NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Aku Mulai Takut Padamu

📖 BAB 10: Saat Aku Mulai Takut Padamu

Ruangan penthouse yang luas mendadak terasa sempit.

Lin Qingyan masih memegang ponsel di tangannya, layar sudah gelap, namun suara itu terus berputar di kepalanya.

Jangan percaya siapa pun... terutama keluarga Gu.

Terutama keluarga Gu.

Ia menatap Gu Beichen yang berdiri beberapa langkah di depannya.

Pria itu tetap tenang seperti biasa. Tidak terkejut, tidak marah, tidak terburu-buru menjelaskan.

Justru ketenangan itu membuat dadanya semakin sesak.

“Kau dengar?” tanya Qingyan pelan.

“Aku dengar.”

“Itu Nenek Lan.”

“Mungkin.”

“Kau akan bilang mungkin lagi?”

“Aku akan bilang suara bisa dipalsukan.”

Madam Gu menyesap teh tanpa terganggu.

“Paranoid adalah hobi keluarga kaya.”

Qingyan tak memedulikannya.

Ia menatap Beichen lurus.

“Kenapa dia bilang jangan percaya keluarga Gu?”

“Karena dia takut.”

“Takut pada siapa?”

“Banyak orang.”

“Jangan jawab seperti politisi.”

Han menunduk menahan napas. Ia sudah tahu badai akan datang.

---

Qingyan berjalan mendekat.

“Aku tanya sekali lagi. Apa keluargamu terlibat dalam kebakaran itu?”

Beichen menjawab tenang.

“Perusahaannya punya saham minoritas.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu fakta.”

“Apakah ayahmu tahu eksperimen itu?”

“Tidak ada bukti.”

“Apakah kau tahu lebih banyak dari yang kau katakan?”

Ia diam sesaat.

Qingyan tertawa pahit.

“Diammu lebih jujur daripada mulutmu.”

Madam Gu meletakkan cangkir.

“Cukup. Kalau kau mau marah, marahlah dengan elegan.”

Qingyan menoleh.

“Saya diburu, dibohongi, dan baru kehilangan nama saya. Maaf kalau saya tidak sempat elegan.”

Madam Gu menatapnya lama.

Lalu mengangguk kecil.

“Masuk akal.”

---

Beichen melangkah ke meja dan mengambil map berisi dokumen.

Ia melemparkannya pelan ke depan Qingyan.

“Baca.”

Qingyan membuka.

Di dalam ada laporan lama, daftar investor, catatan audit, dan foto fasilitas yang hangus terbakar.

Satu halaman diberi tanda merah.

Direktur Pengawas: Qin Zhennan

Halaman lain:

Investor minoritas: Gu Industrial Capital – 7%

Qingyan mengangkat kepala.

“Tujuh persen?”

“Ya.”

“Jadi keluargamu bukan pemilik utama.”

“Tidak.”

“Kenapa tidak bilang dari awal?”

“Kau sedang panik. Fakta tidak masuk ke kepala orang panik.”

“Dan sekarang?”

“Kau sedang marah. Sedikit lebih baik.”

Ia sangat ingin melempar map itu ke wajahnya.

---

Han menerima panggilan masuk lewat earpiece.

Wajahnya berubah.

“Tuan.”

“Apa?”

“Kami melacak panggilan tadi. Lokasi aktif hanya tiga belas detik.”

“Di mana?”

Han menelan ludah.

“Rumah sakit tua distrik selatan.”

Qingyan langsung berdiri.

“Kita pergi sekarang.”

Beichen menjawab singkat.

“Tidak.”

“Itu Nenek Lan!”

“Itu jebakan.”

“Bisa jadi bukan.”

“Bisa jadi ya.”

“Aku tetap pergi.”

“Tidak.”

“Berhenti memerintahku!”

“Berhenti berlari ke perangkap!”

Suara keduanya memantul di ruangan.

Madam Gu memandang langit-langit seolah lelah pada drama muda-mudi.

---

Qingyan mendekat hingga hampir menabraknya.

“Kau tak bisa mengurungku.”

“Aku bisa.”

“Kau coba saja.”

“Aku sedang mencoba sabar.”

Han memalingkan wajah. Ia tak tahu mana yang lebih berbahaya: penyusup bersenjata semalam atau dua orang ini sekarang.

Qingyan menahan napas, lalu berkata rendah:

“Aku tak tahu siapa diriku. Aku tak tahu siapa orang tuaku. Satu-satunya orang dari masa lalu yang mungkin bisa menjawab baru meneleponku. Dan kau menyuruhku duduk diam?”

Tatapan Beichen berubah sedikit.

Lebih gelap. Lebih lembut. Sulit dijelaskan.

“Aku menyuruhmu tetap hidup.”

Sunyi turun.

Qingyan membenci bahwa kalimat itu memukul tepat sasaran.

---

Madam Gu berdiri.

“Kalian berdua menyebalkan.”

Ia menoleh pada Han.

“Siapkan mobil.”

Han berkedip.

“Tuan?”

“Aku bilang siapkan mobil. Kalau mereka ingin bertengkar, biarkan di perjalanan.”

Beichen menatap ibunya.

“Ibu ikut campur.”

“Aku bosan minum teh.”

Ia menatap Qingyan.

“Dan aku ingin melihat apakah kau cukup pintar untuk tidak mati.”

---

Tiga puluh menit kemudian, dua mobil hitam melaju menuju distrik selatan.

Kawasan itu bagian kota lama yang mulai ditinggalkan pembangunan modern. Bangunan kusam, jalan sempit, papan toko pudar.

