Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Prang!
Suara pecahan kristal mahal menggema di seluruh penjuru kamar mewah itu. Catherine kembali menyambar vas bunga porselen di atas nakas dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan penuh.
Napas wanita itu memburu, wajah cantiknya yang biasa tertata rapi kini tampak menyeramkan dengan riasan yang luntur akibat air mata kemarahan.
Kejadian di kantor Xavier tadi benar-benar menghancurkan harga dirinya. Bayangan Xavier membela gadis kampungan itu di depan matanya sendiri terus berputar seperti angin lalu, membakar kewarasannya.
“Kenapa kau selalu mengacuhkan aku, Vier! Kenapa?!” teriak Catherine histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri, menatap pantulan dirinya di cermin besar.
“Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang seksi dan menggoda di matamu?! Lihat tubuhku! Aku memiliki segalanya, aku lebih dari gadis kampungan dekil itu!”
Ia menyapu semua botol parfum bermerek di atas meja rias hingga semuanya jatuh berkeping-keping.
Bau harum yang menyengat memenuhi ruangan, namun hatinya tetap terasa busuk oleh dendam.
“Astaga, Nona! Apa yang anda lakukan? Berhenti, anda bisa melukai diri sendiri!”
Pintu kamar terbuka. Hanzel, asisten kepercayaan ayah Catherine, berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Ia terkejut melihat kekacauan yang menyerupai medan perang itu.
“Jangan ikut campur! Pergi kau!” bentak Catherine sembari memungut potongan kaca, hendak melemparkannya.
“Nona, tenanglah!” Hanzel tidak memedulikan ancaman itu. Ia segera menerjang maju, memeluk erat tubuh Catherine dari belakang untuk mengunci pergerakannya. “Lepaskan kacanya, Nona. Tangan anda berdarah.”
“Biarkan aku mati saja! Xavier tidak menginginkanku! Dia lebih memilih sampah itu daripada aku!” Catherine meronta.
Hanzel membalikkan tubuh Catherine, memaksanya untuk menatap matanya. “Berhentilah bersikap seperti ini. Hatiku terasa hancur setiap kali melihatmu terluka hanya karena pria yang tidak bisa menghargaimu.”
Mendengar nada suara Hanzel yang bergetar penuh perasaan, kilat licik melintas di mata Catherine sesaat. Ia tahu Hanzel mencintainya sejak lama. Ia tahu pria ini akan melakukan apa pun untuknya.
Seketika, Catherine mengubah ekspresi wajahnya. Amarahnya memudar, digantikan oleh tatapan rapuh dan isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati.
“Hanzel...” rintihnya sembari menyandarkan kepala di dada pria itu. “Aku hanya ingin Xavier. Aku merasa tidak berguna jika tidak bisa memilikinya. Hanya dia yang bisa membuatku merasa lengkap.”
“Nona...”
Catherine mendongak, matanya yang basah menatap Hanzel dengan tatapan memohon yang sangat licik.
“Kau selalu ada untukku, bukan? Kau tidak akan membiarkan aku menderita terus seperti ini, kan?”
Hanzel menghela napas berat, tangannya mengusap lembut rambut Catherine. “Iya, saya tahu. Saya selalu ada di pihak anda.”
“Berjanjilah padaku, Hanzel. Berjanjilah kau akan melakukan apa pun untuk membawa Xavier kepadaku. Singkirkan gadis itu, atau hancurkan apa pun yang menghalangi jalanku. Aku harus mendapatkannya!” desak Catherine dengan suara serak yang dibuat seolah-olah ia sedang putus asa.
Hanzel terdiam. Logikanya tahu ini salah, namun perasaan cintanya yang buta pada sang nona membuatnya kehilangan akal sehat.
“Jawab aku, Hanzel! Katakan kau akan membantuku!”
“Saya... saya berjanji pada anda, Nona,” ucap Hanzel dengan nada terpaksa. “Saya akan melakukan apa pun agar anda bahagia.”
Mendengar janji itu, Catherine memejamkan mata, membiarkan Hanzel memeluknya lebih erat. Di balik bahu pria itu, Catherine menghapus sisa air matanya dengan kasar.
Bibirnya menyunggingkan seringai kemenangan yang sangat tipis.
Bodoh. Kau memang alat yang paling berguna, Hanzel! batin Catherine dengan dingin.
Tangisannya berhenti seketika, namun ia tetap bersandar di pelukan Hanzel, terus memainkan peran sebagai wanita yang hancur demi memastikan asisten ayahnya itu benar-benar menjadi senjata maut untuk menghancurkan Luna.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu