Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Air Mata di Ujung Kabel
"Bu Aruna... tolong saya, Bu... Pak Lukman... dia menculik anak saya..."
Suara isakan Sarah dari pelantang suara ponsel itu terdengar sangat menyayat hati, menggema di dapur penthouse-ku yang sedingin es. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti paku berkarat yang ditancapkan paksa ke telingaku.
Aku mematung. Mataku terkunci pada ponsel di atas meja marmer itu, sementara pikiranku terbelah menjadi dua medan perang yang saling menghancurkan. Di satu sisi, ada kemarahan luar biasa yang membakar kewarasanku. Wanita ini—wanita yang selama lima tahun berdiri di sampingku, mengetahui semua jadwalku, tersenyum padaku setiap pagi—adalah mata-mata yang mengulitiku dari dalam.
Namun di sisi lain, aku mendengar jeritan seorang ibu yang sedang hancur. Bintang, anak laki-laki Sarah yang baru berusia tujuh tahun. Aku ingat pernah membelikannya mainan robot saat ia berulang tahun. Anak yang malang itu kini berada di tangan monster bernama Lukman.
"Sarah..." suaraku keluar berupa bisikan parau. "Sejak kapan?! Sejak kapan kau menjualku pada Lukman?!"
Terdengar helaan napas yang terputus-putus di seberang sana, disusul tangisan yang semakin keras. "Maafkan saya, Bu... Ya Allah, maafkan saya. Sejak dua bulan lalu. Pak Lukman mengancam akan menjebak suami saya dengan kasus penggelapan dana di perusahaannya. Dia bilang... dia hanya ingin tahu jadwal Ibu. Saya tidak tahu kalau dia memasang penyadap... saya bersumpah, Bu!"
"Kau mengkhianatiku untuk menyelamatkan keluargamu," gumamku, lebih kepada diriku sendiri.
Dulu, mungkin aku akan langsung memecatnya, melaporkannya ke polisi, dan menghancurkan hidupnya seketika. Bagi CEO Aruna Wiratmadja, tidak ada toleransi untuk pengkhianatan.
Namun, mataku tanpa sadar melirik ke arah pria yang berdiri di seberang meja. Bumi. Suamiku. Pria yang baru beberapa jam lalu menggadaikan masa depannya sendiri—termasuk nyawanya—demi adik perempuannya yang sedang koma. Jika Bumi bisa melakukan hal ekstrem demi Sifa, apakah Sarah tidak memiliki insting bertahan hidup yang sama demi putranya?
Di dunia yang dipenuhi oleh serigala seperti Lukman, orang-orang kecil seperti Sarah dan Bumi hanyalah pion yang dipaksa memakan satu sama lain.
"Di mana mereka membawa Bintang, Mbak Sarah?"
Suara bariton Bumi yang tenang tiba-tiba memecah kepanikanku. Dia tidak menghakimi, dia tidak memaki. Bumi mengambil alih ponsel itu, mendekatkan wajahnya ke mikrofon. Postur tubuhnya tegak, zirah pelindungnya kembali terpasang.
"Mas Bumi... Pak Lukman marah besar karena rapat kemarin gagal. Dia mengirim orang ke rumah saya setengah jam yang lalu. Mereka mendobrak masuk dan membawa Bintang. Mereka bilang, jika saya tidak bisa memberikan rekaman yang membuktikan bahwa pernikahan kalian palsu pagi ini, saya tidak akan melihat anak saya lagi!" Sarah berteriak histeris, disusul suara barang pecah di latar belakang.
"Mbak Sarah, dengarkan saya," ucap Bumi dengan nada otoritas yang tidak bisa dibantah, sebuah nada yang membuatku sendiri tanpa sadar ikut menahan napas. "Apakah Bintang memakai jam tangan pintar yang tempo hari software-nya diperbarui oleh tim Support kita?"
Terdengar jeda sejenak. "I-iya, Mas. Bintang tidak pernah melepasnya."
"Bagus. Tetap di rumah. Kunci semua pintu. Jangan hubungi polisi dulu, Lukman punya orang di kepolisian yang bisa membocorkan laporan Anda dan membahayakan Bintang. Kami akan membawanya pulang."
Bumi mematikan sambungan telepon. Dia tidak meminta izin padaku, dia tidak menunggu instruksiku. Pria yang biasanya menundukkan pandangan itu kini menatapku dengan kilat ketegasan yang luar biasa.
"Kita tidak punya banyak waktu, Aruna. Buka akses komputermu, aku butuh kode administrator utama untuk menembus firewall satelit perusahaan."
Aku tersadar dari lamunanku. Adrenalin kembali membanjiri nadiku, menyingkirkan sisa-sisa rasa kantuk dan putus asa. Aku berlari menuju ruang kerjaku, diikuti Bumi di belakang.
"Kau bisa melacak jam tangan itu?" tanyaku sambil mengetikkan rentetan kata sandi panjang di komputer utamaku.
"Jam tangan pintar yang dipakai anak Sarah menggunakan cip GPS buatan anak perusahaan kita," jelas Bumi, jemarinya kini telah mengambil alih keyboard, mengetikkan baris-baris perintah dengan kecepatan yang membuat mataku pusing. "Saya sengaja menanamkan pintu belakang rahasia (backdoor) di firmware itu saat masih uji coba. Tujuannya memang untuk melacak jika ada penculikan, tapi fitur itu belum dirilis ke publik. Malam ini, kita akan menggunakannya."
Aku berdiri di belakangnya, menatap layar yang kini menampilkan peta digital Jakarta yang terus memperbesar resolusinya. Garis-garis kode berjatuhan seperti hujan di sisi layar.
Melihat profil samping wajahnya, rahangnya yang mengeras, dan fokusnya yang tidak terpecah, ada rasa kagum yang perlahan merayap naik, mengalahkan rasa takutku. Pria ini jenius. Dan yang lebih mengagumkan dari kejeniusannya adalah kompas moralnya yang tidak pernah bergeser. Dia baru saja disadap oleh Sarah, tapi dia adalah orang pertama yang bergerak untuk menyelamatkan anak wanita itu.
"Dapat," gumam Bumi pelan.
Sebuah titik merah berkedip di peta. Titik itu bergerak cepat meninggalkan area Jakarta Selatan, menuju ke arah pinggiran kota.
"Mereka membawanya ke arah Bogor. Ada sebuah kompleks pabrik tua di dekat area Sentul yang sudah lama tidak beroperasi," ucap Bumi, menunjuk titik tersebut.
"Itu pabrik tekstil milik mertua Lukman yang sudah bangkrut lima tahun lalu," kataku, seketika mengingat data aset keluarga.
Bumi langsung menutup laptopnya, mencabut kabelnya, dan memasukkannya ke dalam ransel kusamnya. Dia berbalik menatapku. "Saya akan pergi ke sana. Anda hubungi kenalan Anda di kepolisian tingkat tinggi—bukan polisi sektor biasa, tapi seseorang yang tidak bisa dibeli oleh Lukman. Kirimkan mereka ke titik kordinat yang akan saya bagikan."
Aku mengerutkan kening, rasa panik baru seketika mencengkeram dadaku. "Kau mau pergi ke sana sendirian?! Menghadapi preman-preman sewaan Lukman?! Kau bukan jagoan neon, Bumi! Kau bisa mati!"
Bumi menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia menoleh, menatapku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan situasi mematikan ini. "Bintang baru tujuh tahun, Aruna. Jika kita menunggu polisi bergerak sesuai birokrasi, Lukman bisa memindahkannya ke tempat lain, atau lebih buruk lagi."
"Kalau begitu aku ikut!" seruku, tanpa sadar melangkah maju dan mencengkeram lengan kausnya. "Ini masalah keluargaku. Ini perusahaan suamiku. Aku tidak akan bersembunyi di apartemen mahal ini sementara kau mempertaruhkan nyawamu untuk membereskan kekacauanku!"
Bumi menatap tanganku yang mencengkeram lengannya, lalu menatap mataku. Ada pergulatan di sana. Dia ingin melindungiku dengan menyembunyikanku, tapi dia juga melihat keteguhan di mataku—keteguhan yang sama saat aku memaksanya menikahiku di rumah sakit.
Perlahan, tangan besarnya naik, menutupi tanganku yang gemetar di lengannya.
"Baik," ucapnya pelan, mengalah. "Tapi Anda harus berjanji satu hal. Jangan keluar dari mobil apa pun yang terjadi. Jadilah mata dan telinga saya dari jarak jauh. Setuju?!"
Aku mengangguk mantap. "Setuju. Aku akan menyetir."
Langit Jakarta masih berwarna ungu gelap saat SUV hitamku membelah jalanan tol Jagorawi yang sepi. Angin pagi menyapu embun di kaca depan, seolah mencoba membersihkan pandanganku dari segala kekacauan yang terjadi dalam dua hari terakhir.
Aku mencengkeram kemudi hingga buku-buku jariku memutih. Mataku fokus pada jalan, tapi seluruh kesadaranku terpusat pada pria yang duduk di kursi penumpang di sebelahku.
Bumi memangku laptopnya, wajahnya disinari cahaya redup dari layar. Dia sedang meretas sistem keamanan CCTV lalu lintas di sepanjang jalur tol untuk memastikan tidak ada mobil anak buah Lukman yang membuntuti kami.
"Bumi," panggilku memecah keheningan yang tegang di dalam mobil.
"Ya?" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Menyelamatkan anak Sarah," suaraku sedikit bergetar. "Wanita itu... dia berkhianat. Dia memasang alat yang mungkin saja merekam kita saat kita sedang... kau tahu. Dia melanggar privasi kita dengan cara yang paling menjijikkan. Tapi kau bahkan tidak ragu sedetik pun untuk menolongnya."
Bumi menghentikan ketikannya. Dia menutup laptopnya hingga layarnya meredup, lalu menoleh menatapku. Di bawah temaram lampu jalan tol yang berkelebat masuk ke dalam mobil, matanya memancarkan kedalaman samudra yang tak terselami.
"Dalam Islam, Aruna," suaranya mengalun lembut, menenangkan gemuruh di dadaku, "ada perbedaan besar antara membenci perbuatan, dan membenci manusia. Saya membenci pengkhianatan Sarah. Tapi saat dia menelepon tadi, dia bukan mata-mata Lukman. Dia adalah seorang ibu yang anaknya sedang di ujung tanduk maut."
Aku terdiam, meresapi setiap kata-katanya.
"Jika saya membiarkan Bintang celaka hanya karena ibunya melakukan kesalahan, lalu apa bedanya saya dengan Lukman?" lanjutnya, tatapannya kini kembali lurus ke depan. "Kita tidak diukur dari bagaimana kita memperlakukan orang yang berbuat baik kepada kita. Kita diukur dari bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak berdaya, bahkan setelah mereka melukai kita."
Tenggorokanku terasa sempit. Kata-kata itu begitu sederhana, namun memiliki kekuatan yang meruntuhkan seluruh ego dan keangkuhanku. Selama ini, aku selalu membalas dendam. Mata ganti mata. Saham ganti saham. Jika ada yang merugikanku, aku akan menghancurkannya dua kali lipat.
Tapi Bumi... dia memilih untuk memutus rantai kebencian itu dengan sebuah perlindungan.
"Aku minta maaf," bisikku tiba-tiba, membuat Bumi menoleh padaku dengan sedikit terkejut.
"Untuk apa?"
"Tadi... di dapur. Saat aku tahu Sarah mengkhianatiku, aku membentakmu. Aku bilang kalian semua hanya menginginkan sesuatu dariku." Aku menelan ludah, berusaha keras agar suaraku tidak pecah. "Aku tidak bermaksud menuduhmu seperti itu, Bumi. Kau satu-satunya orang yang tidak mengambil apa pun dariku, padahal kau bisa."
Keheningan melingkupi kami selama beberapa saat. Hanya terdengar derum halus mesin mobil yang melaju di atas kecepatan seratus kilometer per jam.
Perlahan, aku merasakan sentuhan hangat di bahu kiriku. Bumi meletakkan tangannya di sana, sebuah tepukan pelan yang sarat akan makna.
"Saya mengerti, Aruna. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang terdekat itu membutakan. Anda berhak marah," ucapnya lembut. "Tapi mulai sekarang, saya ingin Anda ingat satu hal."
"Ingat apa?"
Bumi mencondongkan tubuhnya sedikit, membuatku bisa mencium aroma khasnya—paduan antara sabun mandi biasa, dinginnya udara pagi, dan sesuatu yang sangat menenangkan.
"Saya adalah suami Kamu," ucapnya tegas, namun tanpa nada menggurui. "Kamu tidak perlu lagi memanggul semua ketakutan itu sendirian. Jika ada yang mencoba melukai Kamu, mereka harus melewati saya lebih dulu. Kamu bukan lagi target yang berdiri sendirian di lapangan terbuka."
Jantungku seperti melewatkan satu detakannya. Kalimat itu tidak mengandung kata-kata cinta yang puitis. Tidak ada rayuan gombal. Tapi bagi seorang wanita yang telah bertahun-tahun tidur dengan satu mata terbuka karena takut dihancurkan oleh keluarganya sendiri, kalimat Bumi barusan adalah deklarasi romantis paling indah yang pernah kudengar seumur hidupku.
Tanpa sadar, segaris senyum tipis terukir di bibirku. Udara pagi yang dingin tiba-tiba terasa lebih hangat.
"Satu kilometer lagi, ambil pintu keluar tol," instruksi Bumi, kembali menatap layar laptopnya, memutus momen magis kami.
Aku mengangguk, memutar kemudi sesuai arahannya. Zirahku kini tidak lagi terbuat dari kepalsuan. Zirahku kini adalah pria yang duduk di sebelahku.
Kami tiba di sebuah jalan tanah berbatu yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang belum tersentuh matahari pagi. Di ujung jalan, sebuah bangunan pabrik tua berbata merah berdiri angkuh, dikelilingi pagar kawat berduri yang sebagian sudah berkarat.
