NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden kamar utama, menyinari koper-koper yang terbuka di atas ranjang.

Ambar bergerak dengan tenang, melipat satu per satu kemeja milik Baskara dan beberapa potong pakaian miliknya ke dalam koper.

Meski gerakannya cekatan, tangannya sesekali bergetar saat menyentuh kain-kain halus itu.

Baskara memperhatikan punggung istrinya dari kursi roda.

Ia bisa melihat bahu Ambar yang sedikit tegang dan cara Ambar menarik napas dalam-dalam seolah sedang menahan sesuatu yang menyesak di dada.

"Ambar..." panggil Baskara lirih.

Ambar menoleh, mencoba memaksakan senyum tipis, namun matanya yang sedikit sembab tidak bisa berbohong.

Ia segera memalingkan wajah, kembali sibuk dengan koper seolah-olah itu adalah hal paling mendesak di dunia.

Baskara memajukan kursi rodanya, meraih tangan Ambar dan menghentikan aktivitasnya.

"Sayang, lihat aku."

Begitu Ambar menatapnya, Baskara bisa merasakan ketakutan yang disembunyikan istrinya di balik ketegaran itu.

"Raut wajahmu tidak bisa menipu, Ambar. Kalau kamu merasa seberat ini, kita tunda saja ya operasinya? Aku tidak apa-apa tetap seperti ini, asalkan kamu tidak perlu menderita karena cemas."

Mendengar tawaran itu, pertahanan Ambar runtuh.

Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Bukannya setuju untuk menunda, ia justru langsung menghambur ke pelukan suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher

Baskara.

"Tidak, Bas. Jagan pernah berpikir untuk menunda," bisik Ambar dengan suara yang teredam di dada suaminya.

"Aku hanya takut operasi ini gagal, takut melihatmu kesakitan. Tapi aku jauh lebih takut jika aku membiarkanmu melewatkan kesempatan ini hanya karena ego dan ketakutanku."

Ambar mengeratkan pelukannya, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu menenangkannya.

Ia melepaskan pelukan itu perlahan, menghapus air mata di sudut matanya, lalu berdiri dengan sorot mata yang kembali penuh tekad.

"Operasi ini adalah harapan kita, Bas. Aku mau melihatmu berdiri lagi, bukan hanya untukmu, tapi untuk masa depan kita," ucap Ambar sambil mengecup kening Baskara.

Ambar menutup koper dengan bunyi klik yang mantap.

Ia melangkah ke belakang kursi roda Baskara, meletakkan tangannya di pegangan kursi tersebut dengan mantap.

"Ayo, kita berangkat sekarang," ucap Ambar tegas.

Ia mulai mendorong kursi roda suaminya keluar dari kamar menuju lobi, di mana Thomas dan iring-iringan mobil hitam sudah menunggu untuk mengantar mereka menuju babak baru perjuangan hidup mereka di rumah sakit.

Lantai marmer rumah sakit internasional itu berkilau tertimpa cahaya lampu plafon yang terang.

Di lobi utama, tim dokter spesialis dari Jerman sudah berdiri rapi, mengenakan jas putih bersih yang memancarkan otoritas medis yang tinggi.

Baskara duduk tenang di kursi rodanya, sementara Ambar berdiri di sampingnya, menggenggam erat bahu suaminya.

Salah satu dokter di barisan depan, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki sorot mata yang sangat teduh, melangkah maju.

Ia melepaskan kacamatanya sejenak, menatap Ambar dengan pandangan yang penuh rasa tidak percaya.

Ambar terpaku. Wajah pria dengan struktur rahangnya, cara ia tersenyum tipis, sangat mirip dengan foto kusam yang selalu disimpan Ambar di dalam dompetnya. Foto mendiang ibunya.

"Ambar? Apakah itu kamu, Nak?" suara pria itu berat namun sarat akan kerinduan.

"Om Edward?"

Pria itu mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca. Edward adalah adik bungsu mendiang ibu Ambar, seorang dokter jenius yang puluhan tahun lalu pergi ke Eropa untuk menempuh pendidikan dan riset saraf, hingga kabarnya tak pernah terdengar lagi sejak keluarga Wijaya mengusir Ambar.

Tanpa memedulikan tatapan heran dari tim medis lainnya atau protokol rumah sakit yang kaku, Ambar langsung menghambur ke depan.

Ia memeluk tubuh Om Edward dengan sangat erat, menumpahkan kerinduan yang selama ini ia pendam sendirian.

"Om, ke mana saja? Aku kira, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi dari keluarga Ibu," bisik Ambar di sela isak tangisnya yang pecah.

