Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 23.
Beberapa detik setelah telepon itu terputus, Arunika masih berdiri di samping mobilnya. Udara siang terasa hangat, tetapi tubuhnya justru terasa dingin.
Kata-kata pria misterius itu masih terngiang jelas di kepalanya.
“Para pembunuh itu berasal dari keluarga Wiratama dan Wijaya.”
Keluarga Wiratama adalah keluarga Angkasa. Sedangkan keluarga Wijaya, itu adalah keluarga Simon. Sudah bisa dipastikan, kedua keluarga itu memang terlibat.
Namun Arunika bukan wanita yang mudah diprovokasi oleh kata-kata.
“Jika kau mencoba memecah belahku dengan Angkasa… kau salah memilih orang.”
Arunika masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin, melaju kembali menuju rumah sakit.
___
Di sisi lain dunia.
Di sebuah gedung tinggi di Tokyo, Jepang.
Kenzo berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke kota yang dipenuhi lampu. Ia memegang ponselnya sambil tersenyum tipis. Di layar ponsel itu masih terlihat nomor yang baru saja ia hubungi.
Senyumnya perlahan melebar.
“Masih sama seperti orang tuanya,” gumamnya pelan.
Di belakangnya, seorang wanita berdiri dengan kepala tertunduk.
Wanita itu adalah orang yang menaruh racun di minuman ibu Angkasa pada pesta semalam. “Tuan… apakah tidak apa-apa memberi tahu sebanyak itu kepada wanita itu?” tanyanya hati-hati.
Kenzo tertawa kecil. “Kenapa? Kau takut?”
“Dia terlihat sangat berbahaya.”
Kenzo memutar tubuhnya perlahan, tatapannya dingin. “Justru itu yang membuatnya menarik.”
Pria berjalan mendekati meja laboratorium yang penuh dengan berbagai peralatan ilmiah, tangannya menyentuh sebuah tabung kaca berisi cairan biru.
“Anak dari dua ilmuwan jenius… tentu tidak akan mengecewakan.”
Wanita itu menelan ludah. “Tuan… apakah Anda benar-benar ingin membawanya ke sini?”
Kenzo tersenyum tipis.
“Tentu saja.” Matanya berkilat aneh. “Aku akan menjadikannya ilmuwan terbesar di dunia.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada rendah. “Dan jika dia menolak…”
“…aku akan memaksanya.” Senyumnya berubah menyeramkan.
___
Sementara itu di Indonesia.
Mobil Arunika akhirnya berhenti di halaman Rumah Sakit Cakrawala, ia turun dari mobil dengan ekspresi setenang biasanya.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa beberapa menit yang lalu ia baru saja berbicara dengan pria yang kemungkinan besar adalah pembunuh kedua orang tuanya.
Saat ia berjalan menuju pintu masuk rumah sakit, seorang perawat segera menghampirinya.
“Dokter Arunika.”
Arunika berhenti. “Ada apa?”
“Direktur Angkasa sedang mencari Anda.”
“Mencariku?”
“Iya, Dokter. Beliau ada di ruang direktur.”
Arunika mengangguk kecil. “Baik.”
Beberapa menit kemudian ia sudah berdiri di depan ruang direktur.
Tok.
Tok.
Ia mengetuk pintu dua kali.
“Masuk.”
Suara Angkasa terdengar dari dalam.
Arunika membuka pintu.
Angkasa sedang berdiri di dekat jendela, mengenakan jas hitam rapi. Begitu melihat Arunika masuk, ia langsung berjalan mendekat. “Aku sedang mencarimu.”
“Ada sesuatu?”
Angkasa mengambil sebuah tablet dari meja lalu menyalakannya. “Tim keamananku menemukan sesuatu, wanita semalam masuk sebagai tamu dari perusahaan farmasi luar negeri. Tapi... identitasnya palsu.”
Kemudian Angkasa memutar rekaman lain. Kali ini kamera menyorot area parkiran gedung pesta. Di sana terlihat seorang wanita yang sama masuk ke dalam sebuah mobil hitam. Namun yang membuat Angkasa curiga adalah… plat nomor mobil itu tidak terdaftar.
Angkasa mematikan layar tablet.
“Orang di dalam mobil ini lah, sepertinya yang sengaja meracuni ibuku.”
Arunika tidak mengatakan apa-apa, karena dia sudah bicara dengan orang itu di telepon.
Ruangan direktur kembali sunyi setelah rekaman CCTV berhenti diputar. Angkasa berdiri di dekat meja, sementara Arunika masih menatap layar tablet yang kini sudah gelap.
Wanita itu tampak tenang seperti biasa, tetapi pikirannya jelas sedang bekerja keras.
“Wanita ini orang suruhan,” kata Arunika akhirnya.
