NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Sang Primadona dan Barisan Pelindung

Kantin SMA Garuda Kencana kembali menjadi saksi bisu ketegangan antar angkatan. Karline duduk di tengah teman-teman sekelasnya, menyeruput jus jeruk dengan gaya yang tenang namun memancarkan aura bintang. Ia tidak lagi bersembunyi. Dengan rambut yang tertata rapi dan seragam yang melekat sempurna di tubuhnya yang proporsional, Karline benar-benar bertransformasi menjadi magnet perhatian.

​"Duh, yang baru merasa jadi primadona, gayanya selangit ya," suara cempreng Clarissa tiba-tiba memecah suasana.

​Clarissa datang bersama dua pengikut setianya. Ia berdiri di samping meja Karline, melipat tangan di dada dengan wajah yang sengaja dibuat sinis. "Lo pikir dengan wajah itu lo bisa menang? Denger ya, seluruh OSIS dan gengnya Dean itu benci banget sama lo. Lo cuma sampah di mata mereka."

​Karline tidak menoleh. Ia terus asyik mengobrol dengan Sarah, mengabaikan kehadiran Clarissa seolah gadis itu hanyalah angin lalu. Sikap "masa bodoh" Karline ini justru membuat Clarissa semakin meradang.

​"Lo denger nggak sih gue ngomong apa? Jangan sok budek! Dean dan anak-anak kelas dua belas itu nggak ada yang suka sama lo. Mereka cuma kasihan atau merasa terganggu sama kehadiran lo di sini!" Clarissa terus mengoceh, berusaha keras memancing emosi Karline agar meledak di depan umum.

​Namun, Karline justru menunjukkan sisi "centil" dan ramahnya yang baru. Saat seorang siswa kelas sepuluh lewat dan menyapanya, Karline membalas dengan senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipinya.

​"Kak Karline cantik banget hari ini!" seru siswa itu.

​"Makasih ya, kamu juga manis," jawab Karline dengan nada riang, membuat siswa itu tersipu malu dan teman-temannya bersorak menggoda.

​Pemandangan itu membuat Clarissa hampir meledak. Saat Clarissa baru saja hendak membuka mulut untuk menghina lagi, seorang kakak kelas laki-laki bertubuh jangkung yang diketahui adalah teman seangkatan Dean dan Clarissa mendekat ke meja Karline.

​"Ehm, permisi, Karline ya?" tanya cowok itu dengan wajah agak memerah. "Boleh minta akun media sosial kamu nggak? Atau nomor WhatsApp mungkin?"

​Karline melirik Clarissa dengan sudut matanya, lalu kembali menatap kakak kelas di depannya. Ia tersenyum miring, senyum yang sengaja dirancang untuk mengejek Clarissa yang berdiri mematung di sampingnya.

​"Boleh, Kak. Tapi nanti ya, aku lagi ada 'urusan' sama orang yang nggak berhenti bicara dari tadi," ucap Karline dengan nada manja yang dibuat-buat.

​Karline kemudian berdiri, menatap Clarissa tepat di mata. "Dengar ya, Clarissa. Aku sama sekali tidak peduli jika teman-teman pecundangmu itu tidak menyukaiku. Itu hak mereka." Karline menjeda kalimatnya, matanya menyapu seisi kantin yang sedang memperhatikannya dengan kagum. "Tapi lihat sekarang. Sepertinya jauh lebih banyak orang yang tertarik dan menyukaiku dibandingkan mereka yang membenciku. Jadi, usahamu untuk membuatku merasa terpojok itu... sia-sia."

​Wajah Clarissa merah padam. Rasa malunya memuncak karena dihina di depan teman seangkatannya sendiri. "Lo... lo bener-bener kurang ajar!"

​Secara refleks, Clarissa mengangkat tangannya, jemarinya melengkung hendak menjambak rambut Karline yang terurai indah. Namun, sebelum tangan itu sampai, tiga orang siswa cowok kelas XI-IPA 2 Bimo, Faras, dan satu teman lainnya langsung berdiri serentak memagari Karline.

​Faras menangkap pergelangan tangan Clarissa di udara dengan cengkeraman yang kuat. "Eits, jangan main fisik, Kak," ucap Faras dengan nada mengancam.

​"Kalian minggir! Ini urusan cewek!" teriak Clarissa histeris.

​"Nggak bisa, Kak," sahut Bimo dengan wajah serius. "Mulai sekarang, siapa pun yang berani nyentuh Karline, berarti berurusan sama seluruh cowok di kelas XI-IPA 2. Kakak mau dapet SP 2? Atau mau kita laporin lagi ke ruang BK soal percobaan penganiayaan?"

​Ancaman Bimo membuat Clarissa mematung. Ia tahu posisi Karline sekarang sangat kuat. Gadis itu punya "bodyguard" pribadi yang siap membelanya kapan saja.

