NovelToon NovelToon
Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.

Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"

..

Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.

Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.

Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Ada alasan lain mengapa Seana membeli hadiah. Dia sangat mengenal ibu mertua kakaknya. Jika Seana datang dengan tangan kosong, wanita tua itu punya caranya sendiri untuk mempersulit hidup Kakak Seana. Seana akan pergi ke mall sore ini. "Aku ngga beli banyak kok, Kak. Bilang aja berapa ukuran bajunya. Nanti malah sia-sia kalau aku akhirnya beli baju yang terlalu kekecilan."

"Ngga usah, Seana."

"Kak, udah ngga apa-apa." Desak Seana dengan tegas.

Kakak Seana, Adinda akhirnya tidak punya pilihan lain, selain memberitahu ukuran baju anaknya, sebelum akhirnya panggilan mereka berakhir.

Velia menoleh kearah Seana, sembari sesekali memperhatikan jalanan. "Kakak lo ada dikota ini, tapi kenapa kalian jarang banget ketemuan?."

"Kak Dinda udah nikah. Jadi, aku ngga mau ganggu dia." Jawab Seana.

Melalui pernikahan Adinda, Seana menyadari bahwa pernikahan bukan hanya urusan pria dan wanita, tetapi juga melibatkan banyak orang dan menimbulkan banyak masalah. Itulah mengapa Seana secara refleks menolak ketika Mike menyatakan bahwa ia akan menikah dengan Sanzio.

Memang, Sanzio adalah sosok yang keras, tetapi Seana hanya menghadapinya sebagai atasannya. Seana tidak tahu apakah dirinya mampu mengatasi jika ia tiba-tiba berada di dunia yang sangat berbeda dengan dunianya yang sekarang.

Perasaan Velia merasa sedih untuk temannya. "Menganggu apanya? Lo adiknya, Seana!."

Ayah Seana telah meninggal dunia ketika Seana beranjak remaja. Ibunya tidak begitu menyayanginya dan Kakaknya, karena setelah ayah Seana meninggal, dia meninggalkan warisan berupa hutang yang banyak. Puncaknya, ketika ibu Seana menikah lagi dan melahirkan anak laki-laki bernama Rico.

Adik tiri Seana.

Satu-satunya orang yang peduli dengan Adinda dan Seana adalah nenek mereka. Namun sayangnya, beberapa tahun kemudian, Nenek mereka juga meninggal dunia karena penyakit dan umurnya yang sudah tua.

Sedangkan setelah Adinda menikah, dia justru memiliki keluarga yang berantakan.

"Aku ngga mau ngerepotin dia, karena dia Kakakku!." Kata Seana.

Adinda tumbuh besar dengan sangat menyayangi Seana. Seana akan selalu mendapatkan yang terbaik setiap ulang tahunnya. Bahkan Adinda akan menyiapkan makanan istimewa setiap kali mendengar Seana  akan berkunjung ke rumahnya. Sedangkan ibu mertua Adinda akan mengeluh jika mengetahui Seana terlalu sering datang.

Sore itu juga, mereka langsung pergi ke mall. Velia bersikeras ingin menemani Seana, tetapi Seana menolak dan tidak ingin merepotkan Velia. Karena Velia selalu, tanpa ragu, membayar semuanya setiap kali mereka pergi keluar bersama. Seana akan menghindarinya jika memungkinkan. Dia berhutang budi terlalu banyak pada sahabatnya itu.

Meski Seana menolak, Velia tetap memberikan kartu miliknya sendiri pada Seana. "Terserah lo mau beli apa aja. Tapi pake kartu ini, ya!."

"Ngga ah, aku ada uang kok."

"Serius? Sejak kapan?." Tanya Velia menggodanya.

"Kemarin gaji dari pekerjaan sampingan ku cair, jadi itu bisa aku pake buat belanja."

"Lumayan. Kapan-kapan gue akan kenalin ke lebih banyak proyek besar kayak gini. Supaya cicilan dan hutang-hutang bokap nyokap lo bisa cepet lunasnya!."

