Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
"Lepaskan dia, Tuan, atau anda akan menghadapi masalah besar dengan keluarga besar Jonas!" Hanzel memperingatkan lagi, suaranya bergetar antara ngeri dan juga nekat.
Xavier menoleh ke arah Hanzel dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Keluarga? Aku tidak punya keluarga selain diriku sendiri. Dan jika kau tidak diam, kau akan menyusulnya ke ne-raka hari ini juga!"
"Anda benar, tapi hubungan tuan Luke dan tuan Jonas akan memburuk karena sikap egois anda ini! Nona Catherine adalah putri kesayangan mereka!" sahut Hanzel.
Ia tidak bisa melihat nonanya mati sia-sia di tangan pria yang urat empatinya sudah putus ini.
Mengingat rencana besar yang sedang ia susun dan tak ingin keributan ini menghambat langkahnya lebih jauh, Xavier secara kasar melepaskan cengkeramannya.
Catherine jatuh terduduk di lantai, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang memerah.
"Bawa dia pergi sebelum kesabaranku benar-benar habis dan aku melubangi kepalanya!" desis Xavier sembari menyambar tisu alkohol untuk mengusap tangannya yang baru saja menyentuh kulit Catherine.
"Tidak! Aku tidak mau pergi! Aku mau di sini bersamamu, Vier!" teriak Catherine histeris.
"Jika anda tetap berada di sini, anda akan mati! Tuan Xavier tidak sedang bercanda!" seru Hanzel setengah menyeret Catherine berdiri.
"Bukankah kau sudah berjanji padaku, Hanzel, kalau kau akan—"
Hanzel buru-buru membungkam bibir Catherine dengan telapak tangannya agar wanita itu tidak keceplosan di depan Xavier dan Gerry.
"Bukan seperti ini caranya menaklukkan singa yang sedang marah, Nona. Kita harus mundur dan menyusun rencana yang lebih rapi," bisik Hanzel cepat.
Kesal dan merasa dipermalukan, Catherine terpaksa mengangguk. Ia melemparkan tatapan benci pada ruangan itu sebelum akhirnya pergi bersama sang asisten.
"Bawa aku pulang, Gerry! Sekarang!" teriak Xavier. Napasnya mulai tersengal dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Baik, Tuan. Mobil sudah siap di lobi bawah," sahut Gerry sigap.
"Dan suruh dokter me-sum itu ke mansion sekarang juga! Katakan ini darurat!" titahnya lagi.
Gerry bergegas memapah Xavier, namun ia tetap menjaga jarak beberapa sentimeter agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit tuannya.
Ia tahu alergi Xavier sedang mengamuk hebat akibat kontak fisik dengan Catherine tadi.
*
*
Sesampainya di mansion, suasana kembali tegang.
"Mana dokter sialan itu, Ger! Kenapa dia belum sampai juga!" bentak Xavier di ruang tengah. Wajahnya sudah memerah, gatal dan panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Gerry hanya menunduk dalam mendengar kemarahan Xavier.
"Maaf Tuan, dia sedang dalam perjalanan dan mungkin sebentar lagi akan—" Belum selesai Gerry melanjutkan ucapannya, Xavier sudah menghilang dari pandangan, melangkah lebar menaiki tangga.
"Lho, Tuan ke mana? Sedang sakit kenapa jalannya cepat sekali seperti atlet lari?" gumam Gerry heran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Xavier sudah berada di depan pintu kamarnya. Kepalanya berdenyut nyeri, mual menyerang perutnya.
Saat pintu terbuka, pemandangan pertama yang menyambut Xavier adalah seorang gadis yang tengah berada di atas ranjangnya.
Luna duduk bersila dengan punggung polos yang terpampang nyata. Selimut tebal hanya menutupi tubuhnya sebatas pinggang. Di tangannya, gadis itu memegang sebuah buku tebal dengan posisi terbalik.
Bibirnya komat-kamit, alisnya bertaut.
"Ih, kenapa susah sekali sih! Luna benar-benar tidak mengerti bahasa manusia. Hidup manusia itu ribet sekali, harus belajar, harus sekolah, harus jadi pintar! Luna mau jadi bodoh saja kalau begitu, yang penting bisa makan daging!" ucapnya pada diri sendiri dengan bibir mengerucut ke depan, tampak sangat frustrasi dengan buku di tangannya.
"Ehem!"
Xavier berdehem pelan. Seketika itu juga, Luna menoleh dengan gerakan cepat.
"Sapir?!" panggil Luna dengan mata yang langsung berbinar-binar. Ia melemparkan buku itu ke sembarang arah dan langsung melompat turun dari ranjang, berlari menerjang Xavier.
Tanpa aba-aba, Luna langsung memeluk erat Xavier dan menjilat leher serta pipi pria itu, persis seperti yang ia lakukan saat masih menjadi kucing.
"Kenapa lama sekali perginya? Luna kesepian, Luna lapar, Luna bosan dipaksa makan daging terus sama manusia berisik di bawah tadi!" rengek Luna manja sambil terus mendusel di dada Xavier.
Dada Xavier rasanya ingin meledak. Rasa mual dan pusing akibat alergi tadi mendadak menguap, digantikan oleh debaran jantung yang gila.
Ia melirik ke bawah dan menyadari bahwa gaun merah muda yang Luna pakai, entah sudah tergeletak di mana.
Luna kembali polos tanpa busana, hanya tertutup oleh pelukannya.
"Lihat aku," bisik Xavier parau. Ia meraih dagu Luna, memaksa gadis itu berhenti menjilat dan menatap matanya. Lalu, mendekatkan wajah mereka hingga tidak ada celah sedikit pun.
Cup!
Xavier mendaratkan ciuman lembut di bibir Luna. Ciuman manis yang membuat Luna mematung dengan mata mengerjap-erjap polos.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