Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat
Brakk...
"Saya ingin pimpinan perusahaan ini langsung yang memimpin rapat," seru seorang laki-laki paruh baya bernama Bapak Fathar Yaqub. Dia adalah salah satu pemegang saham 10 persen di perusahaan PT Juchi Tech sambil melemparkan satu map ke tengah meja.
Rapat pemegang saham namun pimpinan perusahaan PT Juchi Tech tidak hadir. Julian hadir di sana, namun hanya sebagai pemegang saham saja. Dia sekarang hanya mempunyai saham 20 persen di perusahaan itu. Sedangkan 40 persen saham, dimiliki oleh Ronand. Sisanya dimiliki oleh beberapa orang yang membelinya. Saat ini Ronand tidak ada di dalam ruangan itu, diwakili oleh Gema. Hampir semua pemegang saham kecewa karena ketidakhadiran Ronand.
Padahal ini rapat penting dan pelaporan masalah atau kendala apa saja yang terjadi di perusahaan itu. Tak lupa dengan banyaknya proyek yang hendak mereka bahas demi kemajuan perusahaan. Mereka akan membantu mencarikan investor yang sesuai dengan proyek perusahaan. Rapat penting, tapi bagi Ronand seperti pertemuan biasa. Beberapa pemegang saham tampak setuju dengan ucapan Pak Fathar.
"Walaupun pemimpin perusahaan ini tidak hadir, dia bisa melihat apa yang terjadi di ruangan rapat. Dia memantau dan terhubung langsung dengan saya. Apapun yang terjadi di ruangan ini, keputusan sepenuhnya ada di tangan Tuan Ronand." ucap Gema dengan raut wajah seriusnya.
"A Apa? Maksudnya bagaimana itu?" tanya Pak Fathar dengan raut wajah terkejutnya. Mereka sama sekali tak pernah melihat bagaimana rupa dari pemimpin perusahaan setelah Julian. Sehingga karakter sosoknya tak mereka kenal dengan detail.
"Dia sangat misterius, Tuan Fathar. Bahkan dia bisa mengetahui apa yang ada di dalam isi kepala kalian semua di sini. Dia bisa menilai walaupun dari jauh, sekali pun hanya melihat gerak-gerik tubuhnya. Anda tak perlu khawatir jika dia tidak mendengarkan keluhan dari pemegang saham. Dia akan mendengarkan dan memberikan solusi jika ada masalah di perusahaan ini. Hanya saja, caranya berbeda dari pemimpin perusahaan lainnya." ucap Gema membuat semua orang meneguk ludahnya kasar, kecuali Julian yang sudah paham siapa sosok itu.
"Jangan bercanda, anak muda. Mana bisa dia mengetahui isi kepala kami? Gerak-gerik kita? Emangnya dia pengamat gerakan tubuh," ucap Pak Fathar sambil terkekeh pelan, mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
"Saya tidak bercanda. Tanyakan saja itu sama Papanya, kalau tidak percaya." ucap Gema sambil menunjuk ke arah Julian.
Semua sudah tahu bahwa pengganti pemimpin di perusahaan ini adalah anak sulung dari Julian. Namun sosok Ronand itu tidak pernah muncul. Dulu waktu kecil, mereka pernah melihat terutama saat kompetisi robot. Namun saat dewasa, wajah Ronand sudah tidak mereka ketahui. Walaupun secara kemampuan, mereka tak meragukan sama sekali. Apalagi dari kecil sudah terlihat bakatnya.
"Analisis dan insthink anak saya itu jauh di atas saya, Tuan-Tuan. Bahkan saya saja kalah jauh dari dia. Bukti sudah banyak, robot dan alat-alat yang diproduksi masal di perusahaan selama 4 tahun terakhir itu bukan saya penciptanya. Melainkan Ronand, putra saya. Namun sengaja dia memakai nama saya karena tidak ingin namanya dikenal." Semua orang terkejut dengan fakta yang baru saja didengar. Selama ini mereka hanya tahu jika Julian lah pembuat semua produk baru di perusahaan. Sedangkan Ronand, hanya dikenal sebagai asisten atau pemberi ide bagi Julian saja.
