Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
***
Cahaya matahari Minggu pagi menerobos masuk melalui ventilasi, membawa kehangatan yang biasanya menjadi pertanda waktu istirahat bagi banyak orang. Namun bagi Laras, hari libur hanyalah pergantian dekorasi tugasnya tetap sama, bahkan seringkali terasa lebih berat karena seluruh anggota keluarga berada di rumah.
Di ruang tengah, suara tawa Bagas bersahutan dengan pekikan girang Gilang dan Arka. Mereka duduk di atas karpet, dikelilingi oleh belasan mobil-mobilan plastik yang berserakan. Bagas, yang hari ini hanya mengenakan kaos santai, tampak benar-benar menikmati perannya sebagai ayah.
"Ayo, Gilang! Truk Bapak lebih cepat! Ngenggg... ciittt!" Bagas menggerakkan truk mainan besar, menabrak barisan mobil kecil milik anaknya.
"Nggak bisa, Bapak! Mobil Gilang punya sayap, bisa terbang! Wushhh!" Gilang tertawa lepas, melompati kaki ayahnya. Sementara Arka, dengan pipi tembamnya, hanya bisa menirukan suara mesin, "Tutu... tutu... bumm!" sambil memukulkan mobilnya ke lantai.
Laras berdiri di ambang pintu dapur, mengamati kebahagiaan itu dengan senyum kecil yang dipaksakan. Ia baru saja memeriksa lemari es dan rak bumbu, dan hatinya mencelos. Stok beras menipis, cabai hanya tersisa dua batang yang mulai layu, dan telur sudah habis sama sekali.
Dengan perlahan, ia mendekati kerumunan itu. Setiap langkahnya terasa berat perut tujuh bulannya terasa sangat kencang pagi ini, seolah kulitnya sudah tak sanggup lagi meregang.
"Mas..." panggil Laras pelan.
Bagas mendongak, masih dengan sisa tawa di wajahnya. "Iya, Sayang? Sini, ikut main."
Laras menggeleng kecil, tangannya memegangi pinggang belakang. "Bahan masakan di dapur habis sama sekali, Mas. Laras bingung mau masak apa buat makan siang nanti. Bisa minta tolong anterin Laras ke pasar sebentar?"
Bagas terdiam sejenak, melihat jam di dinding. "Pasar ya? Hmm, boleh juga. Kebetulan Mas juga ada rencana mau ninjau Pasar Inpres. Ada laporan soal drainase yang mampet di sana. Sekali jalan saja kalau begitu."
"Terima kasih, Mas," jawab Laras lega.
Bagas kemudian menoleh ke arah dua putranya. "Halo anak-anak Bapak! Siapa yang mau ikut ke pasar sama Bapak dan Mamah?"
Seketika, Gilang melompat berdiri. "Aku! Gilang mau ikut! Mau beli es krim ya, Pak?"
Arka pun tak mau kalah, ia bangkit dengan goyah sambil mengangkat tangan mungilnya. "Acu! Acu ikut!"
Bagas terkekeh melihat antusiasme mereka. "Baiklah, jagoan! Kalian siap-siap dulu ya sama Mamah. Ganti baju yang rapi. Bapak mau keluar sebentar, siapin motornya dulu.
Panasin mesinnya supaya enak jalannya."
"Siap, Bapak!" sahut Gilang dengan gaya hormat.
Laras menghela napas panjang. "Ayo, sayang... kita ganti baju dulu," ucapnya sambil menggiring kedua anaknya ke kamar.
Mengganti baju dua balita yang sedang aktif adalah perjuangan tersendiri. Laras harus membujuk, mengejar Arka yang lari tanpa celana, hingga membungkuk berulang kali untuk memasangkan kaos kaki. Keringat mulai membasahi dahi Laras bahkan sebelum mereka berangkat.
**
Tak lama kemudian, motor matic merah milik keluarga mereka sudah terparkir di depan teras. Bagas sudah duduk di jok, mesin menderu halus. Gilang berdiri dengan bangga di bagian depan, memegang stang motor dengan gaya seolah dia yang menyetir.
Laras keluar rumah sambil menggendong Arka. Ia memakai daster batik yang dilapisi jaket tipis untuk menutupi perut besarnya. "Mas, apa nggak sempit kalau begini?" tanya Laras ragu.
"Nggak apa-apa, muat kok. Arka duduk di tengah, di antara kita," jawab Bagas mantap.
Laras naik ke jok belakang dengan posisi duduk menyamping satu-satunya posisi yang memungkinkan karena perut buncitnya tak mengizinkannya membonceng secara normal. Arka didudukkan di tengah, diapit erat oleh tubuh Bagas dan Laras agar aman.
