" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 ( Awal Mula )
BAB 1: DI BAWAH POHON RANDU
Suasana senja mulai menjelma di kampung yang sunyi itu. Langit yang tadinya biru cerah kini perlahan berubah warna menjadi oranye kemerahan, menyebar seperti lukisan cat minyak yang dioles perlahan di cakrawala. Udara mulai terasa dingin, diselingi hembusan angin lembut yang mengusap dedaunan. Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan, bergantian dengan suara cicak yang berlarian di tembok-tembok rumah.
Hujan gerimis yang baru saja reda membuat jalanan tanah liat menjadi licin dan mengeluarkan aroma khas bumi basah yang menenangkan. Di kejauhan, beberapa rumah mulai menyalakan lampu bohlam yang memancarkan cahaya kuning hangat, sementara suara adzan Maghrib dari masjid terdekat mulai terdengar lembut, menandakan waktu sore segera berganti malam.
Di bawah kanopi pohon randu yang berdiri kokoh di pinggir jalan kecil, seorang pemuda duduk bersandar pada batang pohon yang besar dan kasar permukaannya. Rambutnya masih sedikit basah terkena sisa air hujan yang menetes dari dedaunan, sementara matanya menatap jauh ke arah ufuk yang mulai gelap.
"Perkenalkan, namaku Langit. Tidak ada nama panjang, tidak ada gelar di belakangnya... Hanya LANGIT. Seperti itulah semua warga memanggilku."
Usia ku sekitar sembilan belas tahun, meski aku sendiri tak pernah tahu pasti kapan tepatnya aku lahir. Itu adalah salah satu rahasia yang selalu disimpan erat oleh Nenek.
Aku tinggal bersama Nenekku, panggil saja dia Nenek Wati. Usianya kini menginjak enam puluh tahun, seorang janda pensiunan yang sudah renta. Rumah kami tidak besar, namun selalu terasa hangat dengan aroma daun jeruk purut yang dijemurnya setiap pagi.
"Aneh..." batinku bergumam.
Tanpa sadar, aku kembali memikirkan namaku sendiri.
"Langit..." bisikku pelan, sambil menatap langit senja yang mulai memerah. "Sama seperti langit yang luas tanpa batas, tapi aku sendiri tidak tahu dari mana asal-usulku. Bukankah itu aneh?"
"Ya jelas aneh! Namaku bagus kan? LANGIT... Seperti kanopi biru yang menjaga dunia ini. Tapi kenapa aku merasa seperti tidak punya tempat berpijak yang nyata?"
"Bukankah nama itu agung, sama seperti Tuhan yang menciptakan langit sebagai atap bumi? Sedangkan aku... Hanya 'Langit', sebuah sebutan yang terasa hampa dan tanpa arti. Dasar siapa pula yang memberiku nama seperti ini..."
Tanpa disadari oleh bocah yang asyik berdialog dengan dirinya sendiri itu, beberapa pasang mata tampak menatap tajam ke arahnya dari kegelapan.
Mereka hanya mengamati tanpa suara, tanpa gerakan. Apakah mereka manusia biasa... atau makhluk dari alam lain? Entahlah.
"Hmmmmmm..."
Pemuda itu bergumam seraya mengelus tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin dan merinding.
"Jangan suka mengganggu kalau kalian tidak mau diganggu." ucapnya pelan namun tegas, seakan merasakan kehadiran sesuatu yang tidak lazim, meski matanya tak melihat siapapun.
Setelah berkata demikian, ia menengok ke kiri, ke kanan, dan menatap ke atas, namun tampak kosong. Ia pun termenung, teringat obrolan warga yang mengatakan bahwa pohon randu tempat ia berteduh ini adalah tempat yang angker dan memiliki penunggu.
Tiba-tiba...
DUG! DUG! DUG!
Jantungnya berpacu sangat kencang! Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Untunglah ketakutannya tidak sampai membuatnya kehilangan kendali, karena rasa kaget itu seketika hilang saat sebuah tangan hangat menepuk bahunya dan suara lembut menyapanya.
