Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Luka di lutut Quan Yubin ternyata cukup panjang. Dokter harus menjahitnya dengan beberapa jahitan agar kulit bisa menutup kembali dan mencegah infeksi dari air laut.
Proses itu membuat wajah pria itu sedikit pucat, namun ia tidak mengeluh sedikitpun. Setelah dibalut perban tebal dan rapi, dengan bantuan Zhao Yun dan Rong Yuan, ia berjalan tertatih-tatih menuju ruang tamu tempat semua orang sudah menunggu dengan cemas.
Suasana di ruang tamu sangat hening dan mencekam.
Xin Yi tidak ada di sana. Gadis itu masih berada di kamarnya untuk membersihkan diri dan merenung, sementara semua orang tua dan teman-temannya berkumpul untuk mencari kejelasan.
Huo Feilin duduk di sofa utama dengan wajah yang sangat serius dan dingin. Ia menatap lurus ke arah Quan Yubin yang baru saja duduk.
"Yubin, jelaskan pada saya dan Ayahmu... apa yang sebenarnya terjadi di pantai tadi?" suaranya rendah namun penuh tekanan.
"Bagaimana bisa kamu terluka separah itu? Dan kenapa baju kamu ada di tubuh Xin Yi? Apa yang kalian berdua lakukan sampai terjadi kecelakaan seperti ini?"
Pertanyaan itu ditujukan dengan sangat tegas. Mereka butuh penjelasan logis, karena situasinya terlihat sangat aneh dan berbahaya.
Xin Yuning duduk memeluk lututnya, wajahnya juga tampak tegang menunggu jawaban temannya.
Quan Yubin mendengar pertanyaan itu dan langsung mengerti.
Ia sadar betul, dengan situasi yang aneh seperti ini—dia terluka, baju dia ada di tubuh Xin Yi—sangat wajar jika Huo Feilin dan Xin Fuyang curiga bahwa dia mungkin telah bertindak tidak pantas atau melakukan sesuatu yang melampaui batas pada gadis itu.
Wajahnya memerah menahan rasa canggung dan salah paham ini. Ia ingin segera menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud buruk sama sekali.
"Bibi..."
Namun sebelum ia sempat membuka mulut, suara Xin Yuning terdengar memecah keheningan.
Pria itu menoleh perlahan ke arah temannya, matanya penuh dengan campuran cemburu, curiga, dan kekecewaan.
"Yubin... kamu... kamu tidak menyukai adikku kan?!" tanyanya dengan nada tinggi dan tegang.
"Jangan bilang kamu mendekatinya dan melakukan itu semua karena kamu punya niat lain padanya?! Kamu sadar tidak dia itu masih muda dan itu ADIKKU!!"
DEG!
Seluruh ruangan seakan berhenti berputar.
Quan Yubin benar-benar membeku di tempat duduknya.
Mulutnya terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Tubuhnya kaku total, bahkan rasa sakit di lututnya yang baru dijahit pun seakan hilang berganti dengan rasa kaget yang luar biasa.
Menyukai... Xin Yi...?
Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Ia sendiri selama ini hanya menganggapnya sebagai adik kecil teman baiknya, sosok yang unik dan menarik perhatian, tapi... menyukai sebagai lawan jenis?!
Tapi kenapa saat pertanyaan itu terlontar, jantungnya berdegup begitu kencang? Kenapa wajahnya tiba-tiba terasa panas?
Dan kenapa dia tidak bisa langsung menjawab "TIDAK" dengan tegas?!
"......"
Keheningan dan tatapan bingung Quan Yubin justru membuat situasi semakin mencurigakan di mata Xin Yuning dan orang tuanya.
Xin Fuyang menghela napas panjang, lalu menepuk bahu putranya yang sedang emosi memuncak.
"Tenang dulu, Yuning. Jangan menuduh seenaknya. Biarkan Yubin menjelaskan dulu dari awal," ucapnya tegas namun tenang.
Xin Yuning mendengus kesal, tapi ia menurut dan kembali duduk, matanya tetap tajam menatap temannya seolah berkata 'kalau kamu bohong! Kita akan bicara nanti!'.
Quan Yubin menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering dan kaku. Ia merapikan pikirannya secepat mungkin sebelum mulai berbicara dengan menatap orang tua Xin.
"Jujur saja... tadi saya melihat Xin Yi sendirian bermain pasir. Terus saya perhatikan, dia kelihatan bosan dan diam-diam berjalan menjauh ke arah tebing karang sendirian," mulai Quan Yubin pelan.
