NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Senyum di Ambang Pintu

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah rekan-rekan mereka lari terbirit-birit. Jude, yang sedari tadi bersiaga di ambang pintu, segera melangkah maju. Meskipun ia terkesan dengan cara pria itu membela Colette, naluri perlindungannya sebagai rekan kerja yang waras tetap terjaga. Baginya, pria tampan di depannya ini tetaplah sosok misterius yang berbahaya.

Jude menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan terakhir namun tetap waspada. "Terima kasih... atas segalanya. Saya rasa, kami harus pergi sekarang."

Colette masih terpaku, namun tarikan lembut Jude pada lengannya membuatnya tersadar. Dengan langkah gontai dan kaki yang masih terasa dingin, ia mulai berjalan mengikuti Jude keluar dari gubuk yang membusuk itu.

Sang pria tampan tidak menahan mereka. Ia tidak berdiri, tidak juga mengucapkan kata perpisahan yang lazim.

Pria itu kembali duduk bersila di atas balai-balai kayunya. Namun kali ini, sikapnya lebih santai. Ia mengangkat salah satu lututnya, menyandarkan lengannya di sana dengan gaya yang sangat maskulin dan dominan. Cahaya lilin yang hampir padam menyoroti lekuk otot perutnya yang kokoh, memberikan kesan ia adalah raja di tanah terkutuk ini.

Tepat saat Colette berada di ambang pintu, seolah ada magnet yang menarik lehernya, gadis itu menoleh ke belakang.

Di sana, di tengah remang asap kemenyan, sang dukun muda sedang menatapnya balik. Pria itu tidak lagi menunjukkan wajah dingin; sebuah senyum smirk yang tipis namun penuh arti terukir di bibirnya. Tatapannya seolah berkata: 'Kau boleh pergi sekarang, tapi kau tahu ke mana jiwamu akan kembali.'

Colette merasakan sengatan aneh di dadanya. Senyum itu tidak mengejeknya seperti Linda atau Bram, melainkan senyum seseorang yang baru saja memenangkan sebuah taruhan besar dengan takdir.

 Keadaan di luar gubuk benar-benar kacau. Rekan-rekan kerja Colette yang sudah dibutakan oleh ketakutan akan ramalan kematian mengenaskan itu saling sikut dan berebut masuk ke mobil pertama. Mereka berdesakan hingga pintu mobil hampir tidak bisa tertutup, mengabaikan segala logika demi bisa segera keluar dari hutan jati itu.

Mobil kedua, sebuah sedan tua yang terparkir sedikit jauh, justru ditinggalkan begitu saja. Secara kebetulan yang sangat aneh—atau mungkin takdir—kunci mobil itu tergeletak di atas tanah berbatu, tepat di bawah sinar lampu jalan yang redup. Tampaknya kunci itu terjatuh saat salah satu dari mereka lari terbirit-birit tadi.

Jude segera memungut kunci itu. Ia tidak ingin Colette berada di satu mobil dengan orang-orang yang baru saja mengolok-oloknya hingga hancur.

"Ayo, Colette. Masuk ke sini," perintah Jude tegas.

Colette masuk ke kursi penumpang mobil kedua dengan gerakan seperti robot. Ia masih merasa linglung. Jude segera menyalakan mesin, dan suara deru mobil itu memecah kesunyian hutan.

Saat mobil mulai melaju perlahan, Colette secara impulsif kembali menoleh ke arah gubuk. Di sana, di ambang pintu yang gelap, ia masih bisa melihat siluet sang dukun tampan yang duduk dengan lutut terangkat, masih dengan smirk penuh rahasia yang tidak lepas dari bibirnya. Pria itu seolah tahu bahwa kunci yang jatuh dan mobil yang kosong ini adalah bagian dari rencananya agar Colette bisa pulang dengan tenang.

Di dalam mobil, suasana sangat hening. Berbeda jauh dengan mobil pertama di depan mereka yang melaju ugal-ugalan dengan suara teriakan ketakutan yang masih terdengar sayup-sayup.

Jude fokus pada jalanan tanah yang bergelombang. "Kita akan langsung pulang. Aku akan mengantarmu sampai ke tangan ibumu," gumam Jude tanpa menoleh, mencoba memberikan rasa aman yang paling nyata yang ia bisa.

Colette hanya menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Pikirannya terbelah. Di satu sisi, ada rasa lega karena rekan-rekannya kini ketakutan setengah mati, namun di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang baru saja "terikat" pada jiwanya setelah tatapan mata dengan sang dukun tadi.

Sepanjang perjalanan membelah hutan jati yang gelap, kabin mobil terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara mesin yang menderu rendah dan gesekan ban pada jalanan tanah. Jude berkali-kali melirik ke arah kursi penumpang melalui sudut matanya.

Ia melihat Colette yang meringkuk kecil, menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang berembun. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat.

Ada keinginan besar di hati Jude untuk mengulurkan tangan, sekadar menepuk bahu Colette atau menggenggam tangannya untuk mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir. Ia ingin meyakinkan gadis itu bahwa ramalan-ramalan mengerikan tadi hanya ditujukan untuk mereka yang jahat, bukan untuknya.

Namun, setiap kali tangan Jude hendak bergeser dari kemudi, ia mengurungkan niatnya.

Ia teringat betapa traumatisnya Colette terhadap sentuhan fisik—terutama setelah kejadian paksa di restoran tadi. Jude tidak ingin menjadi beban tambahan bagi mental Colette yang sudah di ambang batas. Ia tidak ingin Colette merasa risih atau merasa terancam oleh kehadirannya, meskipun niatnya tulus. Ia lebih memilih menjadi pelindung yang tak kasat mata, menjaga jarak yang aman agar Colette tetap bisa bernapas.

"Kita sudah hampir sampai, Colette," gumam Jude pelan, suaranya sangat hati-hati, seolah takut akan memecahkan keheningan yang rapuh itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!