Edward mengusap punggung keponakannya dengan sayang, persis seperti yang sering dilakukan ibunya dulu.

"Maafkan Om, Ambar. Konflik dengan ayahmu dulu membuat Om menutup akses dari Indonesia. Tapi begitu Om mendengar nama 'Baskara Mahendra' meminta bantuan tim bedah saraf terbaik, Om tahu, Om harus kembali untukmu."

Baskara yang melihat adegan itu hanya terdiam, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Ia sudah tahu identitas Edward sejak awal, dan inilah salah satu alasannya bersikeras memilih tim dokter ini.

Edward melepaskan pelukannya, lalu menatap Baskara dengan penuh hormat.

"Tuan Mahendra, terima kasih sudah menjaga keponakan saya yang cantik ini."

Ia kemudian kembali menatap Ambar, memegang kedua bahunya dengan mantap.

"Jangan takut lagi, Ambar. Kali ini, Om sendiri yang akan memimpin operasi suamimu. Om tidak akan membiarkan naga pilihanmu ini tetap berada di kursi roda. Kita akan buat dia berjalan lagi untukmu."

Ambar mengangguk mantap, merasa seolah beban di pundaknya berkurang separuh.

Kehadiran Om Edward bukan hanya membawa harapan bagi kaki Baskara, tapi juga memberikan kekuatan baru bagi jiwa Ambar yang selama ini merasa kesepian.

Persiapan medis dimulai dengan presisi tinggi. Tim perawat dengan cekatan memeriksa tanda-tanda vital Baskara, sementara Om Edward berdiri di ujung tempat tidur, memantau setiap grafik yang muncul di monitor dengan tatapan tajam seorang ahli.

Suasana kamar perawatan itu sangat tenang, hanya terdengar bunyi desis halus peralatan medis.

Seorang perawat dengan lembut memasang selang infus di punggung tangan Baskara.

Cairan bening mulai mengalir, membawa obat-obatan awal yang akan mempersiapkan tubuhnya untuk prosedur besar tersebut.

Baskara menatap istrinya yang berdiri di sisi ranjang dengan wajah yang berusaha tegar.

Perlahan, ia meraih tangan kiri Ambar, lalu melepaskan cincin pernikahan dari jarinya sendiri.

Dengan gerakan yang penuh arti, ia menyematkan cincin perak bermata berlian itu ke jari manis Ambar, tepat di samping cincin milik istrinya sendiri.

"Simpan ini untukku, Ambar," bisik Baskara, suaranya rendah namun penuh keyakinan.

"Aku akan mengambilnya lagi darimu setelah semuanya selesai. Aku akan memasangnya sendiri di jariku saat aku sudah bisa berdiri tegak di depanmu."

Ambar tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya kuat-kuat, membiarkan air mata haru jatuh membasahi punggung tangan suaminya.

Ia mengecup jemari Baskara, menyalurkan seluruh doa dan kekuatannya ke dalam sentuhan itu.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka lebar.

Dua perawat mulai mendorong ranjang Baskara menuju koridor panjang yang mengarah ke ruang operasi.

Ambar berjalan di samping ranjang, menggenggam tangan suaminya hingga batas terakhir di depan pintu ganda yang kedap suara.

Om Edward, yang kini sudah mengenakan masker bedah dan baju operasi lengkap, mengangguk mantap ke arah Ambar.

"Om masuk sekarang, Ambar. Serahkan suamimu pada Om dan tim. Kami akan melakukan yang terbaik."

Pintu ruang operasi tertutup rapat, dan lampu merah di atasnya menyala terang, menandakan prosedur telah dimulai.

Thomas, yang sejak tadi berdiri layaknya bayangan di kejauhan, melangkah mendekat.

Ia memberikan ruang bagi Ambar untuk bersandar di kursi tunggu VIP.

"Nyonya, silakan duduk," ucap Thomas dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Ia menyodorkan sebuah cangkir keramik yang mengepulkan aroma manis.

"Minumlah susu cokelat hangat ini. Tuan Baskara sudah memesan khusus agar saya memastikan Anda tetap menjaga stamina selama menunggu."

Ambar menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang merambat ke telapak tangannya.

Operasi ini diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih lima jam—lima jam yang akan menentukan masa depan sisa hidup mereka.

Di bawah pengawalan ketat Thomas dan bayang-bayang doa yang tak putus, Ambar memulai penantian terpanjang dalam hidupnya.

1
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
tiara
ga sabar liat reaksi keluarga Wijaya di hari pernikahan Baskara,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!