"Saya khawatir karena daerah itu berbahaya dan sepi, jadi saya ikuti dari belakang. Saat saya sampai di sana..."
Ia berhenti sebentar, mengingat kembali detik-detik menegangkan itu.
"...dia sudah ada di atas karang. Dan tanpa saya sempat menghentikan, dia langsung... melompat ke laut!"
Suasana hening. Mata Xin Fuyang dan Huo Feilin sedikit membelalak.
"Saya panik setengah mati..." lanjut Quan Yubin dengan suara yang mulai naik karena emosi teringat kepanikan tadi.
"Airnya dalam dan tidak terlihat jelas, saya lihat dia menghilang begitu saja! Otak saya langsung kosong, takut dia terjadi sesuatu, takut terseret ombak atau terbentur karang!"
"Karena terlalu panik dan berlari, kaki saya tersandung dan terseret batu karang. Bibi, saya berteriak memanggil Xin Yi berkali-kali karena tidak bisa melihat dia di mana-mana..."
Jelas sudah sekarang. Bukan karena niat jahat atau apa pun, tapi karena TERLALU KHAWATIR sampai kehilangan akal sehatnya.
Mendengar penjelasan itu, Xin Yuning benar-benar ternganga.
Ia tahu adiknya kuat dan pemberani, tapi tidak menyangka dia seberani itu melompat dari tebing karang tinggi begitu saja tanpa rasa takut sedikitpun!
"Gila... Anak ini benar-benar punya nyali sebesar itu ya..." gumamnya tak habis pikir. Wajahnya yang tadinya cemberut dan curiga kini berubah menjadi kaget setengah mati.
Huo Feilin dan Xin Fuyang pun saling tatap. Mereka baru sadar, kekhawatiran mereka tadi ternyata salah arah.
Bukan Quan Yubin yang bermasalah, tapi putri mereka yang ternyata memiliki sifat pemberani dan suka tantangan yang cukup ekstrem!
Rong Yuan yang duduk di sudut segera angkat bicara untuk menenangkan suasana.
"Sudah, sudah... sekarang kita tahu kan alasannya. Yubin panik sampai luka-luka karena mengkhawatirkan Yi Yi."
Ia menoleh ke arah pintu lalu berkata,
"Sebaiknya panggil Xin Yi saja ke sini. Biar dia jelaskan versi dirinya dan kita bisa menanyakan dengan baik-baik. Jangan dibiarkan dia sendirian di kamar terus, nanti dia berpikir yang tidak-tidak dan merasa bersalah berlebihan."
Benar juga kata Rong Yuan. Mereka butuh konfirmasi langsung dari sumbernya.
"Panggil dia kesini," perintah Huo Feilin dengan nada yang sudah mulai melunak, meski wajahnya masih tetap serius.
Xin Yuning pun bangkit dan berjalan menuju tangga untuk menjemput adiknya yang sedang berada di kamar.
Xin Yi membuka pintu kamar dengan wajah datar namun sedikit canggung. Ia mengikuti langkah kakaknya menuruni tangga, lalu duduk di sofa tepat di samping ayahnya, Xin Fuyang.
Suasana hening. Semua mata tertuju padanya.
Xin Fuyang menatap putrinya dengan sangat hati-hati, suaranya dibuat serendah mungkin seolah takut menyakiti atau menekan gadis itu.
"Yi Yi... Ayah dengar... kamu melompat ke dalam laut dari atas karang tadi? Kenapa kamu melakukan hal berbahaya seperti itu?" tanyanya pelan namun penuh kekhawatiran.
Xin Yi menganggukkan kepalanya dengan tenang.
"Iya."
Jawaban singkat dan tegas itu membuat Huo Feilin langsung memegang dadanya, wajahnya pucat pasir membayangkan betapa berbahayanya situasi itu.
"KENAPA?!" seru wanita itu tak tahan. Matanya berkaca-kaca menatap putri tirinya.
"Apa kamu tahu betapa tingginya dan tajamnya karang itu?! Apa kamu tahu betapa dalamnya air di sana?! Kenapa kamu nekat sekali?! Lihat Kakak Quan-mu sampai terluka parah karena panik mencari kamu! Jangan pernah lagi membuat orang lain cemas setengah mati hanya karena keinginanmu sendiri!"
Suara Huo Feilin bergetar. Ia benar-benar syok dan takut membayangkan kalau sampai Xin Yi tersesat atau tenggelam.
Xin Yi menunduk sedikit, menyadari betapa besar kepanikan yang ia timbulkan pada orang-orang yang menyayanginya.