​Di meja yang cukup jauh, Dean, Raka, dan Rio menyaksikan seluruh drama itu. Raka dan Rio tampak tidak nyaman, mereka melihat Karline sekarang benar-benar tidak tersentuh. Sementara Dean hanya diam, menatap punggung Karline dengan perasaan yang campur aduk. Ia melihat bagaimana Karline sekarang dikelilingi banyak pelindung, membuat jarak di antara mereka terasa semakin berkilo-kilo meter jauhnya.

​"Gila, dia bener-bener jadi ratu sekarang," gumam Rio pelan.

​Dean tidak menyahut. Ia hanya melihat Karline yang kembali duduk dan tertawa bersama teman-temannya, seolah Clarissa tidak pernah ada di sana. Ia sadar, Karline tidak butuh perlindungannya, dan itu adalah kenyataan yang paling pahit bagi seorang Dean.

Suasana kantin semakin riuh saat Faras tetap mencengkeram pergelangan tangan Clarissa. Karline, yang berada di balik perlindungan teman-temannya, tidak menunjukkan raut wajah takut sama sekali. Ia justru kembali duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya yang jenjang, dan menopang dagu sambil menatap Clarissa yang sedang meronta.

​"Lepasin tangan gue, berengsek!" umpat Clarissa pada Faras.

​"Faras, lepasin aja," suara Karline terdengar santai namun berwibawa. "Kasihan, nanti tangannya merah, dia lapor lagi ke sepupunya yang sudah nggak punya jabatan itu."

​Teman-teman sekelas Karline tertawa serempak mendengar sindiran tersebut. Faras melepaskan tangan Clarissa dengan sentakan pelan yang cukup membuat Clarissa terhuyung ke belakang.

​"Dengar ya, Clarissa," Karline melanjutkan bicaranya sambil memainkan sedotan di minumannya. "Kamu terus-menerus bilang kalau Dean dan gengnya membenciku. Tapi jujur saja, apakah pendapat mereka masih penting buatku? Saat ini, aku punya teman-teman yang tulus menjagaku. Aku punya kehidupan yang jauh lebih berwarna tanpa perlu pengakuan dari kakak kelas yang hobinya menindas."

​Seorang siswi dari kelas lain tiba-tiba mendekat ke meja Karline, membawa sebuah kotak bekal kecil. "Kak Karline, ini ada titipan dari anak-anak kelas sepuluh. Katanya semangat terus ya, jangan dengerin omongan orang sirik."

​Karline menerima kotak itu dengan senyum manis yang sangat ramah. "Wah, makasih banyak ya. Bilang ke mereka, aku baik-baik saja."

​Kontras itu sangat menyakitkan bagi Clarissa. Di satu sisi, ada Karline yang dipuja karena kecantikan dan keramahannya, dan di sisi lain ada dirinya yang mulai dijauhi karena sifatnya yang kasar. Clarissa melirik ke arah meja Dean, berharap sang kapten voli akan maju membelanya. Namun, Dean tetap diam. Wajahnya tertunduk, tangannya sibuk meremas kaleng minuman yang sudah kosong.

​"Dean! Lo diem aja lihat gue diginiin?" teriak Clarissa frustrasi.

​Dean akhirnya mendongak. Matanya sempat bertemu dengan mata Karline sejenak sebelum beralih ke Clarissa. "Pulang, Clar. Jangan bikin malu diri sendiri lagi," ucap Dean pendek.

​Kalimat Dean bagaikan tamparan keras bagi Clarissa. Ia tidak menyangka Dean, yang biasanya selalu berada di pihaknya jika berurusan dengan adik kelas, kini justru menyuruhnya pergi. Dengan wajah yang menahan tangis karena malu, Clarissa akhirnya menghentakkan kakinya dan lari keluar dari kantin diikuti dua temannya.

​Setelah kepergian Clarissa, rombongan kelas XI-IPA 2 kembali bersorak. Karline menoleh ke arah teman-temannya. "Makasih ya, kalian bener-bener bodyguard terbaik."

​"Santai, Karl. Kita semua satu komando kalau soal lo," sahut Bimo bangga.

​Namun, di sela-sela kegembiraan itu, Karline bisa merasakan tatapan Dean yang masih tertuju padanya. Ia menoleh perlahan, menatap Dean dengan tatapan dingin yang tak tersentuh. Karline ingin menunjukkan bahwa meskipun satu sekolah memujinya, ia tidak akan pernah lupa siapa yang pertama kali mencoba meruntuhkan harga dirinya.

​Dean yang melihat tatapan itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia sadar, posisi primadona yang kini disandang Karline bukan sekadar soal kecantikan fisik, tapi soal kekuatan mental gadis itu yang berhasil bangkit dari keterpurukan yang ia buat.

​Jam istirahat pun berakhir. Saat Karline berjalan keluar kantin dikawal oleh Faras dan Bimo, semua mata tertuju padanya. Ia bukan lagi gadis misterius yang bisa diinjak-injak. Ia adalah Karline Dharmajaya, primadona baru yang memiliki "pasukan" dan harga diri yang setinggi langit. Sementara itu, Dean hanya bisa mengikuti dari jauh, merasa semakin kecil di hadapan gadis yang dulu ia sebut sebagai 'Anak Aneh'.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!