya Pelayan baru. Nona tidak perlu khawatir, kami akan melayani Anda dengan baik. Apa Nona lapar?"
Sophia menatap mereka waspada.
“Kenapa aku ada di sini?”
Pria bersetelan formal itu membungkuk sopan.
“Tuan Damian meminta kami membawa Anda. Hari ini Anda mulai menjalankan tugas Anda.”
Ah, ia ingat. Lelaki sialan itu. Manusia paling tidak manusiawi di muka bumi. Bahkan, dia menculiknya sekarang. Apa dia mencoba untuk mati di tangannya. Sophia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.
“Tugas! Tugas apa maksudmu?!”
“Anda akan menemui keluarga Tuan Damian malam ini.”
Ujung bibir Sophia berkedut.
“Kalian sadar tidak kalau ini namanya penculikan?”
“Kalau kami mengundang Anda baik-baik, Anda pasti menolak.”
Dan itu memang benar.
Sophia mendecih kesal.
"Sebaiknya Nona makan dulu. Tuan berpesan agar memastikan Anda pergi dengan perut kenyang," kata Pelayan wanita itu lagi.
Dua pelayan lain datang membawa makanan ke atas meja kecil di depan ranjang. Aroma steak langsung memenuhi ruangan.
“Nona, ini Wagyu steak medium rare paling cocok disajikan dengan mashed potato creamy dan asparagus panggang,” jelas salah satu pelayan ramah. “Untuk pembuka ada charcuterie board, lalu sparkling water lemon dingin sebagai pelengkap.”
Sophia menatap makanan itu tanpa gairah. Bukan karena ia tidak tahu. Justru karena ia tahu makanan itu terlalu mahal untuk lidahnya.
Ia lapar. Lagipula Damian tak mungkin meracuninya 'kan?
“Emm...” Sophia mengangkat tangan pelan. “Ada makanan lain? Mie instan juga tidak papa."
Semua pelayan langsung diam.
Sophia menambahkan dengan wajah polos, “Kalau nggak ada, pecel lele juga boleh.”
Hening.
Jack yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya bicara.
“Tuan Damian meminta Anda mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan keluarga mereka.”
Sophia langsung menatapnya tidak percaya.
“Bahkan urusan makanan juga?”
“Keluarga Tuan Damian lebih terbiasa dengan makanan luar.”
Sophia melihat steak setengah matang itu dengan ekspresi tersiksa. Ia benar-benar merasa Damian sedang mencoba membunuhnya perlahan.
“Di mana Arkan?” tanyanya mendadak. “Dia belum pulang?”
Untuk sesaat Jack terlihat heran.
“Arkan masih sibuk mengurus pekerjaan lain.”
Sophia langsung menghela napas lemas. Kalau Arkan ada di sini, pasti lelaki itu bisa menyelamatkannya dari situasi mengerikan ini.
*****
Setelah drama panjang yang melelahkan, Sophia akhirnya mengikuti Jack keluar kamar.
Gaun yang kini melekat di tubuhnya membuat Sophia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Gaun satin berwarna champagne itu membalut tubuhnya dengan pas. Bagian bahunya terbuka lembut, sementara kain jatuh anggun hingga mata kaki. Rambut panjangnya ditata bergelombang ringan dengan riasan tipis yang membuat wajahnya tampak jauh lebih dewasa dan elegan.
Untuk pertama kalinya Sophia merasa pakaian mahal benar-benar bisa mengubah aura seseorang.
Saat bercermin tadi, ia bahkan sempat berpikir, kalau gaun ini dijual, kira-kira cukup tidak untuk mengganti ban mobil Damian?
“Sudah sampai.”
Suara Jack membuat Sophia tersadar.
Mereka berdiri di depan pintu besar berwarna hitam dengan ukiran emas mewah.
“Masuklah.”
Sophia menelan ludah.
“Lelaki itu ada di dalam?”
Jack langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Tuan Damian sedang menunggu Anda.”
Sophia mengangguk pelan sebelum akhirnya membuka pintu.
Dan seketika ia terpana.
Ruangan itu lebih mirip kantor seorang raja dibanding ruang kerja biasa. Dinding kayu hitam berpadu dengan rak buku tinggi memenuhi sisi ruangan. Lampu-lampu temaram menciptakan suasana dingin sekaligus elegan. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar berbahan kayu ebony mengilap dengan kursi hitam megah di belakangnya.
Dan di sanalah Damian duduk.
Tatapan pria itu langsung jatuh padanya.
Dingin.
Tajam.
Sulit ditebak.
Sophia spontan merasa ciut.
Namun ia tetap memaksa dirinya membalas tatapan Damian.
Sudut bibir pria itu terangkat tipis.
“Bahkan bebek pun bisa terlihat mahal kalau dipakaikan sesuatu yang bagus.”
Sophia langsung mendelik.
“Sayangnya, Tuan Damian. Aku bukanlah bebek yang kau maksud.”
Damian tampak tidak peduli.
Ia berdiri lalu berjalan mendekat perlahan, memperhatikan Sophia dari kepala hingga ujung kaki.
Tatapan itu membuat Sophia gugup tanpa alasan jelas.
Sampai Damian berhenti tepat di depannya. Tangannya terangkat pelan membenarkan helaian rambut Sophia yang sedikit berantakan.
Sophia refleks mundur satu langkah.
Damian justru tersenyum meremehkan.
“Aku hanya tidak mau melihat penampilanmu berantakan saat bertemu ibuku.”
Sophia menggigit bibirnya kesal.
“Aku belum setuju soal kerja sama ini.”
Damian menatapnya tenang.
“Memangnya kau punya pilihan?”
Sophia langsung terdiam.
Ia memang tidak mampu mengganti kerusakan mobil lelaki itu. Tapi bekerja sama dengan Damian juga terasa mengerikan.
“Aku hanya menerima saranmu,” ujar Damian santai. “Kau bebas dari ganti rugi, dan aku mendapat keuntungan.”
Sophia langsung teringat Arkan. Kalau lelaki itu ada di sini, mungkin semuanya tidak akan sesulit ini.
“Apa Arkan bisa kembali dulu?”
Damian tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat telunjuknya lalu menusuk pelan pipi Sophia.
“Kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya.”
Sophia mengerut kesal.
“Aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Setidaknya Arkan bisa membantuku berpikir."
“Kalau begitu jangan berpikir.” Damian menatapnya lurus. “Aku sudah memutuskannya.”
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih ^_^