Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jadi kau sudah tahu
Asap hitam membubung tinggi ke langit, menutupi rembulan yang kini tampak pucat di balik tabir jelaga.
Kota Teratai Merah telah mati; yang tersisa hanyalah kerangka bangunan yang merintih di bawah lahapan api.
Di tengah puing-gerbang yang hancur total, keheningan menyelimuti segalanya, sebuah keheningan yang terasa lebih menyakitkan daripada ledakan sebelumnya.
Tiba-tiba, tumpukan batu besar di sisi hutan bergeser. Suara gesekan batu yang berat memecah kesunyian malam.
Sebuah tangan yang tertutup cairan hitam pekat mencengkeram bongkahan reruntuhan.
Dengan gerakan yang patah-patah dan penuh perjuangan, sesosok pria merangkak keluar dari liang kematiannya.
Jubah hitamnya telah hancur, menyisakan kulit yang dipenuhi luka bakar emas yang masih berdesis.
Ia berdiri dengan goyah, kakinya gemetar saat menapak di atas tanah yang masih panas. Darah hitam menetes dari lubang besar di jantungnya, bekas tusukan Pedang Penjaga Langit.
Namun, alih-alih mati, niat jahat yang menjadi inti eksistensinya justru memaksanya untuk terus melangkah.
Mo Tian menyeret kakinya menuju tumpukan batu di mana Tian Shan terhempas. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah yang langsung menguap karena panas tanah. Matanya yang gelap total kini berkilat dengan kegilaan yang dingin.
Ia sampai di depan tubuh Tian Shan.
Sang Legenda Naga terbaring kaku. Pedang hitam milik Mo Tian masih tertancap dalam di dadanya, menembus paru-paru dan hampir mengenai jantungnya.
Napas Tian Shan sangat tipis, hampir tak terdengar di tengah deru angin api. Darah merah segar merembes keluar, membasahi sisa jubah putihnya yang kini berubah menjadi warna kirmizi.
Mo Tian berlutut di samping tubuh "saudaranya" itu. Ia menjulurkan tangannya yang gemetar, jemarinya yang panjang dan pucat mengarah tepat ke dahi Tian Shan.
"Aku akan mengambilnya kembali," bisik Mo Tian, suaranya parau dan pecah. "Kita akan menjadi satu kembali. Kehampaan ini ... kesakitan ini ... akan berakhir jika jiwa kita bersatu secara paksa."
Energi hitam mulai menari di ujung jari Mo Tian, siap untuk menyedot paksa esensi jiwa Tian Shan.
Namun, saat telapak tangannya hampir menyentuh kulit dingin Tian Shan, Mo Tian mendadak membeku.
Pupil gelap Mo Tian melebar. Melalui penglihatan spiritualnya, ia melihat sesuatu yang mengerikan.
Jiwa Tian Shan yang seharusnya bersinar keemasan kini tampak transparan.
Garis-garis cahaya yang membentuk esensi keberadaannya perlahan-lahan rontok, menguap menjadi butiran cahaya kecil yang terbawa angin malam.
Jiwa itu tidak hanya terluka; jiwa itu sedang terkikis.
Hukum waktu yang pernah dilanggar oleh Tian Shan kini mulai menuntut bayarannya.
Kehadiran Mo Tian di garis waktu ini telah menciptakan anomali yang mustahil untuk diperbaiki.
Mo Tian menarik kembali tangannya seolah tersengat listrik. Seringai gila di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang luar biasa dalam.
Ia menatap wajah Tian Shan yang pucat pasi, menyadari bahwa tak ada gunanya menggabungkan dua jiwa yang keduanya sedang menuju ambang penghapusan oleh alam semesta.
"Jadi ... kau sudah menyadarinya?" gumam Mo Tian, suaranya kini terdengar sangat hampa, kehilangan semua nada kemarahan.
Ia terdiam sejenak, membiarkan hujan abu jatuh di antara mereka berdua.
"Pada akhirnya, akhir hidup kita sudah dapat ditebak," lanjutnya dengan tawa kecil yang getir. "Kita hanyalah riak di air yang mencoba melawan arus sungai waktu. Kita memecah diri kita demi sebuah harapan, namun yang kita dapatkan hanyalah kehancuran yang lebih lambat."
Mo Tian berdiri perlahan. Ia menatap pedang hitamnya yang masih bersarang di dada Tian Shan.
Dengan gerakan yang tenang namun brutal, ia mencengkeram hulu pedang yang tertanam di jantungnya sendiri, Pedang Penjaga Langit milik Tian Shan.
SRAK!
Mo Tian mencabut pedang itu dari dadanya tanpa ekspresi. Darah hitam menyembur keluar, namun ia bahkan tidak berkedip. Ia membiarkan pedang itu jatuh berdenting di atas ubin batu yang pecah.
Ia tidak mengambil pedangnya yang tertancap di dada Tian Shan. Ia membiarkan senjata itu tetap di sana sebagai paku yang memastikan Tian Shan tetap terikat pada rasa sakitnya.
"Tetaplah terbaring di sana, Jiwa Utama," ucap Mo Tian sambil berbalik. "Saksikanlah bagaimana dunia yang ingin kau selamatkan ini terbakar menjadi abu. Aku akan pergi ... mencari jiwa yang mencuri tubuh utama kita dan ingat, para pendekar abadi pasti sudah mulai menyadari keberadaan kita."
Mo Tian berjalan pergi menjauh ke arah kabut asap yang pekat. Sosoknya perlahan-lahan tertutup oleh kobaran api yang kembali membesar, meninggalkan siluet yang semakin mengecil hingga benar-benar hilang dari pandangan.
Di bawah reruntuhan gerbang Kota Teratai Merah yang hancur, Tian Shan hanya bisa terbaring. Matanya yang setengah terbuka menatap ke arah langit yang kelam.
Darah terus mengalir, dan pedang hitam di dadanya terasa seberat gunung.
Di tengah kesendirian itu, ia merasakan jiwanya semakin menipis, seolah-olah setiap detik yang berlalu adalah bagian dari dirinya yang dihapus dari sejarah.
Hening kembali menguasai. Hanya ada suara api yang berpesta di atas reruntuhan, menanti apakah dia yang sekarat ini akan menyerah pada kegelapan, ataukah masih ada sisa keajaiban di dalam jiwanya yang sedang terkikis.
lanjut thor💪