"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan baru: Pose sang penguasa
Matahari Jakarta yang terik menyengat kulit manusia baru Sylus Qinche saat ia berjalan menyusuri lorong sempit di belakang kawasan Glodok. Pria kelahiran 1996 itu masih merasa asing dengan sensasi panas yang tidak bisa ia hilangkan dengan aura es seperti biasanya. Di sampingnya, Evelyne menggenggam erat tangan Sylus, sementara Luke berjalan satu langkah di belakang dengan kewaspadaan seorang ksatria yang kini harus puas hanya dengan kekuatan otot murni.
"Ingat, Sylus. Di sini namamu adalah Silas Pratama. Jangan pernah menyebutkan namamu yang lama, apalagi gelar 'Panglima Orde Bayangan', atau kita akan berakhir di rumah sakit jiwa," bisik Evelyne memperingatkan.
Mereka berhenti di depan sebuah toko reparasi jam dinding kuno yang berdebu. Di dalamnya, seorang pria tua bertubuh bungkuk dengan kacamata tebal sedang membongkar mesin jam. Pria itu dikenal sebagai "Si Penjahit Takdir" di dunia bawah tanah Jakarta—seorang ahli pembuat dokumen palsu yang kabarnya memiliki insting supranatural.
"Kami butuh dua identitas lengkap. KTP, SIM, dan paspor jika mungkin," ucap Evelyne langsung pada intinya.
Pria tua itu mendongak, menatap Sylus lama melalui kacamatanya. Ia terbatuk kecil, lalu tersenyum tipis. "Kau membawa seseorang yang... memiliki berat jiwa yang tidak biasa, Nona. Aku bisa merasakan sisa-sisa aroma Aether yang sudah menguap di sekelilingnya."
Sylus menyipitkan matanya. "Kau tahu tentang Aetheria?"
"Aku hanya seorang tukang jam yang tahu bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari semen dan aspal," jawab pria tua itu misterius. Ia mengeluarkan sebuah alat pemindai biometrik kuno yang tampaknya telah dimodifikasi dengan kristal energi kecil di dalamnya. "Bumi memiliki sisa-sisa sihir yang tertidur, dan orang-orang sepertiku menggunakannya untuk menipu birokrasi pemerintah. Letakkan tanganmu di sini, Silas."
Sylus menatap alat itu dengan curiga, namun ia melakukannya. Saat proses pemindaian berlangsung, kristal pada alat itu berpendar ungu redup—sebuah resonansi dengan sisa energi yang terkubur dalam sel-sel tubuh Sylus.
"Dua puluh juta rupiah untuk dua paket lengkap," ucap si penjahit takdir setelah selesai.
Evelyne meringis. Itu hampir seluruh tabungan daruratnya. Namun, tanpa identitas ini, mereka tidak akan pernah bisa bertahan hidup secara legal. Setelah transaksi selesai dengan janji dokumen akan selesai dalam tiga hari, mereka keluar dari toko tersebut dengan perasaan campur aduk.
Tiga hari kemudian, dengan KTP baru di tangan, realita kebutuhan ekonomi menghantam mereka. Tabungan Evelyne sudah menipis setelah membayar biaya operasional dan denda ibu kos. Saat itulah, sebuah keberuntungan—atau mungkin kutukan bagi harga diri Sylus—muncul.
Evelyne memiliki seorang teman yang bekerja sebagai pengarah gaya di sebuah agensi fashion kelas atas di Jakarta Selatan. Saat melihat Sylus yang berdiri di lobi agensi sambil menunggu Evelyne, sang pengarah gaya tersebut langsung berteriak seolah-olah melihat dewa yang turun dari langit.
"Gila! Tulang pipi itu! Tatapan mata itu! Siapa pria ini, Evelyne?! Dia harus menjadi wajah baru untuk kampanye Black-Label musim ini!"
Maka, di sinilah Sylus Qinche sekarang: berdiri di bawah lampu studio yang sangat panas, mengenakan setelan jas velvet hitam seharga puluhan juta rupiah yang menurutnya "terasa sangat lembek dan tidak berwibawa".
"Tatap kameranya, Silas! Berikan tatapan seolah-olah kau ingin menaklukkan seluruh dunia dan menginjak-injak harga diri semua orang di ruangan ini!" teriak fotografer dengan penuh semangat.
Sylus mendengus pelan. "Aku tidak perlu berakting untuk melakukan itu."
Ia menatap lensa kamera dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh dominasi—tatapan yang dulu ia gunakan untuk membuat para raja klan berlutut ketakutan. Hasilnya luar biasa. Sang fotografer hampir pingsan karena kegirangan. Namun bagi Sylus, ini adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.
"Aku berdiri di sini, dipotret oleh kotak hitam kecil ini, hanya untuk mendapatkan beberapa lembar kertas berlogo bank?" bisik Sylus pada Evelyne saat jeda pemotretan.
"Bayarannya besar, Sylus. Kita bisa membeli daging wagyu asli untuk makan malam, bukan hanya telur mata sapi gosong," balas Evelyne sambil merapikan dasi Sylus. Ia berjinjit dan mengecup pipi Sylus singkat. "Kau terlihat sangat tampan. Anggap saja ini misi penyamaran jangka panjang."
