Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Terungkap
Malam itu Arga tidak langsung pulang setelah menutup ruko. Lampu dapur sudah dimatikan, pegawai sudah kembali ke rumah masing-masing, dan jalan di depan ruko mulai lengang. Ia duduk sendirian di kursi plastik dekat meja kasir, hanya ditemani suara kipas angin yang berputar pelan.
Di layar ponselnya, rangkaian data masih terbuka.
Alamat IP dari toko grosir Darsono. Waktu unggahan akun anonim. Jam-jam ketika isu mulai menyebar secara serentak.
Ia menatap semuanya tanpa emosi.
“Ini terlalu rapi,” gumamnya pelan.
Darsono memang licik, tetapi selama ini gerakannya selalu reaktif. Ia marah ketika tersaingi. Ia menyerang ketika merasa terancam. Semua tindakannya kasar dan terlihat jelas motifnya. Kampanye fitnah kemarin terasa berbeda. Terlalu terstruktur. Terlalu terkoordinasi.
Isu muncul di beberapa grup hampir bersamaan. Komentar negatif menggunakan pola kalimat yang mirip. Bahkan ada akun baru yang langsung menyebarkan narasi yang sama persis.
Itu bukan kerja orang yang hanya ingin balas dendam. Itu kerja orang yang ingin menekan nilai sebuah usaha.
Panel sistem muncul dengan cahaya tipis.
[Analisis Risiko Lv.1 Aktif]
[Pola Serangan: Terstruktur]
[Kemungkinan Dalang Tunggal: Rendah]
[Kemungkinan Dalang Jaringan: 68%]
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Jadi memang ada tangan lain.”
Nama itu muncul di benaknya tanpa perlu dipanggil.
Bima Santosa.
Pria rapi dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata. Tawaran investasi dengan syarat enam puluh persen saham. Kontrol penuh di tangan mereka. Nada suaranya waktu itu bukan seperti orang yang ingin bekerja sama, melainkan seperti orang yang sedang menunggu mangsa kelelahan.
Kalimat terakhirnya masih terngiang.
"Anak kecil sepertimu tidak akan bisa bertahan lama."
Arga tersenyum kecil di tengah keheningan.
“Mereka pikir aku tidak tahu permainan ini?”
Ia pernah bermain di level yang jauh lebih tinggi dalam kehidupan sebelumnya. Ia pernah duduk di meja rapat dengan angka miliaran. Ia pernah menyaksikan perusahaan dijatuhkan bukan dengan produk buruk, melainkan dengan opini publik dan manipulasi arus kas.
Polanya selalu sama.
Hancurkan reputasi. Tekan arus. Masuk sebagai penyelamat dengan syarat mayoritas.
Keesokan paginya Arga mulai bergerak lebih tenang dari biasanya. Ia tidak memberi tahu keluarga sepenuhnya tentang kecurigaannya. Ia hanya berkata bahwa ia ingin mengecek beberapa hal di kota.
Di sebuah kedai kopi kecil, ia bertemu dengan teman ayahnya, Reza, yang bekerja di bagian administrasi salah satu bank lokal.
“Ga, kamu jarang ke sini sekarang,” kata Reza sambil tertawa kecil.
“Lagi sibuk bantu ayah pak” jawab Arga ringan. “pak, aku mau tanya sesuatu. Bisa tidak cek transaksi publik perusahaan investasi tertentu?”
Reza mengerutkan kening. “Perusahaan apa?”
Arga menyebut nama perusahaan yang tertera di kartu nama Bima Santosa. Reza terdiam beberapa detik.
“Itu perusahaan lumayan besar. Kenapa?”
“Cuma ingin tahu reputasinya pak,” jawab Arga santai.
Beberapa hari kemudian, informasi mulai terkumpul. Perusahaan itu memang sering masuk sebagai investor di usaha kecil yang sedang mengalami masalah. Polanya konsisten. Mereka menanam modal besar, mengambil saham mayoritas, lalu dalam beberapa tahun mengganti manajemen lama secara perlahan.
Beberapa pemilik lama akhirnya keluar dengan kompensasi kecil.
Arga membaca laporan itu dengan mata tenang.
“Jadi bukan hanya aku yang hampir dijebak.”
Ia belum memiliki bukti langsung keterlibatan Bima dalam kampanye fitnah. Namun intuisi dan pola yang terbaca sudah cukup kuat untuk membuatnya berhati-hati.
Langkah berikutnya datang dari arah yang tidak terduga. Salah satu pegawai lama Darsono, yang pernah Arga bantu saat anaknya sakit, datang diam-diam ke ruko.
“Arga, saya tidak mau ikut campur. Tapi saya dengar sesuatu,” katanya pelan.
Arga mengajaknya duduk di belakang ruko.
“Bicara saja, Pak. Saya tidak akan sebut nama.”
Pegawai itu menunduk. “Beberapa minggu lalu ada orang kota datang ke toko. Bukan langganan biasa. Mereka bicara di ruang belakang lama sekali. Setelah itu, Pak Darsono mulai sering rapat tertutup.”
“Orang kota itu seperti apa?” tanya Arga.
“Rapi. Mobilnya bagus. Namanya Bima kalau tidak salah.”
Arga tidak terkejut. Ia hanya mengangguk perlahan.
“Terima kasih sudah memberi tahu.”
Potongan-potongan puzzle mulai menyatu.