Angkasa menatapnya. “Kau juga berpikir begitu?”
Arunika mengangguk pelan. “Orang yang menyuruhnya pasti jauh lebih berbahaya.”
Angkasa menyandarkan tubuhnya di meja sambil melipat tangan. Setelah beberapa saat, Angkasa berkata lagi, “Dokter Arunika.”
“Hm?”
“Kau sudah makan?”
Pertanyaan itu membuat Arunika sedikit terdiam, ia menatap pria itu dengan alis terangkat. “Anda memanggilku hanya untuk menanyakan itu?”
“Tidak.” Angkasa tertawa pelan.
Ia mengambil jasnya dari kursi. “Tapi aku tidak bisa membiarkan dokter jenius rumah sakitku pingsan karena lupa makan.”
Arunika menatapnya datar. “Aku tidak selemah itu.”
“Semua orang butuh makan.”
Beberapa detik mereka saling menatap, Angkasa berkata santai, “Ayo makan siang.”
“Aku masih bekerja.”
“Aku juga.”
Angkasa membuka pintu. “Kita makan di kantin rumah sakit.”
Arunika sebenarnya ingin menolak. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Angkasa sudah berjalan keluar. Arunika menghela napas kecil, akhirnya ia mengikuti pria itu.
Di kantin khusus dokter, suasana jauh lebih tenang dibandingkan area pasien. Ketika mereka masuk bersama, beberapa dokter langsung terdiam.
Bisikan kecil terdengar lagi.
“Direktur makan siang dengan Dokter Arunika…”
“Sepertinya rumor itu benar…”
Arunika tidak peduli, ia mengambil makanan sederhana lalu duduk di salah satu meja.
Angkasa duduk di depannya.
Beberapa menit mereka makan dalam diam.
Lalu Angkasa tiba-tiba berkata, “Arunika.”
“Ya?” Wanita itu mengangkat kepala sedikit.
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
Tatapan Arunika menjadi lebih tajam. “Apa?”
Angkasa menatapnya serius.
“Orang yang mengirim paket itu.”
Arunika berhenti makan. “Kenapa?”
“Apakah dia menghubungimu?”
Arunika tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, lalu ia berkata pelan, “Kenapa Anda berpikir begitu?”
“Karena orang seperti itu tidak mungkin hanya mengirim hadiah.” Jawab Angkasa.
Arunika tidak menjawab, namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.
Angkasa menghela napas pelan. “Jadi dia benar-benar menghubungimu.”
Arunika menatap pria itu, lalu mengangguk pelan. “Dia mengatakan sesuatu tentang masa lalu orang tuaku.”
Tatapan Angkasa sedikit berubah.
“Apa yang dia katakan?”
Arunika menjawab dengan tenang, “Dia mengatakan keluarga Wiratama memang terlibat.”
Keheningan langsung menyelimuti meja itu. Beberapa detik Angkasa tidak berkata apa-apa. Lalu ia tertawa kecil. “Orang itu pintar.”
Arunika menyipitkan matanya. “Maksud Anda?”
“Dia mencoba membuatmu curiga padaku.” Angkasa menatap Arunika dengan lekat. “Aku sudah bilang padamu, kau boleh mencurigai keluargaku. Tapi... kau harus percaya padaku. Dengan kata lain, jangan pernah meragukanku.”
“Aku akan percaya pada bukti.” Arunika berkata tegas.
Angkasa tersenyum tipis. “Jawaban yang bagus.”
Beberapa detik mereka kembali makan. Ponsel Angkasa bergetar, pria itu melihat layar sebentar lalu berdiri. “Aku harus menerima ini.”
Arunika mengangguk.
Angkasa berjalan keluar kantin sambil menjawab telepon. Begitu ia berada di lorong yang sepi, suaranya langsung berubah serius.
“Ada perkembangan?”
Suara pria dari ujung telepon menjawab cepat. “Tuan, tim khusus sudah menemukan jejak organisasi Kenzo di Jepang.”
Tatapan Angkasa berubah tajam. “Bagus.”
“Apakah operasi dilanjutkan?”
Angkasa menatap jendela rumah sakit, “Belum.”
“Kenapa, Tuan?”
Angkasa menjawab dengan suara rendah. “Target utama kita sekarang bukan Kenzo.”
“Apa maksud Anda?”
Angkasa berkata pelan, “Kenzo sudah mulai bergerak.”
Ia menatap ke arah kantin, tempat Arunika masih duduk sendirian. “Dan targetnya sekarang... adalah Arunika.”
“Apakah kita perlu memindahkan Dokter Arunika ke lokasi aman?” Di ujung telepon terdengar suara tegang.
Angkasa langsung menjawab tegas, “Tidak.”
“Kenapa?”
