NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Hari Pernikahan

Sebuah gedung pernikahan berdiri megah di tengah kota, menjulang dengan fasad marmer pucat dan pilar-pilar tinggi yang membuat siapa pun merasa kecil ketika melangkah masuk. Kaca-kaca bening di bagian depan memantulkan cahaya matahari sore, menciptakan kesan hangat yang menipu—karena di dalamnya, segala sesuatu telah diatur dengan disiplin nyaris militer.

Taman di sekeliling gedung tertata simetris. Tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh liar. Semua rapi, seolah keindahan pun harus tunduk pada perhitungan.

Hari itu, gedung tersebut tidak sekadar menjadi tempat pesta. Ia menjadi panggung legitimasi.

Ballroom utama disulap menjadi ruang pernikahan bergaya Barat yang elegan. Kursi-kursi putih berbalut kain satin tersusun lurus menghadap altar sederhana yang dihiasi rangkaian bunga lily, mawar putih, dan eucalyptus. Tidak berlebihan, tidak pula sentimental. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit tinggi, menyebarkan cahaya lembut yang jatuh ke lantai marmer mengkilap seperti hujan sunyi.

Namun, bahkan sebelum mata sempat menikmati keindahan dekorasi, satu hal langsung menegaskan bahwa ini bukan pernikahan biasa.

Di sepanjang lorong utama menuju altar, berdiri dua baris perwira TNI Angkatan Udara, mengenakan seragam biru tua lengkap. Sepatu mereka mengkilap, postur tegap, wajah datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada bisik-bisik. Kehadiran mereka seperti tembok tak kasatmata yang sunyi, disiplin, dan penuh kuasa.

Para tamu berbicara dengan suara tertahan, seolah takut mengganggu keseimbangan yang telah disusun terlalu sempurna.

Di ruang persiapan pengantin pria, Mayor Pnb Raka Aditya berdiri menghadap cermin besar. Jas putih formal membingkai tubuhnya dengan potongan presisi. Tidak ada kerutan, tidak ada lipatan yang melenceng. Di balik kerah jasnya, sebuah pin kecil lambang TNI AU tersemat rapi—tidak mencolok, tapi sarat simbol.

Wajah Raka tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikah.

Tatapannya lurus, rahangnya mengeras sedikit, seolah ia sedang bersiap untuk briefing penting, bukan upacara sakral. Di dunia yang membesarkannya, emosi bukanlah sesuatu yang dipamerkan.

Di sofa dekat jendela, Dika, adik Raka, bersandar santai sambil memainkan ponselnya. Jas hitamnya rapi, tapi dasinya sedikit longgar.

“Gila sih, bang,” katanya sambil terkekeh. “Lo hari ini auranya kayak mau upacara kenaikan pangkat, bukan nikah.”

Raka melirik sekilas. “Cih.”

“Enggak, serius,” lanjut Dika. “Ini nikahan apa apel kehormatan?”

Raka menghembuskan napas pendek. “Bawel lu.”

Dika nyengir. “Santai, Mayor. Ini kan hari bahagia. Sekali-sekali boleh chill, lah.”

Di ruang terpisah, Melani berdiri di depan cermin tinggi. Gaun pengantin putih ala Barat membalut tubuhnya dengan potongan sederhana, jatuh lurus tanpa banyak ornamen. Elegan tanpa berusaha mencuri perhatian. Rambutnya disanggul rendah, veil tipis menjuntai lembut di punggungnya.

Ia menatap bayangannya lama.

Tidak ada gugup. Tidak ada air mata. Yang ada hanyalah kesadaran penuh bahwa hari ini adalah keputusan, bukan pelarian.

Ibunya berdiri di belakang, merapikan veil dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Kamu yakin?” tanyanya lirih.

Melani mengangguk. “Yakin.”

Bukan karena cinta yang meledak-ledak, tapi karena pilihan yang dipikirkan matang.

Prosesi dimulai tepat waktu.

Pintu ballroom terbuka perlahan. Musik klasik mengalun pelan, memenuhi ruangan dengan nada-nada yang tertata rapi. Para tamu berdiri serempak.

Raka masuk lebih dulu.

Langkahnya mantap di atas karpet putih. Saat ia melintas di antara barisan perwira, mereka memberi hormat secara serempak. Gerakan itu nyaris tanpa suara, tapi dampaknya menggema di dada siapa pun yang melihat.

Raka membalas hormat singkat sebelum berdiri di depan altar.

Beberapa detik kemudian, Melani masuk. Ia berjalan sendiri, tanpa digandeng siapa pun. Langkahnya stabil, wajahnya tenang, matanya lurus ke depan.

Pendeta berdiri di tengah altar. Seorang pria paruh baya dengan suara jernih dan artikulasi jelas.

“Kita berkumpul di sini,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang bersih, “untuk menyaksikan dan mengesahkan sebuah pernikahan. Pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang pilihan, komitmen, dan keberanian untuk bertanggung jawab.”

Raka dan Melani saling menatap.

Pendeta melanjutkan sumpah pernikahan dengan ritme perlahan, seolah memberi ruang bagi setiap kata untuk meresap.

“Raka Aditya,” katanya kemudian, “apakah Saudara dengan sadar dan tanpa paksaan menerima Melani Pratama sebagai istri Saudara, untuk hidup bersama dalam suka dan duka?”

“Ya, saya menerima,” jawab Raka mantap.

“Melani Ayundira,” pendeta beralih, “apakah Saudari menerima Raka Aditya sebagai suami Saudari, untuk berjalan bersama dalam kehidupan yang Saudari pilih?”

“Ya, saya menerima,” jawab Melani tanpa ragu.

