"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Utang Nyawa
Bab 19: Utang Nyawa
Kekacauan di ballroom Grand Astria mencapai titik puncaknya. Suara teriakan tamu yang panik beradu dengan deru sirine keamanan yang memekakkan telinga. Kenzi baru saja melumpuhkan "Viper", namun sensor taktis di otaknya memberikan sinyal bahaya yang jauh lebih akut.
Analisis Akustik: Suara kokangan senjata api otomatis terdeteksi di balkon lantai dua. Probabilitas serangan lanjutan: 94%. Target: Alana Wijaya.
Kenzi tidak memiliki waktu untuk menjelaskan. Matanya yang dingin memindai kerumunan bermasker yang berlarian. Di sana, di antara tirai beludru balkon, sebuah moncong senjata laras panjang menyembul. Refleks Kenzi bergerak lebih cepat daripada perintah manapun dalam kontraknya.
"Nona, merunduk!" Kenzi menerjang ke arah Alana.
Alana, yang masih terpaku menatap Viper yang tak sadarkan diri, tidak sempat bereaksi. Dia hanya melihat Kenzi melayang di udara ke arahnya tepat saat suara letusan sniper merobek kebisingan musik yang belum sempat mati.
Duar!
Bukan suara benturan tubuh yang terdengar, melainkan suara peluru yang merobek daging.
Kenzi menghantam tubuh Alana, mendekapnya erat, dan menggulingkan mereka berdua di balik pilar beton yang kokoh. Alana terengah-engah, matanya terbelalak menatap wajah Kenzi yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Topeng hitam Kenzi sudah terlepas saat mereka berguling, menyingkapkan ekspresi yang tetap kaku, namun bibirnya sedikit mengatup menahan nyeri.
"Kenzi... kau..." Alana terbata.
Alana merasakan sesuatu yang hangat merembes ke gaun merah marunnya. Dia menunduk dan melihat cairan kental berwarna merah gelap mengalir dari bahu kiri Kenzi, membasahi kain tuxedo mahalnya. Peluru kaliber 7.62mm itu seharusnya menembus dada Alana jika Kenzi tidak menjadikan dirinya perisai manusia.
"Kau tertembak!" Alana berteriak, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi bisa ia bendung. "Kenzi, kau berdarah! Tolong! Seseorang tolong!"
"Diam," desis Kenzi. Suaranya rendah, bergetar namun tetap otoriter. "Bernapaslah melalui hidung. Jangan menarik perhatian lebih banyak penembak."
Kenzi mencoba bangkit, namun gravitasi terasa lebih berat dari biasanya. Ia melakukan diagnosis internal dengan cepat.
Status Medis: Luka tembus di bahu kiri, posterior deltoid. Arteri utama tidak terkena. Perkiraan kehilangan darah: 250cc dan terus bertambah. Penurunan efisiensi motorik lengan kiri: 60%.
"Kenapa kau melakukannya?" Alana menangis sesenggukan, tangannya yang gemetar mencoba menekan luka di bahu Kenzi, persis seperti yang Kenzi lakukan padanya di gudang tua. "Kau bilang kau tidak peduli! Kau bilang ini cuma kontrak! Tapi kau hampir mati untukku!"
Kenzi menatap mata Alana. Di tengah rasa sakit yang berdenyut, ia melihat pantulan dirinya di mata gadis itu—sebuah mesin yang rusak. Baginya, menyelamatkan Alana adalah kalkulasi untuk menjaga aset tetap utuh. Namun, secara logis, mengorbankan nyawa pengawal demi target dalam kondisi penyamaran yang mulai terbongkar adalah tindakan non-optimal. Ada sesuatu yang tidak logis dalam tindakannya, sebuah residu perasaan yang ia sebut sebagai 'bug', yang kini terasa lebih nyata daripada peluru itu sendiri.
"Utang..." bisik Kenzi parau.
"Utang apa? Aku tidak pernah memintamu mati untukku!"
"Utang nyawa... untuk masa lalu yang dihancurkan ayahmu. Saya tidak akan membiarkan Anda mati sebelum keadilan ditegakkan dengan cara saya," Kenzi berbohong. Ia memberikan alasan dendam untuk menutupi anomali emosional yang ia sendiri tidak pahami.
Bram dan tim taktis Wijaya akhirnya merangsek masuk ke area pilar C, membentuk barikade manusia di sekeliling Alana dan Kenzi. Bram melihat darah yang membanjiri lantai dan wajah Kenzi yang mulai memucat.
"Amankan Nona Alana! Panggil unit paramedis ke jalur evakuasi delta!" perintah Bram. Ia menatap Kenzi dengan pandangan yang sulit diartikan—antara rasa hormat sebagai sesama kombatan dan kecurigaan yang makin mendalam. "Kau bertahanlah, anak baru. Jangan mati sebelum aku menyelesaikan interogasiku."
Kenzi tidak menjawab. Ia merasakan pandangannya mulai kabur. Namun, saat petugas medis mencoba menarik Alana menjauh, Alana berontak.
"Tidak! Aku ikut dengannya! Dia menyelamatkanku!" Alana berteriak histeris, tangannya masih memegang ujung kemeja Kenzi yang bersimbah darah.
Kenzi memejamkan mata. Suara tangis Alana adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan total. Baginya, tangisan itu adalah sebuah emosi yang tidak logis—sebuah suara yang tidak memiliki tempat dalam struktur dunia yang ia tinggali, namun entah bagaimana, suara itu terasa lebih hangat daripada api yang ia nyalakan di gudang tua tempo hari.
Misi ini telah berubah. Ini bukan lagi sekadar sabotase Proyek Phoenix. Ini adalah perang antara logika mesin dan detak jantung manusia yang mulai menuntut haknya untuk dirasakan.