Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Sebentuk Perhatian
Happy reading
Rama bergeming di hadapan Hawa. Memaku langkah tanpa ada niat untuk merengkuh. Bukan karena tidak peduli atau antipati, melainkan karena menjaga etika sekaligus sadar posisinya saat ini; bukan lelaki yang memiliki hak untuk menyentuh gadis itu.
"Hawa," panggilnya pelan setelah tangis Hawa mereda, memecah atmosfer hening yang sekian detik menyelubungi.
Hawa tersentak kecil. Perlahan, ia mengangkat wajahnya yang basah. Membiarkan Rama melihat lara di matanya yang sembab untuk sesaat, lantas buru-buru menyamarkan dengan sapuan tangan.
"Aku boleh duduk di sebelahmu?" tanya Rama--meminta izin. Sangat sopan.
Hawa mengangguk pelan, mempersilahkan lelaki bermata teduh itu duduk di sebelahnya.
Rama mengambil jarak. Tidak dekat, juga tak terlalu jauh.
Ia tidak bertanya kenapa atau mengapa Hawa menangis. Lagi-lagi bukan karena tak peduli, melainkan karena enggan mengorek lara yang sudah mati-matian diredam dengan tangis.
"Rasanya... baru kemarin kita pakai atribut ospek. Tahu-tahu sekarang udah sibuk bolak-balik bimbingan skripsi. Ternyata, waktu bergulir lebih cepat dari yang kita bayangin ya?" Rama menatap Hawa sekilas diiringi senyum khas, lantas mengalihkan atensi pada hamparan langit malam yang terhias rupa rembulan dan rasi bintang.
Ucapan Rama sukses melukis senyum tipis di wajah Hawa. Lara yang semula meraja sedikit luruh ketika potongan memori masa ospek melintas di kepalanya. Seolah, ia bisa mendengar gelak tawa yang mengudara dan melihat keakraban yang terjalin saat itu.
"Kamu masih ingat nggak waktu aku kelupaan nggak bawa air putih yang dihormati dan bantal sobek? Bagiku, itu permintaan dari kakak tingkat yang sangat ngadi-ngadi." Rama kembali memecah hening, memancing obrolan yang membuat Hawa melupakan sejenak kepahitan hidup.
"Ya, aku ingat. Kamu nggak kelupaan, tapi karena nggak ngeh. Waktu itu wajahmu pucat banget, bikin aku nggak tega." Tawa kecil muncul saat Hawa mengingat ekspresi wajah Rama di hari itu--pucat seperti orang yang tengah bersiap menanti hukuman.
"Untungnya kamu menyelamatkan aku, Hawa. Karena itu, aku merasa punya utang yang sampai detik ini belum tertebus." Rama mengembangkan senyum, menoleh ke arah Hawa yang ternyata juga tengah menoleh ke arahnya.
Sepasang mata mereka saling bertaut. Hanya dua detik, karena Rama buru-buru mengalihkan pandangan.
Ada dinding tak kasat mata yang dibangun, agar kemuliaan gadis yang sering disebut dalam doanya terjaga.
"Kamu berlebihan. Jangan menganggap itu sebagai utang," ujar Hawa. Wajah yang tadinya terbingkai sendu, kini terhias binar.
"Aku tetap menganggapnya sebagai utang. Dan sekarang... utang itu aku tebus."
Usai mengucap kalimat itu, Rama memanggil penjual mie dok-dok yang kebetulan lewat di Taman Bakung. Ia memesan mie rebus dua porsi untuknya dan Hawa.
Hanya sepuluh menit berselang, kepul asap dari dua porsi mie dok-dok sudah tersaji di hadapan Rama dan Hawa. Aroma gurih menguar, membuat cacing-cacing di dalam perut mereka berteriak nyaring.
"Jadi, kamu nebus utang pakai ini?" Untuk kedua kalinya, tawa kecil muncul di bibir Hawa--mengiringi pertanyaan yang terlontar.
"Iya," jawab Rama disertai lengkungan bibir--membentuk seutas senyum.
Bahagia dan lega, itu yang ia rasa ketika melihat wajah Hawa terhias tawa.
Namun, Rama segera mengalihkan perhatian, menjaga agar tatapan matanya tidak terpaku terlalu lama pada pahatan indah yang dipuja.
"Dihabisin ya, biar nanti tidurnya nyenyak," pintanya.
Hawa mengejapkan mata, mengamini permintaan Rama.
"Makasih," ucapnya lirih.
"Sama-sama, Hawa Salsabila Ramadhani."
