Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
***
Menteng sore itu masih sama, megah dan angkuh. Namun, ketika mobil Mercedes yang membawa Karina melewati gerbang utama, suasana di dalam mansion nomor satu itu sudah tidak lagi sama. Karina melangkah masuk dengan bekal salad Jawa di tangannya dan sebuah kekuatan baru di dalam dadanya. Ia tidak lagi menunduk, tidak lagi mencari-cari siluet Darma di antara pilar-pilar rumah.
Ia langsung menuju ruang tengah, meletakkan bekalnya di atas meja marmer, dan memanggil Sari.
"Sari, panggil tim dekorasi interior langganan Ibu mertua saya. Dan tolong, siapkan katalog furnitur bayi dari nursery paling eksklusif di Eropa. Saya ingin mengubah ruang sayap kiri menjadi kamar bayi. Sekarang," perintah Karina. Suaranya tenang, datar, namun memiliki otoritas yang biasanya hanya dimiliki oleh Jenderal Agus.
Sari tertegun. "Tapi Ibu, Bapak belum memberikan izin untuk—"
"Sari," Karina memotong sambil melepas kacamata hitamnya, menatap pelayan senior itu dengan mata yang tajam. "Saya tidak sedang meminta izin. Saya sedang menjalankan hak saya sebagai pembawa ahli waris Hutomo. Sesuai kontrak, kenyamanan saya adalah prioritas. Dan kenyamanan saya saat ini adalah memastikan anak ini memiliki ruang yang layak. Kerjakan."
"Siap, Ibu. Laksanakan," jawab Sari, refleks menggunakan bahasa semi-militer karena aura Karina yang tiba-tiba berubah sangat dominan.
Pukul empat sore, lebih awal dua jam dari jadwal biasanya, deru mesin mobil Darma terdengar di depan lobi. Darma melangkah masuk dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Sepanjang jalan dari kantor, kepalanya dipenuhi amarah bercampur kecemasan. Ia mendapat laporan bahwa Karina pergi ke rumah Eyangnya.melanggar perintahnya untuk istirahat total.
Darma sudah menyiapkan kata-kata dingin untuk menegur istrinya. Ia ingin mengingatkan Karina bahwa keselamatan janin itu adalah poin utama dalam aliansi mereka. Namun, saat ia melangkah ke ruang tengah, pemandangan yang ia dapati justru membuatnya membeku di tempat.
Karina sedang duduk santai di sofa panjang, satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain. Di depannya tersebar berbagai katalog mewah, sampel kain sutra, dan tablet yang menampilkan desain kamar bayi bergaya Victorian modern. Ia sedang menikmati sisa salad Jawa dari rumah Eyangnya seolah-olah ia adalah penguasa tunggal di rumah itu.
"Kamu melanggar perintah saya untuk istirahat, Karina," suara Darma menggelegar rendah, memenuhi ruangan.
Karina bahkan tidak mendongak. Ia menyesap teh hangatnya perlahan sebelum akhirnya menoleh dengan tatapan yang sangat profesional seperti sedang menghadapi mitra bisnis yang sedang komplain.
"Selamat sore, Mas. Tumben pulang cepat. Auditnya sudah selesai?" tanya Karina ringan.
Darma berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Karina, mencoba mengintimidasi dengan tinggi badannya. "Saya tanya, kenapa kamu nekat pergi tanpa izin? Kamu tahu risikonya jika terjadi sesuatu pada aset Hutomo yang sedang kamu bawa?"
Karina menutup katalognya dengan suara brak yang pelan namun tegas. Ia berdiri, menatap tepat ke mata Darma tanpa ada rasa takut atau keinginan untuk merajuk seperti biasanya.
"Jangan khawatir, Mas. Saya tahu nilai aset ini. Saya pergi hanya untuk memastikan kesehatan mental saya agar tidak merusak jadwal audit atau merusak performa Mas di depan investor. Bukankah stabilitas psikologis pembawa ahli waris sangat krusial dalam poin kontrak kita?"
Darma terdiam. Ia merasa asing. Karina di depannya bukan lagi wanita yang menatapnya dengan binar kerinduan atau kemarahan yang manja. Wanita ini terlihat sangat... efisien.
"Kamu keluar tanpa pengawalan ketat klan Hutomo. Itu pelanggaran protokol," desis Darma, rahangnya mengeras.
"Dan Mas melanggar janji untuk menjadi manusia. Kita impas, kan?" sahut Karina telak. Ia kembali duduk, meraih tablet-nya. "Oh, sekalian saya informasikan. Saya sudah memesan set kamar bayi seharga empat miliar dari Italia. Tagihannya akan dikirim ke kantor Mas besok pagi. Saya juga butuh koki khusus masakan tradisional Jawa untuk di sini. Koki Mas terlalu banyak memasak makanan hambar yang bau uang."
Darma mengerutkan kening. "Empat miliar? Kamu bahkan tidak meminta persetujuan saya?"
Karina tersenyum tipis senyum yang sangat kaku, mirip dengan senyum Darma saat melakukan akuisisi paksa. "Kenapa harus? Bonus sepuluh miliar sudah Mas kirim ke rekening saya. Saya rasa, untuk urusan fasilitas aset Mas ini, Mas tidak akan keberatan mengeluarkan sedikit dividen tambahan. Bukankah kenyamanan saya adalah prioritas Mas? Begitu bunyi pasalnya, kan?"
Darma merasa ada yang retak dalam dominasinya. Ia terbiasa menjadi pihak yang memberi instruksi, yang menentukan jarak, dan yang menghindar. Namun kini, Karina justru menarik garis batasnya sendiri. Karina tidak lagi menunggunya dengan mata sembab; Karina menunggunya dengan daftar belanja dan tuntutan profesional.
"Saya melakukan ini untuk kebaikanmu, Karina. Saya menghindari kamu agar kamu tidak stres," ucap Darma, mencoba mempertahankan egonya yang kaku.
"Terima kasih atas perhatian logisnya, Mas," jawab Karina tanpa emosi. "Tapi mari kita jujur. Kita menikah untuk aliansi. Mas butuh rahim saya, dan Papa butuh dukungan Mas. Saya sudah menerima perannya. Jadi, Mas tidak perlu merasa bersalah atau repot-rekan menghindar. Mas bisa fokus bekerja, dan saya akan fokus merawat aset ini di markas pribadi saya di lantai atas. Kita jalankan fungsi kita masing-masing sesuai kontrak. Adil, bukan?"
Darma menatap Karina lama. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya saat mendengar kata fungsi keluar dari bibir Karina. Ia seharusnya senang karena Karina akhirnya mengerti posisi mereka, namun kenyataannya, kedinginan Karina justru terasa lebih menusuk daripada kemarahannya.
"Saya akan tetap memantau kesehatanmu," ucap Darma pendek, suaranya sedikit serak.
"Tentu saja. Silakan baca laporan hariannya dari dokter nanti malam. Saya mau istirahat sekarang. Capek juga seharian menjadi manusia di rumah Eyang sebelum kembali menjadi proyek di rumah Mas," ucap Karina santai.
Ia bangkit, membawa bekalnya, dan berjalan melewati Darma tanpa menyentuh pria itu sedikit pun. Aroma melati dari rumah Eyang Amelia masih menempel di tubuhnya, sangat kontras dengan aroma sandalwood Darma yang maskulin.
Darma tetap berdiri di ruang tengah, menatap punggung Karina yang menjauh. Untuk pertama kalinya, Sang CEO Hutomo Group itu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia meraba bantal di sofa tempat Karina duduk tadi masih terasa hangat.
"Apa yang terjadi?" bisiknya pada kesunyian.
Egonya yang membatu melarangnya untuk mengejar Karina dan bertanya mengapa istrinya berubah. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa takut yang mulai tumbuh. Ia terbiasa mengendalikan pasar, namun ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengendalikan seorang wanita yang sudah berhenti peduli.
Malam itu, di mansion Menteng, lampu-lampu tetap menyala terang, namun kehangatan benar-benar telah lenyap. Karina tidur dengan tenang di kamar utamanya yang kini ia anggap sebagai benteng, sementara Darma berada di ruang kerjanya, menatap draf kontrak mereka dengan perasaan yang tidak lagi bisa ia hitung dengan angka.
****
Bersambung...
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