Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan
"Buruan! Mau berantem apa kondangan, sih?!" Sundel Bolong sudah diambang batas kesabarannya, sembari meringis menahan sakit, sebab lubang dipunggungnya di dicakar oleh kuku panjang Wewe Gombel.
"Apapun masalahnya, penampilan adalah yang utama!"
"Kelamaan! Buruan!" pekik Sundel yang sudah kesakitan.
kuntilanak Putih menyahut, lalu ikut membantu menarik rambut gimbal Wewe Gombel.
"Bangsat! Sakit—tau!" maki sosok berbuah melon molor tersebut. "Lepasin! Beraninya main keroyokan!" ia mencengkram kuat luka di punggung Sundel Bolong.
"Makanya jangan berisik! mengacaukan rencana kita—saja!" hardik Kuntilanak Putih, yang semakin memperkuat jambakannya.
Wewe Gombel tak ingin menyerah, meskipun di serang dari dua arah, dan melanggar norma persetanan, ia tetap melawannya, sampai titik terakhir.
"Bayi itu milikku, kalian tidak bisa mengambilnya. Itu adalah makanan bergizi gratis yang sudah lama ku tunggu-tunggu, agar aku terus awet muda dan abadi."
"Enak—saja! Kita juga udah nungguin lama! Kamu jangan coba menyerobot rezeki orang, dong!" Kuntilanak putih tak mau kalah, dan kali ini, ia menarik buah melon milik Wew Gombel yang molor sampai ke perut.
"Heei, kalian sudah pelecehan!"
Wewe Gombel mengerahkan seluruh tenaganya, dan membuat aroma amis darah dan juga busuk menguar jadi satu.
Karena kekuatan Wewe Gombel yang cukup besar, membuat Kuntilanak Putih dan juga Sundel Bolong terhempas kuat.
"Aaaaarrrggh ...." pekik keduanya, lalu terlempar kebawah.
Sementara itu, Ratih dan Bagas di dalam perjalanan menuju pulang. Udara dingin tak menyurutkan niatnya untuk terus menembus kabut yang membuat tulangnya terasa membeku.
"Gas, tolong kau tambah lagi kecepatannya, perasaan si Mbok tidak enak," ucapnya dengan nada bergetar, mebahan hawa dingin, dan juga khawatir.
"Ini juga sudah cepat, Bu. Namanya juga motor tua, ya kecepatannya terbatas," sahutnya.
"Semoga saja Alawiyah tidak kenapa-napa," doa Ratih dalam hati. Ia seolah ingin terbang saja, agar tiba di rumah dengan cepat.
Sedangkan Bagas, berusaha menambah laju motornya, menembus rasa dingin yang sangat kuat.
Sementara itu, Kuntilanak Putih dan Sundel Bolong yang terlempar ke bawah, dikagetkan oleh panjangnya antrian yang berada di depan rumah Ratih.
Keduanya melongo, dan kali ini, lawan mereka bukan hanya saja Wewe Gombel, tetapi ada Kuntilanak Merah, Kuntilanak Hitam, yang merupakan kiriman dukun entah darimana
Tak lupa juga dalam antrian itu, Kuntilanak Kuning, Siluman Ular, Siluman Kera, dan mereka mengetuk pintu, agar Bayu membuka pintu.
Kuntilanak Putih saling pandang dengan Sundel Bolong, dan bagaimana bisa mereka mengalahkan sosok kuat dalam antrian.
Aroma kelahiran bayi Alawiyah dan juga Bayu, membuat mereka terpikat, dan tak dapat menahan rasa ingin mencicipinya.
"Alamak, Kun. Kenapa antriannya mengular begini?" Sundel Bolong menggaruk kepalanya, dan ini adalah masalah yang lebih rumit.
Kuntilanak Putih beranjak bangkit, lalu berkacak pinggang menatap semua setan yang ada.
Wewe Gombel yang baru saja membuat Kuntilanak Putih dan juga Sundel Bolong diklahkan, ikut turun ke bawah dengan melompat hingga memantulkan buah melonnya.
Ia juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.
"Weei! Kalian ngapain disini?! Balik!" hardik Wewe Gombel dengan penuh amarah.
"Lu, kira, kita disini ngantri dari lama buat ngantri sembako?! Ya ngantri tumbal—lah!" Sahut Kuntilanak Hitam yang merasa paling kuat diantaranya.
Wajahnya tampak sinis saat menatap
"Eh, gak bisa gitu, dong. Ini sudah menjadi jatah kami! Buruan bubar!"
Wewe Gombel merasa tak gentar dengan tantangan Kunti Hitam yang tampak sok jagoan.
"Eh, nantangin pula, emang cari masalah si ne—nen molor ini!" Ratu Ular juga tidak terima saat diusir oleh Wewe Gombel.
Lalu yang lainnya ikut menantang Wewe Gombel, dengan gaya sedang ingin tawuran para Demit antar desa.
Mereka melakukan pengeroyokan terhadap Wewe Gombel, ditengah kobaran api yang menghanguskan rumah Novita dan Sarinah.
Sedangkan momen itu dimanfaatkan oleh Sundel Bolong dan juga Kuntilanak Putih untuk menyelinap, lalu pergi ke arah belakang.
"Kita cari jalan masuk dari dapur, pasti ada celah but masuk."
Sundel Bolong menyeret rekannya menuju arah belakang.
Setibanya di arah dapur, keduanya saling menatap pintu, lalu mengamati celah ventilasi udara.
"Kita masuk dari situ."
Sundel Bolong menunjuk ke arah kepingan papan yang berlubang.
Dan biasanya digunakan untuk lubang angin, pembuangan asap dapur.
"Yuk, buruan!" ajak kuntilanak Putih, dan ia masuk terlebih dahulu.
Sundel Bolong menyusul, dan ia melesat, lalu menyelinap dari sana.
Akan tetapi, tubuhnya tersangkut di tengah, sebab ukurannya lebih bongsor dari Kuntilanak Putih.
"Kun, tolongin, dong!" ia mengulurkan tangannya, dan dengan sigap, Kuntilanak Putih menariknya, lalu membuat sosok itu lolos, dan menimpa tubuh si Kunti.
Braaak
"Aaaw, sakit tau!" Kuntilanak Putih menyingkirkan tubuh rekannya, dan bergegas menyisir rambutnya.
Ia berjalan menuju kamar, lalu diikuti oleh Sundel Bolong.
Saat tiba diambang pintu, ia dikejutkan oleh Dalli yang kembali nangis kejer.
Suara tangisannya membuat Bayu yang sedang menggendong Bayinya menggunakan kain jarik terkejut.
"Momok, momok!" tunjuknya ke arah Kuntilanak Putih yang ternyata lupa mengganti casing.
"Astaghfirullah!" pekik Bayu, saat melihat ke arah yang ditunjuk Dalli.
Dimana sosok berwajah putih dengan dengan kulit pucat sedang berdiri di depan pintu.
"Dasar Setan! Pergi, pergi, Kau!" Bayu mengambil sapu lidi yang biasa digunakan untuk membersihkan ranjang, dan menghampiri sosok Kuntilanak Putih.
"Hah!" Kuntilanak Putih yang tanpa sengaja terpantul di cermin, juga kaget, sebab ia ketahuan wujud aslinya. Ia memegangi wajahnya dengan mata yang membulat, semakin menambah kengerian yang ada.
Dalli terus merinding ketakutan, dan semakin menangis.
Bayu yang menghampirinya dengan sapu lidi, membuat sosok itu melesat kebelakang, lalu menempel dinding rumah, dan menghindari pukulan sang pria.
Sedangkan Sundel Bolong sibuk membuka wadah plasenta yang ditutup menggunakan ember dan diberi pemberat.
Sementara itu, Bayu mengejar Kuntilanak, dengan Bayi yang masih digendongnya, dan sosok itu menghindar dari satu pukulan ke pukulan lainnya.
Saat yang tepat, sosok itu melesat cepat, lalu terbang diatas kepala Bayu, sembari mengayunkan cakarnya.
Craaaas ....
Ujung kukunya berhasil melukai punggung Bayu.
"Aaargh ...
Pekik sang pria, sembari meringis menahan rsa sakit dan juga perih dati luka yang diciptakan oleh Kuntilanak Putih.
Bayu berbalik arah, dan didepannya, sosok Kuntilanak Putih sedang menatap sinis, tatapannya tak lekang pada bayi yang digendong oleh pria yang ia anggap tampan.
"Serahkan bayi iti, dan aku akan membiarkanmu tetap selamat!" Kuntilanak Putih menawarkan.
"Kau kira ini bayi ayam, seenaknya saja kau memberikan tawaran!" cibir Bayu, dan sapu ditangannya, menjadi senjata yang paling ampuh, lalu menyiapkan kuda-kuda pertahanan.
Sedangkan Bagas dan juga Ratih, baru saja tiba didepan rumahnya yang berpagar bambu, dan keduanya dikejutkan oleh penampakan yang cukup ekstrem.
Dimana Wewe Gombel diamuk massa persetanan, dan membuatnya bbak belur.
"Astaga, cucuku ternyata sudah lahir.," gumamnya dengan rsa senang, sekaligus khawatir dengan apa yang dilihatnya.
waduhhh gaaas jagan itu istri adik mu lho
Ya allah, kasihan banget keluarganya mbok Ratih.. 😓