NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Riuh klakson Jakarta sore ini terasa lebih memekakkan telinga dari biasanya. Di dalam mobil, aku mencengkeram kemudi dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Kartu nama Harva yang tergeletak di dashboard terus mencuri perhatianku, namun pikiranku justru melayang pada wajah pucat Arlan saat dipermalukan di ruang rapat tadi.

Aku merasa mual. Bukan lagi karena benci, tapi karena lelah berpura-pura kuat di depan semua orang.

Alih-alih memutar kemudi menuju apartemenku yang sunyi, aku memilih mengambil jalur ke arah selatan. Tubuhku seolah memiliki memori sendiri, membawaku pulang ke satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi "Si Ratu Es".

Harum aroma bumbu rendang dan sambal goreng ati langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk ke rumah masa kecilku. Suasana rumah yang hangat, dengan lampu-lampu kekuningan, membuat pertahananku sedikit meluruh.

"Loh, Rania? Kok nggak bilang kalau mau pulang, Sayang?" Bunda muncul dari arah dapur, masih mengenakan celemek motif bunga favoritnya.

Tanpa kata, aku langsung menghambur ke pelukannya. Aku menyembunyikan wajahku di bahu Bunda, menghirup aroma minyak telon dan bumbu dapur yang selalu menenangkan.

"Bunda... Rania laper," bisikku parau.

Bunda mengusap punggungku lembut, seolah tahu ada beban berat yang sedang kupikul. "Ganti baju dulu, terus langsung ke meja makan. Bunda masak makanan kesukaan kamu."

Di meja makan, Ayah sudah duduk menunggu. Beliau tampak terkejut melihatku, namun segera memasang wajah ramah. Kami makan dalam diam selama beberapa menit, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar.

"Masakannya enak, Bun," kataku memecah keheningan.

Ayah berdeham pelan, menatapku dengan tatapan bersalah. "Ran, soal semalam... Ayah minta maaf. Ayah cuma ingin kamu nggak kesepian terus."

Aku meletakkan sendokku perlahan. "Yah, Rania tahu Ayah sayang Rania. Tapi tolong, kasih Rania waktu. Rania baru saja bertemu Arlan lagi di kantor. Dia pindah ke sana."

Bunda dan Ayah saling berpandangan, wajah mereka berubah tegang. Arlan adalah sosok yang dulu sangat mereka sayangi, namun juga sosok yang paling mereka kutuk setelah kejadian di Jogja itu.

"Dia berani muncul lagi?" suara Ayah meninggi, tangannya mengepal di atas meja.

"Dia rekan kerjaku sekarang, Yah. Dan tadi, aku juga bertemu Harva Widjaya. Teman kuliahku dulu, sekarang dia CEO klien besar kantorku," aku menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak. "Semua masa lalu itu datang bersamaan hari ini. Rasanya... Rania mau menyerah saja jadi orang kuat."

Bunda menggenggam tanganku erat. "Kamu nggak harus selalu kuat di depan Ayah dan Bunda, Nak. Kalau mau nangis, nangis aja. Rumah ini selalu jadi tempat kamu buat pulang."

Air mataku yang sejak pagi kutahan, akhirnya luruh juga di depan sepiring rendang buatan Bunda. Aku menangis sesenggukan, melepaskan semua kemarahan, rasa mual, dan trauma yang menumpuk. Ayah bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan memeluk bahuku.

"Maafin Ayah yang terlalu maksa kamu sama Rendra. Ayah nggak tahu kalau kamu lagi menghadapi badai sebesar ini di kantor," bisik Ayah menyesal.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku tidur di kamar lamaku. Kamar yang masih menyimpan poster-poster masa SMA, namun kini terasa jauh lebih damai.

Namun, sesaat sebelum aku memejamkan mata, sebuah pesan masuk ke ponselku. Bukan dari Arlan, bukan juga dari Rendra.

[Harva Widjaya]:

Aku tahu kamu butuh waktu buat berpikir. Tapi besok pagi, ada buket bunga baru di mejamu. Dan kali ini, tolong jangan dibuang ke tempat sampah.

Aku menatap layar ponselku lama. Harva benar-benar berbeda. Dia tidak memohon, dia tidak memaksa, dia hanya... memberi tahu.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!