"Maaf, Bu..." ucapnya pelan. "Aku hanya... ingin mencari kerang dan hasil laut. Di sana tempat yang bagus untuk mendapatkan yang besar-besar. Aku sudah biasa menyelam di tempat seperti itu, jadi kupikir tidak apa-apa. Aku tidak sadar Kakak Quan akan ikut dan sampai terluka..."
Lalu Xin Yi menoleh pada Quan Yubin yang duduk di seberang dengan tatapan bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf karena aku membuatmu terluka," ucapnya tulus dan sopan.
Mendengar penuturan Xin Yi, Zhao Yun dan Rong Yuan terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka gadis sedemikian rupa sudah terbiasa melakukan aktivitas yang berisiko tinggi seperti itu.
Rong Yuan segera menoleh ke arah Huo Feilin dan berpesan dengan sungguh-sungguh, "Sepertinya mulai sekarang Bibi harus mengawasi Xin Yi dengan lebih ketat lagi. Ia mungkin terbiasa, namun bahaya tetaplah bahaya."
"......."
Xin Yi yang mendengar saran tersebut langsung menunjukkan penolakannya lewat bahasa tubuh. Ia melirik ke arah Rong Yuan dengan alis yang terkerut rapat, jelas menunjukkan ketidaksetujuannya untuk dikekang layaknya anak kecil.
Melihat sikap adiknya yang sedikit keras kepala itu, Xin Yuning yang merasa campur aduk antara kekesalan, kekhawatiran, dan rasa sayang yang meluap-luap, akhirnya tidak tahan lagi.
Dengan gerakan cepat, ia mencubit lembut kedua pipi gembil adiknya.
"Dasar anak nakal, tatapan apa yang kamu berikan itu hah?!" gerutunya pelan.
Mata Xin Yi seketika membelalak lebar, menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya.
Ia benar-benar syok. Di hadapan semua orang, di ruang tamu yang penuh sesak ini, kakaknya berani memperlakukannya dengan cara sebegitu manja dan kekanak-kanakan?!
"Jangan mencubitku...!" Xin Yi dengan cepat menarik tangan kakaknya yang masih mencubit pipinya, lalu ia mendengus pelan menahan rasa kesal sekaligus malu.
Wajahnya yang memerah membuatnya terlihat semakin imut.
Meskipun demikian, ia tidak melupakan hal yang penting. Gadis itu menoleh lurus ke arah Quan Yubin yang duduk dengan lutut diperban, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat dan penyesalan.
"Aku minta maaf atas kecerobohanku hari ini, Kak Quan. Terima kasih juga sudah peduli padaku," ucapnya tulus dan sopan.
Setelah meminta maaf, tangan kecilnya merogoh saku dalam baju miliknya. Ia mengambil sebuah benda kecil yang dibungkus kain bersih, lalu menyerahkannya kepada pria itu.
"Ini... sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf. Aku temukan di dasar laut tadi," katanya singkat.
Quan Yubin mengulurkan tangannya yang besar untuk menerima benda itu. Saat kain pembungkusnya dibuka dan benda itu meluncur ke telap tangannya...
GLINK.
Sebuah butiran mutiara berwarna hitam pekat yang cukup besar dan bulat sempurna jatuh ke tangannya.
Mutiara itu memancarkan kilauan yang dalam dan misterius, sangat indah dan terlihat sangat berharga.
"......"
Seluruh ruangan kembali hening.
Mata Xin Yuning, Zhao Yun, dan Rong Yuan membelalak tak percaya.
Mutiara hitam sebesar dan seindah itu bukan barang mainan! Itu adalah benda langka yang harganya bisa sangat mahal!
Bahkan Huo Feilin dan Xin Fuyang pun terlihat takjub. Xin Yi benar-benar memiliki keberuntungan dan mata yang tajam dalam mencari hasil laut yang luar biasa.
Quan Yubin menatap mutiara hitam itu di telap tangannya, lalu menatap wajah gadis kecil di hadapannya yang masih terlihat polos.
"Kamu... memberikannya padaku?" tanya Quan Yubin pelan, suaranya terdengar lembut dan bergetar sedikit.
"Iya. Sebagai ganti baju dan karena membuatmu terluka... maafkan aku," jawab Xin Yi melihatnya dengan agak bersalah.
Di dalam hati, Quan Yubin merasa sesuatu yang aneh. Mutiara hitam ini indah dan berharga, tapi rasanya tidak seindah dan tidak semahal niat baik yang diberikan oleh gadis di depannya ini.