Sylus menghela napas, kemarahannya mendadak menguap hanya karena satu kecupan itu. "Baiklah. Tapi jika kotak hitam itu berbunyi sekali lagi, aku tidak menjamin lensa itu akan tetap utuh."
Sementara Sylus sedang berjuang dengan harga dirinya di studio foto, di apartemen, Mephisto sedang mengalami krisis identitas yang parah. Burung gagak itu merindukan arus udara Aetheria yang dipenuhi energi magis yang bisa membuatnya terbang berminggu-minggu tanpa lelah.
Di Jakarta, Mephisto merasa berat. Sayapnya terasa seperti terbuat dari timah. Karena bosan, ia mencoba keluar melalui ventilasi jendela dan mendarat di balkon tetangga sebelah. Di sana, ia melihat sekelompok burung dara peliharaan yang sedang makan biji-bijian.
Mephisto mencoba melakukan pendekatan "diplomasi" dengan cara mendekat dan mengeluarkan suara parau yang dominan. Namun, burung-burung dara itu justru terbang ketakutan. Merasa tersinggung, Mephisto memutuskan untuk merusak apa pun yang ada di balkon itu.
Targetnya: jemuran pakaian milik Ibu RT yang sedang dijemur.
Mephisto mematuk jepitan baju hingga lepas, membuat daster-daster motif bunga dan pakaian dalam beterbangan jatuh ke lantai bawah atau tersangkut di kabel listrik. Saat sang pemilik keluar dan meneriakinya dengan sapu lidi, Mephisto mencoba terbang menyerang, namun ia justru tersangkut di sehelai kerudung panjang, membuatnya berputar-putar seperti layangan putus sebelum jatuh dengan tidak terhormat ke tumpukan kardus bekas.
"BURUNG HITAM SIALAN! BURUNG SETAN!" teriak sang tetangga.
Luke, yang baru pulang dari pasar dengan kaos yang basah oleh keringat, harus meminta maaf berkali-kali sambil membungkuk dalam-dalam untuk mengambil pakaian yang jatuh dan menenangkan warga yang marah. Ia harus mengurung Mephisto di dalam kandang kucing bekas yang dipinjam dari pemilik apartemen.
Mephisto hanya bisa menunduk di sudut kandang, mematuk jeruji besi dengan sedih, meratapi nasibnya dari burung pengintai maut menjadi burung perusak jemuran.
Malam harinya, apartemen terasa lebih tenang. Reza, yang kini sudah sadar namun masih merasa linglung, duduk di meja makan sambil memegang kepalanya. Ingatannya tentang kejadian di stasiun MRT tampak samar, namun ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya.
"Evelyne... aku bermimpi tentang sebuah kastil besar di atas tebing hitam," bisik Reza dengan suara bergetar. "Ada pria dengan pedang besar... dan kau ada di sana. Apakah itu benar-benar hanya mimpi?"
Evelyne menegang, namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara statis yang sangat nyaring terdengar dari dalam tas ransel Luke. Itu adalah perangkat komunikasi sihir Void-Transmitter milik Kieran yang sebelumnya dianggap sudah mati total karena ketiadaan energi.
Perangkat itu berpendar ungu neon, mengeluarkan asap tipis. Sylus segera mengambilnya. Meskipun ia tidak lagi memiliki sihir untuk mengaktifkannya secara penuh, perangkat itu tampaknya dipicu oleh sesuatu yang sangat besar dari sisi lain.
"...Panglima... apakah... terdengar?..." suara Kieran terdengar sangat pecah, terputus oleh deru angin dan suara dentuman baja. "Gerbang... gerbang utama Obsidian... diserang... Faksi 'The Silent Hand' bergerak... mereka tahu Anda menghilang... Luke, jika kau mendengar ini... jangan kembali... Aetheria... sedang terbakar..."
Pesan itu terputus dengan suara ledakan besar. Perangkat itu menjadi dingin dan mati kembali.
Sylus terdiam, cengkeramannya pada perangkat itu menguat hingga tangannya gemetar. Aura pembunuh yang sempat hilang kini muncul kembali di matanya yang hitam kelam. Ia menoleh ke arah jendela, menatap langit Jakarta yang gelap tanpa bintang.
Aetheria sedang runtuh. Dunianya, pasukannya, dan teman-temannya sedang dalam bahaya besar. Dan di sini, ia hanyalah seorang pria manusia tanpa kekuatan, yang baru saja mendapatkan gaji pertamanya dari hasil berpose di depan kamera.
"Kieran..." desis Sylus pelan.
"Apa yang akan kita lakukan, Silas?" tanya Luke, berdiri tegak dengan tatapan penuh kesetiaan yang tidak pernah luntur.
Sylus menatap tangannya yang kini tidak lagi bisa mengeluarkan api atau bayangan. Ia menatap Evelyne yang menatapnya dengan penuh kecemasan. Dilema terbesar kini dimulai: tetap hidup tenang di Bumi sebagai manusia biasa, atau mencari cara mustahil untuk kembali ke dunia yang sedang terbakar demi menyelamatkan apa yang tersisa dari kerajaannya.
Bersambung