Karena satu alasan sederhana.
Jika Arunika dipindahkan, Kenzo akan langsung menghilang lagi seperti dua puluh lima tahun yang lalu.
Angkasa menatap lurus ke depan dengan ekspresi serius. “Kita biarkan dia mendekat, aku tahu risikonya besar menjadikan Arunika sebagai umpan. Tapi... semua ini harus diakhiri. Kenzo adalah penjahat yang sangat berbahaya, dan kita harus segera menangkapnya.”
Suara pria di telepon terdiam beberapa detik.
“Tuan… sejak awal Anda kembali mengambil posisi sebagai pewaris keluarga Wiratama… apakah memang karena ini?”
Angkasa tidak menjawab, namun tatapannya sudah cukup jelas. Ia kembali ke Indonesia dan mengambil kembali kekuasaan keluarga Wiratama. Semua itu karena satu hal... Kenzo.
Namun ada satu hal yang tidak direncanakannya, Angkasa menatap ke arah Arunika yang masih duduk di dalam kantin. Wanita itu terlihat tenang, bahkan sedikit dingin seperti biasanya. Namun... justru itulah yang membuatnya semakin tertarik pada Arunika.
“Ya.“ Jawabnya dengan yakin.
Angkasa menutup telepon, ia menghela napas kecil, tatapannya melembut sedikit. “Arunika, awalnya aku memang mendekatimu karena misi. Tapi sekarang… aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu.”
Beberapa detik kemudian Angkasa kembali masuk ke kantin.
Arunika menatapnya. “Masalah pekerjaan?”
“Ya.” Angkasa duduk kembali di depannya.
Arunika tidak bertanya lebih jauh.
Tak… tak… tak…
Suara langkah sepatu wanita terdengar mendekat, Veronica muncul dan tanpa banyak bicara langsung duduk di samping Angkasa. Ia bahkan bergelayut manja di lengan pria itu.
“Bang…”
Namun sebelum Veronica sempat melanjutkan kata-katanya, Angkasa sudah lebih dulu melepaskan rangkulan itu.
Wajah pria itu terlihat dingin.
Angkasa sudah tahu kejadian di pesta, bagaimana Veronica mencoba untuk menjebak Arunika. Hal itu membuatnya sangat kecewa.
“Vero, mulai hari ini bersikaplah lebih sopan padaku!” Ucap Angkasa tegas.
Veronica tertegun.
“Kita memang saudara angkat,” lanjut Angkasa, “Tapi... kau harus mulai memahami batasanmu. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman.”
Angkasa berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih serius. “Dan mengenai jabatanmu sebagai direktur, aku akan membicarakannya dengan ayahku lagi. Sepertinya pendidikanmu selama bertahun-tahun di luar negeri... masih belum cukup.”
Tatapan Angkasa tajam. “Mulailah dari bawah, jadilah dokter biasa yang benar-benar bekerja untuk pasien.”
Mata Veronica langsung membelalak.
“Kenapa Abang berubah?” suaranya terdengar tidak percaya. “Dulu Bang Angkasa sangat menyayangiku.”
“Itu dulu, saat kau sebatang kara dan aku benar-benar menganggapmu sebagai adikku.” Angkasa menatap Veronica dengan sikap tegas. “Tapi sekarang... kau sudah dewasa. Kau harus bisa menentukan jalan hidupmu sendiri.”
Angkasa menghela nafas pelan. “Sekarang pergilah, aku ingin makan siang berdua dengan Arunika.”
Wajah Veronica memerah menahan marah, ia berdiri sambil menatap Arunika dengan tatapan penuh permusuhan. Namun karena Angkasa masih memperhatikannya, ia hanya bisa menahan emosinya sebelum akhirnya pergi.
Setelah Veronica menghilang dari pandangan, Arunika tersenyum tipis. “Sebagai sesama wanita… menurutku dia tidak menganggap Anda sebagai kakaknya.”
Ia lalu mengangkat bahu ringan. “Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan keluarga kalian. Tapi jika ada yang mencoba menggangguku… aku tidak akan tinggal diam saja.”
Mendengar itu, Angkasa justru tersenyum lebar. “Tenang saja, dia hanya akan menjadi adikku. Jika dia melakukan kesalahan, aku sendiri yang akan menghukumnya.”
Ia lalu menatap Arunika lebih dalam, senyum Angkasa berubah lembut. “Dan satu hal lagi… aku pria yang setia. Jika aku sudah menyukai satu wanita… sampai mati, aku hanya akan mencintai wanita itu.”
Wajah Arunika sempat berubah sedikit, namun ia segera kembali tenang. Ia tidak terlalu memikirkan kata-kata Angkasa. Sebab... ia tidak akan pernah jatuh cinta.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️