"Setuju." Seana mengangguk. Dia lebih suka mengerjakan proyek-proyek besar. Jika proyek yang diterimanya kecil, ia hanya bisa mendapatkan setidaknya hanya sepuluh juta ke bawah. Velia berhenti mendesak setelah tahu Seana tidak sedang kekurangan uang. Saat berbelanja, Seana memilih tiga set pakaian untuk keponakannya dan juga membeli cemilan yang disukai keponakannya. Pada akhirnya, dia menghabiskan total lima juta dimall itu...

...

Seana membawa semua barang bawaannya dalam perjalanan kereta api selama setengah jam sebelum naik ke bus ke rumah kakaknya, yang berjarak lima halte. Adinda sudah menunggu di halte bus setelah menerima kabar bahwa Seana akan datang berkunjung. Kakaknya mengenakan pakaian yang sudah agak lusuh karena sudah sering dicuci, itulah pemandangan yang selalu menyambut Seana ketika dia turun dari bus.

"Seana," Adinda memanggilnya, ketika menyadari Seana turun dari bus.

Seana menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman manis diwajahnya dan melambaikan tangannya. Adinda berjalan mendekatinya bersama seorang anak kecil. Seana dan Adinda berpelukan ketika anak kecil itu memanggil Seana dengan lantang. "Tante Seana."

Setelah melepaskan pelukan mereka, Seana membungkuk untuk mencubit pipi Bella, keponakannya. "Katanya Bunda kamu ngga sekolah ya hari ini?."

Adinda membantu Seana membawakan barang-barangnya. "Bella lagi flu. Jadi, kakak ngga biarin dia masuk sekolah dulu."

Mendengar bahwa keponakannya sedang tidak enak badan, Seana lalu menggendong Bella dan menyadari betapa merahnya hidung Bella. Kemudian Seana mengusap dahi Bella, menyadari bahwa keponakannya itu demam. "Perasaannya gimana sekarang? Ada keluhan apa aja?."

"Udah agak mendingan kok, Tante. Tapi masih pusing."

"Terus kok kamu malah ikut Bunda ke sini?."

"Bella kangen banget sama Tante. Jadi, Bella ikut, karena ngga sabar pengen ketemu Tante." Kata anak itu pelan.

Kata-katanya membuat tatapan Seana menjadi lembut.

Ketiganya berjalan menyusuri lorong gang panjang sebelum akhirnya memasuki sebuah halaman tempat buah kesemek bergelantungan dipohon-pohon. Aroma sup mie ayam tercium dari rumah itu. Setelah Adinda menyimpan barang bawaan Seana, dia mulai sibuk didapur dan Seana mengikutinya dari belakang.

"Kakak ngga perlu nyiapin makanan sebanyak ini. Aku ngga bisa ngabisin semuanya."

Sebenarnya Seana ingin menolak ajakan makan malam di rumah kakaknya, tetapi mereka sudah lama tidak bertemu. Adinda akan sangat marah jika Seana pulang tanpa makan malam bersamanya. Seana merasa sedih melihat bagaimana kakaknya beradaptasi dengan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan.

Namun, Adinda hanya berkata. "Kakak pikir kamu datangnya sama Rico. Jadi kakak masaknya agak banyak. Dan lagipula kamu sama Rico jarang ke sini."

Seana merasakan kehangatan memenuhi hatinya saat air matanya mulai menggenang.

"Rico lebih nyaman tinggal di asrama kampus, Kak. Oh, dia juga lagi sibuk cari kerja katanya." Kata Seana.

Adinda mengangguk mengerti. "Lain kali, kalian datengnya harus barengan. Oke?."

Seana hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

"Bella, kamu ajak tante main sana."

"Oke Bunda." kata anak kecil itu pada ibunya, lalu menoleh kearah Seana. "Ayo tante kita main."

Namun beberapa menit kemudian, mereka bermain. Bella ketiduran karena badannya masih kurang sehat. Seana membaringkan anak itu dan kembali menyusul kakaknya didapur.

"Jangan sentuh apa pun. Nanti baju kamu kotor." Adinda mencoba menghentikan Seana.

"Ngga apa-apa, Kak. Aku udah pulang dari kantor. Nanti kalau kotor bisa di cuci." Setelah mengatakan itu, Seana mengambil segenggam daun bawang dan membantu Adinda.

"Di cuci dulu." Kata Adinda dengan senyuman di wajahnya.