Untuk memastikan, Arga meminta Budi membantu menelusuri jejak digital lebih dalam. Mereka tidak melakukan hal ilegal. Mereka hanya mengumpulkan informasi publik, waktu unggahan, pola komunikasi, dan hubungan akun-akun anonim yang terlibat dalam penyebaran isu.
Beberapa akun ternyata saling mengikuti perusahaan investasi yang sama. Bahkan ada satu akun yang pernah mengunggah foto acara bisnis di kota, dengan latar belakang banner perusahaan milik Bima.
“Ini tidak kebetulan,” kata Budi serius.
Arga mengangguk. “Tidak pernah ada kebetulan dalam perang bisnis.”
Panel sistem kembali menyala.
[Keterkaitan Dalang Teridentifikasi]
[Nama: Bima Santosa]
[Motif Potensial: Akuisisi dengan harga rendah]
[Tingkat Ancaman: Tinggi]
Arga menarik napas panjang.
Jadi benar. Darsono hanyalah alat. Wajah yang terlihat di depan. Yang bermain di belakang adalah orang dengan jaringan lebih luas, modal lebih besar, dan pengalaman lebih panjang.
Ini bukan lagi soal warung desa.
Malam itu Arga duduk bersama ayahnya di teras rumah. Angin malam berhembus pelan, membawa suara jangkrik dari kebun sebelah.
“Ayah percaya tidak, kalau ada orang ingin mengambil usaha kita?” tanya Arga pelan.
Ayahnya terdiam beberapa saat. “Sejak dulu, kalau sesuatu mulai berkembang, selalu ada yang ingin ikut menikmati. Atau mengambil alih.”
“Kalau mereka datang dengan uang besar?” lanjut Arga.
Ayahnya tersenyum tipis. “Uang bisa habis. Tapi nama baik susah dibangun.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menguatkan tekad Arga.
Ia mulai menyusun bukti dengan rapi.
Transaksi mencurigakan antara perusahaan investasi Bima dan salah satu vendor digital marketing yang ternyata terhubung dengan akun penyebar isu. Jejak komunikasi di media sosial antara pegawai Darsono dan akun anonim.
Testimoni pelanggan lama yang siap bersaksi bahwa kualitas makanan tidak pernah berubah.
Ia tidak berniat langsung melaporkan. Ia ingin menunggu momen yang tepat. Jika mereka mencoba lagi dengan tawaran penyelamatan, ia akan membalikkan situasi.
Beberapa hari kemudian, seperti dugaan Arga, Bima muncul kembali. Kali ini ia datang dengan senyum yang lebih ramah.
“Saya dengar usaha kalian sempat terguncang,” katanya sambil duduk tenang di kursi tamu ruko. “Dunia bisnis memang keras.”
Arga menatapnya tanpa rasa takut.
“Kami baik-baik saja.”
Bima tersenyum tipis. “Tetap saja, stabilitas jangka panjang perlu dukungan modal kuat. Tawaran saya masih berlaku. Bahkan bisa kita bicarakan lebih fleksibel.”
Arga menyilangkan tangan di meja.
“Enam puluh persen masih fleksibel menurut Anda?”
Bima tidak langsung menjawab. “Kontrol mayoritas penting untuk memastikan pertumbuhan cepat.”
Arga menatapnya lurus.
“Menarik. Apalagi kalau usaha itu baru saja diserang isu, nilai pasarnya turun, lalu investor datang sebagai penyelamat.”
Suasana hening sejenak.
Senyum Bima tidak hilang, tetapi matanya berubah sedikit lebih tajam.
“Saya tidak mengerti maksudmu.”
Arga mengeluarkan map tipis dari laci meja. Ia tidak membukanya, hanya meletakkannya di atas meja.
“Saya hanya ingin bilang, kami menghargai minat Anda. Tapi kami tidak dalam posisi terdesak.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Dan kami tidak suka permainan kotor.”
Untuk pertama kalinya, Bima tidak langsung tersenyum.
“Kamu menuduh saya?”
Arga menggeleng pelan. “Saya hanya belajar dari pengalaman. Dunia bisnis seringkali penuh taktik.”
Beberapa detik terasa panjang.
Akhirnya Bima berdiri. “Baiklah. Kalau begitu, semoga usahamu benar-benar kuat tanpa bantuan kami.”
Setelah pria itu pergi, Arga menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Ia tahu ini belum selesai. Orang seperti Bima tidak akan berhenti hanya karena satu penolakan.
Namun kali ini, Arga tidak lagi berjalan di dalam kabut.
Ia tahu siapa lawannya. Ia tahu strateginya. Dan ia memiliki sesuatu yang dulu tidak ia miliki di kehidupan pertama.
Keluarga yang berdiri di belakangnya. Dan pengalaman pahit yang membuatnya tidak mudah dibodohi.
Panel sistem muncul pelan.
[Konflik Strategis Tingkat Lanjut Dimulai]
[Peluang Bertahan: 58%]
[Peluang Menang Jika Bukti Digunakan Tepat: 76%]
Arga tersenyum tipis.
“Baiklah,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Kalau ini perang strategi, kita mainkan sampai akhir.”
Di luar, lampu ruko menyala terang. Tidak megah, tidak besar. Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka masih berdiri.
Dan kali ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar omzet harian. Yang dipertaruhkan adalah kendali atas masa depan keluarga mereka.