"Jika kalian memang tak mau lagi menaruh saham di perusahaan ini karena Ronand yang tidak ikut dalam rapat, silahkan untuk..."
"Tidak. Kami tidak bermasalah jika pemimpin perusahaan itu tak terlihat. Asalkan perusahaan ini bisa memproduksi barang sesuai kebutuhan pasar dan menghasilkan banyak inovasi produk baru," sela Pak Fathar dengan cepat.
Julian berdecih sinis mendengar ucapan Pak Fathar. Bahkan hampir semua orang di sana setuju dengan ucapan Pak Fathar. Tentu saja itu karena keuntungan yang mengalir deras setelah peluncuran robot atau alat baru. Hasil penjualan dan keuntungan, bisa membuat mereka hidup dalam gelimang harta. Sepertinya setelah ini, Ronand akan menendang para pemegang saham di perusahaan itu.
Ingin enaknya doang. Cuma taruh duit dan menanti uang mengalir. Nggak mau ikut mikir,
Kalau ada masalah atau rugi, pada nyalahin.
Orang-orang yang hanya ingin keuntungan saja. Sepertinya aku akan mengambil saham-saham mereka dan aku jual pada orang yang lebih berkompeten. Aku butuh orang yang juga kasih ide biar perusahaan ini jauh lebih maju,
***
"Minum obatnya, Onty boncel. Astaga... Doktel Mika lelah lahil batin ini bujuk Onty boncel minum obat," seru Mika sambil mengusap dahinya. Padahal dahi Mika sama sekali tak berkeringat. Namun ia berlagak seperti kelelahan dan mengeluarkan banyak keringat.
Rachel tidak mau minum obat, Mika berusaha membujuknya. Tadi pagi, Ronand menghubungi dokter pribadi keluarga untuk memeriksa Rachel. Ternyata Rachel memang kelelahan fisik dan batin. Gadis itu berperang batin dan pikiran saat kembali mendapatkan pembullyan. Seharusnya Julian dan Chiara lebih perhatian kepada Rachel setelah kejadian pembullyan itu. Memastikan bahwa kondisi psikis Rachel baik-baik saja.
"Pait, kurcaci cadel. Minum itu yang manis-manis. Ngapain yang pahit diminum," Rachel mendengus sebal sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kalau mau yang manis itu makan gula, Onty boncel. Ini kan obat," seru Mika dibuat kesal oleh Rachel.
"Makanya Onty mau gula aja daripada itu obat," rengek Rachel membuat Mika menggelengkan kepalanya.
"Astaga... Gimana ini Onty boncel tuh? Mika kayanya menyelah mengulus pasien ngeyel sepelti Onty boncel ini. Dibayal satu milyal pun ndak mau kayanya Mika,"
Kini Mika langsung saja merebahkan badannya ke atas kasur. Ia menyerah menyuruh Rachel untuk minum obatnya. Padahal dia yang masih kecil saja sudah bisa minum obat tanpa drama. Sedangkan Chiara yang sedari tadi diam melihat interaksi keduanya, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tok... Tok...
Nyonya Chiara, itu ada seorang laki-laki yang cari Nona Rachel.
Ada tamu? Atau tukang paket?
"Sebental... Bial Mika cek dulu. Siapa tahu itu penculik," seru Mika langsung meninggalkan profesinya sebagai dokter yang memeriksa Rachel.
"Ada-ada aja. Nggak mungkin penculik bisa masuk ke rumah ini. Yang ada, alarm di rumah bisa menyala semua." gumam Chiara sambil menggelengkan kepalanya. Rumah milik Julian sudah dipasang sebuah sensor yang menampilkan data dari tamu. Jika dianggap berbahaya, maka alarm bahaya langsung berbunyi di penjuru rumah.
Onty boncel, ini pedagang telul gulungnya datang khusus buat Onty.
Glatis, ndak usah bayal. Soalnya dia pedagang telul gulung tapi ndak bisa buatnya.
Baby Rachel, ini satpam ciliknya tolong dikurung di gudang aja. Ribet, orang bertamu kok dicek semuanya.
Halus dong, ndak bawa makanan ya ndak boleh masuk.
Eh...