Aku mematikan mesin dan lampu mobil, membiarkan kami tersembunyi di balik bayangan pohon beringin besar sekitar seratus meter dari gerbang utama.
"Polisi kenalanku sedang dalam perjalanan. Mereka dipimpin langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum. Mereka akan tiba sekitar lima belas menit lagi," bisikku sambil mengecek pesan di ponselku.
Bumi mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah flashdisk yang sudah dimodifikasi, memasukkannya ke port laptopnya. "Lima belas menit bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Saya harus melumpuhkan sistem keamanan mereka dari jarak dekat agar polisi bisa langsung masuk tanpa hambatan."
Bumi membuka pintu mobil perlahan agar tidak menimbulkan suara decit.
"Bumi, tunggu!" cegahku, menahan lengannya. "Apa yang akan kamu lakukan? Jangan bertindak bodoh. Kamu bilang hanya akan meretasnya dari sini!"
"Gerbang itu memang berkarat, Aruna. Tapi jika kita menabraknya masuk, suara bisingnya akan memperingatkan mereka," jelas Bumi cepat. "Mereka bisa langsung menyandera atau melukai Bintang sebelum kita sampai di lantai dua. Saya harus meretasnya dalam diam.Jaringan internal pabrik ini menggunakan sistem intranet tertutup. Saya tidak bisa meretasnya dari luar pagar. Saya harus menyambungkan relay ini ke kotak panel utama yang ada di dinding luar pos satpam itu," Bumi menunjuk sebuah bangunan kecil di dekat gerbang yang dijaga oleh dua pria berbadan tegap dengan pakaian preman. Keduanya tampak sedang merokok, menyandang sesuatu yang mencurigakan di balik jaket mereka.
"Mereka bersenjata, Bumi! Jangan! Polisi akan mengurusnya!" Aku mulai panik, cengkeramanku di lengannya mengerat. Aku tidak ingin kehilangannya. Pemikiran bahwa sesuatu yang buruk akan menimpanya membuat perutku mual.
Bumi melepaskan tanganku dengan sangat lembut, menangkup jemariku dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.
"Aruna," bisiknya, matanya menatapku dalam-dalam di tengah temaram cahaya fajar. "Di dalam sana, ada seorang anak berusia tujuh tahun yang sedang menangis ketakutan mencari ibunya. Saya akan membawanya keluar. Saya janji, saya akan kembali ke mobil ini."
Dia melepaskan tanganku, menarik ritsleting jaketnya, dan menyelinap keluar dari mobil. Gerakannya begitu sunyi dan menyatu dengan bayangan malam.
Aku hanya bisa menatapnya dari balik kaca mobil dengan dada yang bergemuruh hebat. Tanganku meremas kemudi. Dalam hati, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar memanjatkan doa kepada Tuhan yang selama ini kuabaikan.
Tolong... lindungi dia. Jangan ambil dia dariku.
Di kejauhan, aku melihat Bumi berhasil mengendap-endap mendekati pos satpam dari arah belakang, memanfaatkan titik buta di antara tumpukan tong bekas. Dia mengeluarkan relay kecil dari sakunya, tangannya dengan cekatan membuka kotak panel yang sudah karatan itu.
Satu detik. Dua detik.
Tiba-tiba, lampu indikator merah di panel itu berkedip terang. Ada bunyi beep panjang yang melengking memecah kesunyian pagi.
Sistem tamper-proof! Seseorang telah memodifikasi kotak panel itu dengan alarm anti-retas!
Kedua preman di depan pos satpam itu terlonjak kaget. Mereka segera membuang rokok mereka dan mencabut pistol dari balik jaket, berlari memutar ke belakang pos satpam.
Mataku membelalak ngeri. Jantungku berhenti berdetak.
"BUMI!" jeritku di dalam mobil yang kedap suara.
Bumi tertangkap basah. Dia berdiri di depan panel itu, tak bersenjata, sementara dua moncong pistol kini terarah tepat ke wajahnya.
____________________________________________
Salah satu preman itu menyeringai, mengenali wajah Bumi dari foto yang disebar Lukman semalam. "Wah, wah... lihat siapa yang datang mengantarkan nyawa. Suami baru Ibu CEO." Preman itu menarik pelatuk pistolnya, menimbulkan bunyi klik mekanis yang sangat mematikan. Bumi tidak mundur, ia justru mengangkat wajahnya, menatap kedua preman itu tanpa rasa takut. Tepat ketika preman itu hendak menarik pelatuk, terdengar suara deru mesin yang sangat keras. Bukan mobil polisi, melainkan SUV hitam milik Aruna yang menerjang gerbang besi berkarat itu dengan kecepatan penuh, langsung mengarah ke kedua preman tersebut!
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