Kini sumpah pribadi.

Raka menarik napas singkat. “Melani, aku tidak menjanjikan hidup yang mudah. Tapi aku berjanji untuk menjalani pernikahan ini dengan tanggung jawab dan kejujuran.”

Melani menatapnya lurus. “Raka, aku memilih kamu dengan kesadaran penuh. Aku berjanji untuk berjalan bersamamu, tanpa ilusi.”

Pendeta tersenyum tipis.

“Dengan ini, saya nyatakan Saudara Raka Aditya dan Saudari Melani Pratama sebagai suami dan istri.”

Namun upacara belum selesai.

Seorang perwira senior TNI AU maju ke depan. Dua perwira lain membawa pedang kehormatan. Pedang-pedang itu disilangkan tinggi, membentuk lengkungan di atas kepala Raka dan Melani.

“Sebagai bentuk penghormatan,” ucap perwira itu lantang, “TNI Angkatan Udara memberikan penghormatan kepada Mayor Pnb Raka Aditya atas pernikahannya.”

Barisan perwira memberi hormat serempak.

Raka dan Melani melangkah melewati lengkungan pedang itu bersama.

Sunyi. Khidmat. Tak ada sorak berlebihan.

Resepsi berlangsung setelahnya.

Meja-meja bundar tertata elegan. Hidangan disajikan berurutan. Musik mengalun lembut. Di antara denting gelas dan musik jazz yang mengalun santai, salah satu karib Raka menyeringai sambil mengangkat alis.

“Jadi gimana rasanya, Rak,” katanya ringan,

“hidup lo sekarang udah resmi… terjadwal.”

Raka menoleh sekilas. “Maksud lo?”

“Ya lo tahu,” sahut pria itu sambil tertawa kecil. “Nggak ada lagi spontanitas jam dua pagi. Nggak ada lagi ‘eh, mampir bentar’.”

Dika terkekeh. “Bahasanya sopan banget. Padahal maksudnya jelas.”

Yang lain ikut nimbrung. “Dunia malam kehilangan salah satu pelanggan loyalnya hari ini.”

“Bukan kehilangan,” sanggah temannya yang berkacamata. “Lebih ke… dipensiunkan dengan hormat.”

“Alayyy! Alayyy” sorak Raka sambil menyentil jidat salah satu rekannya.

“Alay apanya?” balas yang pertama. “Dulu lo yang paling susah diajak pulang. Sekarang jam sepuluh lewat dikit udah mikir agenda besok.”

Dika menyikut kakaknya pelan. “Jujur aja, Bang. Udah nggak bebas lagi, kan?”

Raka menatapnya dingin. “Gue nikah, bukan masuk sel.”

“Tapi jelas beda,” sahut yang lain. “Sekarang lo harus mikir dua kali. Bahkan tiga.”

Salah satu dari mereka tertawa pelan, suaranya diturunkan. “Apalagi kalau inget malam terakhir sebelum lo resmi jadi suami orang.”

Raka berhenti mengaduk minumannya.

“Malam pamungkas,” lanjut pria itu sambil menyeringai. “Yang katanya ‘sekali ini aja’.”

Salah satu dari mereka yang paling jarang menyaring omongan, menyeringai sambil menepuk bahu Raka.

“Ngomong-ngomong,” kata putra santai,

“malam terakhir lo… aman, kan?”

Dika langsung mendelik. “Woy.”

“Aman dalam artian apa?” sahut yang lain, setengah tertawa.

Putra mengangkat alis. “Ya… lo paham lah.”

Raka tidak bereaksi. Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Jangan bilang gue doang yang kepikiran,” lanjutnya. “Ini kan tradisi tidak tertulis. Sebelum resmi, biasanya orang masih—”

“Mas,” Dika memotong, suaranya ditekan.

“Ini resepsi, bukan tongkrongan.”

“Justru karena resepsi,” balasnya ringan.

“Sekalian penutupan era.”

Pria lainnya ikut nimbrung, nada suaranya lebih halus tapi menusuk. “Intinya, Rak… lo terakhir itu main bersih atau nekat?”

Hening sesaat.

“Gue cuma nanya,” tambahnya cepat.

“Soalnya kalau sampai salah langkah… hidup lo bisa belok jauh.”

Raka akhirnya menoleh. Suaranya rendah, dingin.“Gue nggak butuh audit.”

“Fair,” sahut putra sambil tertawa kecil. “Tapi kita temen. Masa nggak boleh khawatir?”

Dika mendengus. “Khawatir apaan. Orang Kakak gue kelihatan santai-santai aja.”

“Justru orang yang kelihatan santai itu biasanya yang paling bahaya,” balasnya.

Raka menggenggam gelasnya lebih erat.

“Lagi pula,” lanjut pria itu, suaranya diturunkan, “cewek malam itu… lo bahkan nggak tahu namanya, kan?”

Kalimat itu jatuh pelan tapi berat.

Raka tidak menjawab.

“Tenang,” tambahnya cepat, “gue nggak nyindir. Cuma ngingetin.”

Dika menepuk bahu kakaknya, mencoba mencairkan suasana.“Udah, udah. Sekarang statusnya beda. Semua cerita lama udah harus dikubur.”

“Dikubur, bukan dihapus,” gumam salah seorang pria dengan pelan.

Mereka saling pandang. Tidak ada yang tertawa kali ini.

Di kejauhan, Melani tertawa kecil menanggapi ucapan seorang tamu. Elegan. Tenang. Seolah dunia memang tertata rapi.

Raka menatap ke arah itu sesaat.

Ia tahu beberapa hal tidak ikut berhenti hanya karena seseorang mengucap sumpah.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!