Motor itu pun melaju membelah jalanan desa yang masih asri. Angin pagi menerpa wajah mereka. Anak-anak kelihatan sangat senang sekali Gilang berteriak setiap kali melihat sapi di pinggir jalan, sementara Arka berkali-kali menunjuk burung yang terbang rendah. Bagas sesekali mengajak mereka bicara, tertawa mendengar celotehan polos anak-anaknya. Laras hanya bisa diam, satu tangannya memegang erat pundak Bagas sementara tangan lainnya menjaga Arka. Ia merasakan guncangan motor membuat punggungnya berdenyut, namun ia mencoba menikmatinya demi anak-anak.
Sesampainya di Pasar Inpres, suasana sudah sangat ramai. Aroma khas pasar perpaduan bau ikan asin, sayuran segar, dan asap kendaraan langsung menyambut mereka.
"Kamu belanja sendiri nggak apa-apa ya, Ras?" tanya Bagas saat mereka turun. "Mas mau keliling sebentar sama anak-anak. Mau lihat saluran air di belakang pasar itu sekalian mau ngobrol sama beberapa pedagang di depan."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa," jawab Laras pelan.
Laras mulai berjalan memasuki lorong pasar yang becek dan sempit. Ia membawa tas belanja besar di bahunya. Di setiap langkah, ia harus berhati-hati agar tidak tersenggol orang atau terpeleset lantai yang licin.
"Eh, Bu Kades! Belanja sendiri, Bu?" sapa seorang pedagang sayur.
Laras menghentikan langkah, memaksakan senyum ramah yang paling manis. "Iya, Bu Siti. Bapak lagi jaga anak-anak di depan sekalian mau lihat-lihat pasar katanya."
"Wah, rajin sekali Bu Kades ini. Sudah hamil tua masih mau turun ke pasar. Semoga anaknya sehat ya, Bu," puji warga lainnya.
"Amin, terima kasih ya, Bu," jawab Laras sopan.
Hampir satu jam Laras berkeliling. Ia membeli daging ayam, bumbu dapur, sayuran, dan beberapa butir telur. Tas belanjanya kian berat, menekan pundaknya yang sudah pegal. Keringat mengalir deras. Jujur saja, dia kelelahan. Rasanya kakinya sudah seperti mau lepas, dan perutnya mulai terasa kram ringan karena terlalu banyak berjalan. Namun, setiap kali bertemu warga, ia harus berhenti, bersalaman, dan menjawab pertanyaan dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
Sementara itu, di sudut depan pasar, Bagas tampak gagah bercengkerama dengan para tokoh pasar. Gilang dan Arka masing-masing memegang kerupuk di tangan mereka, tampak senang menjadi pusat perhatian warga yang memuji betapa miripnya mereka dengan sang bapak.
Setelah belanjaan selesai, mereka pun pulang dengan posisi yang sama di atas motor. Sesampainya di rumah, matahari sudah tepat di atas kepala. Udara terasa gerah dan menyengat.
Bagas segera merebahkan diri di sofa depan televisi yang menyala. "Aduh, lumayan pegal juga keliling pasar tadi," gumamnya. Gilang dan Arka, yang kehabisan energi setelah bermain di pasar, perlahan-lahan mulai memejamkan mata di atas karpet, tepat di depan televisi yang masih menyiarkan berita siang.
Laras masuk ke dapur dengan tas belanjaan yang berat. Ia melihat ke arah ruang tengah; kedua putranya itu terlihat tertidur pulas dengan posisi yang tidak beraturan, sementara Bagas sudah beranjak ke teras luar untuk menyulut rokok, menikmati waktu santainya sambil melihat-lihat berkas desa di ponselnya.
Laras melihat ke arah jam. Pukul dua belas lewat. Perutnya lapar, namun ia belum bisa duduk. Tak ada kata istirahat untuknya. Ia harus segera mencuci daging ayam, mengupas bawang, dan memasak masakan untuk keluarganya agar saat mereka bangun nanti, makanan sudah siap.
Sambil memotong sayuran, Laras sesekali mengusap air mata yang nyaris jatuh karena rasa letih yang teramat sangat. Ia melihat melalui jendela dapur ke arah teras Bagas tampak begitu tenang mengembuskan asap rokoknya ke udara. Laras menghela napas, mengelus perut tujuh bulannya yang memberikan tendangan kecil.
"Sabar ya, Nak... Mamah selesaikan ini sebentar lagi," bisiknya lirih, kembali berkutat dengan uap masakan di dapur yang panas, menjadi pilar yang tak terlihat bagi keharmonisan rumah tangga mereka.
***
Bersambung....