Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jabatan Bunga
"Pertanyaan nomor dua!"
Suara Joulle terdengar renyah tapi menusuk. Ia menyandarkan punggung santai, tatapannya tajam menembus pertahanan Dori.
"Ya ampun ... belum puas juga nih orang! Padahal tadi sudah kena balasan pedas!" batin Dori menggerutu, keringat dingin mulai menetes di pelipis.
Dori menatap layar laptop hitam itu dengan penuh harap. Tapi tidak ada kedipan sama sekali. Matcha benar-benar pingsan total habis tenaga.
Sekarang, dia harus bertarung pakai otak sendiri. Otak yang biasa cuma bisa mikirin menu makan siang dan cara nge-gas Matcha.
"Silakan, Dori. Jawablah dengan jujur," kata Joulle pelan, tapi nadanya penuh tekanan.
"Menurutmu ... apa definisi paling tepat dari 'Cinta Sejati' dalam sastra? Dan apakah kau pernah merasakannya sendiri?"
Pertanyaan itu meluncur mulus. Terlihat simpel, tapi sebenarnya jebakan besar.
Kalau Dori jawab pakai teori, dia bakal dibilang cuma menghafal buku. Kalau dia jawab pakai perasaan, nanti dikira lebay atau baperan.
Dori terdiam. Ia memandang ke bawah, jari-jarinya bermain gugup di tepi podium. Suasana hening total. Semua mata tertuju padanya.
Cinta sejati ...
Pikirannya otomatis terbang ke sosok di dalam laptop. Pria yang galak, cerewet, sok tahu, tapi selalu ada buat dia.
Yang marah-marah kalau tulisannya jelek. Yang senang kalau dia dapat pujian. Yang rela habisin energi cuma buat nolongin dia dari masalah.
Apakah itu cinta?
Atau cuma ketergantungan?
"Jawabannya ...." Dori mulai bicara pelan, lalu perlahan menguat. "Cinta sejati itu ... bukan tentang siapa yang datang paling awal atau yang paling ganteng."
Dori menatap lurus ke arah Joulle.
"Tapi tentang siapa yang mau bertahan saat kau sedang payah, siapa yang mau memperbaiki kesalahanmu, dan siapa yang mau jadi 'suara' di kepalamu saat kau sendirian."
Joulle tersentak sedikit. Wajahnya berubah kaget, lalu sedikit masam.
Ia sadar ... Dori sedang bicara soal Matcha.
"Dan iya ... aku pernah merasakannya. Bahkan saat orang itu cuma bisa dilihat lewat layar kaca," lanjut Dori tegas. "Karena bagiku, dia bukan cuma imajinasi. Dia adalah bagian dari diriku."
Beret!
Tepuk tangan meledak dari penonton. Para juri saling pandang dan mengangguk-angguk kagum. Jawaban itu emosional, jujur, dan menusuk tepat di hati.
Joulle memaksakan senyum tipis, tapi tangannya di bawah meja terkepal kuat. Ia tidak menyangka gadis ini bisa sekeren itu bicara tanpa bantuan siapa-siapa.
"Bagus ... jawaban yang sangat puitis dan dramatis," komentar Joulle dengan nada sedikit sinis. "Tapi sayang... terlalu indah untuk jadi kenyataan, kan?"
Ia berdiri, lalu berjalan mendekat lagi ke podium. Kali ini ia membawa sebuah buket bunga mawar merah yang entah dari mana datangnya.
"Karena di dunia nyata, yang namanya cinta butuh bukti nyata. Bukan cuma kata-kata manis."
Joulle mengulurkan buket itu tepat ke dada Dori. Wangi bunganya sangat kuat dan menyengat.
"Untukmu. Sebagai tanda kekaguman. Cantik, pintar, dan puitis."
Dori bingung mau terima atau menolak. Situasinya romantis tapi aneh.
Tapi tiba-tiba ....
Wusss!
Tiba-tiba bertiup angin kencang dari arah laptop. Meskipun layarnya mati, kipas mesin berputar kencang sendirinya.
Buket bunga di tangan Joulle terkena angin itu, dan seketika... Semua kelopak mawar itu layu, kering, dan hancur jadi debu dalam hitungan detik
"Cih!" Joulle cepat-cepat menarik tangannya mundur, kaget bukan main.
Tinggal tinggal batang kosong di tangannya.
"Apa-apaan ini?!" serunya kaget.
Dori juga melongo, tapi dalam hati dia bersorak. "Wah! Bahkan saat pingsan pun dia masih bisa cemburu! Gila!"
"Sepertinya ... ada yang tidak suka kamu kasih bunga ke aku," celetuk Dori menyindir.
Joulle menatap laptop itu dengan tatapan tajam dan waspada. "Kau... makhluk kuno yang menyebalkan. Bahkan dalam keadaan mati pun kau masih bisa mengganggu," gumamnya pelan penuh kesal.
Tiba-tiba, suara bel berbunyi. Waktu presentasi habis!
"SELESAI SUDAH SESI INI!" teriak pembawa acara.
Dori menghela napas panjang lega, lalu lemas jatuh duduk di kursi.
Berhasil! Dia berhasil melewati neraka itu sendirian!
Tapi saat ia mau menutup laptop untuk membawa pulang Matcha yang tertidur... Tiba-tiba tangan Joulle menahan tutup laptop itu dengan kuat.
"Jangan ditutup dulu," bisik Joulle dengan suara rendah dan serius.
"Aku penasaran ... apa yang terjadi kalau aku yang 'cas' energinya? Apa dia bakal nurut sama aku juga?"
Dori terbelalak. "HEH! JANGAN! DIA MILIKKU!"
"Kita lihat saja nanti."
"JANGAN BERANI-BERANI SENTUH DIA! DIA MILIKKU!"
