Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6. Kecurigaan
Malam di istana Averion terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan sunyi yang menenangkan, tetapi sunyi yang seperti menahan napas—seolah seluruh dinding istana sedang mengamati sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Di dalam kamar kecil di sudut sayap timur istana, Mireya duduk di samping tempat tidur Sakura.
Ia tidak bergerak sejak tadi.
Matanya terus tertuju pada anaknya.
Napas Sakura terdengar pelan.
Terlalu pelan.
Seperti lilin yang hampir padam tertiup angin malam.
“Sakura…” panggil Mireya lirih.
Tidak ada jawaban.
Tangan kecil Sakura terasa dingin saat digenggam.
Lebih dingin dari malam itu sendiri.
Mireya menahan napas.
Perasaan tidak tenang yang selama ini ia abaikan… kini terasa semakin jelas.
Ini bukan sekadar lelah.
Ini bukan sakit biasa.
Ada sesuatu yang salah di tubuh anak itu—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh tabib istana manapun.
“Sakura… bangun,” bisiknya lagi, kali ini sedikit lebih panik.
Sakura tidak bergerak.
Untuk sesaat, napasnya seperti berhenti.
Mireya membeku.
“Sakura?”
Suaranya bergetar.
Lalu
napas itu kembali.
Lemah.
Namun ada.
Mireya langsung memeluknya erat, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, anak itu akan benar-benar hilang.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Di luar kamar, angin malam mengetuk jendela perlahan, seperti ikut mengingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa belas kasihan.
Pagi harinya, Mireya tidak menunggu lebih lama.
Ia berdiri di depan pintu kamar dengan wajah tegang.
Mata yang biasanya lembut kini tampak lebih tajam, penuh keputusan yang tidak bisa ditunda lagi.
Jika ia terus diam… Sakura akan pergi darinya.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong istana.
Namun langkahnya berhenti saat mendengar dua pelayan berbicara di ujung lorong.
“Katanya kondisinya makin buruk.”
“Tidak heran… memang tidak seharusnya ada.”
Kalimat itu membuat Mireya berhenti.
Tangannya mengepal.
“Tidak seharusnya ada?”
Apa maksud mereka?
Namun ia tidak bertanya.
Ia tahu, di istana ini, pertanyaan bisa berubah menjadi bahaya.
Ia berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa.
Namun langkahnya berubah arah.
Bukan ke tabib istana.
Bukan ke ruang pengobatan resmi yang selalu dipantau.
Sebaliknya, ia keluar melalui jalur samping istana,jalan yang jarang digunakan, tertutup bayangan tembok tinggi.
Di luar istana, udara terasa berbeda.
Lebih hidup.
Lebih bebas.
Namun Mireya tidak punya waktu untuk memperhatikan keindahan itu.
Ia berjalan cepat menuju area pasar kota Averion.
Di sudut yang tidak terlalu ramai, terdapat sebuah bangunan kecil.
Tidak mencolok.
Hampir seperti tidak ingin ditemukan.
Namun dikenal oleh beberapa orang sebagai tempat pengobatan yang tidak terikat aturan istana.
Mireya berhenti di depan pintu.
Ia ragu sejenak.
Lalu mengetuk.
Tok.
Tok.
“Masuk.”
Suara dari dalam terdengar tenang.
Mireya membuka pintu perlahan.
Seorang pria tua duduk di dalam. Rambutnya sudah memutih, namun matanya masih tajam, seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak rahasia dunia.
Ia menatap Mireya tanpa terkejut.
“Ada yang kau butuhkan?” tanyanya.
Mireya menunduk sedikit.
“Anak saya… sakit,” katanya pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Hm. Banyak orang datang dengan alasan itu,” ujarnya santai, tapi bukan meremehkan—lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering mendengar penderitaan manusia.
Mireya mengangkat kepala.
“Dia tidak seperti sakit biasa.”
Nada suaranya berubah.
Lebih serius.
