Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Genggaman di Tengah Keramaian dan Tatapan Bisu di Hari Senin
Derit besi tua perlahan memelan tatkala gondola bianglala yang mereka tumpangi akhirnya kembali menyentuh tanah. Pintu kawat dibuka oleh sang operator wahana. Jenawa melangkah turun lebih dulu dengan ketangkasan yang biasa ia gunakan di jalanan, lantas berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Sinaca.
Tanpa keraguan, gadis itu menyambut uluran tersebut. Namun, hal yang membuat ritme jantung Sinaca kembali berantakan adalah ketika kakinya telah berpijak sempurna di atas tanah berdebu, Jenawa tak kunjung melepaskan tautan jemari mereka.
Lautan manusia di pasar kaget simpang tiga terasa kian padat menjelang malam. Suara tawar-menawar, riuh rendah anak-anak, dan dentum musik campursari berpadu menjadi sebuah simfoni yang membisingkan telinga. Di tengah keriuhan itu, Jenawa menoleh, menatap Sinaca dengan seulas senyum pelindung.
"Kerumunan ini terlampau riuh dan berdesakan, Sinaca. Tetaplah melangkah di belakangku, dan izinkan aku menuntunmu agar kita tak terpisah oleh arus manusia," ucap Jenawa dengan suara baritonnya yang mengalun di atas segala kebisingan.
Itu adalah sebuah alibi yang teramat klasik, dan Sinaca dengan kecerdasannya tentu menyadari hal tersebut. Namun, alih-alih menepis atau memprotes dengan kalimat logis, gadis itu justru mempererat genggamannya pada telapak tangan pemuda itu.
"Pastikan kau tak membawaku tersesat di tengah hiruk-pikuk ini, Jenawa," balas Sinaca pelan, rona merah kembali menghiasi pipinya, bersyukur temaram malam menyembunyikan salah tingkahnya.
Jenawa tertawa pelan. Ia berjalan membelah kerumunan, memosisikan bahu tegapnya sebagai tameng agar tak ada satu pun bahu pejalan kaki lain yang menabrak gadisnya. Di belakangnya, Sinaca melangkah dengan patuh. Setiap kali ada desakan, tarikan lembut dari tangan Jenawa seakan menjadi sauh yang memberinya rasa aman yang tak terhingga. Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu pasar dadakan, aspal yang biasanya menjadi saksi bisu pertumpahan darah, justru menjadi saksi atas sebuah kisah kasih yang baru saja bersemi.
Udara sejuk khas pagi Wonosari menyapa tatkala fajar menyingsing di hari Senin. Kabut tipis masih menggantung di dahan-dahan mahoni saat Jenawa telah bersiap di atas sepeda motornya, menanti dengan sabar di depan pagar putih gading. Tak ada lagi raut kaku maupun sisa amarah sisa tawuran akhir pekan. Wajah mantan panglima itu kini memancarkan ketenangan yang paripurna.
Manakala Sinaca melangkah keluar dari pagarnya, sebuah senyum simpul seketika terbit di wajah Jenawa. Keduanya tak perlu banyak merangkai kata. Tautan pandangan mereka telah cukup untuk merangkum segala afeksi yang sempat tertahan.
"Selamat pagi, pengawal pribadiku," sapa Sinaca dengan nada jenaka yang kian luwes ia gunakan kala berhadapan dengan pemuda ini.
"Selamat pagi, Nona. Jalanan pagi ini telah siap menyambut langkah kita," balas Jenawa seraya menyodorkan helm.
Namun, kedamaian di jalanan perumahan itu tak sepenuhnya sejalan dengan atmosfer yang menanti mereka di pelataran SMA Bangsa.
Manakala sepeda motor Jenawa memasuki area parkir sekolah, suasana yang biasanya riuh seketika mereda, digantikan oleh bisik-bisik tertahan. Dinding sekolah memang memiliki telinga, dan angin lorong telah menyebarkan kabar tentang peristiwa di simpang tiga pada akhir pekan kemarin. Kabar tentang mundurnya sang panglima, siasat pasar malam yang menggagalkan tawuran agung, dan kini... presensi Jenawa yang berjalan bersisian dengan Sinaca Tina.
Jenawa berjalan dengan ritme yang tenang, menyelaraskan langkahnya dengan Sinaca. Di ujung koridor lantai satu, dekat tangga utama, berdirilah barisan anak-anak kelas tiga. Di tengah-tengah mereka, Seno berdiri dengan raut wajah yang keras dan rahang yang mengatup rapat.
Langkah Jenawa dan Sinaca harus melewati rute tersebut. Sinaca sedikit menundukkan pandangannya, merasakan hawa permusuhan yang menguar dari barisan pemuda-pemuda yang dulu merupakan saudara seperjuangan Jenawa itu.
Tatkala jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, Seno tak sedikit pun bergeser untuk memberikan jalan yang lapang. Jenawa menghentikan langkahnya, menatap lurus ke dalam manik mata mantan kawan karibnya itu.
Tak ada kata yang terucap. Tatapan bisu di antara keduanya berbicara jauh lebih lantang daripada caci maki. Di mata Seno, ada sekelumit kekecewaan atas hilangnya taring seorang raja. Sementara di mata Jenawa, hanya ada keteguhan mutlak bahwa ia tak akan pernah menyesali jalan yang ia pilih.
Merasakan ketegangan yang memuncak, Sinaca memberanikan diri. Di hadapan puluhan pasang mata, gadis itu menggeser posisi tangannya, merengkuh pelan lengan kemeja seragam Jenawa. Sebuah gestur yang halus, namun mengisyaratkan dukungan tanpa syarat.
Merasakan sentuhan itu, otot bahu Jenawa yang sempat menegang seketika mengendur. Ia mengalihkan pandangannya dari Seno, menatap Sinaca dengan pendar kelembutan, lalu kembali menatap ke depan.
"Permisi. Kami hendak lewat," ucap Jenawa dengan suara datar namun penuh wibawa, tak menyisakan celah untuk perdebatan.
Bimo, yang berdiri di samping Seno, perlahan menyikut lengan kawan di sebelahnya untuk memberikan sedikit celah. Dengan enggan, barisan itu membelah, membiarkan sang mantan panglima dan gadisnya melintas.
Sesampainya di depan ruang kelas sepuluh, Sinaca melepaskan rengkuhannya pada lengan Jenawa. Ia menatap pemuda itu dengan saksama, mencari jejak penyesalan.
"Apakah tatapan mereka tadi melukaimu, Jenawa?" tanya Sinaca pelan.
Jenawa tersenyum, menyandarkan sebelah bahunya pada kusen pintu kelas. "Mereka hanya sedang berduka atas kehilangan seorang panglima yang tak berguna, Sinaca. Waktu yang akan menyembuhkan ego mereka. Kau tak perlu merisaukannya."
"Namun kau harus menghabiskan sisa tahun ajaran ini di dalam satu ruang kelas bersama mereka," balas Sinaca, kekhawatiran masih menggantung di ujung kalimatnya.
"Satu ruang kelas, namun dengan jalan hidup yang tak lagi sama," Jenawa menegakkan tubuhnya, menatap Sinaca dalam-dalam. "Aku memiliki alasan yang jauh lebih indah untuk menjejakkan kaki di sekolah ini setiap paginya. Dan alasan itu, kini tengah berdiri di hadapanku."
Pipi Sinaca seketika bersemu merah. Ia buru-buru memutar tubuhnya, bersiap masuk ke dalam kelas. "Kembalilah ke kelasmu, Jenawa. Jangan sampai teguranku yang dulu mengenai kebiasaan membolosmu harus kuulangi kembali."
"Aku mengerti, Nona," tawa Jenawa renyah, sebuah tawa yang menyiratkan kelegaan tak terhingga. "Sampai jumpa di perpustakaan pada jam istirahat nanti."
Jenawa melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Benar kata pepatah, melepaskan mahkota yang terbuat dari duri akan meninggalkan luka di kepala, namun beban di pundak akan sirna. Dan pagi itu, Jenawa Adraw melangkah dengan dada yang teramat ringan, siap menyongsong hari-hari esok yang hanya akan diisi oleh barisan aksara, aroma kertas usang, dan wangi melati dari seorang Sinaca Tina.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