Dori menepis tangan Joulle dengan kasar, lalu langsung menutup laptop erat-erat seperti menyembunyikan harta karun.
Dadanya naik turun menahan amarah. Mata tajamnya tak lepas dari sosok pria di depannya.
"Gila ya orang ini! Mau ngerebut juara, mau ngerebut aku, sekarang mau ngerebut Matcha juga?! Napsu banget sih!" batinnya meledak-ledak.
Joulle hanya tersenyum miring, tidak tersinggung sedikit pun. Justru tatapannya makin terlihat tertantang.
"Tenang dong ... aku cuma mau tes kompatibilitas doang. Penasaran aja, sekuat apa ikatan kalian."
"Gak usah tes-tes! Urus sendiri hidup kamu!" bentak Dori, lalu langsung berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan panggung.
Ia tidak peduli lagi dengan tatapan orang lain. Yang penting sekarang bawa 'tubuh' Matcha pulang dengan selamat dan cari cara bangunin dia.
Suasana di lorong gedung sepi dan ber-AC dingin. Langkah kaki Dori terdengar cepat dan berisik. Ia memeluk laptop itu sangat erat ke dada, takut ada yang merebut lagi.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seseorang berlari kecil mengejarnya.
"DORI! TUNGGU DONG!"
Itu Rio.
Teman kampus yang tadi bareng Joulle. Wajahnya terlihat panik dan bersalah.
Dori berhenti mendadak, lalu menoleh dengan wajah masih manyun. "Apa lagi? Mau bantuin temen kamu ngerjain aku lagi?"
"Bukan bukan! Sumpah bukan!" Rio mengangkat tangan tanda menyerah. "Aku cuma mau kasih tahu ... hati-hati sama Joulle."
Dori mengerutkan kening. "Emangnya dia siapa sebenernya??"
Rio melihat kanan-kiri waspada, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.
"Dia itu ... ketua komunitas 'Pemburu Jejak Digital'. Mereka orang-orang yang percaya sama hal mistis di dalam gadget. Dan mereka suka ... mengumpulkan 'spesimen' langka."
Dori ternganga. "Spesimen?! Jadi dia mau tangkap Matcha buat dijadikan koleksi?!"
"Kurang lebih begitu. Dia udah cari bertahun-tahun cari entitas sekuat Matcha. Katanya ... kalau bisa dikontrol, bisa bikin pemiliknya jadi orang paling hebat sedunia."
Jleb!
Berarti semua senyum manis, semua godaan tadi... itu cuma akal-akalan buat deketin diri dan merebut Matcha?
"Dasar penipu! Bermuka dua!" umpat Dori kesal.
"Dan satu lagi..." Rio menambahkan dengan suara gemetar. "Joulle itu bukan nama aslinya. Itu nama kode. Dia bagian dari organisasi yang sama sama seperti orang tua kamu dulu..."
BRAK!
Informasi itu menghantam kepala Dori.
Orang tua?
Organisasi?
Apa hubungannya?!
Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di ujung lorong.
"Wah... wah... wah. Kok jadi ngomongin hal rahasia sih?"
Joulle sudah berdiri di sana, menyilang tangan dengan wajah yang tidak lagi ramah. Aura dingin dan menyeramkan mengelilingi tubuhnya.
Rio langsung pucat pasi. "Aku... aku pamit dulu! Bye Dori!"
Dia lari tunggang langgang meninggalkan Dori sendirian menghadapi monster itu.
Sekarang cuma ada mereka berdua di lorong panjang yang sepi.
"Kau dengar itu kan, Dori?" Joulle mulai melangkah mendekat perlahan. Langkahnya pelan tapi pasti, seperti singa mengincar mangsa.
"Kita ini sebenarnya ... satu dunia. Orang tuamu juga peneliti hebat. Mereka yang menciptakan dasar teknologi ini."
"Jadi ... berikan saja dia padaku. Kita bisa kerja sama. Kita bisa kembalikan ingatan dia sepenuhnya. Kita bisa bikin sesuatu yang luar biasa."
Joulle mengulurkan tangannya lagi. Kali ini tidak menggoda, tapi memerintah.
"Berikan laptop itu. Atau ... aku yang akan ambil paksa."
Dori mundur selangkah demi selangkah sampai punggungnya terbentur dinding. Jalan buntu. Tidak ada tempat lari.
"Gak akan! Mimpi! Matcha itu temanku! Bukan barang koleksimu!" teriak Dori memberanikan diri.
Ia memejamkan mata, memeluk laptopnya lebih erat lagi.
"Cha... tolong aku... bangun dong... aku takut..." batinnya berteriak memanggil.
Tiba-tiba...
Bzzzt... Bzzzt...
Getaran kuat terasa dari dalam laptop. Cahaya hijau samar mulai menembus celah-celah tutup mesin itu.
Suara dengungan mesin menderu kencang, lebih keras dari pesawat terbang.
CRACk!
Tutup laptop terbuka sendiri dengan keras meski tidak disentuh.
Layar menyala terang menyilaukan!
Dan di sana ... Matcha sudah berdiri lagi. Matanya terbuka, tapi bukan warna biasa. Matanya kini menyala hijau pekat penuh amarah.
"KAU BERANI ... MENGANCAM NYAWA DIA... DEMI KEINGINANMU SENDIRI?!"
Suaranya bukan lagi suara manusia biasa. Itu suara bergema, berat, dan menggetarkan seluruh dinding.
Joulle terbelalak kaget, lalu tersenyum lebar penuh kegembiraan gila.
"Sempurna ... Ini yang aku cari! Level energi ini... LUAR BIASA!"
"SIAPKAN DIRIMU! HARI INI AKU HANCURKAN KAU DAN ORGANISASI BUSUKMU!"