Tidak lama kemudian, Suami adinda, Feri dan ibu mertua Adinda, Rina baru saja pulang.

"Loh, kamu jadi datang, Seana." Sapa Feri, tersenyum dengan sopan.

"Iya, kak." balas Seana...

Setelah Bu Rina menyimpan barangnya, dia melirik sup didalam panci dan tertawa. "Suasananya memang beda kalau Seana datang. Kita udah lama loh ngga makan mie ayam, kayaknya udah lebih dari sebulan."

Suasana hati Adinda memburuk setelah mendengar itu.

Sementara itu, Seana tahu seperti apa watak ibu mertua kakaknya. Tetapi tetap bersikap sopan saat menyapa. "Malam, Tante Rita."

Tatapan mata Rita menggelap penuh rasa jijik. "Seharusnya kamu nanti makan paling banyak. Orang asing kayak kamu pasti sulit cari makan di luar."

Seana hanya tersenyum. Penduduk setempat dikota ini sangat xenofobia dan suka memandang rendah orang luar sebagai gelandangan yang datang untuk mengemis di tempat tinggal mereka. Keluarga Rita tinggal di sebuah kontrakan dengan empat kamar tidur, tetapi mereka menganggap orang asing lebih rendah dari mereka.

Saat makanan disajikan, Seana hampir tidak memakan apa pun yang telah kakaknya siapkan untuknya, karena Feri dan Rita. Di meja makan, Rita, orang pertama yang memberikan sepotong paha ayam untuk Bella dan paha ayam kedua untuk Feri. Ekspresi Adinda menegang ketika dia menyaksikan itu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan makanannya kepada Seana.

"Kakak juga harus makan." Kata Seana, merasa kasihan pada Kakaknya.

Adinda menggelengkan kepalanya. "Kakak tadi udah simpan makanan buat kakak sendiri kok. Kamu jarang makan masakan kakak, jadi kamu harus makan sekarang."

Makan malam itu merupakan pengalaman yang mengecewakan, tetapi Seana berusaha sebaik mungkin untuk menjaga sikapnya demi Adinda.

...

Sementara itu, di gedung Starlight. Sanzio terlihat baru saja selesai membersihkan dirinya. Tepat ketika dia hendak berganti pakaian dan pergi, sesuatu jatuh dari lemari dengan bunyi yang terdengar ketika dia membuka pintu lemari. Sanzio membungkuk untuk mengambil dan memeriksanya. Raut wajahnya tampak terkejut ketika dia melihat isi didalam kotak itu.. "K0nd0m?." Monolognya

Selain dirinya, biasanya Seana yang datang untuk mengambilkan barang-barangnya.

Senyum penuh arti terukir di wajah Sanzio ketika sesuatu terlintas di benaknya.

...

Di kediaman Adinda, Rita pergi entah kemana setelah selesai makan malam. Feri juga pergi tanpa berpamitan pada istrinya. Adinda mengatakan bahwa mereka berdua pergi bermain kartu. Itulah kehidupan khas di keluarga ini, hidup santai tanpa beban.

Ketika Seana menyadari ponselnya berdering, ia segera memeriksanya dan mendapati bahwa Sanzio-lah yang menghubunginya.

"Pak Zio. Ada apa ya, Pak?."

"Kamu dimana sekarang?." Suara berat pria itu terdengar diseberang sana.

"Saya ada dirumah Kakak saya, Pak." Entah mengapa, Seana selalu gugup setiap kali menerima telepon dari Sanzio.

Mungkin karena Sanzio terlalu dominan, mengancam dan tegas.

"Kirim lokasinya sekarang."

"Hah?." Seana kebingungan. "Memangnya ada apa ya, Pak?."

Tanpa menjawab pertanyaan Seana, Sanzio langsung memutuskan sambungan telepon mereka.

Seana sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Sanzio inginkan. Haruskah ia mengirim lokasinya pada Sanzio? Tetapi akhirnya dia menyerah setelah memikirkannya matang-matang.

1
Yessi Kalila
Melani dalam bahaya.... ngga tau siapa Seana sekarang .... seenaknya nyuruh2
Yessi Kalila
wkwk.... lugu banget sih Seana... 🤣🤣🤣
Lisna
lanjutt thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!