Qingyan duduk di kursi belakang bersama Beichen.

Mereka diam sepanjang jalan.

Bukan damai.

Lebih seperti gencatan senjata.

Akhirnya Qingyan bicara.

“Kalau itu jebakan?”

“Maka kita pulang setelah membersihkannya.”

“Kenapa kau selalu bicara seperti sedang memesan makan siang?”

“Karena panik melelahkan.”

Ia menoleh padanya.

“Kau masih marah?”

“Ya.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti kau berhenti takut.”

Qingyan membuang muka ke jendela.

Menyebalkan sekali.

---

Rumah sakit tua itu berdiri di ujung jalan sepi.

Bangunan lima lantai dengan cat mengelupas dan jendela gelap. Papan nama hampir roboh. Tempat seperti ini cocok untuk hantu atau transaksi ilegal.

Han turun lebih dulu dengan tim keamanan.

“Area depan bersih.”

Madam Gu tetap di mobil kedua.

“Aku tidak naik tangga bau,” katanya dari balik jendela.

Masuk akal.

Beichen memberi Qingyan rompi tipis.

“Aku benci ini,” katanya.

“Aku juga.”

“Kau suka segalanya yang berbahaya.”

“Aku sedang bicara tentangmu.”

Qingyan hampir tersenyum.

Hampir.

---

Mereka masuk ke lobi gelap berdebu.

Lampu senter menari di dinding retak. Bekas kursi roda dan meja pendaftaran tua tergeletak seperti kerangka masa lalu.

Qingyan merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan takut.

Lebih seperti... familiar.

“Aku pernah ke tempat seperti ini,” bisiknya.

Beichen menoleh.

“Ingat?”

“Tidak tahu.”

Han memberi isyarat.

“Jejak baru ke tangga timur.”

Mereka naik ke lantai tiga.

Lorong panjang dipenuhi pintu kamar pasien yang terbuka setengah. Bau obat lama dan jamur memenuhi udara.

Lalu terdengar suara batuk.

Qingyan berlari mendahului.

“Qingyan!” seru Beichen tajam.

Ia tak peduli.

Di ujung lorong, sebuah ruangan kecil terbuka.

Seorang wanita tua duduk di lantai, tangan terikat longgar, wajah pucat.

“Nenek Lan!”

Qingyan berlutut dan memeluknya.

Wanita tua itu menangis sambil menyentuh wajah Qingyan.

“Kau hidup... syukurlah...”

Qingyan ikut gemetar.

“Siapa yang melakukan ini?”

Nenek Lan menoleh takut ke pintu.

“Dia...”

Suara tembakan memecah ruangan.

Kaca jendela belakang pecah.

Han menarik Qingyan ke bawah.

Beichen sudah bergerak lebih cepat, menutup tubuh Qingyan dengan tubuhnya sendiri.

Peluru kedua menghantam dinding.

Tim keamanan membalas tembakan ke luar.

Chaos meledak dalam detik.

---

“Sniper gedung seberang!” teriak Han.

Beichen menarik Qingyan ke balik tempat tidur besi tua.

“Kau terluka?” tanya Qingyan panik.

“Bukan darahku.”

Ia menoleh ke Nenek Lan.

Wanita tua itu memegang bahu berdarah.

“Dia kena!”

Qingyan hendak bergerak, tapi Beichen menahan.

“Tunggu.”

“Dia terluka!”

“Dan penembak menunggu kau berdiri.”

Han memberi instruksi cepat lewat radio.

Tim luar bergerak mengepung gedung seberang.

Tembakan berhenti.

Hanya napas panik dan suara jauh langkah kaki tersisa.

---

Qingyan merangkak ke Nenek Lan.

“Bertahan. Tolong bertahan.”

Wanita tua itu tersenyum lemah.

“Kau mirip ibumu.”

Air mata Qingyan jatuh begitu saja.

“Siapa dia?”

Nenek Lan bergetar.

“Namanya Elena... dia baik... dia menyesal...”

“Menyesal apa?”

“Menjadikanmu...”

Suara napasnya putus-putus.

“Menjadikanku apa?”

Nenek Lan menggenggam liontin tua dari sakunya dan menyelipkannya ke tangan Qingyan.

“Jangan percaya... siapa pun yang ingin darahmu...”

Tatapannya beralih ke Beichen.

Lalu ia berbisik sesuatu yang membuat wajah Beichen berubah untuk pertama kalinya.

Sangat tipis.

Tapi nyata.

Wanita tua itu menghembuskan napas terakhir.

Qingyan membeku.

“Tidak... tidak...”

Ia mengguncang bahunya pelan.

Tak ada respons.

---

Ruangan menjadi sunyi.

Han masuk kembali.

“Sniper kabur. Kami kejar.”

Beichen tak menjawab.

Ia menatap jenazah Nenek Lan beberapa detik.

Lalu menatap liontin di tangan Qingyan.

Qingyan mengangkat kepala dengan mata merah.

“Apa yang dia bilang padamu?”

Beichen diam.

“Beichen.”

Ia menjawab pelan.

“Dia bilang... ayah kandungmu masih hidup.”

Jantung Qingyan terasa berhenti lagi.

Namun sebelum ia sempat bereaksi—

Han menerima panggilan dan wajahnya langsung pucat.

“Tuan... ada masalah besar.”

“Apa?”

Han menatap Qingyan.

“Media baru saja merilis arsip lama.”

Ia menelan ludah.

“Nama asli Nyonya tersebar ke publik.”

Qingyan berbisik,

“Apa namaku?”

Han menjawab pelan.

“Qin Yue.”

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!