NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Dunia Masa Depan / Sistem / Sci-Fi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Motor tua yang dikendarai Pam dan Bumi bergetar hebat. Mesin-mesinnya seperti teriak, ingin minta berhenti atau akan meledak dan pecah ke seluruh arah. Tapi Pam yang mengikat rambutnya dan memakai jaket kulit ketat dan celana jins, tidak menghentikan tangannya yang memakai sarung tangan untuk terus ngegas.

Bumi melihat ke belakang, ada pasukan Led Hamlich mengejar. Sedangkan di depan mereka juga ada mobil-mobil terbang, bersiap mengepung.

“Gimana ini?” tanya Bumi ketakutan. “Ada senjata yang bisa aku gunakan?”

Pam terdiam. Dia malah melajukan motornya terus ke arah para mobil pasukan itu.

“Pam! Kenapa kamu malah terus mendekati mereka!” tanya Bumi yang teriak kencang di dalam helm yang mengukung kepalanya dengan kuat. Tangannya memeluk pinggang Pam dengan hati-hati agar tidak menyentuh payudara Pam atau pun paha Pam.

Pam diam saja, fokus mengendarai motor tua itu.

“Pam! Apa kamu sudah gila!” Bumi memukul pundak Pam yang malah seperti hendak menyerahkan diri ke barisan pasukan.

“Tidak,” jawab Pam singkat, bersamaan dengan dia membelokan motornya ke dalam gang sempit di sebelah kirinya.

Saking sempitnya, kaki dan bahu Pam dan Bumi berhimpitan dengan dinding bangunan futuristic yang terbuat dari metal tapi sudah berjamur.

Bumi memejamkan mata, menahan sakit.

Tiba-tiba mereka berhenti di ujung gang buntu.

Pam membuka helm dan membuangnya, lalu memanjat dinding di depannya. Dinding itu tingginya empat meter. Ada tiang air di sisi dekat tembok lainnya. Bumi ikut memanjat tiang itu. Pam lalu melompat ke arah balik dinding dengan sekali lompat, sampai di gedung sebelahnya.

Bumi terpaku.

“Ayo, cepat!” Pam teriak sambil melihat ke udara, kalau-kalau pasukan itu datang mengejar.

Bumi melompat mengikuti Pam. Pam masuk ke gedung itu dari jendela bundar yang bisa dibuka dari bawah. Agak sedikit memaksa, untung Pam dan Bumi badannya langsing, mereka bisa menyelinap masuk.

Keduanya lari berkelok turun tangga, kanan dan kiri. Bumi sudah tidak tahu arah utara, timur, selatan. Bumi fokus melihat punggung Pam dan kunciran ekor kudanya. Sampai akhirnya, mereka berhenti di sebuah pintu melengkung.

Pam membuka pintu itu. Ternyata sebuah pipa yang besar dan sangat panjang. Pipa itu seperti pipa saluran pembuangan air. Mereka jalan menyusuri pipa gelap itu sambil meraba dinding.

“Kita ke mana?” tanya Bumi.

“Ssst!” Pam terus meraba dinding, jalan dan akhirnya sampai di pertigaan pipa. Dari ujung pertigaan itu ada sedikit cahaya kecil.

Bumi dan Pam tiba di cahaya yang ternyata adalah sebuah lubang intip di tengah pintu.

“Kita sampai!” kata Pam berbisik.

Pam mengetuk pintu itu. Pintu terbuka. Pam dan Bumi masuk ke dalamnya. Sebuah ruangan besar seperti kafe atau bar tapi terbuat dari metal. Di ujung ruangan ada meja besar yang berisi alat makanan dan minuman.

Ada berbagai macam bentuk orang di sana. Masing-masing duduk di meja bundar. Ada meja besar segi empat di tengah ruangan. Salah satunya seorang pria gondrong dan brewok. Pam mendekati pria itu.

Mungkin manusia mutant, pikir Bumi.

Pam mengenalkan Bumi dengan pria itu, yang ternyata tangan kanannya berupa capitan kepiting.

“Halo. Aku Jensen,” katanya menjabat tangan Bumi dengan hati-hati.

“Aku Bumi,” jawab Bumi.

“Dia ini orangnya?” tanya Jensen pada Pam.

Pam mengangguk.

“Ada apa, Pam?” tanya Bumi pada Pam.

“Duduk lah!” kata Jensen yang juga duduk di kursi di meja besar itu.