Nama lengkap itu meluncur begitu saja dari bibir Rama, membuat Hawa sejenak terpaku dan mengernyit.
Ada rasa heran yang menyusup di sela kerutan dahinya, seiring suara batin yang membisikkan tanya; bagaimana mungkin lelaki dengan tatapan setenang telaga itu masih mengingat detail kecil saat pertama kali mereka berkenalan?
Hawa menghela napas, mengusir tanya yang menurutnya tidak menuntut untuk temukan jawaban.
Tak ada lagi obrolan. Biarkan nyanyian alam mengambil alih, mengiringi ritual makan malam mereka berdua.
"Rama, makasih ya." Hawa kembali mengucap kata terima kasih setelah menandaskan makanan favoritnya--mie rebus.
"Iya, sama-sama. Aku juga makasih, karena kamu udah mau tersenyum dan nggak nangis lagi."
Hawa terdiam, lalu sedikit menundukkan wajah.
"Kalau kamu lagi sedih atau ada masalah yang nggak bisa dibagi pada siapapun, terlebih keluarga dan sahabat, coba sujud di sepertiga malam. Menangis di atas sajadah, mengadu pada-Nya. Langitkan semua yang kamu mau. Dan jangan lupa... minta hati yang lapang, ikhlas, ridho."
Setetes air mata jatuh seiring rasa sesak yang kembali hadir. Namun kali ini tak lagi menyayat. Ia hadir sebagai getar yang menuntunnya menuju jalan cahaya, mengingatkannya bahwa Tuhan adalah rumah tempat segala beban hati meluruh.
Tangan-Nya membasuh lara dengan kasih yang benar-benar tulus.
Firman-Nya menguatkan jiwa yang rapuh.
Asma-Nya menyejukkan hati, laksana tetesan embun di pagi buta.
Rama melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Beranjak dari posisi duduk sambil menyampirkan tas ranselnya di pundak.
"Udah jam sepuluh. Aku pesenin gocar ya?" ia bertanya sekaligus menawari.
Hawa menyeka jejak air mata, lalu turut beranjak. Memaksa kakinya untuk berpijak di atas tanah, menopang tubuhnya yang tak lagi lemah.
"Aku jalan aja. Lagian, rumahku nggak terlalu jauh, Ram."
"Hawa, kamu perempuan, sangat berbahaya kalau berjalan sendirian di malam hari, apalagi di tempat yang sesepi ini."
"Tadi... aku jalan sendiri. Buktinya nggak kenapa-napa kan?"
"Kamu hampir dipepet dua orang pemuda. Alhamdulillah, atas kehendak Allah, aku melihatnya dan berhasil mengusir mereka sebelum sempat menyentuhmu."
Hawa bergeming. Lagi, ia dibuat terpaku oleh perkataan Rama.
"Maaf, aku nggak bisa nganter kamu, karena cuma punya sepeda motor buntut. Takutnya, kamu nggak nyaman duduk di boncengan yang udah minta dimuseumkan," katanya merendah.
Hawa tersenyum samar. Melempar pandangannya ke arah sepeda motor tua--vespa klasik berwarna abu-abu yang berdiri tidak jauh dari gazebo.
"Sepeda motormu bagus, Ram. Unik dan estetik. Aku suka."
Rama mengudarakan tawa. Sangat khas. Tidak terbahak, apalagi berlebihan.
"Kapan-kapan, kamu boleh menaikinya. Sekarang, aku pesenin gocar. Nanti, aku ikuti dari belakang."
"Kenapa harus pesen gocar? Aku nggak malu kok dianter pake vespa."
"Udah malam, Non. Takutnya menimbulkan fitnah dan ada orang yang marah kalau melihat kita berboncengan."
"Siapa yang marah? Nggak ada."
"Cowo yang kemarin lusa ngasih cincin."
Hawa menggembungkan pipi. Meraup udara dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan.
"Dia... nggak bakal marah, karena aku bukan siapa-siapa baginya." Lirih, ia mengucap kata itu. Berusaha tegar, kuat, dan tak lagi rapuh, meski perkataannya bagai sebilah pisau yang merobek lukanya sendiri.
Rama mengerutkan dahi. Menepis keinginan untuk bertanya sesuatu yang bukan ranahnya. Atau mungkin belum.
Malam ini, benang-benang percakapan yang sempat terputus selama beberapa tahun kembali dipintal oleh Rama melalui sebentuk perhatian kecil.
Ada ikhtiar yang sedang diperjuangkan.
Ada mimpi yang ingin diwujudkan.
Meraih cinta seorang Hawa, muara dari segala wujud bahagia.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen