"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: HARUM MAUT DAN SINYAL DARI SURGA
Pagi itu, suasana di Mansion Ryker terasa sedikit lebih tenang. Nael masuk ke kamar dengan sebuah kotak beludru hitam di tangannya. Wajahnya tampak sedikit ragu, namun ia ingat kata-kata Jayden tadi pagi di telepon yang terdengar sangat tulus: "Nael, aku minta maaf soal kejadian di pesta. Ini ada parfum langka dari Prancis untuk Alurra, sebagai tanda perdamaian."
Nael, yang selama ini merindukan kedamaian di keluarganya, ingin mempercayai bahwa sepupunya itu akhirnya menyerah.
Alurra sedang asyik mencoba memakai lipstik (yang berakhir belepotan di pipinya) saat Nael mengetuk pintu.
"Nael! Lihat! Aku sudah seperti mawar merah yang mekar, kan?" Alurra menoleh dengan cengiran lebar.
Nael tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ia mendekat dan menyodorkan kotak itu. Ia mengetik di ponselnya: "INI HADIAH. JAYDEN MEMINTA MAAF. DIA MEMBERIKAN INI UNTUKMU."
Alurra biasanya sangat peka. Matanya yang ajaib bisa mendeteksi racun bahkan dalam setetes embun. Namun, karena kotak itu berada di tangan Nael—pria yang ia percayai dengan seluruh jiwanya—Alurra menurunkan semua pertahanannya. Ia tidak mendeteksi aura kotak itu. Baginya, apa pun yang datang dari tangan Nael adalah suci.
"Wah! Hadiah? Untukku?" Alurra bertepuk tangan riang. "Ular Amis itu ternyata tahu cara menyuap Ratu Bidadari ya?"
Alurra membuka botol kaca kecil di dalamnya. Botol itu berisi cairan bening yang terlihat sangat elegan, namun di dalamnya tersembunyi Minyak Gagak Pemakan Bangkai kiriman Ki Gendeng.
"Baunya pasti enak, kan Nael?" Alurra mendekatkan botol itu ke hidungnya dan menghirupnya dalam-dalam.
DEGG.
Detik itu juga, pupil mata Alurra mengecil. Cairan itu bukan harum bunga, melainkan bau busuk kematian yang menyamar. Begitu partikel minyak itu masuk ke paru-parunya, Alurra merasa seolah ada ribuan jarum berkarat yang menusuk jantungnya.
"Ugh... Na-Nael..." Alurra mencengkeram dadanya. Botol kaca itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Nael panik. Ia segera menangkap tubuh Alurra yang limbung. Wajah Alurra yang tadinya merona kini berubah pucat pasi seputih kertas. Keringat dingin bercampur air mata mulai menetes.
"Sesak... Nael... dadaku... seperti terbakar..." isak Alurra parau. Suaranya bukan lagi cempreng, melainkan bergetar penuh kesakitan.
Nael berteriak tanpa suara, matanya membelalak ketakutan. Ia mencoba menggendong Alurra ke ranjang, namun tiba-tiba sesuatu yang luar biasa terjadi.
Tubuh Alurra tidak lagi hangat. Alih-alih meredup seperti rencana Jayden, kekuatan bidadari agung di dalam dirinya justru bereaksi secara defensif terhadap racun bumi yang kotor itu. Cahaya emas murni yang sangat menyilaukan meledak dari tubuh Alurra.
BOOOMM!
Kaca jendela kamar hancur berkeping-keping karena tekanan energi yang dahsyat. Cahaya itu membentuk pilar emas raksasa yang menembus atap mansion, melesat tinggi ke angkasa, membelah awan hitam Jakarta hingga tembus ke lapisan langit tertinggi.
Pilar cahaya itu adalah Sinyal Kematian Bidadari. Sebuah tanda darurat yang hanya keluar jika seorang anggota keluarga kerajaan langit sedang berada dalam bahaya maut.
...****************...
Di dimensi yang jauh, di singgasana cahaya yang tak terjangkau mata manusia, seorang pria dengan jubah emas berkilauan—Dewa Matahari—tiba-tiba berdiri dari takhtanya. Matanya yang membara seperti api abadi menatap ke arah koordinat Bumi.
"Alurra..." suaranya menggelegar, membuat seluruh surga bergetar. "Gadis kesayanganku... dia terluka di tempat pelarian kotor itu!"
Di sampingnya, Dewa Langit yang menguasai badai juga bangkit dengan amarah yang meluap. "Beraninya makhluk-makhluk tanah itu menyentuh murni-nya surga! Mereka menggunakan ilmu hitam paling busuk untuk mencelakainya!"
Langit di atas Jakarta yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi merah darah. Guntur yang suaranya sepuluh kali lebih keras dari biasanya mulai bersahutan tanpa henti. Angin puting beliung mulai terbentuk di sekitar mansion Ryker, seolah-olah alam semesta sedang murka.
...****************...
Kembali ke kamar, Nael hanya bisa berlutut di samping Alurra yang kini dikelilingi aura cahaya yang sangat panas. Nael menangis, air mata membasahi pipinya saat melihat Alurra yang terengah-engah dalam cahaya itu.
Alurra membuka matanya sedikit, menatap Nael dengan tatapan pilu. "Nael... maafkan aku... sepertinya... Ayahku sudah tahu aku di sini..."
Alurra meraih tangan Nael, namun tangannya perlahan mulai terlihat transparan, seperti butiran cahaya yang siap terbang.
"Jangan lepaskan aku, Nael..." bisik Alurra sebelum akhirnya ia jatuh pingsan di pelukan Nael, sementara pilar cahaya di atas mereka semakin menguat, memanggil "pasukan langit" untuk segera turun dan menjemput paksa bidadari mereka yang terluka.
...****************...
Di tempat lain, Jayden yang sedang memantau dari jauh terpaku di depan jendela kantornya. Ia melihat pilar cahaya raksasa itu dengan mulut terbuka. "Apa... apa itu? Kenapa bukannya sakit, dia malah berubah jadi lampu raksasa?!"
Jayden baru menyadari satu hal: Ia tidak hanya mengusik Nael, ia baru saja memicu perang antara Bumi dan Langit.
...****************...
aku suka namanya Nael ....