Bumi duduk di sebelah Pam yang membuka jaketnya, sehingga hanya memakai tanktop putih ketat biasa. Memang udara di ruangan itu sangat pengap. Ada hembusan angin dari lubang ventilasi yang ada di langit-langit, tapi tidak membuat ruangan itu dingin.

“Mereka ini yang bantu aku dan teman-teman pergi cari timur selatan, sebelum akhirnya ketemu kamu di suku maya immortal itu,” jelas Pam. “Ketika kita kembali, aku minta diturunkan Sally, ya aku ke sini.”

“Lalu?” tanya Bumi bingung. “Kenapa mereka jadi mengejar aku?”

“Jadi, ada yang mengetahui kamu bukan penduduk sini,” jelas Jensen. “Tapi itu bukan masalah. Bagaimana pun cepat atau lambat, kamu pasti akan ketahuan. Yang jadi tujuan adalah, kita harus bisa masukin kamu ke mesin waktu.”

“Prof Keiko?” tanya Bumi.

Pam menggelengkan kepala, “Ternyata Prof Keiko ditahan oleh Led Hamlich.”

“Karena?”

“Dia menyuruh anaknya, Yuta untuk balik ke tahun 6020 untuk membunuh Led Hamlich, untuk memerpbaiki keadaan,” jelas Jensen.

“Tapi anaknya itu tidak kembali,” Pam menunduk sedih.

“Apa kita bisa ke tahun 6020 dan membantunya?” kata Bumi tanpa memikirkan bisa atau tidak.

“Karena itu, aku bawa kamu ke sini,” jawab Pam. “Jensen akan bantu kita memakai mesin waktu milik Prof Keiko dan membawa kamu balik ke tahun di mana Yuta pergi mau membuntuh Led Hamlich.”

Bumi terdiam sejenak, seperti ada yang aneh.

“Kamu bersedia?” tanya Pam.

“Aku rasa kalau pun aku berhasil, kita berhasil mencari Yuta dan emmbantunya membunuh Led Hamlich, berarti harusnya Led Hamlich seakrang itdak ada dan mati kan?”

“Ya, berarti sekarang dunia lebih aman, betul sekali,” sahut Pam.

“Tapi…, sekarang, tidak demikian,” Bumi bingung soal time paradox.

“Karena time paradox tidak berlaku untuk time line awal,” jelas Jensen. “Setelah kita melakukan time paradox pertama, maka waktu akan berubah di time paradox selanjutnya.”

Bumi terdiam.

“Kita nggak ada waktu lagi, harus sekarang,” Jensen bangkit lalu menlangkah ke sebuah pintu di sebelah meja barista.

Pam menarik tangan Bumi dan mengajak Bumi untuk mengikutinya menyusul Jensen.

“Tapi bagaimana dengan Nuri? Kakakku!” Bumi menatap Pam.

“Kita bisa kembali dan ketika semuanya sudah baik-baik saja, Led Hamlich mati. Kamu dan kakak mu bisa pulang dengan tenang,” jawab Pam.

Bumi mengangguk, terpaksa setuju. Ia senang mendengar bisa kembali ke 2026, tapi mungkin akan merindukan tangan Pam yang memeagngnya dengan lembut.

Mereka masuk ke ruangan yang berisi sebuah kursi, seperti kursi dokter gigi, dengan alat-alat mengelilinginya. Kursi itu besar, mungkin cukup untuk empat orang.

Pam langusng duduk di kursi itu, “Aku akan nemenin kamu!”

Bumi mengangguk, lalu duduk di sebelah Pam. “Kita langsung ke sana?”

“Iya, sekarang. Nggak ada waktu lagi,” kata Pam.

“Mungkin pasukan Led Hamlich sekarang sedang mengarah ke sini!” kata Jensen.

Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Ada tembakan berdentum berkali-kali, berentetan, sepreti tidak bisa berhenti sedang menghabisi apa yang ada di depannya.

“Sekarang!” teriak Pam memakai sabuk pengaman.

Bumi mengikutinya.

Jensen langsung menyalakan mesin sepreti meja dan lemari yang menempel ke dinding. Jauh dari kursi dokter gigi itu. Jensen sibuk menekan berbagai tombol. Bumi melihat ada orang yang masuk ke dalam ruangan, tapi kemudian matanya tidak bisa melihat apa-apa.

Gelap!

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!