Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Yuda dan Carisa pulang ke rumah tanpa banyak bicara.
Jalanan malam cukup lengang. Lampu-lampu kota lewat bergantian di sisi kaca, memantul sebentar lalu hilang. Di dalam mobil, suasananya kaku bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan, tapi karena keduanya sama-sama menahan.
Carisa duduk menghadap jendela. Bahunya tegak, tapi tangannya di pangkuan saling menggenggam. Napasnya pelan, tidak stabil. Ia berusaha terlihat biasa, meski matanya mulai perih.
Ia tahu kalau sedikit saja lengah, air matanya akan jatuh.
Di kursi kemudi, Yuda fokus ke jalan. Wajahnya datar, rahangnya sedikit mengeras. Ia sadar sejak tadi Carisa tidak menoleh, tidak bersuara. Tapi ia tidak menyentuh itu.
Bukan tidak peduli. Ia hanya memilih diam. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Carisa menelan sesuatu di tenggorokannya, lalu mengedip cepat. Pandangannya tetap lurus ke luar, seolah ada yang lebih menarik di sana daripada di dalam mobil ini. Padahal tidak ada.
Yuda sempat melirik sekilas. Cukup untuk menangkap mata yang sudah terlalu penuh untuk disebut tenang.
Ia kembali menatap jalan. Tangannya sedikit mengencang di setir, lalu lepas lagi.
Tidak ada yang berubah setelah itu. Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti di depan rumah.
Yuda masuk lebih dulu. Carisa mengikuti di belakang, langkahnya lebih pelan.
Mereka sampai di kamar tanpa sepatah kata. Begitu pintu tertutup, Carisa berhenti.
Ia tidak kuat lagi. Dari belakang, ia memeluk Yuda erat, seolah takut kalau ia lepas, semuanya benar-benar hilang.
“Maaf…” suaranya pecah, hampir tak terdengar.
Yuda sedikit terdiam. Tubuhnya menegang sesaat, kaget dengan sentuhan yang tidak ia duga.
Tangan Carisa melingkar di perutnya. Wajahnya menempel di punggung Yuda, napasnya tidak lagi stabil.
Carisa mengeratkan pelukannya sedikit. “Aku minta maaf…”
Kali ini suaranya pecah.
“Kenapa aku harus dengar itu bukan dari kamu, Carisa?” suara Yuda tetap rendah, tapi kali ini lebih dalam. “Kenapa kamu tidak pernah jujur kalau kamu punya anak?”
Carisa menahan napas. Kata anak terdengar terlalu jelas di telinganya.
“Aku minta maaf…” suaranya pelan, serak. “Aku sudah berusaha melupakan semuanya. Aku bahkan… tidak mau melihat wajah anak itu.”
Yuda tidak bergerak.
Carisa menunduk sedikit, jemarinya saling mengunci.
“Setiap kali aku lihat dia…” lanjutnya, lebih lirih, “aku ingat semua yang terjadi. Ingat dia… ingat masa itu.” Napasnya tersendat. “Aku benci itu.”
Sunyi.
Untuk beberapa detik, Yuda hanya diam menatap tangan carisa di perutnya.
“Kamu benci?” ulangnya pelan.
Carisa memejamkan mata sebentar. “Aku benci kenangannya.”
Yuda menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Rahangnya mengeras.
“Dia anak kamu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi nadanya berubah. Lebih tegas.
Carisa tidak langsung menjawab.
“Aku tahu,” katanya akhirnya, hampir berbisik. “Aku tahu dia anakku.”
Yuda melepas tangan Carisa yang melingkar di perutnya, lalu berputar dan menatap Carisa yang menunduk.
“Aku bisa mengerti kamu ingin melupakan masa lalu,” katanya pelan. “Tapi… menghapusnya seolah-olah itu tidak ada kamu salah.”
Carisa menggeleng cepat. “Aku tidak pernah menganggap itu tidak ada.”
“Lalu kenapa aku tidak pernah tahu?”
Carisa menelan kepahitannya. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu melihat aku berbeda.”
Yuda tertawa pendek. Tidak ada humor di sana.
“Kamu pikir sekarang aku tidak melihat kamu berbeda?”
Carisa langsung terdiam. Kalimat itu mengenai tepat ke hatinya.
“Aku bukan marah karena masa lalu kamu,” lanjut Yuda, lebih pelan. “Aku marah karena kamu memilih menyembunyikannya.”
Carisa mengangkat wajahnya. Matanya sudah penuh air mata.
“Aku cuma ingin mulai dari awal, Yuda…”
“Dengan kebohongan?”
“Bukan bohong,” suaranya melemah. “Aku cuma tidak mau kamu tahu."
“Tidak bilang hal sebesar itu tetap bohong.”
Sunyi lagi. Lebih berat dari sebelumnya. Carisa tidak punya jawaban. Ia hanya berdiri di sana, dengan napas yang tidak lagi teratur.
Yuda menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu menggeleng pelan.
“Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana sekarang,” katanya akhirnya.
Carisa berdiri di tengah kamar yang mendadak terasa asing. Seolah semua yang tadi masih utuh, perlahan bergeser tanpa suara. Pintu yang baru saja tertutup itu menyisakan gema yang panjang bukan di telinga, tapi di dadanya.
Ia tidak bergerak. Hanya berdiri, dengan perasaan yang pelan-pelan runtuh dari dalam.
Ada sesuatu yang familiar dari semua ini. Bukan situasinya, tapi rasanya. Rasa ditinggalkan tanpa benar-benar ditinggalkan. Rasa ketika seseorang masih ada tapi tidak lagi memilih untuk tetap di tempat yang sama.
Dulu ia pernah berdiri di titik seperti ini. Waktu itu ia juga tidak sempat bertanya. Tidak sempat menahan. Tidak sempat memahami kenapa semuanya bisa berubah secepat itu.
Dan sekarang, ia kembali dihadapkan pada perasaan yang sama, hanya dengan wajah yang berbeda.
Carisa menarik napas, tapi dadanya terasa sempit. Seolah udara tidak cukup untuk menahan apa yang sedang pecah di dalamnya.
Ia duduk pelan di tepi ranjang. Tangannya kosong. Tidak ada lagi yang bisa ia pegang.
Ia pikir selama ini ia sudah cukup kuat untuk menyimpan semuanya sendiri. Menyimpan kehilangan, menyimpan luka, menyimpan bagian-bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Tapi malam ini membuktikan sesuatu yang lain. Bahwa seberapa dalam pun ia mencoba mengubur, kehilangan tetap punya cara untuk kembali mencari bentuknya sendiri, mencari celahnya sendiri.
Air matanya jatuh tanpa ditahan. Bukan lagi karena satu orang.
Tapi karena semua yang pernah pergi dan semua yang tidak pernah benar-benar tinggal.
Carisa menunduk, bahunya sedikit bergetar. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba terlihat kuat. Karena kali ini, ia benar-benar merasa sendirian.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak