NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah keriuhan di dalam GOR mereda, Arkan menarik lenganku menjauh dari kerumunan tim medis dan sorotan kamera Jurnalistik SMA Garuda. Kami berjalan menuju area parkir belakang yang remang, tempat motor hitam besarnya terparkir menyendiri di bawah pohon mahoni.

Suasana di sini kontras dengan di dalam. Hanya ada deru napas Arkan yang masih belum stabil dan suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan. Arkan menyandarkan punggungnya di jok motor, lalu melepas headband yang basah kuyup, menatapku dengan binar yang berbeda—bukan binar kompetisi, melainkan binar yang jauh lebih rapuh.

"Ra," panggilnya lirih.

"Hmm?" aku berdiri di depannya, masih mengenakan jaket varsity-nya yang kini sedikit lembap terkena percikan air selebrasi tadi.

"Tadi di tribun... lo liat laki-laki pake kemeja biru navy di barisan depan sebelah kiri?"

Aku mengangguk pelan. "Laki-laki yang mukanya mirip banget sama lo, tapi nggak senyum sama sekali?"

Arkan tertawa kecut, menunduk sambil memainkan kunci motornya. "Itu Bokap. Beliau dateng bukan buat nonton basket. Beliau dateng buat pastiin gue bakal masuk pendaftaran Akmil bulan depan. Kemenangan tadi... buat beliau itu cuma 'hobi yang nggak menghasilkan'."

Aku tertegun. Di balik popularitas dan selebrasi gila-gilaan di dalam GOR tadi, ternyata Arkan sedang memikul beban yang sama beratnya dengan kerinduanku pada Ayah.

"Terus maket rumah kaca di markas lo? Sketsa arsitektur lo?" tanyaku ragu.

Arkan mendongak, menatap dahan-dahan pohon di atas kami. "Bokap bilang, kalau gue nggak masuk Akmil, markas itu bakal dibongkar. Semua kanvas, semua mimpi gue soal bangunan... bakal dianggap sampah."

Ia menggeser duduknya, memberi ruang bagiku untuk duduk di sampingnya di atas motor. "Itu alasan kenapa gue butuh lo di tribun tadi, Ra. Gue butuh diingetin kalau ada satu orang yang ngeliat gue sebagai Arkan, bukan sebagai 'aset' masa depan keluarga."

Aku memberanikan diri menggenggam jemarinya yang kasar karena kapalan pemain basket. "Arkan, lo bilang ke gue kalau gue yang pegang pena buat bab hidup gue sendiri. Itu berlaku buat lo juga, kan?"

Arkan menatap genggaman tangan kami, lalu perlahan ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sebuah tindakan yang sangat tidak "Arkan" di depan orang lain, tapi terasa sangat pas di parkiran sepi ini.

"Capek juga ya, Ra, harus selalu kelihatan menang di depan semua orang," bisiknya serak.

"Nggak apa-apa kalau lo mau kalah sekali-sekali, Kan. Asuransi lo kan masih aktif," balasku pelan, mengutip kalimatnya sendiri yang membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.

Di parkiran yang mulai gelap itu, kami tidak lagi membicarakan skor akhir atau piala emas yang baru saja diraih. Kami bicara tentang ketakutan, tentang gedung-gedung yang ingin ia bangun, dan tentang bagaimana kami berdua adalah dua orang "patah" yang sedang mencoba saling merekatkan kembali.

"Ra," Arkan mengangkat kepalanya, menatapku dengan jarak yang sangat dekat. "Kalau nanti gue beneran harus 'perang' sama ekspektasi Bokap... lo bakal tetep pake jaket nomor 07 ini, kan?"

Aku tersenyum, menyentuh bunga Daisy rajutan yang menggantung di tasku. "Daisy itu kuat, Arkan. Dia bakal tetep mekar, bahkan di tanah yang paling keras sekalipun. Jadi, jawabannya iya."

Arkan menarik napas panjang, seolah beban di pundaknya baru saja menguap. Ia menghidupkan mesin motornya, suaranya memecah kesunyian parkiran. "Ayo pulang. Sebelum Kak Pandu dateng bawa obor nyariin adeknya."

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!