Lebih putus asa, tapi ditahan sekuat mungkin.
Pria itu memperhatikan wajah Mireya beberapa detik.
“Jelaskan.”
Beberapa waktu kemudian, suasana di ruangan itu menjadi lebih berat.
Mireya telah menjelaskan semuanya—demam yang tidak wajar, napas yang melemah tiba-tiba, tubuh yang dingin, dan perubahan yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu istana.
Pria itu terdiam lama.
Lalu ia berdiri perlahan, mengambil beberapa bahan dari rak kayu tua.
“Ini bukan penyakit biasa,” katanya akhirnya.
Mireya menegang.
“Lalu apa?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatapnya.
“Ada sesuatu yang menekan kehidupannya dari dalam,” katanya pelan.
“Seperti… racun yang tidak berasal dari dunia biasa.”
Mireya terdiam.
Jantungnya jatuh sedikit.
“Bisa disembuhkan?”
Pria itu menghela napas.
“Tidak sepenuhnya. Tidak sekarang.”
Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
“Tapi ini bisa menahan.”
Mireya keluar dari tempat itu dengan bungkusan di tangannya.
Langkahnya cepat, tapi pikirannya lebih cepat lagi.
Racun yang tidak biasa.
Menekan kehidupan dari dalam.
Kata-kata itu terus terulang di kepalanya.
Siapa yang melakukan ini?
Dan kenapa Sakura?
Di istana, Ratu Evelyne berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman malam.
Lampu-lampu di luar tampak kecil seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Isamu berdiri di belakangnya.
“Perubahannya melambat,” kata Isamu.
Ratu tidak langsung menoleh.
“Melambat?” ulangnya dingin.
Isamu mengangguk.
“Seharusnya kondisinya sudah lebih buruk sekarang.”
Hening.
Angin malam masuk dari celah jendela, menggerakkan tirai putih perlahan.
Ratu mengernyit sedikit.
“Apakah ada yang mengganggu prosesnya?”
Isamu ragu sejenak.
“Belum pasti.”
“Tapi anak itu… bertahan lebih lama dari yang dirancang.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Ratu berubah sedikit.
Bukan marah.
Tapi terganggu.
Seperti seseorang yang melihat rencananya tidak berjalan sesuai garis yang sudah ia tentukan.
“Cari tahu,” katanya akhirnya.
“Dan jika ada yang ikut campur… hapus.”
Malam itu, Sakura duduk di tempat tidurnya.
Wajahnya masih pucat, tetapi tidak seperti sebelumnya yang nyaris seperti tidak bernyawa.
Ia menatap tangannya sendiri.
Masih lemah.
Namun tidak seperti sebelumnya.
Ia mengepalkan tangannya pelan.
Untuk sesaat ia merasakan sesuatu.
Sangat samar.
Seperti aliran hangat yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
Seperti bayangan cahaya yang bergerak di antara retakan gelap.
Namun kemudian hilang.
Sakura terdiam.
Ia tidak mengerti.
Namun untuk pertama kalinya sejak lama…
tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.
Di luar kamar, Mireya berdiri diam.
Tangannya masih memegang sisa ramuan.
Tatapannya tidak tenang.
Ada sesuatu yang tidak ia ceritakan pada siapapun, bahkan pada dirinya sendiri.
Ramuan itu bukan hanya menahan penyakit.
Tapi seperti… menahan sesuatu yang lain juga.
Sesuatu yang seharusnya tidak boleh bangkit.
Ia menatap pintu kamar Sakura.
“Siapa yang menyentuhmu… anakku?” bisiknya pelan.
Di kejauhan, di balik dinding istana yang gelap, Isamu berdiri di lorong sunyi.
Matanya tertuju ke arah kamar itu.
“Dia masih hidup,” gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tersenyum tipis.
Bukan senyum ramah.
Tapi senyum seseorang yang mulai tertarik pada anomali yang tidak sesuai rencana.