"Nak, ayo pulang. Tidak baik melamun terlalu lama di waktu senja, apalagi di bawah pohon randu ini." tegur seorang wanita tua dengan senyum hangat.
"Ehk... Nenek!" jawab Langit terbata-bata. Ia segera menenangkan jantungnya yang berdebar kencang karena kaget, lalu bangkit dari duduknya.
"Kamu kenapa, Nak? Akhir-akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun sendirian?" tanya Nenek Wati sambil tersenyum penuh tanya.
"Enggak kenapa-kenapa kok, Nek." jawab Langit singkat. Padahal pikirannya kacau, ribuan pertanyaan berputar di kepalanya, namun ia tak sanggup mengungkapkannya pada wanita tua ini. Ia tahu, Nenek Wati bukanlah nenek kandungnya, melainkan sosok yang telah merawatnya sejak bayi hingga kini dewasa.
"Hmmmm..." gumam Nenek Wati, tampak tak puas dengan jawaban singkat itu.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak. Hening menyelimuti, hanya terdengar suara langkah kaki yang memecah kesunyian senja. Sesekali Langit memapah neneknya berjalan hati-hati karena jalanan licin akibat sisa hujan.
"Nek, pegang tangan Langit. Jalannya licin, takut Nenek jatuh." kata Langit sambil mengulurkan tangan saat akan melewati jembatan kayu kecil.
"Iya, Nak." Nenek tersenyum, lalu menambahkan, "Kamu jangan sering-sering melamun di pohon itu, kamu kan tahu... pohon itu angker, ada penunggunya."
Langit hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Mulut memang bilang tidak mau, Nek... Tapi hati ini selalu tertarik untuk berteduh dan menenangkan diri di sana. Seolah-olah ada ikatan batin yang kuat antara pohon itu dengan diriku."
DEG!!!
Jantung Nenek Wati seakan berhenti berdetak sesaat. Pikirannya melayang terbang kembali ke sembilan belas tahun yang lalu...
Di mana seorang bayi mungil ditemukan tepat terbaring di bawah pohon randu itu. Bayi itulah yang kini ada di hadapannya, yang menemani hari-harinya yang sepi, yang kini TERJERAT dalam takdir yang misterius.
"Nek... Nenek!" panggil Langit menyadarkan lamunannya. "Loh kok Nenek malah melamun?"
"Eh... Hehehehe, maaf Nak. Kaki Nenek kram sebentar, maklumlah sudah tua." jawab Nenek berbohong untuk menutupi keterkejutannya.
"Hmmmm." gumam Langit tak percaya, namun ia tak mempersoalkan lebih jauh. Ia lalu membalikkan badan.
"Ayo Nek, naik ke punggung Langit. Kalau jalan pelan nanti lama sampai rumah, kan waktu Maghrib ini cepet sekali bergantinya, beda sama waktu yang lain."
Sang Nenek sedikit mendengus kesal mendengar ucapan cucunya itu.
"Lagian salah kamu juga! Ngapain juga kamu tiap senja betah banget duduk di sana? Kalau Nenek tidak jemput, mana mau kamu pulang!"
"Iya, iya, Langit salah Nek. Maaf-maaf. Ayo naik." ucap Langit sambil membungkukkan badannya.
Dengan sedikit enggan namun pasrah, Nenek Wati pun menaiki punggung cucunya itu.
"Ayo Nak, jalan."
"Siap Nenek... Berangkat!"
Langit pun mulai melangkah dengan langkah cepat, memburu waktu sebelum azan berkumandang, membawa serta rahasia besar yang tersimpan di bawah pohon randu itu.
CATATAN.
SEHABIS BACA JANGAN LUPA LIKE NYA, SYUKUR SYUKUR DAPAT VOTE DAN HADIAH JIKA SUKA DENGAN NOVEL RECEH INI SILAHKAN UNTUK DI PAVORITKAN.
Salam dari anak kampung ARIS TEA.
Bersambung...
Bersambung.