Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Darah yang Terpendam
Malam itu gelap dan mencekam. Angin berhembus kencang membawa bau garam dan minyak tanah khas area pelabuhan tua.
Arga datang tepat waktu. Ia benar-benar datang sendirian, tanpa pengawal, tanpa polisi. Hanya ada dia, tekad baja, dan rasa takut yang luar biasa akan keselamatan istrinya.
Di dalam sebuah gudang besar yang kosong melompong, cahaya lampu sorot tunggal menyala tepat di tengah ruangan.
Di sana, Clara terikat kuat di sebuah kursi. Matanya tertutup, masih pingsan akibat efek semprotan tadi. Di sebelahnya berdiri Riko dengan wajah sombong, dan tepat di depan, duduk santai Tuan Bara di kursi mewah yang didatangkan khusus.
"Datang juga kau, bocah..." ucap Tuan Bara pelan namun suaranya menggema di ruangan besar itu.
"LEPASKAN ISTRIKU!!!" teriak Arga, suaranya meledak menahan amarah. "Aku sudah datang seperti permintaanmu! Sekarang biarkan dia pergi!"
Tuan Bara tertawa kecil, perlahan berdiri dan berjalan mendekat. Ia menatap Arga dari atas ke bawah dengan tatapan aneh. Bukan tatapan benci, tapi tatapan yang sulit dijelaskan... campuran antara kemarahan dan... kesedihan?
"Tenang... tenang... Kita belum ngobrol banyak," kata Bara santai. "Kau tahu Arga... Aku sudah menunggu momen ini selama lebih dari dua puluh tahun."
"Apa maksudmu? Kita baru kenal beberapa bulan!" bentak Arga.
"Kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu sangat baik. Bahkan sebelum kau lahir sekalipun," Bara berhenti tepat di hadapan Arga. "Aku ingin bertanya sesuatu. Siapa nama ayahmu?"
"Ayahku bernama Surya! Dan kau pembunuhnya?!" serang Arga siap menerkam.
Tapi Bara justru tersenyum getir. "Surya... Ya... Namanya Surya. Dan tahukah kau... siapa aku ini baginya?"
Bara menunjuk dadanya sendiri.
"Aku adalah Bara Wirawan, adik kandung dari Surya. Berarti... aku ini PAMANMU SENDIRI, Arga!"
JLEBB!!!
Dunia seakan berhenti berputar.
Arga terpaku, matanya membelalak lebar tak percaya. "Apa... apa yang kau omongkan?! Jangan mengada-ada! Ayahku tidak pernah cerita punya adik!"
"Dia tidak cerita karena dia yang mengusirku! Dia yang merebut segalanya dariku!" Tuan Bara tiba-tiba berubah emosional, matanya memerah. "Dulu, bengkel dan tanah itu seharusnya jadi hakku! Tapi Ayah kita lebih menyayangi Surya! Dia kasih semuanya ke kakakmu itu! Dan dia biarkan aku hidup menderita!"
"JANGAN BOHONG!!!" Arga tak terima. "Ayahku orang baik! Dia tidak mungkin tega!"
"Baik katamu?!" Bara tertawa miris. "Dia baik ke semua orang kecuali ke aku! Makanya aku berjanji pada diriku sendiri, suatu hari nanti aku akan punya segalanya lebih dari dia! Dan aku akan hancurkan anaknya agar rasa sakitku terbalas!"
Arga gemetar hebat. Ini terlalu gila. Musuh terbesarnya ternyata adalah pamannya sendiri? Darah dagingnya sendiri?
"Jadi... semua ini... karena dendam masa lalu? Karena iri hati?" tanya Arga parau.
"Iya! Aku iri! Aku benci! Melihat kau sukses, melihat kau punya istri cantik, aku jadi ingat betapa bahianya Surya sementara aku sengsara!" Bara menunjuk wajah Arga. "Kau mirip sekali dia! Sama-sama sok suci! Sama-sama menyebalkan!"
Di sudut ruangan, Clara perlahan membuka matanya. Kepalanya masih pusing, tapi ia bisa mendengar percakapan itu jelas. Ia menangis terisak melihat suaminya sedang dalam situasi yang begitu rumit.
"Mas Arga... jangan percaya dia... dia gila..." bisik Clara lemah.
Riko langsung menutup mulut Clara kasar. "Diam kau!"
Arga menatap pamannya itu dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, dan juga sedih.
"Jadi... kau mau membunuh keponakanmu sendiri? Kau mau menyakiti istri keponakanmu sendiri demi dendam bodoh ini?" tanya Arga.
"Kenapa tidak? Surya juga sudah membunuh mimpiku dulu," jawab Bara dingin. "Riko, ambil bukti palsunya. Kita buat laporan kalau mereka korupsi, lalu kita habisi nyawa mereka. Kecelakaan kerja, katakanlah."
Riko tersenyum jahat, mengeluarkan pistol dari balik jasnya. "Siap Bos."
Situasi semakin genting. Mereka berdua benar-benar akan dibunuh!
Namun, tiba-tiba...
TUUUUUT!!! TUUUUUT!!!
Sirine polisi menderu sangat keras dari luar gudang! Cahaya biru merah menerangi dinding gudang!
"POLISI!!! KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA!!!"
Wajah Tuan Bara dan Riko pucat pasi.
"APA?! BAGAIMANA BISA?!" teriak Bara panik. "Kau bilang tidak ada yang tahu tempat ini?!"
"Aku... aku tidak tahu Bos! Kita aman!" Riko juga ikut panik.
Arga justru tersenyum tipis.
"Kau pikir aku benar-benar bodoh datang tanpa persiapan, Paman?" ucap Arga pelan. "Sejak tahu Riko pengkhianat, aku sudah pasang pelacak di dompetnya. Dan kau... kau terlalu banyak bicara soal masa lalu, memberiku waktu yang cukup buat pasukan berkumpul."
"Kau... kau menjebakku?!" Bara murka.
"Aku hanya membiarkan kau menghancurkan dirimu sendiri dengan mulutmu sendiri. Sekarang... permainan sudah selesai."
Pintu gudang terbuka lebar. Puluhan polisi dan pasukan khusus mengepung tempat itu.