NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sosok di Seberang Jalan

Pagi itu di Glanzwald, suasana terasa jauh lebih ringan. Setelah momen jujur di mana Matthew berlutut di depan Daisy, dinding es yang selama ini memisahkan mereka seolah retak. Daisy tetaplah Daisy yang penuh gengsi, namun kali ini ia tidak lagi memunggungi Matthew saat mereka sarapan.

"Anda terlihat lebih manusiawi pagi ini, Jenderal," ucap Daisy sambil memotong omeletnya dengan anggun. Ia mengenakan gaun pagi berwarna krem yang membuatnya tampak bersinar di bawah sinar matahari ruang makan.

Matthew, yang sedang menyesap kopi hitamnya, melirik Daisy. Ada binar kecil di matanya yang biasanya sedingin samudera. "Aku rasa itu karena aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan laporan tentang kau yang memanjat pohon secara ilegal."

Daisy mendengus pelan, sebuah senyuman tipis terselip di sudut bibirnya. "Jangan terlalu percaya diri. Saya bisa saja melakukannya lagi jika Anda kembali menjadi hantu yang membosankan."

"Aku sudah berjanji, Daisy. Tidak akan ada lagi pengabaian," sahut Matthew dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Sebelum berangkat ke markas, Matthew melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama tiga tahun lebih pernikahan mereka. Ia mendekati Daisy yang sedang berdiri di dekat pintu paviliun, lalu merapikan helai rambut Daisy yang tertiup angin. Jarinya bersentuhan dengan kulit pipi Daisy sejenak—sentuhan yang penuh dengan rasa sayang yang canggung.

"Pulanglah lebih awal hari ini," bisik Daisy, suaranya hampir tak terdengar karena gengsinya masih berteriak di dalam kepala. "Saya... Saya baru saja menggubah melodi baru yang mungkin ingin Anda kritik anatomi musiknya."

Matthew mengangguk kaku. "Aku akan kembali pukul empat sore. Pastikan kau sudah makan siang tepat waktu."

Dengan perasaan yang jauh lebih ringan, Matthew masuk ke dalam mobil militernya. Ia merasa seolah-olah beban tujuh tahun terakhir telah terangkat. Ia mulai percaya bahwa ia bisa mencintai Daisy tanpa menghancurkannya.

Mobil limusin hitam Matthew meluncur dengan tenang membelah jalanan Ibukota menuju Markas Besar. Matthew menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, menatap keluar jendela dengan pikiran yang dipenuhi oleh melodi baru Daisy.

Namun, saat mobil itu melambat karena kemacetan di persimpangan dekat Distrik Mode, pandangan Matthew terpaku pada trotoar di seberang jalan.

Seorang wanita keluar dari butik perhiasan kelas atas.

Jantung Matthew seolah berhenti berdetak. Seluruh sistem sarafnya mendadak lumpuh.

Wanita itu mengenakan gaun putih yang mengalir indah, topi lebar yang elegan, dan senyum yang sangat cerah saat berbicara dengan pelayan butik. Ia tidak tampak seperti wanita depresi yang hancur dalam laporan intelijen yang Matthew terima. Sebaliknya, ia tampak sangat sehat, segar, dan jauh lebih cantik daripada lima tahun yang lalu.

Maira.

Wajah itu, garis rahang itu, dan cara wanita itu mengibaskan rambut pirangnya yang keemasan—itu adalah sosok yang pernah menjadi pusat semesta Matthew sebelum semuanya hancur menjadi obsesi yang berdarah.

"Hentikan mobilnya," perintah Matthew. Suaranya pecah, hampir seperti bisikan yang tersedak.

"Tuan Duke? Kita masih di tengah jalan," sopir itu bingung.

"Hentikan sekarang!" Bentak Matthew dengan otoritas yang menakutkan.

Mobil itu berhenti mendadak di tepi jalan. Matthew tidak keluar, ia hanya menurunkan kaca jendela mobilnya sedikit. Ia menatap sosok Maira dari kejauhan. Kenangan-kenangan lama menyerbu kepalanya seperti tsunami. Aroma kenangan, janji-janji masa muda, dan rasa bersalah yang mendalam atas hancurnya hubungan mereka dulu.

Maira tampak begitu bahagia. Ia tertawa kecil sambil menenteng tas belanjaannya. Tidak ada tanda-tanda trauma. Tidak ada tanda-tanda dia membenci dunia.

Kenapa laporannya salah? Batin Matthew. Kenapa dia tampak begitu sempurna setelah semua yang kulakukan padanya?—tidak-tidak, dia bahkan tidak memikirkan rasa bersalahnya padaku setelah pergi meninggalkan aku begitu saja.

Tiba-tiba, rasa bimbang mulai merayap di dada Matthew. Selama berhari-hari ia meyakinkan dirinya bahwa Daisy adalah masa depannya. Namun, melihat Maira yang hidup kembali dalam versi yang paling sempurna, membuat Matthew merasa seperti kembali ditarik ke masa lalu yang belum tuntas.

Rasa posesif lamanya bergejolak. Ia ingin keluar, menghampiri Maira, dan bertanya kenapa wanita itu pergi. Namun di saat yang sama, bayangan Daisy yang sedang menunggunya di Glanzwald muncul di pikirannya.

Daisy adalah takdirku sekarang, pikir Matthew mencoba menguatkan hati. Tapi Maira...

Matthew mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Kebimbangannya begitu nyata hingga napasnya terasa sesak. Ia melihat Maira masuk ke dalam mobil mewah lain dan menghilang di antara kerumunan kendaraan.

Matthew sampai di markas militer, namun ia tidak bisa bekerja. Ia duduk di mejanya, menatap tumpukan berkas dengan pandangan kosong. Setiap kali ia mencoba fokus pada strategi pertahanan, wajah Maira yang tersenyum muncul di pikirannya, lalu berganti dengan wajah Daisy yang sedang menangis semalam.

Ia merasa seperti pengkhianat.

Baru kemarin sore ia berjanji pada Daisy untuk tidak menjauh. Baru pagi tadi ia merasai kehangatan rumah tangga yang normal. Namun sekarang, hanya dengan satu pandangan pada sosok masa lalunya, pertahanan mental Matthew kembali goyah.

"Ada apa denganku?" Gumam Matthew, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aku mencintai Daisy... aku harus mencintai Daisy."

Namun, di dalam lubuk hati terdalamnya, ada bagian dari dirinya yang masih terobsesi dengan Maira—sebuah rasa penasaran apakah dia bisa memperbaiki apa yang dulu ia hancurkan jika Maira benar-benar sudah kembali.

Ia kembali teringat kata-kata Beatrice: "Anda selalu salah dalam mencintai wanita."

Matthew takut. Ia takut jika Maira benar-benar ada di Ibukota, ia akan kembali menjadi monster yang ingin memiliki segalanya. Ia takut cintanya pada Daisy hanyalah pelarian karena ia mengira Maira sudah hancur. Tapi sekarang Maira tidak hancur. Maira bersinar.

Pukul empat sore tiba. Sesuai janjinya pada Daisy, Matthew harus pulang.

Namun, langkah kakinya terasa sangat berat saat memasuki paviliun Glanzwald. Ia melihat Daisy sedang duduk di teras dengan piano kecilnya, menunggu kedatangannya dengan raut wajah yang tampak bersemangat—sesuatu yang sangat jarang ditunjukkan oleh Daisy.

"Anda tepat waktu, Jenderal," sapa Daisy, bangkit berdiri dengan senyum tipis yang tulus. "Mari, melodi ini sudah siap untuk Anda dengar."

Matthew menatap Daisy. Daisy tampak begitu cantik dengan caranya sendiri—kuat, cerdas, dan penuh martabat. Namun, bayangan Maira di seberang jalan tadi tetap membekas di belakang matanya.

"Ya, Daisy," sahut Matthew kaku. Suaranya terdengar jauh, seolah-olah jiwanya masih tertinggal di trotoar Ibukota.

Daisy mengernyit, menyadari perubahan nada bicara Matthew. "Ada apa? Apakah ada masalah di markas lagi?"

Matthew menggeleng cepat. "Tidak ada. Hanya lelah."

Ia duduk di samping Daisy, namun ia tidak berani menatap mata istrinya. Ia merasa berdosa karena dalam kepalanya, ia masih membandingkan senyum Maira tadi dengan kehadiran Daisy saat ini. Matthew mencintai Daisy, ia tahu itu. Tapi bayang-bayang Maira yang kembali segar dan cantik adalah hantu yang tidak pernah ia duga akan muncul secepat ini.

Malam itu, Glanzwald kembali diliputi oleh keheningan yang aneh. Bukan karena mereka bertengkar, tapi karena sang Jenderal sedang berperang dengan hatinya sendiri—sebuah perang di mana musuhnya adalah masa lalu yang menolak untuk mati.

"Anda melamun lagi, Jenderal," tegur Daisy pelan saat mereka makan malam.

"Maafkan aku" jawab Matthew singkat.

Matthew menatap Daisy, lalu menunduk. Gengsi Daisy menahannya untuk bertanya lebih jauh, sementara kebimbangan Matthew membuatnya tidak bisa berkata jujur. Kebahagiaan kecil yang baru saja mereka bangun sehari sebelumnya, kini terancam oleh kembalinya sosok yang paling ditakuti oleh hubungan mereka.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!